MEDURI — Senin, 20 Oktober 2026. Suasana duka menyelimuti keluarga almarhumah Ibu Sukini di Desa Meduri pada Senin, 20/10/2026. Sebagai bentuk kepedulian, silaturahmi, dan penghormatan kepada sesama jamaah, Pengurus serta anggota Muslimat dan Fatayat Al Huda Meduri mengadakan kegiatan kirim doa di rumah duka almarhumah.
Kegiatan tersebut dihadiri segenap pengurus dan anggota Muslimat Fatayat Al Huda Meduri. Para jamaah datang dengan membawa doa, rasa belasungkawa, serta semangat kebersamaan untuk menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa ikatan jamaah tidak hanya terjalin dalam kegiatan pengajian dan organisasi, tetapi juga diwujudkan ketika salah satu anggota mengalami musibah.
Rangkaian kirim doa berlangsung dengan khidmat. Jamaah bersama-sama membaca Surah Yasin, tahlil, shalawat, serta doa-doa yang dipanjatkan untuk almarhumah Ibu Sukini. Bacaan tersebut diharapkan menjadi wujud kasih sayang sesama muslim serta permohonan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa almarhumah, melapangkan tempat peristirahatan beliau, dan memberikan ketabahan bagi keluarga.
Ketua Ranting Muslimat NU Meduri, Ibu Musaroh, turut hadir dan memberikan materi singkat mengenai pentingnya doa, Yasin, dan tahlil bagi ahli kubur. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa tradisi kirim doa merupakan amaliyah yang hidup di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama sebagai bentuk bakti kepada orang tua, keluarga, guru, dan sesama muslim yang telah wafat.
Ibu Musaroh menerangkan bahwa doa dari orang-orang yang masih hidup merupakan amalan yang sangat penting. Allah SWT mengajarkan kaum beriman untuk senantiasa mendoakan saudara-saudara mereka yang telah mendahului. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 10:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami.”
Menurut Ibu Musaroh, ayat tersebut menjadi dasar bahwa seorang muslim dianjurkan mendoakan muslim lain yang telah meninggal dunia. Doa yang dipanjatkan dengan ikhlas merupakan bentuk penghambaan kepada Allah sekaligus penguat ikatan persaudaraan sesama umat Islam.
Beliau juga mengutip pesan Rasulullah SAW:
اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ
Artinya: “Mohonkanlah ampun untuk saudaramu dan mintakanlah keteguhan baginya, karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud).
Dalam tradisi tahlil, jamaah membaca kalimat tauhid, istighfar, shalawat, dan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian ditutup dengan doa. Bukan sekadar rangkaian bacaan, kegiatan tersebut mengandung pendidikan spiritual agar manusia selalu mengingat kematian, memperbanyak amal saleh, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.
Ibu Musaroh mengajak jamaah untuk menjadikan peristiwa kematian sebagai bahan muhasabah. Setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT, sehingga hidup perlu diisi dengan ibadah, kebaikan, dan manfaat bagi orang lain. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi saling mendoakan sebagai salah satu kekuatan sosial warga Muslimat dan Fatayat NU.
Kegiatan kirim doa di rumah duka almarhumah Ibu Sukini ditutup dengan doa bersama. Jamaah berharap Allah SWT menerima seluruh doa yang dipanjatkan, mengampuni almarhumah, serta memberikan ketabahan dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan.
