Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

"Tumpeng Merdeka di Tengah Hutan: Simbol Syukur dan Persatuan di Proyek Bendungan Karangnongko"

Pada Sabtu, 17 Agustus 2024, kawasan Proyek Pembangunan Bendungan Karangnongko di Desa Ngelo menjadi saksi peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79. Meskipun berada di tengah hutan, suasana upacara bendera yang diadakan oleh PT Waskita berlangsung penuh khidmat dan penuh semangat.


Upacara dimulai dengan pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan "Indonesia Raya," menggema di tengah alam yang masih asri. Dalam acara ini, Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo, turut diundang sebagai tamu kehormatan. Kehadiran beliau menambah keistimewaan upacara yang berlangsung di lokasi proyek pembangunan bendungan yang strategis ini.


Setelah rangkaian upacara selesai, Kiyai Badrun Sulaiman mendapatkan kehormatan untuk memimpin doa tasyakuran kemerdekaan. Dalam doanya, beliau memanjatkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia selama 79 tahun, meskipun berada di lokasi yang jauh dari keramaian kota. Doa yang dipanjatkan tidak hanya mengungkapkan rasa syukur, tetapi juga harapan untuk kemajuan dan kesejahteraan negara.


Secara keseluruhan, upacara ini adalah sebuah wujud rasa syukur yang mendalam atas nikmat kemerdekaan, dan meski diadakan di tengah hutan, semangat kemerdekaan terus menggelora di hati setiap peserta. Momen ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang patut dirayakan di mana pun kita berada, dengan penuh semangat dan rasa syukur.


Upacara bendera yang dilaksanakan di tengah proyek pembangunan ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan simbol keteguhan dan kebersamaan. Para peserta, yang terdiri Direksi, Pimpinan Projek, karyawan dari PT Waskita, menyaksikan dengan penuh semangat dan bangga. Kehadiran mereka di lokasi proyek menunjukkan dedikasi dan komitmen untuk merayakan hari kemerdekaan di setiap sudut negeri, bahkan di tempat yang belum sepenuhnya terjamah.


Di tengah hutan yang hijau, di mana bunyi alat berat dan suara alam menjadi latar belakang, upacara ini menghadirkan nuansa yang unik dan mendalam. Para peserta, dengan penuh semangat dan rasa hormat, mengikuti setiap rangkaian acara. Mereka merasakan betapa berartinya kemerdekaan, meskipun dalam suasana yang jauh dari keramaian kota.


Rangkaian acara ini memberikan dorongan moral dan semangat. Seluruh rangkaian kegiatan tidak hanya memperingati hari kemerdekaan, tetapi juga menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa. Semangat merdeka yang membara di tengah hutan menjadi inspirasi bagi semua yang hadir.


Kehadiran Kiyai Badrun Sulaiman, yang memimpin doa, menambah makna acara tersebut. Doa yang penuh khidmat tersebut menjadi penutup yang sempurna untuk upacara, memancarkan rasa syukur dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. 


Dengan penuh rasa syukur, kita semua dapat merasakan betapa kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga dan diperjuangkan, di mana pun kita berada. Upacara ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan tidak akan pudar oleh waktu dan tempat, melainkan akan selalu mengalir dalam jiwa setiap warga negara Indonesia.


Usai doa tasyakuran, acara berlanjut dengan momen yang tak kalah meriah dan penuh makna, yaitu pembukaan tumpeng kemerdekaan. Sebagai simbol syukur dan perayaan, tumpeng yang dihias dengan penuh warna dan keindahan ini dihadirkan sebagai puncak dari rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.


Dalam suasana yang penuh kehangatan, tumpeng dibuka dengan penuh rasa hormat dan kekhidmatan. Pimpinan proyek bersama dengan Kiyai Badrun Sulaiman dan beberapa tamu undangan lainnya, secara bersama-sama memotong tumpeng sebagai simbol keberhasilan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih. Tumpeng yang terdiri dari nasi kuning yang mengundang selera ini, disajikan dengan berbagai hidangan pelengkap, melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang diharapkan bagi seluruh bangsa.


