MARGOMULYO — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Kecamatan Margomulyo menggelar kegiatan rutinan triwulan pada Ahad Pon, 18 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Gedung Olahraga (GOR) SMK Geneng, RT 02/RW 01, Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo.
Rutinan triwulan ini menjadi wadah silaturahmi bagi warga Nahdlatul Ulama sekaligus sarana penguatan organisasi, pembinaan keagamaan, serta penyatuan langkah dalam melayani masyarakat. Sejak pagi, para peserta tampak hadir dengan penuh antusias untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan.
Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Margomulyo, pengurus PAC Muslimat NU, PAC Fatayat NU, PAC Ansor dan Banser. Turut hadir seluruh pimpinan ranting NU dari enam ranting beserta badan otonom NU, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Margomulyo, Kepala Desa Geneng beserta jajaran perangkat desa, serta para alim ulama Margomulyo.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan warga NU di Kecamatan Margomulyo. Tidak hanya sebagai kegiatan rutin organisasi, pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antara tokoh agama, pemerintah desa, unsur kelembagaan, serta warga masyarakat.
Acara inti diisi dengan tausiyah oleh Kiai Haji Abdul Mu’id Al Hafidz, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahroen Padangan. Dalam penyampaiannya, beliau menerangkan tentang kemuliaan seorang muslim di dunia dan akhirat. Menurut beliau, kemuliaan tidak semata-mata diukur dari kedudukan, harta, maupun pujian manusia, melainkan dari kedekatan seseorang kepada Allah SWT, ketekunan dalam berikhtiar, dan kesungguhan dalam memanjatkan doa.
Kiai Abdul Mu’id Al Hafidz menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya tidak mudah putus asa saat menghadapi kesulitan hidup. Setiap usaha yang baik harus ditempuh dengan sungguh-sungguh, disertai keyakinan bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah SWT. Ikhtiar menjadi bentuk tanggung jawab manusia, sedangkan doa menjadi pengakuan atas kelemahan hamba di hadapan kekuasaan Allah.
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik harus diawali dari kesadaran, usaha, kedisiplinan, dan perbaikan diri. Namun demikian, usaha manusia tidak boleh membuatnya lupa kepada Allah. Setiap ikhtiar hendaknya dibarengi dengan doa agar diberi kemudahan, keberkahan, serta hasil yang membawa manfaat.
Kiai Abdul Mu’id Al Hafidz juga menyampaikan bahwa kecukupan hidup bukan hanya tentang banyaknya harta, melainkan adanya rasa qana’ah, keberkahan rezeki, kesehatan, kerukunan keluarga, dan ketenangan hati. Oleh karena itu, umat Islam diajak memperbanyak doa, menjaga ibadah, bekerja secara halal, serta memperkuat kepedulian kepada sesama.
Rutinan triwulan PAC Muslimat dan Fatayat NU Margomulyo ini diharapkan semakin menguatkan semangat khidmah warga NU. Melalui kebersamaan, doa, dan ikhtiar yang istiqamah, seluruh jamaah diharapkan mampu menjadi pribadi yang mulia, mandiri, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Kontributor: Kun
Editor: Drun
