Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

"Urgensi Maulid Nabi dalam Mengurai Cahaya Dakwah di Kalangan: Merajut Kebersamaan dalam Naharul Ijtima'"

(Mauidzoh Hasanah: Kiyai badrun)
Kalangan - Kamis, 26 September 2024, kegiatan Naharul Ijtima' NU Ranting Kalangan berlangsung dengan khidmat di kediaman Bapak Suparno, Dusun Bandung, Desa Kalangan, mulai pukul 13.00 hingga 15.30. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus Ranting NU Kalangan, Badan Otonom NU, serta Takmir Masjid dan Musholla se-Desa Kalangan. Kehadiran para tokoh NU Kalangan memberikan suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.

Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Rodhiyan, Rais Syuriyah NU Ranting Kalangan. Suara doa mengalun khusyuk, mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan makna kehidupan dan mempertebal keimanan kepada Allah SWT.

Selanjutnya, Kiyai Parno, selaku Ketua Ranting NU Kalangan sekaligus tuan rumah acara, menyampaikan sambutan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga NU Kalangan atas partisipasi aktif mereka dalam menyukseskan berbagai agenda dakwah Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) di Desa Kalangan. Dalam sambutannya, Kiyai Parno menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong dalam membangun dan mengembangkan dakwah Aswaja di tingkat desa.

Puncak acara diisi dengan Mauidzoh Hasanah oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, yang mengangkat tema "Urgensi Maulid Nabi dalam Meneguhkan Dakwah Islam Aswaja." Dalam ceramahnya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya momentum Maulid Nabi sebagai sarana memperkuat dakwah Islam yang berlandaskan nilai-nilai Aswaja. “Dakwah itu semampunya, bukan semaunya,” ujar Kiyai Badrun dengan tegas, mengingatkan bahwa dakwah harus dijalankan dengan niat tulus dan penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dakwah bukan hanya tentang menjadi pengurus, tetapi lebih kepada mengurusi umat dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Pesan ini menekankan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menyebarkan kebaikan, tanpa harus menunggu jabatan atau posisi formal dalam struktur organisasi.

Acara ditutup dengan doa bersama, mengharapkan keberkahan dan kelancaran dalam setiap kegiatan dakwah di Desa Kalangan. Para jamaah pun pulang dengan semangat baru untuk terus mendukung dan memperkuat dakwah Islam di tengah masyarakat.

Setelah ceramah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, para jamaah yang hadir tampak antusias, merasa termotivasi oleh pesan-pesan penuh makna yang beliau sampaikan. Diskusi-diskusi kecil pun mulai muncul di antara peserta, membahas pentingnya peran setiap warga NU dalam menjaga keberlanjutan dakwah Aswaja di Desa Kalangan.

Acara Naharul Ijtima' ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kekompakan di antara para pengurus NU, Badan Otonom, serta para takmir masjid dan musholla. Rasa gotong royong yang telah lama menjadi nilai luhur dalam masyarakat Desa Kalangan semakin terasa nyata di setiap kegiatan keagamaan yang digelar.

Sebagai penutup, Kiyai Parno kembali menyampaikan harapannya agar semangat dakwah yang telah tumbuh ini dapat terus dipupuk dan dikembangkan. Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk selalu menjaga kekompakan dan kebersamaan, karena tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, dakwah Aswaja tidak akan dapat berjalan maksimal.

Kegiatan ini memberikan inspirasi bagi seluruh hadirin untuk terus berperan aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial di desa mereka. Semangat untuk menjalankan dakwah "semampunya" dan tidak hanya berfokus pada posisi formal menjadi pesan penting yang dibawa pulang oleh para jamaah. Dengan semangat Maulid Nabi yang semakin dekat, harapan besar muncul agar perayaan Maulid tahun ini mampu menjadi momen penguatan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat Kalangan.

