Margomulyo – Kamis, 28 Mei 2026. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Margomulyo menggelar kegiatan Naharul Ijtima’ yang dikemas dalam bentuk Upgrading Kader NU Lintas Pengkaderan pada Kamis, 28 Mei 2026, bertempat di Aula Kantor MWCNU Margomulyo lantai dua mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran lengkap keluarga besar NU Kecamatan Margomulyo, mulai dari unsur Mustasyar, Syuriyah, dan Tanfidziyah MWCNU, serta badan otonom dan lembaga NU di tingkat kecamatan. Hadir pula jajaran PAC Muslimat NU, GP Ansor-Banser, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, serta para kader NU yang telah mengikuti berbagai jenjang pengkaderan, baik Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) maupun Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU).
Berbeda dengan forum rutin pada umumnya, Naharul Ijtima’ kali ini dirancang sebagai sarana konsolidasi dan penguatan kapasitas kader lintas generasi serta lintas jenjang pengkaderan. Melalui kegiatan ini, para kader diajak untuk memperkuat pemahaman ke-NU-an, mempererat ukhuwah jam’iyyah, serta menyamakan langkah dalam menjalankan misi organisasi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua MWCNU Margomulyo, Kiyai Badrun Sulaiman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan upgrading kader tersebut merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh MWCNU Margomulyo. Menurutnya, pemilihan waktu pelaksanaan yang berdekatan dengan momentum Hari Raya Iduladha bukan tanpa alasan.
“Upgrading kader ini pertama kalinya diadakan di MWCNU Margomulyo. Sengaja kami laksanakan di tengah hiruk-pikuk Hari Raya Iduladha atau Hari Raya Kurban dengan maksud untuk mencoba menakar militansi para kader. Pada momentum kurban ini, kader NU harus mampu menyembelih ego diri pribadi masing-masing agar tetap istiqamah dalam berkhidmah. Jangan sampai kita hanya mampu menyembelih sapi atau kambing yang ada di luar, tetapi gagal menyembelih ego dan kepentingan pribadi yang ada di dalam diri kita,” tegasnya di hadapan peserta.
Pernyataan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta karena dinilai menjadi pengingat penting bahwa hakikat pengabdian di dalam organisasi tidak hanya membutuhkan tenaga dan pikiran, tetapi juga keikhlasan, kerendahan hati, serta kemampuan mengendalikan kepentingan pribadi demi kemaslahatan umat dan jam’iyyah.
Kegiatan upgrading kader ini semakin berbobot dengan kehadiran narasumber dan Satgas kaderisasi dari tingkat kabupaten. Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua PCNU Bojonegoro, Dr. Taufiq Azhuri, yang juga merupakan instruktur kaderisasi tingkat wilayah, serta Dr. Suudin Aziz, Satgas Kaderisasi PCNU Bojonegoro.
Materi upgrading kader pertama disampaikan oleh Dr. Suudin Aziz, Satgas Kaderisasi PCNU Bojonegoro. Dalam paparannya, beliau mengangkat tema “Skema Aswaja Qouli, Manhaji, dan Akhlaqi” sebagai fondasi utama dalam membentuk kader Nahdlatul Ulama yang utuh dan berkarakter. Materi ini menegaskan bahwa kader NU tidak cukup hanya memahami ajaran Ahlussunnah wal Jamaah secara tekstual, tetapi juga harus mampu mengimplementasikan metode berpikir dan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.
Dalam penjelasannya, Dr. Suudin Aziz membagi pemahaman Aswaja An-Nahdliyah ke dalam tiga pilar utama, yaitu Aswaja Qouli, Aswaja Manhaji, dan Aswaja Akhlaqi. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses kaderisasi NU. Aswaja Qouli berkaitan dengan pemahaman dan rujukan keilmuan, Aswaja Manhaji berkaitan dengan metode berpikir, sedangkan Aswaja Akhlaqi berhubungan dengan pembentukan karakter kader.
