Margomulyo, 21 September 2026 — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (Turba) rutin sebagai bagian dari upaya mempererat silaturahmi, memperkuat konsolidasi organisasi, sekaligus meningkatkan kapasitas kader di tingkat ranting dan kelompok masyarakat.
PC Fatayat NU Bojonegoro Perkuat Kapasitas Pengurus melalui Diklat Kepemimpinan dan Tata Kelola Organisasi
Bojonegoro, —Ahad, 20 September 2026. Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Bojonegoro menggelar Diklat “Penguatan Kapasitas Kepemimpinan dan Tata Kelola Organisasi” sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas sumber daya pengurus dan memperkuat profesionalitas organisasi di tingkat kecamatan.
PROGRES MWCNU MARGOMULYO PERIODE 2023-2028
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, terus meneguhkan komitmennya dalam berkhidmah kepada umat dan melestarikan nilai-nilai ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah. Memasuki masa khidmat periode 2023-2028, jajaran pengurus berupaya merealisasikan berbagai program kerja yang tidak hanya berfokus pada penguatan tradisi keagamaan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi dan sosial jam'iyah. Langkah pergerakan ini merupakan bentuk tanggung jawab nyata organisasi untuk selalu hadir membawa manfaat, mempererat ukhuwah, serta merespons dinamika kebutuhan warga Nahdliyin di wilayah Margomulyo.
Ikrar Wakaf Perluasan Lahan RA Muslimat NU 20 Pucanganom Perkuat Kepastian Hukum Aset Pendidikan
Margomulyo (Kemenag) – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Margomulyo kembali melaksanakan pelayanan di bidang perwakafan melalui prosesi Ikrar Wakaf Perluasan Lahan RA Muslimat NU 20 Pucanganom, Senin (20/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.30–11.30 WIB tersebut dilaksanakan di RA Muslimat NU 20 Dusun Pucanganom, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, dengan dihadiri berbagai unsur pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.
ISTIGHOTSAH & DOA BERSAMA MWCNU MARGOMULYO: Mengetuk Pintu Langit untuk Keselamatan Negeri
"Jejak Khidmah di Penghujung Senja: Sebuah Perjalanan Cinta dalam Pengabdian"
Sesampainya di Kantor MWCNU, saya bertemu dengan Kiyai Rosyidi. Bersama beliau, kami mengambil dokumentasi pekerjaan Nol Persen dari empat sisi gedung yang sedang dibangun. Setiap sudut yang kami abadikan seakan menjadi saksi bisu dari niat tulus kami, memajukan dan menghidupkan kegiatan keagamaan di kecamatan tercinta ini. Selesai dengan tugas kami, saya dan Kiyai Rosyidi bersiap untuk memenuhi undangan silaturahim PBNU di Hotel Estern, Bojonegoro.
Waktu masih menunjukkan pukul sebelas saat kami memutuskan untuk mampir sejenak ke Kantor PCNU Bojonegoro. Di sana, saya disambut hangat oleh sahabat-sahabat seperjuangan—Gus Rohim, Gus Alek, Pak Mazro’i, dan beberapa tokoh lainnya. Percakapan pun mengalir tanpa terasa, menyelami berbagai topik mulai dari perjuangan hingga harapan untuk umat. Di tengah percakapan itu, kami sepakat untuk berangkat bersama ke tempat acara, menaiki satu mobil milik Gus Rohim, sementara mobil Kiyai Rosyidi kami tinggalkan di Kantor PCNU.
Ketika akhirnya kami tiba di Hotel Estern, saya disambut oleh suasana yang begitu hangat. Di sana, saya bertemu dengan banyak tokoh dan teman seperjuangan yang sudah lama tak bersua. Seakan waktu tak pernah memisahkan kami, senyum dan tawa menyambut pertemuan ini, namun tetap dalam nuansa keagungan silaturahim.