Kegiatan Naharul Ijtima' pun diakhiri dengan penuh kesyukuran, diiringi dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan harapan keberkahan bagi seluruh warga Desa Kalangan dan kelancaran dalam setiap upaya dakwah yang mereka jalankan.


Kontributor: Sholeh.
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri: Refleksi Pergerakan Dakwah Aswaja dan Upaya Pencegahan Pernikahan Dini

(Kiyai Rosyidi Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo)

Meduri - Pada Ahad malam, 22 September 2024, mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri berlangsung khidmat di Masjid Baitul Iman, Dusun Pleret, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus Ranting NU Meduri, Badan Otonom NU, warga Dusun Pleret, perangkat desa, RT, RW, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Acara diawali dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh Ustadz Lismanto. Kehadiran tahlil ini tidak hanya menandai pembukaan acara, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan spiritualitas warga. Kasun Dusun Pleret Sumariningsih, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam terhadap keberlangsungan kegiatan Lailatul Ijtima' ini. "Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga silaturahmi dan mempererat ikatan warga dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja)," ujarnya.

Ketua Ranting NU Meduri, Eko Sunarno, dalam sambutannya menguraikan peran penting struktur pengurus NU di tingkat ranting dalam mengawal dakwah Aswaja di Desa Meduri. Ia menegaskan bahwa ranting merupakan benteng utama dalam menjaga keutuhan ajaran Aswaja dari berbagai tantangan zaman. Selain itu, Eko juga menyoroti upaya pencegahan pernikahan dini yang saat ini menjadi perhatian serius. “Pencegahan pernikahan dini adalah tanggung jawab bersama, baik dari pihak keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Melalui edukasi, kita harus memastikan masa depan generasi muda lebih baik,” tegasnya.

Sebagai puncak acara, Kyai Rosidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo, menyampaikan mauidhoh hasanah yang berisi uraian mendalam tentang rukun khutbah dan keutamaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam tausiyahnya, Kyai Rosidi menjelaskan bahwa memahami dan mengamalkan rukun khutbah merupakan bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan ibadah Jumat yang lebih sempurna. Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk merenungkan kelahiran Rasulullah sebagai momentum memperkuat cinta kepada Nabi, dengan cara meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

( Ketua Ranting NU Meduri Eko Sunarno)

Suasana malam itu di Masjid Baitul Iman terasa penuh kehangatan. Kebersamaan para jamaah, mulai dari pengurus Ranting NU, Badan Otonom, hingga warga setempat, mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang kuat di Dusun Pleret. Lailatul Ijtima' bukan hanya sekadar forum ibadah dan pengajian, tetapi juga menjadi ruang berkumpul bagi warga untuk berdiskusi dan saling mendukung dalam berbagai persoalan sosial dan keagamaan.

Pesan yang disampaikan oleh Ketua Ranting NU, Eko Sunarno, tentang pentingnya struktur organisasi Ranting NU dan pencegahan pernikahan dini, mendapat perhatian serius dari jamaah. Hal ini menunjukkan betapa vital peran pengurus ranting dalam menjaga tatanan sosial dan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat. Tidak hanya mengawal dakwah, NU juga aktif berperan dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di masyarakat, seperti isu pernikahan dini yang sering kali menimbulkan dampak negatif bagi masa depan generasi muda.

(Do'a oleh Kiyai Kartin)

Doa yang dipimpin oleh Kyai Kartin menutup malam penuh berkah tersebut dengan suasana khidmat. Seluruh jamaah merasakan kedamaian dan keberkahan yang menyelimuti Lailatul Ijtima' malam itu. Harapan-harapan pun terlantun dalam doa, baik untuk kemaslahatan umat, kedamaian masyarakat, maupun keberlangsungan dakwah NU di Desa Meduri.

Setelah acara berakhir, banyak jamaah yang masih tinggal untuk berdiskusi dan berbincang ringan, mempererat tali persaudaraan antarwarga. Lailatul Ijtima' kali ini bukan hanya sekadar acara rutin, tetapi juga menjadi ajang memperkuat solidaritas, sekaligus menyadarkan akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh ajaran Aswaja.

