Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

Idul Fitri, Momentum Kebangkitan Bersama melalui Wakaf


Margomulyo, Jum'at 02 Mei 2025

Bertempat di Masjid Baiturrohim Dusun Batang, Kecamatan Margomulyo, suasana malam penuh keberkahan menjadi saksi terselenggaranya kajian keislaman pasca-Ramadan bersama Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo. Kajian ini dimulai pukul 19.30 hingga 22.30 WIB dan dihadiri oleh jama’ah dari kalangan Muslimat dan Fatayat NU.

Mengangkat tema “Idul Fitri, Saatnya Bangkit Bersama dengan Wakaf”, Kiyai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk tidak sekadar memaknai Idul Fitri sebagai perayaan spiritual, tetapi sebagai titik balik untuk membangun umat secara sosial dan ekonomi melalui gerakan wakaf yang produktif dan terencana.

“Wakaf adalah jalan panjang amal jariyah. Setelah zakat dan infaq, kini saatnya umat menyempurnakan amalnya dengan wakaf, untuk masa depan yang berkelanjutan,” tutur beliau dengan penuh semangat.

Kegiatan berlangsung khidmat dan interaktif. Jamaah tampak antusias menyimak paparan yang dikemas dengan bahasa lugas namun mendalam, membangkitkan kesadaran kolektif untuk menjadikan wakaf sebagai alat perjuangan umat.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: Idul Fitri, Saatnya Bangkit Bersama dengan Wakaf

Pemateri: Kiyai Badrun Sulaiman
Waktu: Jum'at, 02 Mei 2025 | 19.30–22.30 WIB
Tempat: Masjid Baiturrohim, Dusun Batang – Margomulyo
Peserta: Jajaran Muslimat & Fatayat NU Margomulyo


1. Makna Wakaf sebagai Gerakan Pemberdayaan

  • Wakaf bukan hanya tentang tanah atau bangunan, tetapi mencakup aset produktif, dana abadi, bahkan skill.

  • Rasulullah ï·º mencontohkan wakaf sumur Raumah, yang hingga kini pahalanya terus mengalir.

  • QS. Al-Baqarah: 261 – "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir…"


2. Momentum Idul Fitri: Kembali Suci, Bangkit Kembali

  • Setelah jiwa disucikan oleh Ramadan, kini saatnya langkah konkret membangun masyarakat.

  • Idul Fitri adalah “hari besar sosial”, bukan sekadar seremoni.

  • Wakaf dapat menjadi instrumen strategis untuk mengurangi kesenjangan dan membangun kemandirian umat.


3. Arah Gerakan Wakaf yang Terstruktur

  • Bentuk wakaf produktif:

    • Lahan pertanian

    • Ruko/usaha ekonomi syariah

    • Dana bergulir untuk UMKM

  • Kelembagaan wakaf perlu dikuatkan:

    • Nadzir profesional & berbadan hukum

    • Sertifikat wakaf sebagai jaminan hukum dan keberlangsungan


4. Peran Muslimat dan Fatayat NU

  • Menjadi motor edukasi wakaf di tengah masyarakat.

  • Menginisiasi Wakaf Kolektif Perempuan NU untuk pembangunan pesantren, layanan kesehatan, dan koperasi.

  • Menyusun program pelatihan pengelolaan wakaf untuk kader muda.


5. Penutup: Wakaf sebagai Warisan Peradaban

“Mari mulai dari yang kecil, dari yang ada, dan dari diri sendiri. Wakaf bukan milik orang kaya saja. Ia milik siapa pun yang ingin menjadi bagian dari kebangkitan umat.”

Acara ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk memulai program Gerakan Sadar Wakaf di lingkungan Muslimat-Fatayat NU Margomulyo.

Zakat, Infaq, dan Wirausaha: Kunci Bangkitnya Ekonomi Umat dari Masjid Kaligede


Margomulyo, Ahad 04 Mei 2025

Bertempat di Masjid Al-Amin Dusun Kaligede, Desa Margomulyo, kegiatan pengajian umum rutin Muslimat dan Fatayat NU Kecamatan Margomulyo kembali digelar dengan semangat pasca-Ramadan yang menyala. Acara dimulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB dan menghadirkan Kiyai Badrun Sulaiman sebagai narasumber utama.

Dengan lugas dan menyentuh, Kiyai Badrun menyampaikan materi bertema:
"Zakat, Infaq, dan Wirausaha: Pilar Ekonomi Umat Pasca Ramadan",
sebagai refleksi lanjutan dari nilai-nilai Ramadan menuju penguatan ekonomi berbasis umat.

“Zakat dan infaq bukan hanya amalan, tapi fondasi pembangunan ekonomi. Jika dikelola bersama dengan semangat wirausaha, umat bisa bangkit dari bawah,” ungkap beliau.

