NGELO, MARGOMULYO — Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Ngelo menyelenggarakan kegiatan kajian rutin di Balai Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat Legi, 16 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB itu menjadi sarana mempererat silaturahmi, menambah wawasan keagamaan, sekaligus menguatkan peran perempuan Nahdlatul Ulama dalam membina keluarga dan masyarakat.
Kajian dihadiri jajaran pengurus Ranting Muslimat NU dan Ranting Fatayat NU Ngelo, Wakil Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Margomulyo, Ibu Kepala Desa Ngelo, serta anggota Muslimat dan Fatayat NU. Suasana kegiatan berlangsung khidmat, hangat, dan penuh antusiasme. Para peserta mengikuti rangkaian acara dengan tertib, mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, shalawat, hingga penyampaian materi keagamaan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua MWCNU Margomulyo, Bapak Badrun, hadir sebagai pemateri. Beliau mengangkat tema tentang salah satu ciri ahli surga, yaitu memiliki wajah yang ramah dan murah senyum. Materi itu disampaikan sebagai pengingat bahwa kebaikan dalam Islam tidak hanya diwujudkan melalui ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, dan sedekah, tetapi juga melalui akhlak yang baik dalam pergaulan sehari-hari.
Bapak Badrun menjelaskan bahwa wajah ramah merupakan cerminan hati yang bersih, lapang, dan dipenuhi kasih sayang. Senyum yang tulus dapat menjadi jalan lahirnya persaudaraan, menghilangkan kecanggungan, serta menenangkan orang lain. Sebaliknya, wajah yang selalu masam, mudah marah, dan enggan menyapa dapat menimbulkan jarak di tengah keluarga maupun masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya: “Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
Menurut Bapak Badrun, ayat tersebut menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari rahmat Allah yang dapat mendekatkan manusia. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang santun, mudah menyapa, serta menampakkan wajah yang menyenangkan kepada para sahabat dan umatnya.
Beliau juga mengutip hadis Rasulullah SAW:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ
Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini mengajarkan bahwa senyum adalah amal ringan, tetapi memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. Senyum yang dilakukan dengan niat menghormati, membahagiakan, dan menguatkan sesama merupakan bentuk sedekah nonmateri. Setiap orang dapat melakukannya tanpa harus memiliki harta berlebih.
Selain itu, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ramah.” (HR. Muslim).
Bapak Badrun menegaskan bahwa hadis tersebut sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat. Sering kali seseorang menganggap senyum, salam, dan sapaan sebagai perkara kecil. Padahal, dari hal-hal sederhana itulah lahir suasana rukun, saling menghormati, dan kepedulian sosial.
Dalam penjelasan ulama Ahlussunnah wal Jamaah, Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan makna hadis tersebut dalam Syarah Shahih Muslim:
فِيهِ الْحَثُّ عَلَى فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ، وَأَنَّهُ لَا يُحْتَقَرُ شَيْءٌ مِنَ الْمَعْرُوفِ، وَأَنَّ لِقَاءَ النَّاسِ بِالْوَجْهِ الطَّلْقِ مِنَ الْمَعْرُوفِ
Artinya: “Hadis ini berisi anjuran untuk melakukan berbagai amal utama, bahwa tidak boleh meremehkan sedikit pun kebaikan, dan bahwa menemui manusia dengan wajah yang ramah termasuk perbuatan baik.”
Keterangan Imam an-Nawawi tersebut memperjelas bahwa keramahan adalah bagian dari akhlak mulia. Sikap ini hendaknya diterapkan oleh anggota Muslimat dan Fatayat NU, baik dalam keluarga, organisasi, lingkungan tetangga, maupun saat melayani masyarakat.
Di akhir materi, Bapak Badrun mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan tiga hal, yaitu mengucapkan salam, menampilkan wajah ramah, dan menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti. Menurutnya, perempuan NU memiliki posisi penting sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Anak-anak akan belajar adab, sopan santun, dan kasih sayang dari keteladanan ibu di rumah.
Kontributor: Jarmani.
Editor: Drun
