Margomulyo, Bojonegoro – Jum'at, 31 Juli 2026. Semangat menuntut ilmu dan memperkuat keimanan kembali mewarnai kegiatan Kajian Rutin Majelis Taklim Hidayatul Umam yang diselenggarakan pada Jum'at, 31 Juli 2026, pukul 14.30–15.30 WIB, bertempat di Dusun Bandung, Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.
Kajian yang dihadiri oleh jamaah dari berbagai kalangan masyarakat tersebut menghadirkan Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo, sebagai pemateri. Mengangkat tema "Pesan Rasulullah Agar Kita Istiqamah dalam Kebaikan", beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan istiqamah sebagai karakter utama seorang mukmin dalam menjalankan ibadah, berdakwah, bermasyarakat, dan menjaga akhlak mulia.
Dalam mukadimahnya, Kiyai Badrun menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar umat Islam pada masa kini bukanlah mengetahui mana yang baik, melainkan bertahan untuk terus berada di jalan kebaikan. Banyak orang mampu memulai amal dengan penuh semangat, namun tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena godaan dunia, rasa malas, ataupun lemahnya keimanan.
Beliau kemudian mengingatkan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang-orang yang telah bertaubat bersamamu, serta janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."(QS. Hud: 112)
Ayat tersebut menjadi penegasan bahwa istiqamah bukanlah pilihan, melainkan perintah langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW beserta umatnya. Istiqamah berarti teguh memegang kebenaran, konsisten dalam ketaatan, serta tidak mudah tergoda oleh berbagai penyimpangan yang menjauhkan manusia dari jalan Allah.
Lebih lanjut, Kiyai Badrun mengutip hadis agung Rasulullah SAW ketika seorang sahabat meminta nasihat yang mencakup seluruh ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
"Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah."(HR. Muslim)
Menurut beliau, hadis tersebut menunjukkan bahwa keimanan yang sejati harus dibuktikan dengan konsistensi dalam menjalankan perintah Allah. Bukan hanya rajin beribadah pada waktu-waktu tertentu, melainkan terus menjaga kualitas iman dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit, ketika dipuji maupun dicela.
Dalam kajiannya, beliau juga mengingatkan bahwa istiqamah tidak selalu diukur dari besarnya amal, tetapi dari kesinambungan amal tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit."(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan ini mengajarkan bahwa kualitas seorang mukmin tidak ditentukan oleh semangat sesaat, melainkan oleh keteguhan menjaga amal saleh sepanjang hidupnya.
Untuk memperkuat makna istiqamah, Kiyai Badrun turut menyampaikan kalam hikmah para ulama yang sangat relevan dengan kehidupan umat Islam.
Di antaranya adalah ungkapan yang dinisbatkan kepada para hukama:
مَنْ ثَبَتَ نَبَتَ
"Siapa yang tetap teguh (istiqamah), niscaya akan menuai hasil yang baik."
Beliau menjelaskan bahwa keberhasilan dalam ibadah, dakwah, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat tidak lahir dari usaha yang sesaat, melainkan dari ketekunan yang dilakukan secara terus-menerus.
Beliau juga mengutip kalam hikmah Imam Ibn 'Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam:
لَا تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللَّهِ فِيهِ، فَإِنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ
"Janganlah engkau meninggalkan zikir karena merasa belum khusyuk. Sebab lalai dari berzikir lebih buruk daripada belum sempurna dalam berzikir."
Kalam tersebut memberikan motivasi agar seorang muslim tidak mudah menyerah ketika merasa amalnya belum sempurna. Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri, menjaga kesinambungan ibadah, dan memohon pertolongan Allah agar diberi keistiqamahan hingga akhir hayat.
Menutup kajian, Kiyai Badrun Sulaiman mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperkokoh iman sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah. Menurut beliau, masyarakat yang istiqamah dalam ilmu, ibadah, dan akhlak akan menjadi fondasi lahirnya lingkungan yang damai, religius, dan penuh keberkahan.
Kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Jamaah mengikuti setiap materi dengan antusias hingga akhir acara. Besar harapan, pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya istiqamah tidak hanya dipahami sebagai ilmu, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap muslim mampu menjadi pribadi yang kokoh dalam iman, konsisten dalam amal saleh, serta terus menebarkan manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama manusia.