Kegiatan ini diikuti antusias oleh jajaran Muslimat dan Fatayat NU, yang hadir lengkap dengan busana identitas organisasi masing-masing, menunjukkan sinergi perempuan NU dalam membangun perekonomian komunitas.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: "Zakat, Infaq, dan Wirausaha: Pilar Ekonomi Umat Pasca Ramadan"

Pemateri: Kiyai Badrun Sulaiman
Waktu: Ahad, 04 Mei 2025 | Pukul 13.00–15.30 WIB
Tempat: Masjid Al-Amin Kaligede, Margomulyo
Peserta: Jajaran Muslimat & Fatayat NU Margomulyo


1. Makna Zakat dan Infaq sebagai Investasi Sosial

  • Zakat membersihkan harta, mengangkat derajat mustahik menjadi muzakki.

  • Infaq sebagai jembatan kedermawanan dan solidaritas.

  • QS. At-Taubah: 103 – "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka..."


2. Ekonomi Umat sebagai Mandat Spiritual

  • Zakat dan infaq harus diarahkan pada program produktif, bukan hanya konsumtif.

  • Masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat, bukan sekadar tempat ibadah.

  • Potensi jamaah masjid dapat dihimpun untuk mendirikan koperasi, warung, hingga pelatihan kewirausahaan.


3. Wirausaha sebagai Pilar Kemandirian

  • Memberdayakan keluarga melalui pelatihan keterampilan perempuan.

  • Mendukung produk lokal Muslimat dan Fatayat.

  • Menyusun roadmap bisnis berbasis komunitas.


4. Implementasi di Tingkat Akar Rumput

  • Membentuk kelompok usaha mikro di bawah naungan ranting NU.

  • Mengelola dana zakat/infaq secara kolektif dan transparan untuk pemberdayaan.

  • Membangun sinergi dengan BAZNAS, BMT, dan Lembaga Amil Zakat.


5. Penutup: Dari Ramadan Menuju Perubahan Nyata

“Idul Fitri adalah titik tolak. Mari kita lanjutkan semangat Ramadan dalam bentuk konkret: membangun ekonomi umat, dari masjid, oleh jamaah, untuk masyarakat,”
Kiyai Badrun Sulaiman


Pengajian ditutup dengan pembacaan doa dan komitmen bersama untuk merancang aksi nyata: pelatihan UMKM berbasis masjid dan koperasi Muslimat-Fatayat sebagai gerakan lanjutan.

Jika diperlukan, saya dapat bantu menyusun rencana aksi pemberdayaan ekonomi komunitas berbasis zakat-infaq, lengkap dengan struktur kegiatan dan indikator keberhasilan.

Spirit Idul Fitri untuk Kesejahteraan Umat: Kiyai Badrun Ajak Muslimat NU Wujudkan Aksi Nyata


Margomulyo – Kamis, 8 Mei 2025

Bertempat di Auditorium MWCNU Margomulyo, jajaran PAC Muslimat NU Kecamatan Margomulyo menggelar kajian pasca-Idul Fitri dengan semangat pembaruan jiwa dan visi kebangkitan umat. Kegiatan yang berlangsung pada pukul 09.00–11.30 WIB ini menghadirkan narasumber utama Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo.

Dengan penuh keteduhan, beliau menyampaikan materi bertema:
"Spirit Idul Fitri: Dari Kesucian Hati Menuju Kesejahteraan Umat"
dalam suasana yang hangat, penuh keakraban, dan menggugah semangat keummatan.

“Kesucian hati yang lahir dari Idul Fitri harus dilanjutkan dengan kesadaran kolektif untuk memberdayakan umat, khususnya kaum ibu dalam gerakan ekonomi berbasis syariah,” tegas Kiyai Badrun di hadapan para peserta kajian.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: "Spirit Idul Fitri: Dari Kesucian Hati Menuju Kesejahteraan Umat"

Pemateri: Kiyai Badrun Sulaiman
Waktu: Kamis, 08 Mei 2025 | Pukul 09.00–11.30 WIB
Tempat: Auditorium MWCNU Margomulyo
Peserta: Jajaran PAC Muslimat NU Margomulyo


1. Makna Idul Fitri sebagai Momentum Spiritual

  • Idul Fitri adalah tonggak kembali kepada fitrah (kesucian jiwa).

  • Proses pembersihan diri dari dosa harus disertai perubahan sosial nyata.

  • QS. Al-Baqarah: 185 – "Agar kamu bersyukur."


2. Kesinambungan Spirit Idul Fitri dalam Kehidupan Sosial

  • Dari ibadah ritual menuju ibadah sosial.

  • Membumikan nilai-nilai spiritual dalam bentuk program kesejahteraan.

  • Silaturahmi dijadikan wahana membangun jaringan kolaborasi produktif antar warga Muslimat.


3. Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Syariah

  • Peran perempuan dalam ekonomi keluarga dan komunitas.

  • Mendorong Muslimat NU memiliki koperasi syariah, unit usaha mikro, dan pelatihan keterampilan.

  • Wakaf, infaq, dan zakat dijadikan sumber dana sosial produktif.