Menjelang siang, kami pun menunaikan salat Dzuhur di salah satu ruangan hotel. Sejenak keheningan menyelimuti, membawa hati ini berserah dalam doa dan syukur. Beberapa saat setelahnya, acara pun dimulai, ditandai dengan kehadiran Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, dan Gus Ipul, Sekretaris Eksekutif PBNU, yang diiringi oleh Ketua PCNU Bojonegoro, Gus Ubed, serta beberapa tokoh lainnya.
Hari itu, setiap momen terasa penuh makna, setiap langkah menjadi bagian dari pengabdian yang tulus. Dalam perjalanan ini, saya kembali diingatkan bahwa khidmah bukan sekadar tugas, tapi panggilan jiwa, jalan panjang yang penuh cahaya, menyusuri lorong-lorong kehidupan dengan keyakinan bahwa setiap detik yang kita lalui adalah bagian dari perjuangan menuju ridha-Nya.
Saat acara dimulai, suasana di ruangan menjadi khidmat. Para hadirin menanti dengan penuh antusias, menanti wejangan yang akan disampaikan oleh para pemimpin tertinggi NU. Ketika Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, menyampaikan pidato wejangannya, aura keagungan dan kebijaksanaan menyelimuti setiap sudut ruangan. Suaranya yang tenang namun penuh wibawa memulai pidato yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengingatkan kami semua akan tanggung jawab besar yang kami emban.
Dalam pidatonya, Gus Yahya menekankan pentingnya koherensi (Tamasuk) di dalam tubuh organisasi. Beliau berpesan kepada seluruh pengurus NU Bojonegoro untuk tidak hanya sekadar menjalankan program-program yang telah dicanangkan oleh PBNU, tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan visi besar yang telah digariskan. Koherensi ini, menurut beliau, adalah kunci untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan dalam setiap program yang digulirkan.
Gus Yahya menyampaikan bahwa koherensi bukanlah hal yang mudah dicapai. Ini membutuhkan kerja sama yang erat, komunikasi yang baik, dan pemahaman mendalam tentang tujuan jangka panjang organisasi. Beliau mengingatkan bahwa setiap program yang telah dicanangkan oleh PBNU memiliki tujuan yang mulia, yaitu membawa manfaat sebesar-besarnya bagi umat. Oleh karena itu, perlu ada kesinambungan antara pusat dan daerah, antara gagasan besar dan implementasi di lapangan.
Pesan ini menggema di hati setiap hadirin, termasuk saya. Dalam hati, saya merenung, memahami betapa pentingnya memastikan bahwa setiap program yang kami jalankan di Bojonegoro benar-benar sejalan dengan arah yang telah ditetapkan. Koherensi ini adalah tali yang mengikat kita semua, dari pusat hingga ranting, dalam satu kesatuan gerak yang harmonis.
Setelah pidato Gus Yahya selesai, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, menandakan bahwa pesan beliau telah sampai ke dalam hati para hadirin. Di tengah tepuk tangan itu, saya merasa ada semangat baru yang tumbuh, sebuah tekad untuk memastikan bahwa khidmah yang kami jalankan di Bojonegoro akan selalu sejalan dengan visi besar PBNU. Gus Yahya telah mengingatkan kami bahwa dalam perjalanan khidmah ini, koherensi adalah landasan yang akan mengantar kami pada kesuksesan sejati, sebuah kesuksesan yang tidak hanya bermanfaat bagi organisasi, tetapi juga membawa berkah bagi umat.
Setelah acara di Hotel Estern usai, saya dan Kiyai Rosyidi memutuskan untuk kembali ke Kantor PCNU Bojonegoro. Di sana, suasana masih terasa hangat, meski acara telah berakhir. Ketika melangkahkan kaki masuk ke dalam kantor, saya bertemu dengan Rekan Sholeh, Ketua PAC IPNU Margomulyo. Dengan wajah penuh semangat, ia mengutarakan keinginannya untuk mendaftar menjadi pegawai di BMTNU.
