Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

Menjemput Pahala yang Tak Pernah Putus

Ngelo, Margomulyo — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu, Ranting Ngelo, Kecamatan Margomulyo, yang dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Kegiatan bertempat di kediaman Ibu Umiati, Jipangulu, Desa Ngelo.

Kajian rutin tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat keimanan, memperbanyak amal ibadah, dan memperdalam pemahaman keagamaan bagi para jamaah. Kegiatan diikuti jajaran Pengurus Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo beserta seluruh anggotanya. Turut hadir Ibu Kepala Desa Ngelo serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Yasin, Tahlil dan Shalawat Mengawali Kajian

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan shalawat Nabi ﷺ secara berjamaah. Lantunan ayat suci Al-Qur'an, kalimat thayyibah, dan shalawat menciptakan suasana religius sekaligus menjadi momentum bagi jamaah untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan melakukan muhasabah.

Majelis seperti ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk menanam amal yang diharapkan memberikan manfaat jauh setelah pertemuan berakhir.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
(QS. Yasin: 12)

Ayat tersebut memberikan sebuah renungan mendalam: manusia tidak hanya meninggalkan amal yang ia kerjakan secara langsung, tetapi juga dapat meninggalkan atsar, yakni jejak dan pengaruh yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tidak lagi berada di dunia.

menjemput-pahala-yang-tak-pernah-putus

Bu Nyai Sriani: Ada Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Dalam kesempatan tersebut, hadir sebagai pemateri Bu Nyai Sriani, S.Pd., Wakil Ketua II PAC Fatayat NU Margomulyo. Beliau menyampaikan kajian dengan tema “Amalan yang Tak Pernah Putus.”

Tema ini mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan manusia di dunia pada hakikatnya adalah kesempatan untuk menanam bekal bagi kehidupan akhirat. Ketika seseorang meninggal dunia, kesempatan untuk melakukan amal secara langsung telah berakhir. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa terdapat amal tertentu yang pahalanya tetap mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadis ini menjadi inti penting dari tema kajian. Ada tiga pintu keberlanjutan pahala yang disebutkan Rasulullah ﷺ.

1. Sedekah Jariyah

Sedekah jariyah adalah amal yang manfaatnya terus berlangsung sehingga pahalanya terus diharapkan mengalir selama manfaat tersebut ada.

Bu Nyai Sriani mengajak jamaah untuk tidak hanya berpikir tentang sedekah yang manfaatnya selesai dalam satu waktu, tetapi juga mulai memikirkan amal yang manfaatnya dapat diwariskan kepada masyarakat.

Misalnya membantu pembangunan atau pemeliharaan masjid, menyediakan fasilitas air untuk masyarakat, mewakafkan tanah, menyediakan mushaf Al-Qur'an, mendukung lembaga pendidikan, atau bentuk wakaf lain yang manfaatnya terus dirasakan.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan makna hadis tersebut:

مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ عَمَلَ الْمَيِّتِ يَنْقَطِعُ بِمَوْتِهِ، وَيَنْقَطِعُ تَجَدُّدُ الثَّوَابِ لَهُ إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبَهَا، فَإِنَّ الْوَلَدَ مِنْ كَسْبِهِ، وَكَذَلِكَ الْعِلْمُ الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيمٍ أَوْ تَصْنِيفٍ، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَةُ الْجَارِيَةُ وَهِيَ الْوَقْفُ.

“Makna hadis ini adalah bahwa amal orang yang telah meninggal terputus dengan kematiannya dan terputus pula pembaruan pahala baginya, kecuali dalam tiga perkara tersebut, karena ia menjadi sebab adanya perkara-perkara itu. Anak merupakan hasil usahanya, demikian pula ilmu yang ia tinggalkan melalui pengajaran atau karya tulis, dan sedekah jariyah, yaitu wakaf.”

Penjelasan Imam Nawawi tersebut memberikan pemahaman penting: amal yang terus mengalir biasanya lahir dari sesuatu yang sengaja kita tanam dan bangun selama masih hidup.

2. Ilmu yang Terus Dimanfaatkan

Amalan kedua adalah ilmu yang bermanfaat.

Seseorang mungkin telah meninggal puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu, tetapi ketika ilmu yang pernah diajarkan masih dipelajari dan diamalkan, manfaat ilmu tersebut tetap hidup.

Seorang guru yang mengajarkan Al-Qur'an kepada muridnya, seorang ustaz yang mengajarkan fikih, seorang ibu yang mengajari anaknya membaca doa, atau seseorang yang menulis dan menyebarkan ilmu yang benar, semuanya dapat meninggalkan jejak kebaikan.

