Margomulyo, Bojonegoro – Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Majelis Taklim Baiturrohim Dusun Batang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, pada Jum'at malam, 31 Juli 2026, pukul 20.30–22.00 WIB. Puluhan jamaah dari berbagai kalangan hadir mengikuti Kajian Rutin Majelis Taklim Baiturrohim yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo.
Mengangkat tema "Allah Merahasiakan Tiga Perkara di Dalam Tiga Perkara", kajian tersebut mengajak umat Islam untuk tidak pernah meremehkan amal kebaikan, tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan senantiasa berhati-hati terhadap segala bentuk kemaksiatan. Ketiga pesan tersebut menjadi pedoman penting agar seorang mukmin selalu optimis dalam beribadah sekaligus rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Dalam mukadimahnya, Kiyai Badrun menegaskan bahwa Allah SWT, dengan hikmah dan kasih sayang-Nya, sengaja menyembunyikan beberapa perkara agar manusia terdorong untuk terus beramal, tidak mudah merasa cukup, dan selalu hidup dalam keseimbangan antara harap (raja') dan takut (khauf) kepada Allah SWT.
Beliau kemudian membacakan firman Allah SWT:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah sekalipun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah sekalipun, niscaya dia akan melihat balasannya."(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pun amal manusia yang luput dari penilaian Allah. Amal yang tampak kecil di mata manusia bisa jadi menjadi sebab datangnya rahmat Allah, sebagaimana dosa yang dianggap sepele dapat menjadi penyebab datangnya murka-Nya.
Pertama, Allah Merahasiakan Wali-Nya di Tengah Hamba-Hamba-Nya
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa tidak seorang pun mengetahui siapa sebenarnya wali Allah. Oleh karena itu, setiap muslim diperintahkan untuk menghormati, memuliakan, dan berbuat baik kepada semua orang.
Allah SWT berfirman:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."(QS. Yunus: 62–63)
Karena kedudukan wali dirahasiakan, tidak pantas seseorang merendahkan orang lain hanya karena penampilannya yang sederhana. Bisa jadi orang yang tidak dikenal justru memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
"Betapa banyak orang yang berambut kusut, berdebu, dan dipandang rendah manusia, namun seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya."(HR. Muslim)
Kedua, Allah Merahasiakan Ridha-Nya di Dalam Berbagai Amal Kebaikan
Kiyai Badrun mengajak jamaah agar tidak pernah meremehkan amal sekecil apa pun. Senyuman, sedekah yang sedikit, membantu tetangga, menghadiri majelis ilmu, bahkan menyingkirkan duri dari jalan, semuanya berpotensi menjadi amal yang dicintai Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا
"Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan walaupun sedikit."(HR. Muslim)
Karena kita tidak mengetahui amal mana yang paling Allah cintai, maka jalan terbaik adalah memperbanyak seluruh bentuk amal saleh dengan penuh keikhlasan.
Ketiga, Allah Merahasiakan Murka-Nya di Dalam Berbagai Bentuk Maksiat
Sebagaimana Allah menyembunyikan ridha-Nya, Allah juga menyembunyikan murka-Nya dalam berbagai bentuk dosa.
Sering kali seseorang menganggap remeh suatu kemaksiatan karena dinilai kecil. Padahal, dosa kecil yang terus dilakukan tanpa penyesalan dapat menjadi sebab kerasnya hati bahkan hilangnya keberkahan hidup.
Allah SWT mengingatkan:
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
"Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi."(QS. Al-An'am: 151)
Pesan ini mengajarkan agar seorang mukmin selalu menjaga dirinya dari seluruh bentuk maksiat, sekecil apa pun, karena tidak ada yang mengetahui dosa mana yang menjadi sebab turunnya murka Allah.
Kalam Hukama yang Menggugah Hati
Untuk memperdalam makna kajian, Kiyai Badrun menyampaikan salah satu kalam hikmah yang sangat masyhur:
لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيرَةً، إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى
"Janganlah engkau meremehkan sesuatu yang kecil, karena gunung pun tersusun dari kerikil-kerikil kecil."
Beliau menjelaskan bahwa amal besar lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah. Demikian pula dosa besar sering kali bermula dari pelanggaran-pelanggaran kecil yang dianggap sepele.
Beliau juga mengutip nasihat para ulama:
مَنْ زَرَعَ الْخَيْرَ حَصَدَ الْخَيْرَ، وَمَنْ زَرَعَ الشَّرَّ حَصَدَ النَّدَمَ
"Barang siapa menanam kebaikan, ia akan memanen kebaikan. Barang siapa menanam keburukan, ia akan menuai penyesalan."
Penutup
Di akhir kajian, Kiyai Badrun Sulaiman mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak amal saleh, menjaga keikhlasan, menghormati sesama, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Menurut beliau, hidup seorang mukmin hendaknya dipenuhi dengan semangat untuk terus berbuat baik tanpa pernah merasa amalnya sudah cukup, karena boleh jadi ridha Allah tersembunyi dalam satu amal yang tampak sederhana, sebagaimana murka-Nya tersembunyi dalam satu dosa yang dianggap remeh.
Kajian malam itu berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan diakhiri dengan doa bersama. Para jamaah berharap nilai-nilai yang disampaikan tidak berhenti sebagai ilmu semata, tetapi menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, sehingga lahir pribadi-pribadi yang istiqamah dalam kebaikan, bijaksana dalam bersikap, dan senantiasa mengharap ridha Allah SWT.