Acara ini juga diharapkan menjadi inspirasi untuk terus menggerakkan kegiatan keagamaan yang positif, baik untuk penguatan spiritual maupun sosial. Dengan semangat Aswaja, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri terus berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga persatuan, serta mengukuhkan peran NU dalam menghadapi tantangan zaman.


Kontributor: Eko.
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo: Menggugah Spirit, Meraih Berkah

Margomulyo - Sabtu, 14 September 2024, aula MWCNU Margomulyo dipenuhi oleh cahaya iman dan harapan dalam rangkaian acara Lailatul Ijtima'. Kegiatan dimulai pada pukul 21.00 dan berlangsung hingga menjelang tengah malam, pukul 23.45, menjadikan suasana malam tersebut penuh dengan keberkahan dan doa.

Lailatul Ijtima' kali ini menonjolkan doa bersama yang mendalam, fokus pada keselamatan umat dan penguatan spiritual. Jajaran pengurus MWCNU Margomulyo, seluruh ranting, dan badan otonom NU hadir dengan penuh khidmat, menyatukan suara dan hati dalam setiap ibadah yang dilaksanakan.

Acara dimulai dengan Sholawat Bilqiyam, yang dipimpin oleh Ustadz Syaifuddin, Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Suara merdu sholawat menyebar ke segenap penjuru aula, mengisi ruangan dengan getaran spiritual yang dalam. Selanjutnya, acara diisi dengan Tahlil, yang dipimpin oleh Kiyai Paniran, Rais Syuriyah NU Ranting Ngelo. Tahlil malam itu menyentuh relung hati, menambah kekhusyukan para hadirin.

Pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani dilanjutkan oleh Kiyai Rosyidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo. Suara beliau membawakan sejarah dan keutamaan para aulia dengan khidmat, menambah kedalaman acara. Puncak dari acara adalah Mujahadah yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam mujahadah ini, Kiyai Badrun mengingatkan kita akan pentingnya memperbanyak diskusi dengan Allah SWT melalui media mujahadah, terutama di era yang penuh fitnah ini. Pesan beliau menjadi peneguh semangat, mengajak kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh sembilan Kiyai dari enam ranting NU dan MWCNU secara berurutan. Doa-doa tersebut mengalir dalam kesatuan, mengharapkan rahmat dan hidayah Allah untuk umat, serta keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo malam itu adalah sebuah perayaan spiritual yang mendalam, menghubungkan setiap hati dengan doa dan harapan, mengukuhkan komitmen bersama dalam membangun keberkahan. Semoga setiap doa yang dipanjatkan malam itu diterima dan membawa manfaat bagi kita semua.

Suasana khusyuk semakin terasa ketika gema doa bersama sembilan Kiyai mengalun lembut, membawa setiap jiwa dalam harmoni spiritual. Setiap rangkaian doa terasa menyelami hati para hadirin, seolah menggugah kembali kesadaran akan betapa pentingnya kebersamaan dalam menjaga umat dan menghadapi tantangan zaman.

Lailatul Ijtima' ini tidak hanya menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi dan penyegaran spiritual bagi seluruh peserta. Kehadiran para tokoh NU dari berbagai ranting dan badan otonom menegaskan betapa kuatnya ikatan ukhuwah di antara mereka, meski dalam situasi dunia yang semakin kompleks. Kebersamaan yang tercipta malam itu menjadi simbol persatuan, seiring dengan lantunan doa yang tiada henti.

Harapan besar disampaikan dalam setiap mujahadah, seiring dengan pesan Kiyai Badrun yang begitu mendalam. "Diskusi dengan Allah SWT melalui mujahadah adalah cara kita bertahan di tengah guncangan fitnah dunia. Dengan mujahadah, kita tak hanya meminta, tapi merasakan kehadiran-Nya di setiap langkah kita," ucap beliau dengan tegas namun lembut. Pesan ini seakan menjadi penuntun agar setiap insan senantiasa mengingat pentingnya memperbanyak munajat di tengah ujian zaman.

