Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

Naharul Ijtima' NU Geneng: Menjaga Marwah Merajut Uhuwah

Pada hari Ahad, tanggal 17 Desember 2023, Masjid Al-Ihsan Payung Ds. Geneng, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, menjadi saksi kehangatan dan kebersamaan dalam gelaran Naharul Ijtima' NU Geneng. Acara ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus ranting NU Geneng, perangkat desa Geneng, dan seluruh Badan Otonom NU.

Konferensi MWCNU Tambakrejo: Kiyai Marjan Kembali Nahkodai MWCNU Tambakrejo

Pada hari Ahad, tanggal 17 Desember 2023, di Kantor MWCNU Tambakrejo, digelar Konferensi MWCNU yang menjadi saksi penting perubahan kepemimpinan. Dalam acara yang penuh kekhidmatan ini, Kiyai Marjan kembali memegang tampuk kepemimpinan MWCNU Tambakrejo.

Konferensi yang dihadiri oleh pengurus cabang Bojonegoro, diwakili oleh Kiyai Asfiror Ridwan dan Kiyai Syaifuddin, menjadi ajang penyatuan tekad untuk memajukan NU di tingkat majelis wakil cabang. Suasana haru dan semangat bersatu terasa begitu kental di antara para peserta konferensi.

Salah satu poin penting dalam konferensi ini adalah pengangkatan Kiyai Sukemi sebagai Rois Syuriah, mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin rohaniah yang dihormati. Keputusan ini diambil dalam Sidang Tim AHWA dengan persetujuan dan dukungan dari semua anggota yang hadir.

Rapat pleno juga menjadi panggung pemilihan ketua Tanfidziyah, di mana tiga kandidat utama, yaitu Kiyai Marjan, Kiyai Habib, dan Kiyai Mustofa, berkompetisi dengan penuh semangat. Dalam hasil yang menunjukkan dukungan mayoritas, Kiyai Marjan berhasil meraih 14 suara, sedangkan Kiyai Mustofa dan Kiyai Habib masing-masing mendapat 2 suara.

Dengan penuh kehormatan dan tanggung jawab, Kiyai Marjan diumumkan sebagai ketua MWCNU Tambakrejo periode 2023-2028. Keberhasilannya tidak hanya mencerminkan kepercayaan yang besar dari para pimpinan cabang, tetapi juga sebuah komitmen untuk terus mengembangkan nilai-nilai keislaman dan kemandirian di tengah masyarakat Tambakrejo.

Konferensi MWCNU Tambakrejo ini tidak hanya sebuah peristiwa seremonial, tetapi juga momentum penting bagi NU dalam melangkah ke masa depan yang lebih baik di bawah kepemimpinan yang penuh dedikasi dari Kiyai Marjan.

#TimMasterCyberMWCNU

History of Naharul Ijtima' Tradition (Studi Geneologi Keilmuan di NU Margomulyo)



History of Naharul Ijtima' Tradition (Studi Geneologi Keilmuan di NU Margomulyo)

Oleh: Lamiran, S.Pd.I./Badrun Sulaiman Ketua MWCNU Margomulyo

I. Pendahuluan

 

A. Latar Belakang

Tradisi Naharul Ijtima' di NU Margomulyo Bojonegoro Jawa Timur, memiliki sejarah yang kaya dan menarik. Dimulai pada tahun 2019, kegiatan ini merupakan hasil gagasan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah, sebagai respons terhadap kebutuhan untuk mempererat tali silaturahmi antara para ulama, santri dan warga NU secara umum. Yang kemudian perkembangan di lapangan gagasan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah mengilhami sebagian kader penggerak dan aktifis NU di beberapa daerah di Indonesia terkhusus di wilayah Margomulyo.

Naharul Ijtima’ menjadi alternatif berkualitas untuk Lailatul Ijtima' yang sulit dilakukan di tengah medan wilayah Margomulyo yang didominasi oleh hutan[1]. Yang mana MWCNU margomulyo terdiri dari 6 Ranting yakni Rantig NU Ngelo, Margomulyo, Kalangan, Sumberjo, Meduri dan geneng, yang mayoritas berada di kawasan perhutani dengan kondisi jalan makadam yang masih sulit di lalui terlebih di saat malam hari.

Tradisi Naharul Ijtima' di NU Margomulyo merupakan cerminan dari kebutuhan mendesak akan pertemuan rutin antara ulama dan santri serta warga NU secara Umum di wilayah yang geografisnya menantang. Sejarah kegiatan ini, yang dimulai pada tahun 2019, menandai awal perjalanan yang kaya akan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan.