Pembukaan tumpeng ini menjadi momen yang menyatukan seluruh peserta dalam semangat kebersamaan. Makanan yang disajikan bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga sebagai simbol dari hasil kerja keras dan dedikasi semua pihak dalam pembangunan serta pencapaian kemerdekaan. Seluruh peserta merasakan kehangatan dari tumpeng yang dibagikan, menikmati sajian dengan rasa syukur dan bangga.


Momen ini juga menjadi kesempatan untuk saling bertukar cerita dan pengalaman, menguatkan ikatan antara sesama peserta dan menyebarkan semangat kemerdekaan. Suasana kebersamaan dan kehangatan menyelimuti acara, membuat hari tersebut semakin berkesan.


Pembukaan tumpeng kemerdekaan ini menegaskan bahwa meskipun berada di lokasi yang terpencil, semangat kemerdekaan dan rasa syukur tetap bisa dirayakan dengan meriah dan penuh makna. Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah milik semua, dan perayaannya dapat dilakukan di mana saja dengan penuh cinta dan rasa syukur.



Tim CyberMWCNU

"Merajut Syukur dalam Harmoni Kemerdekaan: Menyemai Persatuan di Bumi Margomulyo"


Margomulyo, 16 Agustus 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79, Kecamatan Margomulyo menggelar acara malam tasyakuran yang berlangsung di Masjid Besar Al-Ikhlas pada Jumat malam, 16 Agustus 2024. Acara yang dimulai pukul 19.30 hingga 21.30 WIB ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan masyarakat setempat.


Hadir dalam acara tersebut antara lain Kapolsek Margomulyo, Danposramil Margomulyo, Asper Kedawak Utara, Koordinator Pengawas Pendidikan, Asper Kates, Kepala Puskesmas Margomulyo, Kepala KUA Margomulyo beserta Penyuluh Agama Islam, Kepala Desa se-Kecamatan Margomulyo, Ketua MWC NU, Ketua MUI, serta para tokoh agama dari setiap desa yang turut serta memberikan nuansa religius dalam peringatan kali ini. Tak ketinggalan, para takmir Masjid Besar Al-Ikhlas juga turut menyemarakkan acara tersebut.


Acara malam tasyakuran ini dipandu oleh Ustadz Syaifudin yang dengan penuh hikmat mengatur jalannya kegiatan. Rangkaian acara diawali dengan Sujud Syukur yang dipimpin oleh Bapak Syamsul Idzom, di mana seluruh jamaah yang hadir bersama-sama menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia.


Sambutan dari pihak panitia disampaikan oleh Bapak Agung yang memberikan apresiasi atas kehadiran seluruh undangan dan partisipasi aktif masyarakat dalam acara tersebut. Beliau menekankan pentingnya momen ini sebagai sarana mempererat tali silaturahmi serta memperkokoh rasa kebangsaan di tengah masyarakat Margomulyo.


Camat Margomulyo, Bapak Ahmad Bustanul Arifin, S.STP., MM., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan bangga atas terselenggaranya acara malam tasyakuran ini. Beliau mengapresiasi kerja keras panitia dan seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam mempersiapkan acara, serta mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa.


Acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWC NU Margomulyo. Suasana malam semakin khidmat ketika lantunan tahlil menggema di seluruh masjid, mengingatkan seluruh jamaah akan pentingnya doa bersama dalam menjaga keutuhan bangsa.


Sebagai penutup, doa dipimpin oleh Kiyai Rosyyidi, Rois Syuriyah MWCNU Margomulyo. Doa yang dipanjatkan penuh harapan untuk kemajuan bangsa Indonesia, kesejahteraan rakyat, serta perlindungan dari segala ancaman yang bisa mengganggu kedaulatan negara.


Malam tasyakuran kemerdekaan ini berlangsung dengan penuh khidmat, menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat akan perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan Indonesia. Semangat kebangsaan dan persatuan yang tercermin dalam acara ini menjadi bukti bahwa masyarakat Margomulyo tetap teguh dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.


Acara malam tasyakuran ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga sebagai ajang untuk memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong di antara warga Kecamatan Margomulyo. Selama acara berlangsung, terlihat keakraban dan sinergi yang terjalin erat antara berbagai elemen masyarakat dan tokoh-tokoh penting yang hadir.