Saat acara mencapai penghujung, tampak wajah-wajah penuh kelegaan dan ketenangan. Doa terakhir yang dipimpin secara berurutan oleh para Kiyai menjadi penutup yang sempurna, seolah seluruh peserta Lailatul Ijtima' mendapatkan pelukan rahmat dari Sang Pencipta. Rasa syukur dan harapan pun membuncah, membawa pulang doa-doa itu ke dalam kehidupan sehari-hari, agar tetap menjadi cahaya penuntun di masa depan.

Kegiatan Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo ini menjadi pengingat, bahwa meski zaman terus berubah, tradisi doa dan mujahadah akan selalu menjadi benteng kokoh yang melindungi umat dari ancaman fitnah dan godaan dunia. Di tengah malam yang syahdu itu, kebersamaan, doa, dan harapan terajut indah, menciptakan jejak spiritual yang tak terlupakan.


Kontributor: Sholeh
Editor: Tim CyberMWCNU

"Sholat dan Akhlak: Meniti Jejak Nabi dalam Harmoni Kehidupan"

www.mwcnumargomulyo.com || Margomulyo - Kamis, 12 September 2024, dari pukul 13.00 hingga 15.00, Masjid Al-Huda di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, menjadi saksi khidmatnya Pengajian Rutin yang diikuti oleh anggota Majelis Taklim (MT) Al-Huda, Muslimat NU, dan warga setempat. Suasana penuh syukur dan kebersamaan membalut acara yang dimulai dengan lantunan tahlil yang khusyuk, menggetarkan hati setiap yang hadir. Setelah itu, sholawat bilqiyam menggema, membawa semangat cinta pada Rasulullah SAW, menghubungkan jamaah dengan keagungan Sang Nabi.

Acara mencapai puncaknya dengan tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyah yang mendalam dan sarat makna, beliau mengingatkan betapa pentingnya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kita pada Baginda Rasul. Tak hanya itu, Kiyai Badrun juga menekankan pentingnya memahami makna sholat, yang bukan sekadar ritual, tetapi sebuah pondasi yang harus tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari. "Sholat bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhannya," kata beliau, "tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya, membentuk masyarakat yang rukun dan harmonis."

Pengajian ini bukan hanya menjadi ajang penguatan spiritual, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi yang mempererat persaudaraan antarwarga. Semangat cinta Rasul dan pengamalan nilai-nilai sholat terlihat nyata di antara jamaah yang hadir, menyiratkan harapan akan terciptanya kehidupan yang lebih baik dan damai di Dusun Jepang.

Dalam tausiyahnya, Bapak Kiyai Badrun Sulaiman dengan bijak menguraikan keterkaitan antara makna sholat dan penyempurnaan akhlak, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa sholat bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam. "Sholat adalah sarana untuk menyempurnakan akhlak manusia," ujarnya. Melalui sholat, seorang muslim diajarkan untuk senantiasa menjaga kesucian hati, ketundukan, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW, sosok yang menjadi teladan sempurna bagi umat, menunjukkan bagaimana sholat bukan hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mengajarkan kasih sayang, kejujuran, dan keadilan dalam berinteraksi dengan sesama. Kiyai Badrun menekankan bahwa akhlak mulia yang terwujud dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah buah dari penghayatan mendalam terhadap makna sholat. "Ketika seseorang benar-benar memahami dan mengamalkan sholat, ia akan menumbuhkan sifat-sifat baik seperti sabar, rendah hati, dan pemaaf," jelasnya.

