Margomulyo, 24 Agustus 2026 — Tradisi Lailatul Ijtima’ kembali digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Meduri pada Senin malam, 24 Agustus 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 20.30 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Masjid Baitul Muttaqin, Dusun Kijeng, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo.
Lailatul Ijtima’ kali ini berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan. Kegiatan dihadiri oleh jajaran struktural NU Ranting Meduri beserta Badan Otonom (Banom) NU serta jamaah Masjid Baitul Muttaqin. Selain menjadi sarana mempererat silaturahim warga Nahdliyin, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat keagamaan dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Takmir Masjid Baitul Muttaqin, Suyut, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam terselenggaranya Lailatul Ijtima’ tersebut. Menurutnya, terselenggaranya kegiatan keagamaan seperti ini merupakan hasil kebersamaan dan kepedulian banyak pihak.
Senada dengan hal tersebut, Ketua NU Ranting Meduri, Eko Sunarno, juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan. Secara khusus, ia memberikan penghargaan kepada seluruh warga NU yang tetap istiqamah hadir dan melaksanakan khidmah, meskipun kegiatan dilaksanakan pada malam hari.
Menurut Eko, istiqamah dalam mengikuti kegiatan NU bukan hanya sebatas kehadiran dalam sebuah acara, tetapi merupakan bentuk nyata kecintaan terhadap jam’iyyah dan bagian dari menjaga tradisi ke-NU-an. Lailatul Ijtima’ diharapkan terus menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan wawasan keagamaan, sekaligus merawat semangat khidmah warga Nahdliyin.
Tausiyah Kiai Badrun: Mensyukuri Kemerdekaan dan Maulid Nabi
Puncak kegiatan diisi dengan tausiyah oleh Kiai Badrun, Ketua MWCNU Kecamatan Margomulyo. Tausiyah tersebut mengangkat tiga momentum penting yang dirangkai dalam satu kegiatan Lailatul Ijtima’, yakni memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ, serta meneguhkan kembali semangat khidmah melalui Lailatul Ijtima’.
Mengawali tausiyahnya, Kiai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan. Kemerdekaan merupakan anugerah besar yang harus diisi dengan amal kebaikan, menjaga persatuan, serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan masyarakat.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”(QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa kemerdekaan harus dipandang sebagai nikmat yang patut disyukuri. Namun, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Syukur harus diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga keamanan, merawat persaudaraan, menaati aturan, serta mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang bermanfaat.
Kiai Badrun juga mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak boleh menjadikan masyarakat terlena. Justru kemerdekaan harus menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pengabdian. Sebab, kemerdekaan yang hakiki akan terasa manfaatnya apabila masyarakat mampu hidup dengan aman, bermartabat, saling menghormati, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Mensyukuri Maulid Nabi Muhammad ﷺ
Selanjutnya, Kiai Badrun mengajak jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebagai momentum untuk mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.
Allah SWT menegaskan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi umat manusia:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”(HR. Ahmad, Al-Adab Al-Mufrad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dengan beberapa redaksi)
Menurut Kiai Badrun, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ hendaknya melahirkan perubahan dalam perilaku. Semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, semakin kuat pula keinginannya untuk meneladani sifat beliau: jujur, amanah, santun, penyayang, rendah hati, serta senantiasa memberikan manfaat kepada sesama.
Allah SWT juga berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Ali ‘Imran: 31)
Dengan demikian, memperingati Maulid Nabi merupakan kesempatan untuk memperbarui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sekaligus memperkuat tekad untuk mengikuti sunnah dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Lailatul Ijtima’: Tradisi Khidmah yang Harus Dijaga
Pada bagian akhir tausiyah, Kiai Badrun meneguhkan kembali pentingnya khidmah melalui Lailatul Ijtima’. Menurutnya, Lailatul Ijtima’ bukan hanya forum berkumpul pada malam hari, tetapi merupakan salah satu sarana untuk memperkuat silaturahim, meningkatkan keilmuan, memperbanyak doa dan dzikir, serta menjaga hubungan antarwarga NU.
Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Ma’idah: 2)
Kiai Badrun juga mengutip pesan ulama yang sangat masyhur:
مَنْ جَدَّ وَجَدَ، وَمَنْ زَرَعَ حَصَدَ، وَمَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ
“Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan hasil; barang siapa menanam, maka ia akan memanen; dan barang siapa berjalan di atas jalan yang ditempuhnya, maka ia akan sampai pada tujuan.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan jam’iyyah NU membutuhkan kader dan warga yang mau istiqamah, bersungguh-sungguh, serta ikhlas dalam berkhidmah. Tradisi baik tidak akan bertahan apabila tidak ada generasi yang bersedia meneruskan dan merawatnya.
Kiai Badrun menegaskan bahwa khidmah tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk yang besar. Menghadiri pengajian, membantu kegiatan masjid, menjaga kerukunan, menghidupkan kegiatan NU, membantu sesama, serta memberikan tenaga dan pikiran untuk kemaslahatan masyarakat merupakan bagian dari khidmah yang memiliki nilai luhur apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.
Lailatul Ijtima’ NU Ranting Meduri akhirnya bukan sekadar menjadi malam pertemuan warga Nahdliyin. Ia menjadi ruang untuk mensyukuri kemerdekaan, menghidupkan kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ, mempererat silaturahim, dan meneguhkan kembali semangat khidmah kepada agama, masyarakat, bangsa, serta jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Dengan semangat tersebut, warga NU Ranting Meduri diharapkan terus menjaga istiqamah dalam berkhidmah dan menjadikan setiap kegiatan keagamaan sebagai sarana memperkuat iman, memperindah akhlak, serta menghadirkan kemanfaatan yang nyata bagi masyarakat.