Ustadz Syaifudin, sebagai pembawa acara, mampu menjaga suasana tetap hangat dan penuh kekeluargaan. Dengan kepiawaiannya dalam berkomunikasi, ia berhasil membawa hadirin masuk ke dalam suasana penuh rasa syukur dan refleksi spiritual. Keberhasilan penyelenggaraan acara ini juga tidak lepas dari dukungan seluruh takmir Masjid Besar Al-Ikhlas yang telah mempersiapkan tempat dengan baik sehingga mampu menampung ratusan jamaah yang hadir malam itu.


Bapak Agung, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa malam tasyakuran ini adalah wujud nyata dari rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia. “Kita harus terus menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif, membangun masyarakat yang lebih baik, dan memperkuat persaudaraan di antara kita,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi antusiasme warga yang turut serta dalam acara ini, menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial di antara masyarakat Margomulyo.


Sambutan dari Camat Margomulyo, Bapak Ahmad Bustanul Arifin, S.STP., MM., menambah semangat para hadirin. Beliau menekankan pentingnya semangat kebangsaan dan persatuan yang harus terus dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat. “Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang para pahlawan. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan dan menjaga persatuan serta kesatuan bangsa,” tegasnya.


Pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman semakin memperkuat nuansa spiritual dalam acara tersebut. Seluruh hadirin, mulai dari pejabat hingga warga biasa, larut dalam lantunan doa, memohon ampunan dan keberkahan bagi bangsa dan negara. Ini menunjukkan bahwa semangat religiusitas masih sangat kental di tengah masyarakat, menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga keharmonisan sosial.


Doa penutup yang dipimpin oleh Kiyai Rosyyidi, Rois Syuriyah MWCNU Margomulyo, menutup rangkaian acara malam itu dengan penuh khidmat. Doa yang dipanjatkan dengan tulus itu menggambarkan harapan seluruh masyarakat agar Indonesia terus maju, aman, dan sejahtera. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan terus menghargai nilai-nilai perjuangan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu.


Setelah acara resmi berakhir, para hadirin masih sempat berbincang-bincang dan bersilaturahmi, menambah eratnya rasa persaudaraan di antara mereka. Malam itu, Masjid Besar Al-Ikhlas bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kebersamaan, tempat di mana semangat kemerdekaan dirayakan dengan penuh syukur dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.


Acara malam tasyakuran kemerdekaan ini, dengan segala makna dan pesan yang disampaikan, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kecamatan Margomulyo untuk terus bersatu padu dalam menjaga keutuhan bangsa serta mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang bermanfaat bagi semua.

"Jejak Langkah di Tanah Berkah: Menelusuri Jejak Sejarah dan Menyambut Amanah di Konferwil NU Jatim"

Pengurus MWCNU Kawasan barat Bojonegoro (NGRAJOMULYO)

Pagi itu, udara masih begitu sunyi ketika kabar menyentuh jiwa kami. Pada tanggal 2 Agustus, sebuah undangan tiba di genggaman. PCNU Bojonegoro memanggil, mengajak dua insan dalam barisan, dua jiwa dalam satu ikatan. Saya, sebagai Ketua, dan Kiai Rosyidi, Ro'is yang selalu penuh hikmah, ditakdirkan untuk melangkah bersama. Kami diundang bukan hanya untuk sekadar hadir, tetapi untuk mengukir sejarah dalam acara Ziyaaroh Mu'asis NU, menyusuri jejak para pendiri, serta turut berhurmat dalam Muskerwil PWNU Jatim di pesantren yang penuh berkah, Tebu Ireng Jombang pada hari sabtu, 03 Agustus 2024.


Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah ziarah batin. Acara dimulai pada pukul 08.00 pagi, dengan titik kumpul di Kantor PCNU Bojonegoro. Namun, bagi saya, yang tinggal di kampung yang jauh dari kota, perjalanan ini memerlukan persiapan yang lebih awal. Setiap kali ada acara pagi di Bojonegoro, saya harus bangun lebih pagi dari biasanya, memulai langkah saat malam masih menyelimuti bumi.