1.   Gagasan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah:

Naharul Ijtima' bukanlah sekadar kegiatan biasa, melainkan sebuah gagasan yang lahir dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah. RMINU sebagai organisasi yang peduli terhadap pengembangan keilmuan dan silaturahmi di kalangan NU, merespons permasalahan geografis yang berbeda-beda di setiap wilayah di indonesia terkhusus di wilayah Margomulyo dengan menggagas kegiatan ini. Dengan demikian, Naharul Ijtima' menjadi bukti nyata upaya organisasi untuk membawa manfaat positif bagi komunitas NU di seluruh wilayah Indonesia.

2.   Respons terhadap Kebutuhan Mempererat Tali Silaturahmi:

Keberadaan Naharul Ijtima' sejalan dengan kebutuhan akan mempererat tali silaturahmi antara ulama dan santri NU di Margomulyo. Tradisi ini menjadi saluran untuk membangun kedekatan hubungan interpersonal, mengingatkan akan pentingnya menjaga ikatan sosial dan keagamaan di tengah kesulitan aksesibilitas geografis di wilayah tersebut.

3.   Alternatif Berkualitas untuk Lailatul Ijtima':

Naharul Ijtima' di NU Margomulyo menciptakan alternatif berkualitas untuk Lailatul Ijtima', yang sulit dilakukan di medan wilayah Margomulyo yang mayoritas didominasi oleh hutan. Keberhasilan Naharul Ijtima' sebagai alternatif ini dapat diartikan sebagai respons kreatif terhadap kondisi lingkungan yang unik di wilayah tersebut, menunjukkan fleksibilitas dan adaptabilitas dalam merespons tantangan lokal.

Seiring dengan makin jelasnya latar belakang Naharul Ijtima', kita dapat memahami bahwa tradisi ini tidak hanya hadir sebagai kegiatan rutin, tetapi juga sebagai wujud nyata dari upaya nyata komunitas NU untuk memperkokoh nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan keilmuan di tengah kondisi lingkungan yang unik dan memerlukan pendekatan yang inovatif.

 

B. Tujuan Penulisan

Makalah ini bertujuan untuk mengungkap sejarah dan perkembangan Naharul Ijtima' di NU Margomulyo, menjelaskan genealogi keilmuan yang mendasari tradisi ini, serta menggali dampak positifnya terhadap komunitas NU di wilayah tersebut.

Pembahasan mengenai tujuan penulisan makalah ini mengarah pada ketiga aspek penting yang ingin diungkap:

1.  Mengungkap Sejarah dan Perkembangan Naharul Ijtima' di NU Margomulyo:

Sebagai upaya awal, tujuan penulisan ini adalah merinci sejarah Naharul Ijtima' sejak dimulainya pada tahun 2019. Penelusuran ini mencakup aspek-aspek seperti awal mula ide, perkembangan pelaksanaan, dan tahapan kunci yang membentuk tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan di NU Margomulyo. Dengan memahami sejarahnya, para pembaca dapat menangkap konteks serta evolusi Naharul Ijtima' dalam konteks NU Margomulyo.

2.   Menjelaskan Geneologi Keilmuan yang Mendasari Tradisi Ini:

Pada bagian ini, penulisan berfokus pada genealogi keilmuan yang menjadi landasan Naharul Ijtima'. Dalam hal ini, makalah mencermati pengaruh dan kontribusi Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah, inisiatif dari tokoh ulama seperti KH Musthofa Bisri, serta peran komunitas ulama, santri dan warga NU secara Umum baik kultural maupun struktural. Dengan mendalaminya, makalah berusaha menjelaskan bagaimana keilmuan menjadi pilar utama dalam mewujudkan keberhasilan dan keberlanjutan Naharul Ijtima'.

3.  Menggali Dampak Positif Naharul Ijtima' Terhadap Komunitas NU di Wilayah Tersebut:

Pada aspek ini, fokus makalah tertuju pada dampak positif Naharul Ijtima' terhadap komunitas NU di Margomulyo. Dari sudut pandang keagamaan, sosial, dan keilmuan, makalah mengidentifikasi perubahan positif dalam tali silaturahmi, peningkatan keilmuan, serta peneguhan solidaritas di antara ulama, santri dan warga NU secara Umum baik kultural maupun struktural. Dengan menganalisis dampak positif ini, makalah mendorong apresiasi terhadap relevansi dan manfaat Naharul Ijtima' dalam membangun dan memperkuat komunitas NU.

Melalui ketiga tujuan tersebut, makalah ini berupaya memberikan gambaran komprehensif mengenai Naharul Ijtima' di NU Margomulyo, memberikan wawasan yang lebih dalam terkait perjalanan, nilai-nilai keilmuan, dan kontribusinya terhadap perkembangan komunitas NU di wilayah tersebut.