Saya pun mengajak Rekan Sholeh menuju ruang Bendahara BMTNU, Pak Rosyid, untuk mengurus keperluannya. Di ruang itu, kami disambut oleh Pak Rosyid dengan ramah. Obrolan hangat pun mengalir, dimulai dari diskusi ringan hingga membahas berbagai aspek penting yang berkaitan dengan BMTNU. Pak Rosyid berbicara dengan penuh kebijaksanaan tentang peran BMTNU dalam mendukung perekonomian umat, serta pentingnya kepercayaan dan amanah dalam mengelola keuangan syariah.
Rekan Sholeh menyimak dengan saksama, menyerap setiap nasihat dan informasi yang disampaikan oleh Pak Rosyid. Saya bisa melihat tekad yang kuat dalam matanya—tekad untuk berkontribusi dan membawa manfaat melalui BMTNU. Ketika pembicaraan kami mencapai puncaknya, Rekan Sholeh dengan penuh keyakinan menyerahkan berkas pendaftarannya kepada Pak Rosyid. Momen itu terasa istimewa, seolah menjadi awal dari sebuah perjalanan baru bagi Rekan Sholeh dalam berkhidmah melalui BMTNU.
Setelah urusan di BMTNU selesai, saya dan Kiyai Rosyidi memutuskan untuk pulang ke Margomulyo. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda—penuh dengan refleksi atas segala hal yang telah terjadi sepanjang hari. Dari pagi hingga sore, setiap langkah yang saya ambil seakan menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam pengabdian. Pertemuan dengan para tokoh, pesan-pesan yang disampaikan, hingga mendampingi Rekan Sholeh, semuanya menyatukan diri dalam harmoni khidmah yang begitu indah.
Hari itu, saya kembali diingatkan bahwa khidmah bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang bagaimana kita mendampingi dan mendorong orang lain untuk turut serta dalam pengabdian. Dalam perjalanan pulang, saya merasa tenang, penuh dengan syukur atas segala nikmat dan kesempatan yang diberikan oleh-Nya untuk terus berkhidmah, bersama-sama menuju ridha-Nya.
Sesampainya di Kantor MWCNU Margomulyo, meskipun lelah mulai terasa setelah seharian penuh beraktivitas, saya memilih untuk tidak langsung pulang ke rumah. Hari itu, ada momen istimewa yang menunggu—waktu berbuka puasa. Di tengah kesibukan yang tiada henti, berhenti sejenak untuk menikmati berbuka terasa begitu menenangkan.
Saya duduk bersama Mas Sholeh dan Mas Rahmat, menikmati hidangan sederhana namun penuh makna. Di bawah langit senja yang mulai gelap, kami saling berbincang sambil menanti datangnya waktu sholat Maghrib. Suara adzan yang mengalun lembut seakan menjadi tanda bagi kami untuk sejenak beristirahat dari hiruk-pikuk dunia, mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada-Nya. Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, kami kembali duduk bersama, bercengkerama ringan sembari menunggu datangnya waktu sholat Isya.
Waktu Isya pun tiba, dan kami melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk. Di setiap rakaatnya, saya merasakan kedamaian yang meresap, seolah segala penat yang saya rasakan perlahan luruh dalam sujud yang panjang. Usai sholat, suasana terasa begitu tenang, namun tugas khidmah saya belum usai. Malam itu, saya masih harus mengisi Kajian Rutin Malem Kamis Kliwon di Majelis Taklim Mata Air Pluntu, Desa Sumberjo.
Dengan penuh semangat dan rasa syukur, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kajian rutin ini bukan hanya sekadar pengajaran, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga dan memperkuat tali silaturahim serta keimanan di antara para jamaah. Setiap kata yang akan saya sampaikan nanti, saya harap mampu memberikan pencerahan dan motivasi, baik bagi diri saya sendiri maupun bagi mereka yang hadir.
Dalam perjalanan menuju Majelis Taklim, hati saya terasa tenang. Meskipun lelah, ada kekuatan tersendiri yang saya rasakan setiap kali melangkah menuju tempat di mana saya bisa berkhidmah. Perjalanan ini, yang dimulai sejak pagi hingga malam, adalah bukti bahwa khidmah adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh berkah. Dan di setiap langkahnya, ada rasa syukur yang tak terhingga kepada-Nya, yang telah memberi saya kesempatan untuk terus melayani umat-Nya.
