MARGOMULYO — Muslimat Al Aamiin Dusun Kaligede, Kecamatan Margomulyo, menggelar kegiatan rutinan keagamaan di Masjid Al Aamiin Kaligede pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai tersebut berlangsung dalam suasana khidmat, hangat, dan penuh semangat kebersamaan.
Rutinan ini dihadiri segenap jamaah Muslimat Al Aamiin Kaligede serta jajaran pengurus Muslimat Ranting NU Margomulyo. Kehadiran para jamaah menunjukkan komitmen Muslimat NU dalam menjaga tradisi pengajian, memperkuat silaturahmi, dan meningkatkan pemahaman agama di tengah masyarakat.
Selain menjadi ruang belajar bersama, kegiatan rutinan Muslimat Al Aamiin juga menjadi sarana membangun kepedulian sosial antarjamaah. Para ibu yang hadir tidak hanya mengikuti kajian, tetapi juga saling bertukar kabar, mempererat persaudaraan, serta menguatkan semangat untuk mendidik keluarga dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, Satkoryon Banser Margomulyo, Ustadz Abdul Ghofur, hadir memberikan materi bertema “Pentingnya Menjaga Hati”. Beliau menjelaskan bahwa hati merupakan pusat dari sikap, perkataan, dan perbuatan manusia. Apabila hati baik, maka perilaku seseorang akan cenderung baik. Sebaliknya, apabila hati dipenuhi iri, dengki, sombong, dan kebencian, maka hal tersebut dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.
Ustadz Abdul Ghofur mengingatkan bahwa menjaga hati harus menjadi perhatian setiap muslim, terutama dalam kehidupan sosial yang penuh dengan berbagai perbedaan dan ujian. Hati perlu dijaga melalui ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, menjauhi prasangka buruk, serta membiasakan diri memaafkan kesalahan orang lain.
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 88-89:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Menurut Ustadz Abdul Ghofur, ayat tersebut menegaskan bahwa bekal utama manusia di hadapan Allah bukan semata kekayaan, kedudukan, maupun kebanggaan duniawi, melainkan hati yang selamat atau qalbun salim. Hati yang bersih adalah hati yang beriman, ikhlas, tidak menyimpan kebencian, dan senantiasa berusaha tunduk kepada perintah Allah SWT.
Beliau juga menyampaikan hadis Rasulullah SAW:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam penjelasannya, Ustadz Abdul Ghofur mengajak jamaah untuk menjadikan hati sebagai ruang yang dipenuhi iman dan kasih sayang. Ia mencontohkan langkah sederhana, seperti tidak mudah tersinggung, menahan amarah, berprasangka baik, menjaga lisan, dan memperbanyak doa agar hati diberi keteguhan.
Kontributor: Udin
Editor: Drun