Pagi itu, waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Dalam keheningan yang penuh doa, saya melangkahkan kaki keluar rumah. Langit masih gelap, namun semangat dalam dada sudah menyala terang. Saya harus bertemu dengan Kiai Rosyidi di Masjid Ngraho setelah subuh, sekitar pukul 04.30. Suara adzan subuh di langit desa menjadi penanda pertemuan kami, sebuah simbol kebersamaan yang suci.


Setelah sholat subuh, kami bersiap. Jam menunjukkan pukul 05.00 saat kendaraan mulai melaju dari Ngraho, membawa kami menuju Bojonegoro. Perjalanan ini terasa begitu bermakna, setiap kilometer yang kami tempuh membawa kami semakin dekat pada sebuah tujuan besar, bukan hanya ziarah pada makam para pendiri, tetapi juga menyatukan langkah dengan para ulama dan pemimpin dalam Muskerwil.


Dalam perjalanan ini, kami bukan hanya menyusuri jalanan beraspal, tetapi juga menyelami makna keikhlasan, ketulusan, dan tanggung jawab. Setiap detik terasa begitu berharga, karena kami tahu bahwa perjalanan ini adalah bagian dari pengabdian kami, bukan hanya kepada organisasi, tetapi juga kepada nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama.


Di balik keheningan pagi dan panjangnya perjalanan, ada keyakinan bahwa kami tengah menapaki jejak yang sama dengan para pendahulu kami, yang dengan penuh cinta dan pengorbanan membangun fondasi kuat bagi Nahdlatul Ulama. Inilah perjalanan spiritual, sebuah perjalanan yang akan selalu terpatri dalam sanubari, sebagai saksi bisu dari sebuah komitmen untuk terus menjaga dan meneruskan warisan suci ini.


Setelah beberapa saat, instruksi dari panitia terdengar. Kami diarahkan untuk masuk ke dalam bus masing-masing. Kami Pengurus MWCNU masuk ke dalam bus MWCNU, sementara yang berada di jajaran PCNU diarahkan ke bus PCNU. Setiap langkah yang kami ambil saat menaiki bus itu terasa seperti sebuah doa, sebuah tekad untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang mulia.


Bus perlahan mulai bergerak, meninggalkan Bojonegoro menuju Jombang melalui jalur Babat-Jombang. Jalanan yang kami lalui seperti menghamparkan seutas tali yang menghubungkan kami dengan para pendiri Nahdlatul Ulama, yang akan kami ziarahi. Dalam keheningan bus yang hanya sesekali dipecah oleh percakapan ringan, setiap kami merenungi perjalanan ini. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin, sebuah ziarah untuk menguatkan kembali tali silaturahmi dengan para pendiri, menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan mereka dalam hati kami.


Ziyarah pertama kami adalah ke makam Mbah KH Wahab Hasbullah, seorang tokoh besar yang pemikirannya menjadi fondasi kuat bagi NU dan Indonesia. Setelah berdoa di sana, kami melanjutkan perjalanan ke makam Mbah KH Bisri Syansuri, seorang ulama yang dikenal karena kealiman dan kebijaksanaannya dalam memimpin umat. Akhirnya, kami tiba di kompleks makam Tebu Ireng, tempat peristirahatan terakhir keluarga besar Mbah KH Hasyim Asy'ari, pendiri utama Nahdlatul Ulama. 


Di setiap maqom yang kami kunjungi, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, memohon berkah dan petunjuk agar kami dapat melanjutkan perjuangan ini dengan penuh istiqamah. Setiap hembusan angin di kompleks makam terasa seolah membawa pesan dari masa lalu, mengingatkan kami akan betapa besar tanggung jawab yang kini ada di pundak kami. 


Langit di atas kompleks Tebu Ireng tampak begitu damai, seolah menyatu dengan suasana hening yang mengelilingi makam para pendiri Nahdlatul Ulama. Setelah melalui perjalanan panjang dari Bojonegoro, kami tiba di tempat yang penuh berkah ini dengan hati yang bergetar. Setiap langkah yang kami ayunkan di jalan setapak menuju makam, terasa begitu berat namun penuh makna. Seolah-olah, tanah yang kami injak membawa kenangan tentang perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang tak ternilai harganya.