 

 

I. Pendahuluan

II. Tinjauan Pustaka

III. Metodologi

IV. Sejarah Naharul Ijtima' di NU Margomulyo

V. Genealogi Keilmuan Naharul Ijtima' di NU Margomulyo

VI. Dampak Sosial dan Keilmuan Naharul Ijtima'

VII. Tantangan dan Prospek Masa Depan

VIII. Kesimpulan

IX. Penutup

 

**Penulis adalah Kader dan Aktifis NU yang saat ini di Amanahi Menjadi Ketua MWCNU & MUI Margomulyo

 

 

Melangkah Bersama: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' dalam Konteks Global

 


Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima', dalam keseluruhan kesejarahan dan adaptasinya, tidak hanya menjadi pilar dalam pergerakan NU di tingkat lokal atau nasional, melainkan juga membentuk ikatan global yang erat. Dalam suasana yang semakin terhubung secara global, NU membuka diri terhadap kerjasama lintas batas untuk mempromosikan perdamaian, toleransi, dan pemahaman antarumat beragama.


Keberlanjutan Lailatul Ijtima' dan pergeserannya menjadi Naharul Ijtima' menegaskan bahwa NU tidak hanya terjebak dalam realitas lokal, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam pergerakan Islam global. Melalui pertemuan-pertemuan ini, NU menjembatani perbedaan budaya, bahasa, dan konteks, menciptakan platform yang inklusif untuk membahas isu-isu universal yang dihadapi oleh umat manusia.

Baca Juga: LAILATUL IJTIMA' NU: Pertemuan Malam sebagai Landasan Evaluasi Dakwah Islam Aswaja


Dalam menghadapi tantangan global seperti radikalisme, ekstremisme, dan ketidakadilan, Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' memberikan kontribusi dalam membentuk narasi Islam yang moderat dan progresif. NU memainkan peran penting dalam merumuskan pesan dakwah yang menjauhkan diri dari pemahaman sempit, merangkul nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Baca Juga: Naharul Ijtima': Membangun Jejak Baru dalam Pergerakan NU


Dengan memanfaatkan teknologi dan sarana komunikasi global, NU tidak hanya menjadi pelaku di tingkat nasional, tetapi juga menyebarkan visinya ke seluruh penjuru dunia. Momen Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' tidak hanya menjadi refleksi pergerakan NU di Indonesia, tetapi juga sebagai inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam di mancanegara untuk merangkul nilai-nilai moderat, toleran, dan inklusif.

Baca Juga: Kesinambungan Tradisi: Warisan Lailatul Ijtima' dan Inovasi Naharul Ijtima'


Kesinambungan tradisi ini juga mencerminkan visi global NU untuk berkolaborasi dengan organisasi-organisasi Islam lainnya, membangun jaringan yang kuat untuk menyuarakan pesan kesejahteraan dan kedamaian. Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' tidak hanya berbicara tentang pengalaman lokal, melainkan juga tentang daya tawar bersama dan komitmen untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan damai.

Baca Juga: Mengukir Masa Depan: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' sebagai Pilar Pergerakan NU

Sebagai kesimpulan, Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' bukan hanya sekadar pertemuan rutin dalam kalender NU, tetapi merupakan simbol keberlanjutan, adaptasi, dan keterbukaan. Melalui pertemuan-pertemuan ini, NU terus melangkah, merangkul tantangan global, dan bersama-sama membangun masa depan yang harmonis bagi umat manusia.

*Penulis adalah salah satu aktifis dan kader NU yang mendapat amanat sebagai ketua MWCNU margomulyo


Mengukir Masa Depan: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' sebagai Pilar Pergerakan NU

Lailatul Ijtima' dan pergeserannya menjadi Naharul Ijtima' bukan hanya mengenai pertemuan dan evaluasi rutin. Kedua kegiatan ini mencerminkan semangat kebersamaan, kemandirian, dan kreativitas dalam pergerakan NU. Dalam menapaki masa depan, NU memahami bahwa keberlanjutan pergerakan ini memerlukan adaptasi dan inovasi yang berkelanjutan.

Pertemuan malam dan siang hari bukan hanya sekadar forum diskusi, tetapi juga ladang ide dan gagasan segar untuk merumuskan langkah-langkah mendatang. Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' menjadi ajang bagi para pemikir dan penggerak NU untuk menjelajahi potensi baru dalam menyampaikan pesan-pesan Islam Aswaja secara relevan dan memikat.

Baca Juga: LAILATUL IJTIMA' NU: Pertemuan Malam sebagai Landasan Evaluasi Dakwah Islam Aswaja

Keberlanjutan tradisi ini juga mencerminkan komitmen NU dalam mendidik dan mempersiapkan generasi penerus yang mampu menghadapi dinamika kompleks dunia kontemporer. Melalui Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima', nilai-nilai keilmuan, keadilan, dan toleransi terus ditekankan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan pergerakan NU.

Baca Juga: Naharul Ijtima': Membangun Jejak Baru dalam Pergerakan NU

Pentingnya partisipasi masyarakat dalam pertemuan ini menjadi dorongan bagi NU untuk semakin terbuka terhadap berbagai kelompok dan lapisan masyarakat. Ini menciptakan kerangka inklusif yang memastikan bahwa suara setiap individu didengar, dan keberagaman dihargai dalam perjalanan dakwah Islam Aswaja.