Saat malam semakin larut dan perjalanan khidmah hari ini hampir usai, saya merenung dalam heningnya malam. Setiap langkah yang saya ambil, setiap kata yang saya sampaikan, semuanya terasa seperti untaian doa yang mengalir tiada henti, menyatu dalam keikhlasan dan pengabdian. Di balik lelah dan penat, ada kebahagiaan yang tak ternilai—kebahagiaan dalam melayani, dalam memberikan yang terbaik untuk umat, dan dalam merajut tali ukhuwah yang tak pernah putus.
Seperti senja yang selalu kembali bertemu dengan malam, saya menemukan kedamaian dalam siklus khidmah ini. Tugas-tugas yang saya jalani hari ini adalah bukti cinta yang tulus kepada-Nya dan kepada sesama. Di setiap akhir perjalanan, saya sadar bahwa khidmah bukan sekadar tugas, melainkan sebuah cinta yang abadi, yang selalu mengisi relung hati dengan cahaya harapan dan keyakinan.
Dengan penuh syukur, saya tutup hari ini dengan satu keyakinan: bahwa setiap langkah yang diiringi niat tulus dan ikhlas, akan selalu membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dan di sanalah, dalam keheningan malam dan doa yang terlantun, saya menemukan makna sejati dari perjalanan khidmah ini—sebuah perjalanan cinta yang tak pernah berakhir.
#Catatan Perjalanan Khidmah Seorang Kader
History of Naharul Ijtima' Tradition (Studi Geneologi Keilmuan di NU Margomulyo)
History of
Naharul Ijtima' Tradition (Studi Geneologi Keilmuan di NU Margomulyo)
Oleh: Lamiran, S.Pd.I./Badrun Sulaiman Ketua MWCNU Margomulyo
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Tradisi Naharul Ijtima'
di NU Margomulyo Bojonegoro Jawa Timur, memiliki sejarah yang kaya dan menarik.
Dimulai pada tahun 2019, kegiatan ini merupakan hasil gagasan Rabithah Ma’ahid
Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah, sebagai respons terhadap
kebutuhan untuk mempererat tali silaturahmi antara para ulama, santri dan warga
NU secara umum. Yang kemudian perkembangan di lapangan gagasan Rabithah Ma’ahid
Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengilhami sebagian kader penggerak
dan aktifis NU di beberapa daerah di Indonesia terkhusus di wilayah Margomulyo.
Naharul Ijtima’
menjadi alternatif berkualitas untuk Lailatul Ijtima' yang sulit dilakukan di
tengah medan wilayah Margomulyo yang didominasi oleh hutan<![if !supportFootnotes]>[1]<![endif]>.
Yang mana MWCNU margomulyo terdiri dari 6 Ranting yakni Rantig NU Ngelo,
Margomulyo, Kalangan, Sumberjo, Meduri dan geneng, yang mayoritas berada di
kawasan perhutani dengan kondisi jalan makadam yang masih sulit di lalui
terlebih di saat malam hari.
Tradisi Naharul
Ijtima' di NU Margomulyo merupakan cerminan dari kebutuhan mendesak akan
pertemuan rutin antara ulama dan santri serta warga NU secara Umum di wilayah
yang geografisnya menantang. Sejarah kegiatan ini, yang dimulai pada tahun
2019, menandai awal perjalanan yang kaya akan nilai-nilai keagamaan dan
kebersamaan.
1. Gagasan
Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah:
Naharul Ijtima' bukanlah sekadar kegiatan biasa,
melainkan sebuah gagasan yang lahir dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul
Ulama (RMINU) Jawa Tengah. RMINU sebagai organisasi yang peduli terhadap
pengembangan keilmuan dan silaturahmi di kalangan NU, merespons permasalahan geografis
yang berbeda-beda di setiap wilayah di indonesia terkhusus di wilayah Margomulyo
dengan menggagas kegiatan ini. Dengan demikian, Naharul Ijtima' menjadi
bukti nyata upaya organisasi untuk membawa manfaat positif bagi komunitas NU di
seluruh wilayah Indonesia.