Ketika kami sampai di makam Mbah KH Hasyim Asy'ari, pendiri besar Nahdlatul Ulama, suasana terasa sangat khidmat. Di hadapan makamnya, kami menundukkan kepala, berdoa dengan penuh rasa hormat. Dalam keheningan itu, terbayang bagaimana sosok beliau dengan kebijaksanaan dan keberaniannya, memimpin umat dalam menghadapi tantangan zaman. Beliau adalah pilar utama yang dengan tangan dinginnya membangun fondasi kuat bagi organisasi yang kini kami jaga dan teruskan perjuangannya.


Doa-doa kami mengalir tulus, memohon agar kami diberi kekuatan untuk tetap teguh dalam jalan yang telah dirintis oleh para pendiri ini. Setiap dari kami merasakan betapa besar tanggung jawab yang kini harus kami pikul, tanggung jawab untuk menjaga ajaran Islam yang moderat dan rahmatan lil 'alamin, sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh Mbah Hasyim dan para pendiri lainnya.


Di kompleks makam ini, kami bukan hanya sekadar berziarah. Kami merasakan kehadiran beliau, seakan-akan beliau membisikkan pesan kepada kami, mengingatkan kami akan tanggung jawab yang harus kami emban. Setiap hembusan angin yang menyentuh wajah kami seolah membawa pesan tentang pentingnya menjaga persatuan umat, tentang tanggung jawab besar yang harus kami jaga sebagai penerus perjuangan beliau.


Setelah ziyarah yang penuh makna di makam para pendiri Nahdlatul Ulama, langkah kami berlanjut menuju pelataran AULA KONFERWIL, tempat di mana KORFERWIL PWNU Jatim berlangsung. Suasana di sana terasa begitu hidup dan penuh antusiasme. Para peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur telah berkumpul, membawa semangat dan harapan untuk masa depan organisasi yang besar ini.


Saat kami tiba, acara sudah mencapai sesi yang paling dinantikan: Sidang Pleno Pemilihan TIM AHWA. Di sinilah akan ditentukan siapa yang akan memegang amanah besar sebagai Ro'is Syuriyah PWNU Jatim, sebuah posisi yang begitu penting dalam mengarahkan langkah-langkah organisasi ke depan. Kami duduk bersama rombongan, mengikuti setiap tahapan dengan penuh perhatian. Setiap suara yang terdengar di ruang sidang membawa gema tanggung jawab yang besar, karena keputusan yang diambil di sini akan mempengaruhi arah perjuangan dakwah Nahdlatul Ulama di Jawa Timur.


Mata dan telinga kami tertuju pada setiap detail, mengikuti dinamika pemilihan yang berlangsung dengan seksama. Proses ini bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah ritual penting yang mencerminkan demokrasi dan musyawarah, dua prinsip yang menjadi ruh dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Setiap peserta, termasuk kami, menyadari betapa pentingnya memilih pemimpin yang tidak hanya cerdas dan bijaksana, tetapi juga memiliki hati yang tulus dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah.


Di tengah-tengah keseriusan sidang pleno, suasana sesekali mencair dengan gurauan ringan. Pertemuan dengan saudara-saudara dari berbagai daerah di Jawa Timur menghadirkan keceriaan tersendiri. Canda tawa yang mengalir di sela-sela diskusi formal mengingatkan kami bahwa di balik semua perbedaan, ada ikatan persaudaraan yang erat. Setiap senyum dan tawa yang terukir membawa kebahagiaan, memperkuat hubungan batin di antara kami, sesama pejuang dakwah.

Ada momen-momen ketika kami saling berbagi cerita tentang perjalanan dakwah di daerah masing-masing, tentang suka dan duka yang telah dilalui. Di sini, di tengah-tengah Konferwil yang serius, kami menemukan ruang untuk merajut kembali tali silaturahmi, memperkuat ikatan ukhuwah yang menjadi fondasi kuat dalam organisasi ini. Dalam canda, tersimpan kehangatan dan keakraban, yang menjadikan momen ini lebih dari sekadar acara formal, tetapi juga perayaan kebersamaan.