Baca Juga: Melangkah Bersama: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' dalam Konteks Global

Di era teknologi informasi, NU juga menyadari pentingnya memanfaatkan sarana digital untuk mencapai audiens yang lebih luas. Inovasi dalam penyampaian pesan-pesan dakwah melalui platform daring dan media sosial semakin menjadi bagian integral dari strategi NU dalam menyebarkan nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Kesinambungan Tradisi: Warisan Lailatul Ijtima' dan Inovasi Naharul Ijtima'

Dengan demikian, Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' bukan hanya menciptakan sebuah titik fokus dalam jadwal rutin, tetapi juga menjadi pembuka pintu menuju tantangan dan peluang baru. Keberlanjutan tradisi ini mengukir masa depan pergerakan NU, menggabungkan kebijakan warisan dengan visi yang progresif, dan membimbing generasi NU untuk menjadi pelopor perubahan positif di tengah-tengah masyarakat.


*Penulis adalah salah satu aktifis dan kader NU yang mendapat amanat sebagai ketua MWCNU margomulyo

Kesinambungan Tradisi: Warisan Lailatul Ijtima' dan Inovasi Naharul Ijtima'

Lailatul Ijtima' dan pergeserannya menuju Naharul Ijtima' tidak hanya sebagai acara rutin, melainkan juga sebagai wahana pembelajaran yang berkelanjutan bagi para pengurus NU. Ini adalah perjalanan yang menggambarkan kesinambungan tradisi dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, mempertahankan nilai-nilai luhur, sambil terus mengembangkan metode dakwah yang relevan.

Warisan Lailatul Ijtima', sebagai bagian integral dari Qonun Asas, membentuk fondasi bagi pengembangan Naharul Ijtima'. Pemikiran KH Hasyim Asy'ari tentang evaluasi dakwah sebagai langkah penting dalam pergerakan NU menjadi tonggak yang menginspirasi setiap pertemuan, baik di malam maupun siang hari.

Baca Juga: LAILATUL IJTIMA' NU: Pertemuan Malam sebagai Landasan Evaluasi Dakwah Islam Aswaja

Pergeseran pelaksanaan pertemuan tersebut mencerminkan kematangan NU dalam menghadapi perubahan kompleksitas lingkungan sosial, politik, dan budaya. Naharul Ijtima' menjadi panggung untuk merumuskan solusi konkret dan strategi baru yang dapat menanggapi tantangan masa kini, menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan kreativitas dalam menyebarkan dakwah Islam Aswaja.

Baca Juga: Naharul Ijtima': Membangun Jejak Baru dalam Pergerakan NU

Melalui Naharul Ijtima', NU tidak hanya mempertahankan eksistensinya, tetapi juga membuktikan bahwa organisasi ini tidak terpaku pada kekangan waktu dan tempat. Keputusan untuk berkumpul di siang hari membawa nuansa terang dan sinar harapan, mencerminkan tekad NU untuk menerangi kehidupan masyarakat dan membawa perubahan positif.

Baca Juga: Melangkah Bersama: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' dalam Konteks Global

Pertemuan malam dan siang hari, dalam segala kompleksitasnya, menandai perjalanan yang tak henti berubah namun tetap berpegang pada inti nilai-nilai Islam. Dengan adanya Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima', NU terus menyusun lembaran baru dalam sejarahnya, menjadikan setiap pertemuan sebagai langkah strategis untuk mewariskan nilai-nilai Islam yang penuh kedamaian dan toleransi.

Baca Juga: Mengukir Masa Depan: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' sebagai Pilar Pergerakan NU

Sebagai organisasi yang dinamis dan responsif, NU terus menantang dirinya untuk berkembang, tidak hanya sebagai wadah dakwah, tetapi juga sebagai agen perubahan positif dalam masyarakat. Dengan demikian, Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' bukan hanya sekadar pertemuan rutin, melainkan perwujudan dari semangat kebersamaan, kemandirian, dan keberlanjutan dalam pergerakan NU.



*Penulis adalah salah satu aktifis dan kader NU yang mendapat amanat sebagai ketua MWCNU margomulyo

Naharul Ijtima': Membangun Jejak Baru dalam Pergerakan NU

Sebagai kelanjutan dari tradisi Lailatul Ijtima', pelaksanaan Naharul Ijtima' di siang hari menambah dimensi dinamis pada pergerakan NU. Keputusan ini memberikan ruang untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan tantangan yang muncul, sekaligus menciptakan kesempatan bagi pengurus NU untuk berpartisipasi dalam suasana terang benderang.

Pertemuan di siang hari membawa dinamika yang berbeda, menghadirkan kesempatan untuk membahas isu-isu aktual secara lebih terperinci dan mengembangkan strategi yang lebih canggih dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Naharul Ijtima' menciptakan suasana yang terbuka dan memungkinkan keterlibatan masyarakat yang lebih luas, memperluas dampak dakwah Islam Aswaja di tengah-tengah kompleksitas tantangan sosial dan politik.