Beliau juga mengutip salah satu hadits Rasulullah, "Innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq," yang artinya, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." Pesan ini menegaskan bahwa sholat sejatinya harus mempengaruhi perilaku kita, memperbaiki hubungan sosial, dan membangun karakter yang baik dalam bermasyarakat. Dalam penutup tausiyahnya, Kiyai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk terus memperbaiki diri melalui sholat, sebagai bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kajian Rutin Kamis Kliwon: Mengupas “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia” di Aula MWCNU Margomulyo


www.mwcnumargomulyo.com|| Margomulyo, 5 September 2024 – Di bawah langit Kamis Kliwon yang teduh, Aula MWCNU Margomulyo kembali menjadi saksi perjalanan spiritual dalam bingkai kajian yang dihelat rutin oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Margomulyo. Kegiatan ini, seperti biasanya, dihadiri oleh segenap pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo dan para pengurus ranting yang tersebar di seluruh ancab Margomulyo. Mereka datang dengan penuh semangat, menyatukan hati dan niat untuk memperdalam pemahaman tentang makna keberadaban ruh manusia setelah berakhirnya kehidupan di dunia.

Pemateri yang dinanti-nantikan, Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, dengan penuh kharisma menyampaikan tausiyah bertema “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia.” Dalam ceramahnya, beliau dengan arif mengajak para jamaah untuk merenungi fase transisi ruh menuju alam yang lebih abadi, menekankan bahwa kehidupan ini hanyalah sementara dan yang sejati adalah kebersihan hati dan keikhlasan dalam beramal.

Dalam tausiyah yang disampaikan, Kiyai Badrun menjelaskan betapa pentingnya mempersiapkan bekal amal sholeh yang akan menjadi teman setia dalam perjalanan ruh menuju alam barzakh. Beliau juga menyentuh hati para hadirin dengan pesan mendalam tentang perlunya memperkuat keimanan, menjaga kebersihan jiwa, serta menumbuhkan rasa ikhlas dalam setiap langkah kehidupan.

Kegiatan kajian rutin ini merupakan agenda tetap setiap Kamis Kliwon, menjadi wahana bagi seluruh Muslimat NU di Margomulyo untuk saling berbagi ilmu dan hikmah. Inisiasi dari para pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo ini telah menjadi obor penerang dalam kegelapan hati, mengajak jamaah untuk senantiasa memperbaiki diri dan mengingat akhirat sebagai tujuan akhir.

Suasana khidmat menyelimuti pertemuan tersebut, ditutup dengan doa yang menggetarkan jiwa, memohon ridho Allah agar senantiasa memberikan hidayah dan kekuatan iman bagi setiap insan yang hadir. Tepat pada saat senja mulai merayap, kajian ini menuntun langkah-langkah para jamaah kembali ke rumah dengan hati yang lebih tenang, membawa bekal rohani yang akan terus menjadi pemandu dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menguraikan tema besar tentang “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia,” Kiyai Badrun melanjutkan tausiyahnya dengan pembahasan mendalam mengenai pentingnya memperbanyak ibadah, terutama di bulan Maulid. Bulan yang penuh keberkahan ini menjadi momen istimewa, tidak hanya sebagai peringatan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah sebagai bekal kehidupan pasca kematian dunia.

Beliau mengingatkan bahwa bulan Maulid adalah saat yang penuh rahmat dan kasih sayang Ilahi, di mana setiap amal ibadah yang dilakukan, baik itu shalat, sedekah, maupun sholawat kepada Nabi, akan berlipat ganda pahalanya. “Bulan ini adalah momentum emas bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan keberkahan,” tutur Kiyai Badrun, dengan suara penuh ketenangan yang seolah menggetarkan hati para jamaah.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa tidak ada bekal yang lebih baik untuk menghadapi kehidupan setelah kematian selain memperbanyak amal kebajikan. Di bulan Maulid, umat Islam diajak untuk lebih sering mengingat kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW dan meneladani sifat-sifat beliau dalam setiap aspek kehidupan. “Dengan memperbanyak ibadah di bulan Maulid, kita tidak hanya menanam kebaikan di dunia, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi yang sesungguhnya,” ujar beliau dengan lembut.