Ketika akhirnya proses pemilihan mencapai klimaks, kami merasakan tegang yang menyelemuti ruangan. Namun, dalam hati kami, ada keyakinan bahwa siapapun yang terpilih sebagai Ro'is Syuriyah dan Ketua Tanfdziyah PWNU Jatim, mereka adalah yang terbaik untuk memimpin umat dalam langkah-langkah besar ke depan. Kami menyadari bahwa pemimpin yang terpilih akan membawa amanah yang sangat besar, tidak hanya untuk Jawa Timur, tetapi juga untuk seluruh warga Nahdlatul Ulama.


Penetapan Rais Syuriah: Sejarah yang Terukir di Konferwil ke-18 PWNU Jatim

Di tengah suasana yang penuh hikmat di Universitas KH Hasyim Asyari, Tebuireng, Jombang, sejarah baru tertulis dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama. Pada Sidang Pleno IV Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-18 PWNU Jawa Timur, keputusan penting telah disahkan. Penetapan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur akhirnya mencapai puncaknya, dengan terpilihnya KH Anwar Manshur sebagai Rais Syuriah PWNU Jatim untuk masa khidmat 2024-2029.

Proses penetapan ini berlangsung dengan penuh kebijaksanaan dan musyawarah. KH Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU, dalam pidatonya pada Sabtu, 3 Agustus 2024, menyampaikan bahwa musyawarah AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) telah dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan amanah. Musyawarah ini diadakan untuk memenuhi mandat yang diberikan oleh konferensi, sesuai dengan pasal 5 ayat 1-10 UU Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

Dalam suasana yang khidmat, KH Anwar Iskandar, salah satu anggota AHWA, menjelaskan bagaimana musyawarah ini dilaksanakan dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangan yang matang. Hasil dari musyawarah tersebut memutuskan bahwa KH Anwar Manshur, seorang ulama yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kealiman, adalah sosok yang paling layak untuk memimpin PWNU Jawa Timur sebagai Rais Syuriah dalam periode mendatang.

Keputusan ini kemudian dituangkan dalam sebuah berita acara yang akan menjadi bagian dari keputusan rapat pleno hari itu. Sebelum menutup penyampaian hasil musyawarah, Kiai Anwar menyampaikan harapan dan doa agar keputusan ini diridhai oleh Allah SWT. Nama-nama anggota AHWA yang terlibat dalam musyawarah ini bukanlah nama-nama yang asing dalam dunia keulamaan Nahdlatul Ulama. Mereka adalah KH Miftachul Akhyar, KH Anwar Manshur, KH Anwar Iskandar, KH Mutawakkil Alallah, KH Fuad Nur Hasan, KH Ubaidillah Faqih, dan KH Mudatsir Badaruddin. Masing-masing dari mereka membawa serta kebijaksanaan dan pengalaman yang mendalam dalam menuntun arah perjuangan NU di Jawa Timur.

Usai penetapan Rais Syuriah, suasana semakin tegang dan antusias. Sidang pleno selanjutnya, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh panitia, adalah pemilihan Ketua PWNU Jawa Timur. Ini adalah momen yang sangat penting karena Ketua Tanfdziyah akan memimpin jalannya organisasi dalam berbagai kegiatan strategis selama lima tahun ke depan. 

Setiap peserta konferwil menyadari betapa pentingnya keputusan yang akan diambil. Pemilihan ini bukan hanya sekadar memilih seorang pemimpin, tetapi juga menetapkan arah dan visi yang akan dijalankan oleh PWNU Jawa Timur ke depan. Dengan penetapan Ketua PWNU, perjalanan panjang hari itu mencapai puncaknya, menyatukan harapan dan doa dari seluruh peserta konferensi.

Di tengah suasana yang penuh khidmat dan harapan, kami semua menantikan hasil dari sidang pleno ini. Dengan hati yang penuh harap, kami memohon agar siapapun yang terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur akan mampu membawa organisasi ini menuju masa depan yang lebih baik, memperkuat dakwah, dan menjaga keutuhan umat di tengah berbagai tantangan zaman. 

Hari itu, di Tebuireng, bukan hanya sebuah keputusan yang diambil, tetapi juga sebuah janji yang diperbarui untuk terus menjaga dan meneruskan perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama, demi kemaslahatan umat dan tegaknya Islam yang rahmatan lil 'alamin di Jawa Timur dan seluruh Indonesia.