Baca Juga: LAILATUL IJTIMA' NU: Pertemuan Malam sebagai Landasan Evaluasi Dakwah Islam Aswaja


Pergeseran waktu juga mencerminkan kesadaran NU terhadap peran penting organisasi ini dalam memperjuangkan Islam yang penuh rahmat dan inklusif. Dengan menggelar pertemuan di siang hari, NU menunjukkan keterbukaannya terhadap berbagai kalangan masyarakat yang ingin terlibat dalam pergerakan dakwah, tanpa dibatasi oleh kendala waktu malam.


Baca Juga: Kesinambungan Tradisi: Warisan Lailatul Ijtima' dan Inovasi Naharul Ijtima'


Selain itu, Naharul Ijtima' menjadi wadah bagi para pengurus NU untuk menjembatani perbedaan pendapat, mencapai kesepakatan, dan menyatukan visi dalam rangka meningkatkan efektivitas dakwah. Diskusi-diskusi yang terbuka dan konstruktif di siang hari memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan menggali solusi terbaik dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.


Baca Juga: Mengukir Masa Depan: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' sebagai Pilar Pergerakan NU


Dengan demikian, perjalanan Lailatul Ijtima' yang bergeser menjadi Naharul Ijtima' mencerminkan adaptabilitas dan ketangguhan NU sebagai organisasi dakwah. Ini adalah contoh nyata bagaimana NU terus bertransformasi, menjaga keasliannya, dan tetap relevan di tengah-tengah dinamika perubahan zaman.

Baca Juga: Melangkah Bersama: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' dalam Konteks Global

Sebagai pusat pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia, NU melalui Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' terus membentuk jejaknya dalam sejarah pergerakan Islam, membawa pesan cinta, kedamaian, dan kebersamaan. Inilah ciri khas NU, sebagai garda terdepan dalam menyebarkan ajaran Islam Aswaja yang inklusif, menginspirasi generasi untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keadilan dan harmoni.


*Penulis adalah salah satu aktifis dan kader NU yang mendapat amanat sebagai ketua MWCNU margomulyo

LAILATUL IJTIMA' NU: Pertemuan Malam sebagai Landasan Evaluasi Dakwah Islam Aswaja

Lailatul Ijtima' NU, yang merupakan bagian integral dari Qonun Asas (Undang-undang Dasar Pergerakan NU) yang ditanamkan oleh KH Hasyim Asy'ari, menyajikan panggung penting dalam perjalanan dakwah Islam Aswaja. Kegiatan ini, diadakan secara bulanan setelah Sholat Isya, mengundang para pengurus NU dari berbagai tingkatan untuk melakukan evaluasi terhadap realisasi dakwah yang telah dilakukan.

Pertemuan malam ini, diwujudkan dalam kebijakan Qonun Asas, menjadi sarana refleksi dan perenungan bagi para pengurus NU. Dengan diinisiasi oleh tokoh NU yang memiliki wawasan mendalam seperti KH Hasyim Asy'ari, Lailatul Ijtima' menjadi lebih dari sekadar pertemuan rutin; ia menjadi ruang di mana aspek-aspek strategis dalam penyebaran ajaran Islam Aswaja dieksplorasi dan dievaluasi.

Baca Juga: Naharul Ijtima': Membangun Jejak Baru dalam Pergerakan NU

Pentingnya waktu malam sebagai konteks Lailatul Ijtima' mencerminkan kebijaksanaan untuk menghindari kegemparan dan gangguan yang mungkin terjadi pada siang hari, memungkinkan peserta untuk berkumpul dalam keheningan dan khusyuk. Tradisi ini diwariskan dari masa ke masa, menghadirkan atmosfer yang tenang dan mendalam untuk merenungkan serta merencanakan langkah-langkah ke depan dalam mengembangkan dakwah Islam Aswaja.

Baca Juga: Kesinambungan Tradisi: Warisan Lailatul Ijtima' dan Inovasi Naharul Ijtima'

Adanya kebijakan pergeseran pelaksanaan pertemuan menjadi Naharul Ijtima' pada siang hari menunjukkan adaptasi NU terhadap situasi dan kondisi medan dakwah yang dinamis. Dengan demikian, Lailatul Ijtima' bukan hanya berfungsi sebagai acara evaluasi, tetapi juga sebagai forum dialog dan strategi di antara para pengurus NU untuk menjawab tantangan zaman.

Baca Juga: Melangkah Bersama: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' dalam Konteks Global

Pertemuan rutin ini di masjid, mushola, atau bahkan di rumah menjadi ajang bersilaturahmi dan mempererat ikatan antar pengurus, menciptakan jaringan solidaritas yang kuat di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Melalui Lailatul Ijtima', NU terus memperkokoh fondasi organisasinya dan menggali potensi untuk merespons perkembangan masyarakat serta menghadapi berbagai isu kontemporer.