2. Respons terhadap Kebutuhan Mempererat
Tali Silaturahmi:
Keberadaan Naharul Ijtima' sejalan dengan kebutuhan akan
mempererat tali silaturahmi antara ulama dan santri NU di Margomulyo. Tradisi
ini menjadi saluran untuk membangun kedekatan hubungan interpersonal,
mengingatkan akan pentingnya menjaga ikatan sosial dan keagamaan di tengah
kesulitan aksesibilitas geografis di wilayah tersebut.
3. Alternatif Berkualitas untuk Lailatul
Ijtima':
Naharul Ijtima' di NU Margomulyo
menciptakan alternatif berkualitas untuk Lailatul Ijtima', yang sulit dilakukan
di medan wilayah Margomulyo yang mayoritas didominasi oleh hutan. Keberhasilan
Naharul Ijtima' sebagai alternatif ini dapat diartikan sebagai respons kreatif
terhadap kondisi lingkungan yang unik di wilayah tersebut, menunjukkan
fleksibilitas dan adaptabilitas dalam merespons tantangan lokal.
Seiring dengan makin jelasnya
latar belakang Naharul Ijtima', kita dapat memahami bahwa tradisi ini tidak
hanya hadir sebagai kegiatan rutin, tetapi juga sebagai wujud nyata dari upaya
nyata komunitas NU untuk memperkokoh nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan
keilmuan di tengah kondisi lingkungan yang unik dan memerlukan pendekatan yang
inovatif.
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini
bertujuan untuk mengungkap sejarah dan perkembangan Naharul Ijtima' di NU
Margomulyo, menjelaskan genealogi keilmuan yang mendasari tradisi ini, serta
menggali dampak positifnya terhadap komunitas NU di wilayah tersebut.
Pembahasan
mengenai tujuan penulisan makalah ini mengarah pada ketiga aspek penting yang
ingin diungkap:
1. Mengungkap Sejarah dan Perkembangan Naharul Ijtima' di NU
Margomulyo:
Sebagai upaya awal, tujuan penulisan ini adalah merinci
sejarah Naharul Ijtima' sejak dimulainya pada tahun 2019. Penelusuran ini
mencakup aspek-aspek seperti awal mula ide, perkembangan pelaksanaan, dan
tahapan kunci yang membentuk tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari
kehidupan keagamaan di NU Margomulyo. Dengan memahami sejarahnya, para pembaca
dapat menangkap konteks serta evolusi Naharul Ijtima' dalam konteks NU
Margomulyo.
2. Menjelaskan Geneologi Keilmuan yang Mendasari
Tradisi Ini:
Pada bagian ini, penulisan berfokus pada genealogi
keilmuan yang menjadi landasan Naharul Ijtima'. Dalam hal ini, makalah
mencermati pengaruh dan kontribusi Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama
(RMINU) Jawa Tengah, inisiatif dari tokoh ulama seperti KH Musthofa Bisri,
serta peran komunitas ulama, santri dan warga NU secara Umum baik kultural
maupun struktural. Dengan mendalaminya, makalah berusaha menjelaskan bagaimana
keilmuan menjadi pilar utama dalam mewujudkan keberhasilan dan keberlanjutan
Naharul Ijtima'.
3. Menggali Dampak Positif Naharul Ijtima' Terhadap
Komunitas NU di Wilayah Tersebut:
Pada aspek ini, fokus makalah tertuju pada dampak positif
Naharul Ijtima' terhadap komunitas NU di Margomulyo. Dari sudut pandang
keagamaan, sosial, dan keilmuan, makalah mengidentifikasi perubahan positif
dalam tali silaturahmi, peningkatan keilmuan, serta peneguhan solidaritas di
antara ulama, santri dan warga NU secara Umum baik kultural maupun struktural.
Dengan menganalisis dampak positif ini, makalah mendorong apresiasi terhadap
relevansi dan manfaat Naharul Ijtima' dalam membangun dan memperkuat komunitas
NU.