Pada aspek Aswaja Qouli, beliau menekankan pentingnya kader NU berpegang teguh kepada pendapat para ulama mu’tabar melalui tradisi bermazhab. Kader NU diarahkan untuk mengikuti empat mazhab fikih, berakidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, mengikuti ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi, serta menjunjung tinggi sanad keilmuan yang bersambung dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selanjutnya, pada aspek Aswaja Manhaji, Dr. Suudin Aziz menjelaskan bahwa kader NU harus memiliki pola pikir yang moderat, toleran, seimbang, adil, dan selalu mengedepankan kemaslahatan umat. Nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil dan lurus) menjadi prinsip dasar dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, keagamaan, maupun kebangsaan yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Adapun pada aspek Aswaja Akhlaqi, peserta diajak untuk membangun karakter kader yang santun, mandiri, kreatif, inovatif, menghormati guru dan ulama, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, menjaga ukhuwah serta persatuan, dan menolak segala bentuk kekerasan maupun radikalisme. Menurutnya, keberhasilan kaderisasi tidak hanya diukur dari luasnya wawasan keilmuan, tetapi juga dari kualitas akhlak dan keteladanan yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di penghujung penyampaiannya, Dr. Suudin Aziz menegaskan bahwa formula kader NU ideal adalah kader yang kuat dalam aspek Qouli, tepat dalam Manhaji, dan luhur dalam Akhlaqi. Dengan perpaduan ketiga unsur tersebut, akan lahir kader-kader NU yang berilmu layaknya ulama, berpikir moderat dalam menyikapi persoalan, serta memiliki akhlak mulia yang mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Materi yang disampaikan mendapat perhatian serius dari seluruh peserta. Antusiasme kader terlihat dari aktifnya diskusi dan tanya jawab yang berlangsung selama sesi berlangsung. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman ideologis kader sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan perjuangan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Margomulyo.
Materi upgrading kader terakhir disampaikan oleh Wakil Ketua PCNU Bojonegoro, Kiyai Dr. Taufiq Azhuri, yang juga merupakan instruktur kaderisasi tingkat wilayah. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan kembali pentingnya implementasi hasil kaderisasi dalam kehidupan nyata melalui pengamalan “9 Perintah Kader Penggerak Nahdlatul Ulama” sebagai panduan gerakan dakwah, penguatan organisasi, dan pemberdayaan umat di tingkat akar rumput.
Menurut Dr. Taufiq Azhuri, kaderisasi tidak boleh berhenti pada ruang kelas, forum pelatihan, atau sebatas memperoleh sertifikat pengkaderan. Kader NU harus mampu menghadirkan manfaat nyata di tengah masyarakat dengan menerjemahkan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah ke dalam program kerja yang terukur dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sembilan perintah kader penggerak harus menjadi pedoman dalam setiap aktivitas dakwah dan pengabdian kader NU.
Beliau menjelaskan bahwa tugas pertama kader adalah menyusun database potensi kepengurusan NU mulai dari tingkat cabang, MWC hingga ranting. Pendataan yang baik akan menjadi dasar bagi organisasi dalam menyusun program yang tepat sasaran serta memetakan sumber daya manusia yang dimiliki NU.
Tugas berikutnya adalah mengonsolidasikan kegiatan keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah baik di lingkungan organisasi maupun di tengah masyarakat. Menurutnya, kader NU harus menjadi penggerak utama dalam menjaga tradisi keagamaan yang moderat, toleran, dan berakar pada ajaran ulama salafus shalih.
Selain itu, kader juga didorong untuk membangun komunikasi dan silaturahmi dengan para ulama, kiai, tokoh masyarakat, serta figur-figur berpengaruh yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan dakwah dan kemaslahatan umat. Hubungan yang harmonis antara kader dan tokoh masyarakat akan memperkuat posisi NU sebagai organisasi yang dekat dengan rakyat.