Kiyai Badrun juga menambahkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kehidupan yang lebih hakiki. Oleh karena itu, memperbanyak ibadah di bulan Maulid menjadi wujud cinta kepada Rasulullah SAW dan bukti ketaatan kepada Allah SWT, yang kelak akan menjadi penolong di saat kita memasuki alam barzakh dan dihisab di hari akhir.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun menyisipkan nasihat bijak agar setiap muslim memanfaatkan momen bulan Maulid untuk memperbaiki diri, membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, dan sombong, serta memperbanyak sholawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. "Sholawat adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Rasulullah, dan dengan banyak bersholawat, insya Allah, kita akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat," imbuhnya, seraya mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperkuat hubungan mereka dengan Sang Pencipta melalui ibadah yang tulus dan ikhlas.

Kegiatan kajian tersebut kemudian ditutup dengan lantunan sholawat bersama, yang mengalun syahdu di Aula MWCNU Margomulyo, menciptakan suasana yang penuh berkah dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, serta harapan untuk hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat.

 

 

"Menguatkan Ukhuwah di Bawah Naungan Ulama: Harmoni Naharul Ijtima' di Ranting NU Margomulyo"



Margomulyo - Ahad, 1 September 2024, warga Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Margomulyo kembali mengadakan kegiatan Naharul Ijtima' yang rutin dilaksanakan setiap Ahad Legi. Acara yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 15.30 ini digelar di Masjid Besar Al-Ihlas, Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi warga NU setempat, bersama dengan seluruh Badan Otonom (Banom) seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, serta jamaah Masjid Besar Al-Ihlas, untuk bersilaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui pembacaan Shalawat Bilqiyam yang dipimpin oleh Saudara Santoso, diikuti dengan lantunan Tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Atin. Suasana masjid yang dipenuhi oleh jamaah semakin menambah kekhusyukan ibadah ini.

Selanjutnya, Ketua Ranting NU Margomulyo, Bapak Wadarrokhim, menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi yang tinggi atas peran aktif seluruh warga NU dan Banom dalam menyukseskan acara ini. Beliau menekankan pentingnya kebersamaan dan gotong-royong dalam menjaga dan memajukan kegiatan keagamaan di Margomulyo.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Diyono, Koordinator Bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS) MWCNU Margomulyo. Beliau membahas berbagai isu terkait kehumasan, dengan fokus khusus pada masalah-masalah yang tengah dihadapi masyarakat, termasuk problematika terkait JUDI dan MINUMAN KERAS (JUDOL). Penekanan pada dampak sosial dan moral dari perilaku negatif ini menjadi sorotan dalam penyampaiannya.

Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, menjadi pemateri penutup dalam kegiatan kali ini. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan progres capaian yang telah diraih oleh MWCNU Margomulyo, sekaligus memberikan nasihat yang mendalam mengenai bahaya menjauh dari ulama dan ahli fiqih. "Menjauh dari ulama dan ahli fiqih dapat berdampak negatif, di antaranya: hilangnya keberkahan, diangkatnya penguasa zalim, dan meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman," tegas Kiyai Badrun, yang disambut dengan perhatian serius oleh seluruh jamaah yang hadir.

Kegiatan Naharul Ijtima' ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan rutin, tetapi juga sarana untuk memperkuat iman dan menambah wawasan keagamaan bagi seluruh warga NU Margomulyo. Dengan berakhirnya acara pada pukul 15.30, para jamaah pulang dengan hati yang penuh semangat dan kebersamaan, siap untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan bimbingan agama yang lebih kokoh.

Penutupan acara Naharul Ijtima' kali ini ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiyai Atin. Suasana hening dan penuh kekhusyukan menyelimuti seluruh jamaah saat doa dipanjatkan, memohon keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT. Setelah doa, para jamaah saling bersalaman, mempererat tali silaturahmi yang selama ini menjadi fondasi kuat dalam komunitas NU Margomulyo.