Baca Juga: Mengukir Masa Depan: Lailatul Ijtima' dan Naharul Ijtima' sebagai Pilar Pergerakan NU

Secara keseluruhan, Lailatul Ijtima' NU bukan sekadar acara rutin, melainkan upaya yang terus berkembang untuk memahami, mengevaluasi, dan merencanakan langkah-langkah strategis dalam menghadirkan dakwah Islam Aswaja di tengah masyarakat. Landasan inilah yang menjadikan pertemuan malam ini sebagai cikal bakal kejayaan NU dalam menyebarkan ajaran Islam yang penuh kedamaian dan toleransi.


*Penulis adalah salah satu aktifis dan kader NU yang mendapat amanat sebagai ketua MWCNU margomulyo

Naharul Ijtimak NU Ranting Geneng: Membangun Kebersamaan dan Keharmonisan dalam Keagamaan

Geneng, 12 Nopember 2023 - Masjid Al-Muhlisiah Kali Bedah, Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, menjadi saksi atas keharuan dan kebersamaan umat Nahdlatul Ulama (NU) pada acara rutin "Naharul Ijtimak NU Ranting Geneng" yang diselenggarakan setiap Ahad Pahing. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad, 12 Nopember 2023, dan dihadiri oleh warga NU serta seluruh Badan Otonom NU Geneng.

Turba MWCNU dan Kajian Rutin Malem Sabtu Pahing di Masjid Baiturrohim Batang, Margomulyo

Margomulyo, 24 Nopember 2023 - Dalam rangka memperkuat keimanan dan mempererat tali silaturahmi, Jama'ah Masjid Baiturrohim Batang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, menggelar kegiatan rutin "Turba MWCNU dan Kajian Malem Sabtu Pahing." Acara ini telah menjadi bagian integral dalam kalender kegiatan keagamaan di dusun Batang desa Margomulyo dan berlangsung pada Jum'at, 24 Nopember 2023.

PAC Muslimat NU Margomulyo Menggelar Pengajian: Memperkukuh Spiritual Anggotanya Melalui Kitab Arruh



Margomulyo, 30 Nopember 2023 - Suasana kantor MWCNU Margomulyo semakin syahdu pada hari Kamis ini, ketika PAC Muslimat NU Margomulyo menggelar kegiatan pengajian bertajuk "Memperkukuh Spiritual Melalui Kitab Arruh". Kegiatan yang dihadiri oleh anggota dari enam ranting Muslimat NU SeANCAB Margomulyo ini bertujuan meningkatkan spiritual Sumber Daya Manusia (SDM) para anggotanya.

NAHARUL IJTIMA' NU KALANGAN: Membangun Kebersamaan dan Semangat Dakwah Islam di Setiap Kegiatan Bulanan.


Kalangan, 26 Nopember 2023 - Pada hari Ahad, tanggal 26 November 2023, sebuah kegiatan yang dinantikan oleh warga NU di desa Kalangan, yaitu Naharul Ijtima' NU Kalangan, dilaksanakan dengan penuh semangat. Kegiatan ini merupakan ajang koordinasi dan konsolidasi dakwah Islam yang rutin dilaksanakan setiap bulan pada tanggal 26. Acara ini menjadi momen yang sangat dinanti oleh seluruh warga NU Kalangan.

Naharul Ijtima' NU Kalangan menjadi sarana penting bagi warga NU untuk berkumpul, berkoordinasi, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan dakwah Islam di desa tersebut. Para peserta yang hadir terdiri dari warga NU Kalangan dan seluruh Badan OTONOM NU Kalangan yang terdiri dari berbagai bidang dan latar belakang.

Yang menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah kehadiran Kiyai Badrun, selaku Ketua MWCNU Margomulyo. Kehadiran beliau memberikan semangat dan arahan yang berharga bagi seluruh peserta Naharul Ijtima' NU Kalangan. Sebagai tokoh yang dihormati dan diakui dalam lingkungan NU, Kiyai Badrun memberikan nasihat dan bimbingan yang menginspirasi dalam menjalankan dakwah Islami di desa Kalangan.

Naharul Ijtima' NU Kalangan merupakan kegiatan yang berawal sejak tahun 2018, dan setiap tahunnya kehadirannya semakin kuat dan berkembang. Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antara warga NU Kalangan, memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan program-program dakwah, serta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam memperkuat keimanan dan keislaman.

Dalam Naharul Ijtima' NU Kalangan, berbagai kegiatan digelar, seperti tausyiah, diskusi keagamaan, pengajian, serta kegiatan sosial lainnya. Seluruh kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kecintaan terhadap ajaran Islam serta mendorong partisipasi aktif warga NU dalam menjalankan dakwah.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi warga NU Kalangan untuk berkolaborasi dalam membangun desa yang Islami dan sejahtera. Mereka saling mendukung dalam mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi, serta berperan aktif dalam menjaga keharmonisan dan keutuhan umat.