4. Strategi Aksi Nyata Muslimat NU

  • Menginisiasi Majelis Taklim Ekonomi Muslimat.

  • Mengembangkan program Baitul Maal wat Tamwil (BMT) berbasis jamaah.

  • Mendukung UMKM lokal berbasis rumah tangga.


5. Penutup: Dari Hati yang Bersih ke Gerakan Umat yang Kuat

“Idul Fitri bukan hanya tentang baju baru, tetapi cara pandang baru terhadap peran kita dalam membangun umat. Dari hati yang bersih, kita susun kekuatan umat menuju keberdayaan,”
Kiyai Badrun Sulaiman


Kajian ini menegaskan bahwa Muslimat NU bukan hanya pilar keagamaan, tetapi juga motor penggerak kemandirian ekonomi umat. Kajian pun ditutup dengan doa dan tekad bersama untuk menindaklanjuti semangat ini dalam bentuk aksi nyata di lingkungan masing-masing.

Berwakaf Setelah Berzakat: Menyempurnakan Amal di Hari Fitri, Kyai Badrun Ajak Jama’ah Masjid At-Tohir Wujudkan Kemandirian Umat


Sumberjo, Margomulyo — Rabu, 28 Mei 2025

Masjid At-Tohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo, menjadi saksi kajian ilmiah dan spiritual yang penuh makna pada Rabu malam, 28 Mei 2025, pukul 20.00–23.00 WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin Majlis Taklim At-Tohir dan menghadirkan Kyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, sebagai pemateri utama.

Dalam suasana yang sakral dan bersahaja, dengan latar dekorasi masjid bernuansa hijau dan simbol-simbol keislaman, Kiyai Badrun mengangkat tema “Berwakaf Setelah Berzakat: Menyempurnakan Amal di Hari Fitri”. Beliau menjelaskan bahwa zakat dan wakaf adalah dua instrumen utama dalam ekonomi Islam yang jika bersinergi, dapat mengokohkan kemandirian umat.

“Zakat menyucikan harta yang kita miliki, sedangkan wakaf mengalirkannya untuk kemaslahatan jangka panjang,” tutur beliau di hadapan para jama’ah yang terdiri dari kalangan tua-muda, takmir, hingga santri lokal.

Lebih lanjut, Kyai Badrun menekankan bahwa berwakaf setelah berzakat adalah bentuk amal unggul, sebagai ekspresi syukur atas kemenangan spiritual di hari Idul Fitri. Beliau juga mengajak jama’ah mulai membiasakan wakaf produktif, baik berupa tanah, dana, maupun skill dan tenaga yang dikelola dengan amanah.

Kegiatan kajian ditutup dengan sesi tanya jawab, doa bersama, dan komitmen jama’ah untuk membentuk tim kecil penggerak wakaf berbasis masjid guna mendukung program sosial keumatan ke depan.


📚 MATERI PENYULUHAN

Tema: "Berwakaf Setelah Berzakat: Menyempurnakan Amal di Hari Fitri"

Pemateri: Kyai Badrun Sulaiman
Hari/Tanggal: Rabu, 28 Mei 2025
Waktu: 20.00–23.00 WIB
Tempat: Masjid At-Tohir, Dusun Pluntu, Desa Sumberjo


1. Pendahuluan

  • Idul Fitri adalah momentum spiritual untuk penyucian jiwa dan harta.

  • Zakat fitrah adalah penyucian, wakaf adalah kelanjutan nilai manfaat.

  • Amal yang baik bukan hanya saat Ramadan, tapi harus berkelanjutan.


2. Makna Sinergi Zakat dan Wakaf

  • Zakat bersifat konsumtif: bantuan langsung untuk mustahik.

  • Wakaf bersifat produktif: membangun aset jangka panjang.

  • QS. Al-Baqarah: 267 → tentang pentingnya menginfakkan harta terbaik.


3. Mengapa Wakaf Pasca Zakat?

  • Menyempurnakan rasa syukur pasca Idul Fitri.

  • Menyambung keberkahan Ramadan melalui amal jariyah.

  • Wakaf adalah bentuk spiritualitas yang bertahan lama dan meluas.


4. Contoh Wakaf yang Relevan untuk Umat

  • Wakaf tanah: untuk pertanian atau bangunan lembaga pendidikan.

  • Wakaf uang: dikelola untuk beasiswa, UMKM, atau layanan kesehatan.

  • Wakaf skill: mengajar, melatih, dan membina masyarakat.


5. Penutup dan Aksi Nyata

  • Bentuk Tim Nazir Wakaf Masjid At-Tohir.

  • Edukasi rutin terkait wakaf produktif dan hukum wakaf.

  • Gerakkan semangat wakaf keluarga dan komunitas.

“Zakat adalah langkah awal. Wakaf adalah jejak panjang amalmu. Mari sempurnakan kemenangan Idul Fitri dengan wakaf yang bermanfaat bagi umat sepanjang zaman.” – Kyai Badrun Sulaiman