Inilah relevansi yang sangat indah dengan kegiatan kajian Muslimat NU. Ilmu yang disampaikan hari ini tidak berhenti ketika acara selesai. Jika ilmu itu dipahami, diamalkan, kemudian diajarkan kembali kepada keluarga dan masyarakat, maka manfaatnya dapat berkembang dari satu orang kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114)

Karena itu, menghadiri majelis ilmu bukan sekadar aktivitas berkumpul. Ia merupakan investasi akhirat.

3. Mendidik Anak Menjadi Generasi Saleh

Amalan ketiga yang disebut Rasulullah ﷺ adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga mempunyai dimensi akhirat yang sangat panjang.

Mendidik anak bukan hanya agar pandai membaca, mendapatkan pekerjaan, atau sukses secara duniawi. Lebih jauh, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan iman, akhlak, ibadah, dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah ﷺ.

Ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi saleh dan kemudian mendoakan orang tuanya, hubungan kebaikan itu tidak berhenti pada kematian orang tua.

Doa seorang anak menjadi salah satu bentuk keberlanjutan manfaat dari pendidikan yang telah ditanamkan orang tua selama hidupnya.

Karena itu, tugas seorang ibu sesungguhnya sangat mulia. Rumah tangga dapat menjadi madrasah pertama, dan seorang ibu memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang akan meneruskan nilai-nilai agama di tengah masyarakat.

Jangan Hanya Mencari Amal yang Besar

Lebih jauh, Bu Nyai Sriani mengajak jamaah agar tidak terjebak pada anggapan bahwa amal yang bernilai harus selalu besar dan membutuhkan biaya yang banyak.

Kadang-kadang amal yang tampak sederhana justru menjadi sebab lahirnya manfaat yang panjang.

Mengajari anak membaca Al-Qur'an, mengajarkan doa, membantu seseorang memahami ilmu agama, menyumbangkan mushaf, menyediakan air untuk jamaah, membantu pembangunan tempat ibadah, atau mendukung pendidikan anak-anak merupakan contoh bagaimana seseorang dapat menanam atsar kebaikan.

Allah SWT menggambarkan besarnya nilai infak:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi banyak manfaat, sebagaimana satu benih dapat menghasilkan banyak bulir.

“Atsar” Kebaikan: Jangan Sampai yang Tertinggal Justru Keburukan

Ayat QS. Yasin: 12 juga mengandung peringatan yang tidak kalah penting. Allah tidak hanya mencatat apa yang kita kerjakan, tetapi juga آثَارَهُمْ — bekas-bekas yang mereka tinggalkan.

Karena itu, setiap orang hendaknya bertanya kepada dirinya:

Ketika suatu hari nanti saya sudah tidak ada, apa yang akan tertinggal dari diri saya?

Apakah anak-anak yang saleh?

Apakah ilmu yang bermanfaat?

Apakah masjid yang pernah dibantu?

Apakah mushaf yang pernah diberikan?

Apakah seseorang yang pernah kita ajari membaca Al-Qur'an?

Apakah orang miskin yang pernah kita bantu?

Atau justru meninggalkan perkataan yang menyakiti, perselisihan, dan keburukan yang terus dikenang orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan tema kajian “Amalan yang Tak Pernah Putus” bukan hanya materi untuk didengarkan, tetapi juga ajakan untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan masing-masing.

Menjadikan Majelis Taklim sebagai Ladang Amal

Kegiatan Kajian Rutin Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo pada akhirnya memberikan pesan bahwa majelis taklim dapat menjadi salah satu tempat menanam amal yang manfaatnya melampaui waktu.

Ilmu yang disampaikan dapat diamalkan.

Amalan yang diamalkan dapat ditularkan.

Kebaikan yang ditularkan dapat menjadi kebiasaan.

Dan kebiasaan baik yang terus diwariskan dapat menjadi atsar yang tetap hidup meskipun orang yang memulainya telah tiada.

Di sinilah nilai penting kegiatan rutin Muslimat dan Fatayat NU. Silaturahmi tidak hanya memperkuat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbanyak ilmu, memperkuat ibadah, dan membangun kepedulian sosial.

Sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari hadis Rasulullah ﷺ, umur manusia boleh berhenti, tetapi manfaat dari kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus berlanjut.

Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, marilah memperbanyak menanam kebaikan: bersedekah, mengajarkan ilmu, mendidik generasi, membantu sesama, dan membangun amal yang manfaatnya terus dirasakan.

Sebab manusia mungkin akan meninggalkan dunia, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkannya dapat terus berjalan dari generasi ke generasi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. 

Kabar Terkait