Melalui ketiga
tujuan tersebut, makalah ini berupaya memberikan gambaran komprehensif mengenai
Naharul Ijtima' di NU Margomulyo, memberikan wawasan yang lebih dalam terkait
perjalanan, nilai-nilai keilmuan, dan kontribusinya terhadap perkembangan
komunitas NU di wilayah tersebut.
IV. Sejarah Naharul Ijtima' di
NU Margomulyo
V. Genealogi Keilmuan Naharul
Ijtima' di NU Margomulyo
VI. Dampak Sosial dan Keilmuan
Naharul Ijtima'
VII. Tantangan dan Prospek
Masa Depan
**Penulis adalah Kader
dan Aktifis NU yang saat ini di Amanahi Menjadi Ketua MWCNU & MUI
Margomulyo
<![endif]>
Mengukir Masa Depan: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' sebagai Pilar Pergerakan NU
Lailatul Ijtima' dan pergeserannya menjadi Naharul Ijtima' bukan hanya mengenai pertemuan dan evaluasi rutin. Kedua kegiatan ini mencerminkan semangat kebersamaan, kemandirian, dan kreativitas dalam pergerakan NU. Dalam menapaki masa depan, NU memahami bahwa keberlanjutan pergerakan ini memerlukan adaptasi dan inovasi yang berkelanjutan.
Kesinambungan Tradisi: Warisan Lailatul Ijtima' dan Inovasi Naharul Ijtima'
Lailatul Ijtima' dan pergeserannya menuju Naharul Ijtima' tidak hanya sebagai acara rutin, melainkan juga sebagai wahana pembelajaran yang berkelanjutan bagi para pengurus NU. Ini adalah perjalanan yang menggambarkan kesinambungan tradisi dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, mempertahankan nilai-nilai luhur, sambil terus mengembangkan metode dakwah yang relevan.
Naharul Ijtima': Membangun Jejak Baru dalam Pergerakan NU
Sebagai kelanjutan dari tradisi Lailatul Ijtima', pelaksanaan Naharul Ijtima' di siang hari menambah dimensi dinamis pada pergerakan NU. Keputusan ini memberikan ruang untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tantangan yang muncul, sekaligus menciptakan kesempatan bagi pengurus NU untuk berpartisipasi dalam suasana terang benderang.
LAILATUL IJTIMA' NU: Pertemuan Malam sebagai Landasan Evaluasi Dakwah Islam Aswaja
Lailatul Ijtima' NU, yang merupakan bagian integral dari Qonun Asas (Undang-undang Dasar Pergerakan NU) yang ditanamkan oleh KH Hasyim Asy'ari, menyajikan panggung penting dalam perjalanan dakwah Islam Aswaja. Kegiatan ini, diadakan secara bulanan setelah Sholat Isya, mengundang para pengurus NU dari berbagai tingkatan untuk melakukan evaluasi terhadap realisasi dakwah yang telah dilakukan.
Wajah Baru Kepengurusan PAC IPNU IPPNU Margomulyo Masa Khidmat 2023-2025
Margomulyo, 24 September 2023 - Konferancab IPNU II IPPNU II berlangsung dengan lancar di Pondok Pesantren Asy-Syakur, Desa Sumberjo, Margomulyo pada Ahad, 24 September 2023. Acara ini dihadiri oleh rekan-rekanita dari setiap pimpinan ranting di Kecamatan Margomulyo. Sidang pleno tata tertib berlangsung secara khidmad dan kondusif, menciptakan suasana yang harmonis.
Hal yang sama juga terjadi selama Sidang Komisi, yang berjalan dengan lancar. Namun, suasana menjadi haru saat sidang laporan pertanggungjawaban berlangsung. Ketua PAC IPNU IPPNU masa khidmat 2021-2023 menyampaikan progres selama satu periode dan mengungkapkan kesannya. Beberapa rekan-rekanita terharu mengingat perjuangan mereka selama satu periode ini yang dijalankan bersama. Setelahnya, para rekan-rekanita mengucapkan terima kasih kepada pimpinan ranting atas kontribusinya dan memohon maaf atas kekurangan pengurus pada periode kepengurusan mereka serta menyatakan sebagai demisioner. Acara tersebut ditutup dengan salam hangat dan foto bersama.