Dalam sambutannya, Kiyai Badrun menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas semangat dan dedikasi warga NU Kalangan dalam menjalankan Naharul Ijtima' setiap bulan. Beliau juga mengimbau agar kegiatan ini terus dijaga dan ditingkatkan, serta dijadikan sebagai ajang yang lebih luas untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan umat Islam di desa Kalangan.

Naharul Ijtima' NU Kalangan telah menjadi ikon kebersamaan dan semangat dakwah di desa tersebut. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan warga NU Kalangan semakin terinspirasi dan termotivasi untuk terus berkontribusi dalam pengembangan agama dan kesejahteraan bersama.


#MasterCybermwcnu

Pelantikan Pimpinan Ranting Fatayat NU SeANCAB Margomulyo Membawa Semangat Baru bagi Organisasi


Margomulyo, 26 Nopember 2023 - Pada hari Ahad, 26 November 2023, kantor MWCNU Margomulyo dipenuhi dengan semangat dan kegembiraan saat Pelantikan Pimpinan Ranting Fatayat NU SeANCAB Margomulyo digelar. Acara yang dihadiri oleh berbagai tokoh dan pemimpin organisasi di wilayah tersebut menjadi momen penting bagi perkembangan Fatayat NU di Margomulyo.

NAHARUL IJTIMA' NU RANTING NGELO: Mempererat Ukhuwah Islamiyah dalam Kegiatan Bulanan yang Penuh Berkah

Ngelo, 25 Nopember 2023 - Suasana kehangatan dan kebersamaan terasa begitu kuat saat Naharul Ijtima' NU Ranting Ngelo digelar di Musholla Baitul Makmur, Dusun Tolu, Desa Ngelo pada hari Sabtu, 25 November 2023. Kegiatan ini merupakan agenda bulanan yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu terakhir setiap bulannya. Naharul Ijtima' NU Ranting Ngelo menjadi momen yang dinantikan oleh warga NU di desa tersebut.

Sidang Tim Formatur Draf Pengurus MWCNU Margomulyo: Draf Siap Diajukan ke PCNU Bojonegoro

Margomulyo, 23 November 2023 - Sidang Tim Formatur Draf Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Margomulyo berlangsung pada hari Kamis, 23 November 2023, di Kantor MWCNU Margomulyo. Sidang yang dipimpin oleh Kiyai Badrun ini dihadiri oleh anggota tim lengkap yang bertugas merumuskan dan menyusun draf pengurus MWCNU Margomulyo untuk periode 2023-2028.

Sidang dimulai dengan sambutan dari Kiyai Badrun, yang mengapresiasi kerja keras dan dedikasi tim dalam merumuskan draf pengurus. Beliau menyampaikan pentingnya draf ini sebagai panduan dalam menjalankan organisasi NU di tingkat Majelis Wakil Cabang. Kiyai Badrun juga menekankan perlunya mengutamakan kepentingan umat dan masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil.

Selama sidang, anggota tim formatur secara cermat dan teliti membahas setiap aspek dalam draf pengurus MWCNU Margomulyo. Mereka mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kualifikasi, kompetensi, dan representasi dari calon pengurus yang diusulkan. Diskusi yang intens dan konstruktif berlangsung, dengan tujuan mencapai kesepakatan yang adil dan menyeluruh.

Setelah melalui proses perumusan yang teliti, draf pengurus MWCNU Margomulyo akhirnya selesai. Draf ini mencakup struktur kepengurusan serta tugas dan tanggung jawab masing-masing posisi pengurus. Tim formatur merasa yakin bahwa draf yang telah disusun akan mampu memenuhi kebutuhan organisasi dan mewujudkan visi dan misi NU di wilayah Margomulyo.

Draf pengurus MWCNU Margomulyo yang telah fix dan siap diajukan ke Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Bojonegoro ini menandai tahap penting dalam proses pembentukan pengurus baru MWCNU Margomulyo. Setelah mendapatkan persetujuan dari PCNU Bojonegoro, pengurus MWCNU Margomulyo yang baru akan segera dilantik dan memulai tugasnya untuk periode mendatang.

Kiyai Badrun dalam penutup sidang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada anggota tim formatur atas kerja keras dan dedikasi mereka. Beliau juga menegaskan pentingnya sinergi dan kerjasama antar pengurus dalam menjalankan amanah ini. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan MWCNU Margomulyo dapat terus berkontribusi positif dalam memajukan agama dan masyarakat di wilayah Margomulyo.

Sidang Tim Formatur Draf Pengurus MWCNU Margomulyo berjalan lancar dan sukses. Dengan draf yang telah fix dan siap diajukan ke PCNU Bojonegoro, langkah selanjutnya adalah menunggu persetujuan resmi dari PCNU dan pelantikan pengurus baru.


