MARGOMULYO — Jum'at 02 Oktober 2026. Muslimat dan Fatayat NU Pleret Ranting Meduri kembali menggelar kegiatan keagamaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di tengah masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (2/10/2026) tersebut bertempat di Masjid Jami’ Baitul Iman, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan diikuti segenap pengurus dan anggota Muslimat-Fatayat Meduri serta sejumlah tokoh agama. Suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh keakraban, mencerminkan semangat jamaah dalam menjaga tradisi pengajian dan pembelajaran keagamaan secara rutin.
Dalam kegiatan tersebut, jamaah mendapatkan materi keislaman dari Abah Abdullah Rifai, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Ngraho. Kajian yang disampaikan mengangkat tema “Thaharah (Sesuci) dan Mandi Wajib”, sebuah pembahasan penting dalam fikih karena berkaitan langsung dengan sah dan tidaknya sejumlah ibadah seorang Muslim.
Dalam penyampaiannya, Abah Abdullah Rifai menjelaskan bahwa thaharah atau bersuci merupakan bagian penting dalam ajaran Islam. Bersuci tidak hanya berkaitan dengan kebersihan secara lahiriah, tetapi juga menjadi syarat dalam melaksanakan ibadah tertentu, terutama shalat.
Jamaah diajak memahami bahwa seorang Muslim perlu mengetahui tata cara bersuci dengan benar sesuai ketentuan syariat. Pengetahuan tersebut menjadi penting agar praktik ibadah yang dilakukan sehari-hari tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi benar-benar dilaksanakan berdasarkan tuntunan agama.
Pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan mandi wajib. Abah Abdullah Rifai menjelaskan berbagai hal yang menyebabkan seseorang diwajibkan melakukan mandi besar, sekaligus menerangkan tata cara pelaksanaannya agar sesuai dengan ketentuan fikih.
Menurutnya, pemahaman mengenai mandi wajib perlu dimiliki oleh setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut karena persoalan thaharah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah.
Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak malu bertanya mengenai persoalan keagamaan, termasuk masalah bersuci yang terkadang dianggap sebagai perkara sederhana. Justru, menurutnya, persoalan yang berkaitan dengan kesucian harus dipahami secara baik karena menjadi dasar bagi pelaksanaan ibadah.
Kajian berlangsung dengan suasana komunikatif. Para jamaah mengikuti penjelasan dengan penuh perhatian, terutama ketika materi memasuki pembahasan mengenai tata cara mandi wajib dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi Muslimat dan Fatayat Pleret Ranting Meduri untuk terus meningkatkan wawasan keagamaan jamaah. Pengajian tidak hanya menjadi sarana menambah ilmu, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara pengurus, anggota, tokoh agama, dan masyarakat.
Melalui kegiatan semacam ini, Muslimat dan Fatayat Pleret Ranting Meduri menunjukkan komitmennya dalam merawat tradisi belajar agama di tengah masyarakat. Pengetahuan tentang thaharah diharapkan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jamaah semakin memahami pentingnya menjaga kesucian sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Dari Masjid Jami’ Baitul Iman, semangat menuntut ilmu dan memperdalam pemahaman agama diharapkan terus tumbuh, menjadi bekal bagi jamaah untuk menjalankan kehidupan beragama secara lebih baik, benar, dan istiqamah.
Editor: Drun.