Sidang pemilihan ketua, yang dipimpin langsung oleh Bidang Keorganisasian PC IPNU IPPNU Bojonegoro, berjalan cukup menegangkan. Namun akhirnya, setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Ketua PAC IPNU IPPNU Margomulyo yang baru terpilih sebagai mandataris kepengurusan Masa Khidmat 2023-2025. Rekan Soleh Wibowo terpilih sebagai ketua IPNU, sementara Rekanita Siti Robiah Adawiyah terpilih sebagai ketua IPPNU.
![]() |
| Penyerahan surat keputusan kepada Ketua Mandataris PAC IPNU Margomulyo masa khidmat 2023-2025 oleh Bidang Keorganisasian PC IPNU Bojonegoro |
Rekan Soleh, selaku ketua PAC IPNU Margomulyo mandataris Masa Khidmat 2023-2025, menyampaikan dalam visi misinya bahwa ia akan terus berkolaborasi dengan berbagai instansi dan akan mengembangkan IPNU agar dapat menjadi lebih baik.
Sedangkan Rekanita Siti Robi'ah Adawiyah, selaku ketua PAC IPPNU Margomulyo mandataris Masa Khidmat 2023-2025, mengatakan dalam visi misinya bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin meningkatkan kader IPPNU agar PAC IPPNU Margomulyo memiliki kuantitas dan kualitas kader yang memadai.
Acara ditutup dengan penyerahan surat keputusan sidang pemilihan ketua kepada Ketua Mandataris PAC IPNU IPPNU Margomulyo Masa Khidmat 2023-2025 serta foto bersama Bidang Keorganisasian PC IPNU IPPNU Bojonegoro. Semoga dengan terpilihnya ketua PAC IPNU dan IPPNU Margomulyo yang baru dapat memberikan perkembangan untuk pergerakan Nahdlatul Ulama di Margomulyo serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, bangsa, negara, dan agama.
![]() |
| Penyerahan surat keputusan kepada Ketua Mandataris PAC IPPNU Margomulyo masa khidmat 2023-2025 oleh Bidang Keorganisasian PC IPPNU Bojonegoro |
Media Pelajar NU Margomulyo
Kontributor : M. Andray Arahman
Editor : Soleh Wibowo
Gebrakan baru Fatayat dan Muslimat NU Ranting Sumberejo: Meningkatkan Ukhuwah dan Semangat Nahdliyin
Sumberjo, 22 Juli 2023 - Lomba dan uji pemahaman ke-NU-an Ranting Fatayat dan Muslimat NU Sumberjo menyambut tahun baru Islam 1445 Hijriyah dan Harlah Fatayat ke-73 digelar dengan semarak di Pondok Pesantren Asy-Syakur Mojosari, Sumberjo, Margomulyo, pada Sabtu, 22 Juli 2023.
Bersama OJK, Anggota IPNU-IPPNU Margomulyo dan di seluruh wilayah Bojonegoro diajak untuk Mewaspadai Pinjaman Online dan Investasi Ilegal
Bapak Lutfi Rahman Amin (tengah), memaparkan tentang peran OJK dalam mewaspadai pinjaman online dan investasi ilegal bersama Ibu Farida Hidayati (kiri) dan dimoderatori oleh Rakanita Insaniatul Karimah (kanan) selaku Ketua PC IPPNU Bojonegoro |
Bojonegoro, 26-27 Mei 2023 – Seminar penyuluhan jasa keuangan dengan tema "Peran OJK dalam Mewaspadai Pinjaman Online dan Investasi Ilegal" di Hotel Eastern Bojonegoro dan MCM Hotel & Resto dilaksanakan pada tanggal 26-27 Mei 2023.


.png)