(MasterCyber)

PAC Muslimat NU Berdayakan Anggotanya dengan Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong

Margomulyo, 23 November 2023- Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong yang diselenggarakan pada Kamis, 23 November 2023, di Kantor MWCNU Margomulyo, menjadi ajang kolaborasi antara Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Margomulyo dan Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Margomulyo. Kegiatan ini diinisiasi oleh Bu Nyai Maslahah S.Pd.I, Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, dengan dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro.

Diklat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada peserta dalam memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan pertanian dan pangan. Peserta diklat terdiri dari 30 orang yang berasal dari ranting Muslimat se-Kecamatan Margomulyo, serta jajaran pengurus PAC Muslimat.

Acara dimulai dengan sambutan dari Bu Nyai Maslahah S.Pd.I, yang menyampaikan pentingnya pemanfaatan lahan kosong dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah Margomulyo. Beliau juga mengapresiasi kerja sama antara MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro dalam menyelenggarakan diklat ini.

Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro, sebagai pemateri dalam diklat, memberikan pengetahuan dan strategi praktis dalam mengelola lahan kosong untuk kegiatan pertanian. Mereka membagikan informasi tentang teknik bercocok tanam, pemilihan varietas tanaman yang cocok, serta penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Selama diklat, peserta aktif terlibat dalam sesi diskusi dan praktik langsung di lapangan. Mereka belajar bagaimana mempersiapkan lahan, menanam benih, merawat tanaman, dan mengatasi masalah yang mungkin muncul selama proses pertanian. Para peserta juga diberikan pemahaman tentang pentingnya keberlanjutan dan kelestarian lingkungan dalam praktik pertanian.

Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah Margomulyo. Melalui kolaborasi antara MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro, diharapkan masyarakat dapat mengoptimalkan potensi lahan kosong untuk meningkatkan produksi pangan lokal.

Bu Nyai Maslahah S.Pd.I dalam penutup diklat mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Beliau berharap peserta dapat menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan untuk membangun kemandirian pangan di komunitas mereka masing-masing.

Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong berjalan sukses dan memberikan manfaat yang signifikan bagi peserta. Kolaborasi antara MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro diharapkan dapat terus berlanjut dalam upaya membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan di wilayah Margomulyo.

(MasterCyber)

Konferensi MWCNU Margomulyo: Kiyai Rosyidi Terpilih Sebagai Rois Syuriah dan Kiyai Badrun Sebagai Ketua Tanfidziyah


Margomulyo, 19 November 2023 - Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Margomulyo yang berlangsung pada hari Ahad, 19 November 2023, dihadiri oleh unsur pimpinan cabang NU Bojonegoro dan pimpinan ranting NU se-Kecamatan Margomulyo. Konferensi ini bertujuan untuk memilih Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah yang akan memimpin MWCNU Margomulyo untuk periode berikutnya.

Konferensi yang berlangsung di Kantor MWCNU Margomulyo ini dihadiri oleh para tokoh agama dan pemimpin NU dari berbagai tingkatan. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua MWCNU Margomulyo, yang menyampaikan pentingnya konferensi ini dalam menjaga dan memperkuat kelembagaan NU di tingkat cabang.


(Proses Pemilihan Tanfidhiyah)

Setelah proses pemilihan yang berlangsung dengan penuh khidmat, Kiyai Rosyidi terpilih sebagai Rois Syuriah MWCNU Margomulyo. Kiyai Rosyidi, yang memiliki pengalaman luas dalam kegiatan keagamaan dan kepemimpinan, disambut dengan antusias oleh peserta konferensi. Beliau berjanji akan mengemban tugasnya dengan penuh dedikasi untuk memajukan agama dan masyarakat di wilayah Margomulyo.

Sementara itu, Kiyai Badrun terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Margomulyo. Dikenal sebagai seorang tokoh yang berpengaruh dan memiliki keahlian dalam mengorganisir kegiatan keagamaan, Kiyai Badrun menerima dukungan yang kuat dari peserta konferensi. Beliau berkomitmen untuk memperkuat struktur organisasi NU di tingkat Majelis Wakil Cabang dan meningkatkan peran NU dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di Margomulyo.

Dalam pidatonya, Kiyai Rosyidi dan Kiyai Badrun menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh peserta konferensi. Mereka berjanji akan bekerja keras untuk mewujudkan visi dan misi NU dalam memajukan Islam dan masyarakat di wilayah Margomulyo.



Konferensi MWCNU Margomulyo ini berjalan lancar dan diakhiri dengan doa bersama untuk kesuksesan kepemimpinan baru. Diharapkan, dengan terpilihnya Kiyai Rosyidi sebagai Rois Syuriah dan Kiyai Badrun sebagai Ketua Tanfidziyah, MWCNU Margomulyo dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi umat dan masyarakat setempat.

(MasterCyber)