Dalam konteks tantangan ideologi kontemporer, beliau mengingatkan pentingnya kader melakukan pemetaan terhadap berbagai pemikiran dan gerakan yang berpotensi mengganggu harmoni kehidupan beragama dan kebangsaan. Namun, langkah tersebut harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah, santun, konstitusional, serta tetap mengedepankan prinsip dakwah yang bijaksana dan menyejukkan.
Dr. Taufiq Azhuri juga menekankan bahwa kader NU harus mampu memetakan berbagai persoalan, kelemahan, tantangan, dan hambatan yang dihadapi organisasi pada setiap tingkatan. Dengan memahami kondisi riil di lapangan, kader dapat menyusun strategi penguatan jam’iyyah yang lebih efektif dan berorientasi pada solusi.
Pada bidang ekonomi, beliau mengajak seluruh kader untuk mulai menggerakkan potensi ekonomi warga NU dan mengidentifikasi berbagai sumber pendanaan organisasi yang halal, mandiri, dan berkelanjutan. Kemandirian ekonomi, menurutnya, merupakan salah satu syarat penting agar organisasi mampu menjalankan program-program pelayanan umat secara optimal.
Selanjutnya, kader juga didorong untuk melakukan observasi perkembangan jumlah warga NU, mendata lembaga-lembaga strategis seperti pesantren, masjid, madrasah, perguruan Islam, serta berbagai lembaga sosial keagamaan yang berada dalam lingkungan NU. Data tersebut menjadi modal penting dalam merancang kebijakan dan program dakwah yang lebih terarah.
Di akhir materinya, beliau menekankan pentingnya membangun jaringan strategis, baik di internal NU maupun dengan berbagai elemen di luar NU. Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks tidak dapat dihadapi secara individual. Oleh karena itu, kolaborasi, sinergi, dan kemitraan menjadi kunci keberhasilan dakwah dan pengabdian NU di masa depan.
Paparan Dr. Taufiq Azhuri mendapat sambutan hangat dari seluruh peserta. Materi yang disampaikan dinilai sangat aplikatif karena memberikan arah yang jelas mengenai bagaimana seorang kader NU harus berperan setelah mengikuti proses kaderisasi. Para peserta pun diajak untuk menjadikan sembilan perintah kader penggerak bukan sekadar dokumen organisasi, melainkan sebagai kompas perjuangan dalam mengembangkan dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah di tengah masyarakat.
Penutup
Dengan terselenggaranya Naharul Ijtima’ dan Upgrading Kader Lintas Pengkaderan ini, MWCNU Margomulyo berhasil menghadirkan ruang konsolidasi sekaligus penguatan ideologi, metodologi, dan strategi gerakan kader. Perpaduan materi Aswaja Qouli, Manhaji, Akhlaqi yang disampaikan Dr. Suudin Aziz serta penguatan 9 Perintah Kader Penggerak NU oleh Dr. Taufiq Azhuri menjadi bekal penting bagi para kader untuk terus mengabdi dengan penuh keikhlasan dan militansi.
Momentum yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha tersebut semakin meneguhkan pesan bahwa kader NU sejati bukan hanya mampu berkurban dengan harta dan tenaga, tetapi juga mampu mengorbankan ego, kepentingan pribadi, dan sikap individualistis demi kemajuan jam’iyyah, kemaslahatan umat, serta kejayaan Nahdlatul Ulama di masa yang akan datang.
Melalui Naharul Ijtima’ dan Upgrading Kader Lintas Pengkaderan ini, MWCNU Margomulyo menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan ikhtiar membangun generasi pejuang NU yang kokoh dalam aqidah, matang dalam berpikir, dan mulia dalam akhlak. Semangat “menyembelih ego” yang diusung pada momentum Idul Adha diharapkan menjadi energi spiritual bagi seluruh kader untuk terus istiqamah berkhidmah, menguatkan jam’iyyah, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan negara.