Di luar masjid, suasana hangat dan penuh persaudaraan terlihat jelas. Para anggota Banser dan Ansor tampak bersiaga, memastikan kelancaran dan keamanan kegiatan hingga akhir. Sementara itu, para ibu dari Muslimat dan Fatayat saling berbagi cerita dan pengalaman, mempererat hubungan antarbanom yang sudah terjalin erat.

Acara ini tidak hanya menjadi rutinitas semata, tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Margomulyo. Setiap kali Naharul Ijtima' digelar, bukan hanya ilmu yang didapat, tetapi juga kebersamaan yang semakin menguatkan ikatan sosial di antara warga. Ini menjadi bukti bahwa semangat ke-NU-an di Margomulyo terus tumbuh dan berkembang, didukung oleh kekompakan dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat.

Dengan selesainya kegiatan ini, harapan besar muncul di hati setiap peserta bahwa NU Margomulyo akan terus bergerak maju, menjadi motor penggerak dalam memperkuat akidah dan syiar Islam di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan Naharul Ijtima' yang rutin dilaksanakan ini, di bawah inisiatif Ranting NU Margomulyo, telah membuktikan bahwa kekuatan ukhuwah dan kebersamaan mampu menjadi pondasi yang kokoh bagi kemajuan bersama.

Seiring dengan itu, warga NU Margomulyo siap menyongsong tantangan di masa depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan ke-NU-an, serta terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik, sejahtera, dan berakhlak mulia.

Menebar Welas Asih di Aula Kantor MWCNU Margomulyo


Margomulyo - Ahad, 1 September 2024, Aula Kantor MWCNU Margomulyo menjadi saksi pentingnya sebuah kegiatan yang diadakan dari pukul 15.30 hingga 17.30 WIB. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap akhir bulan dan diinisiasi oleh PAC IPNU/IPPNU Margomulyo. 

Acara yang dihadiri oleh seluruh warga PAC IPNU/IPPNU ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap berbagai isu penting dalam masyarakat. Sebagai pemateri utama, Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, memberikan pencerahan mendalam kepada peserta. 

Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya menebar welas asih kepada seluruh makhluk Allah yang ada di muka bumi. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk memperdalam rasa empati dan kepedulian, sebagai wujud nyata dari ajaran Islam yang mengutamakan kasih sayang dan kepedulian sosial.

Acara ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang bagaimana cara mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mempererat tali silaturahmi di antara anggota PAC IPNU/IPPNU. Dengan semangat yang tinggi, peserta pulang dengan penuh inspirasi dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih peduli dan menyebarkan kebaikan di lingkungan masing-masing.

Kiyai Badrun membuka sesi dengan menjelaskan makna mendalam dari welas asih dalam konteks ajaran Islam. Beliau menekankan bahwa welas asih bukan hanya sebatas perasaan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. "Welas asih adalah cerminan iman kita. Ketika kita mampu merasakan penderitaan orang lain dan berusaha meringankannya, kita sedang menjalankan perintah Allah untuk menjadi hamba yang penuh kasih sayang," ujar Kiyai Badrun dengan penuh keyakinan.

Beliau kemudian membahas berbagai cara untuk menebar welas asih di berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan antarindividu hingga tanggung jawab sosial terhadap lingkungan. Menurut Kiyai Badrun, tindakan sederhana seperti memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, mendengarkan dengan empati, serta menjaga keharmonisan dalam bergaul adalah contoh konkret dari welas asih.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kemudahan dan kekuatan kepada setiap individu untuk dapat menebar welas asih dan melaksanakan ajaran-Nya dengan sebaik-baiknya. 

Kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen PAC IPNU/IPPNU Margomulyo dalam membangun masyarakat yang lebih peduli dan penuh kasih sayang. Dengan dukungan dan bimbingan dari Kiyai Badrun, diharapkan setiap peserta dapat membawa pesan welas asih ini ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, menciptakan perubahan positif bagi lingkungan sekitar.