Gus Kikin: Pemimpin Baru di Tengah Sejarah dan Tradisi Tebuireng

Malam itu, di bawah naungan langit Tebuireng yang penuh berkah, sebuah keputusan penting ditetapkan dalam Sidang Pleno V Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama (Konferwil NU) Jawa Timur. KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih dikenal sebagai Gus Kikin, resmi terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur untuk masa khidmat 2024-2029. Keputusan ini menjadi puncak dari rangkaian panjang proses musyawarah dan pemilihan yang penuh dengan kebijaksanaan dan pertimbangan matang.

Terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim bukanlah sekadar momen biasa, melainkan sebuah peristiwa bersejarah yang bertepatan dengan Hari Lahir (Harlah) ke-125 Pesantren Tebuireng. Pesantren yang didirikan pada 3 Agustus 1899 oleh KH Hasyim Asy'ari ini telah menjadi pusat keilmuan dan pergerakan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang rahmatan lil 'alamin. Dengan tema "125 Tahun Pesantren Tebuireng Merawat Islam Ahlussunnah wa Al-Jamaah yang Rahmatan lil ‘Alamin," perayaan ini menjadi latar yang sempurna bagi lahirnya pemimpin baru PWNU Jatim, yang juga merupakan dzurriyah dari pendiri pesantren legendaris ini.

Keputusan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim ditetapkan dalam sidang yang dipimpin oleh H Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU, didampingi oleh Gus Aizuddin Abdurrahman, Ketua PBNU. Ketukan palu yang menandai pengesahan Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim diiringi dengan lantunan Al-Fatihah, memperkuat suasana penuh khidmat dan spiritualitas yang melingkupi sidang tersebut.

Dalam penjelasannya, H Amin Said Husni menguraikan bahwa NU memiliki dua mekanisme pemilihan ketua: musyawarah mufakat dan pemungutan suara. Dalam pemilihan Ketua PWNU Jatim kali ini, mekanisme kedua digunakan karena terdapat dua bakal calon yang diusulkan, yaitu Gus Kikin dan KH Makki Nashir, Ketua PCNU Bangkalan sekaligus dzurriyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Proses penjaringan suara menunjukkan dominasi dukungan untuk Gus Kikin, yang berhasil mengumpulkan 38 usulan atau 88 persen suara, sementara Kiai Makki hanya memperoleh 5 usulan atau 12 persen suara. Dengan demikian, Gus Kikin dianggap sah sebagai calon Ketua PWNU Jatim, sementara Kiai Makki gagal memenuhi syarat dukungan minimal 30 persen sebagaimana diatur dalam tata tertib Konferwil NU Jatim.

Total hak suara dalam pemilihan ini berjumlah 43, setelah PCNU Banyuwangi tidak memiliki hak suara dan PCNU Kediri tidak hadir. Dengan hasil ini, Gus Kikin dinyatakan terpilih secara aklamasi, tanpa perlu melalui tahap pemungutan suara lanjutan. Keputusan ini menandai sebuah era baru dalam kepemimpinan PWNU Jawa Timur, dengan Gus Kikin diharapkan dapat membawa organisasi ini semakin maju dan kokoh dalam mendampingi umat di tengah berbagai tantangan zaman.

Setelah pengesahan ini, Konferwil NU Jatim yang mengusung tema "Merajut Ukhuwah dan Mengokohkan Jamiyah dalam Pendampingan Umat" dinyatakan selesai. Malam itu, kami semua merasa bahwa proses panjang ini telah membawa NU Jatim ke arah yang lebih baik, dengan kepemimpinan yang diharapkan mampu mengemban amanah besar untuk lima tahun ke depan.

Malam semakin larut, namun semangat dan harapan yang ditinggalkan oleh Konferwil ini terus menyala dalam hati kami. Dengan Gus Kikin di pucuk pimpinan, kami yakin bahwa PWNU Jatim akan terus berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga dan meneruskan perjuangan para ulama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menjadi pelayan umat yang selalu mengedepankan kepentingan bersama di atas segalanya.

Perjalanan Pulang: Meneruskan Amanah dari Jombang ke Bojonegoro

Usai rangkaian acara yang penuh dengan makna dan sejarah, kami, bersama rombongan, bersiap untuk kembali ke Bojonegoro. Matahari sudah tenggelam, menyisakan jejak keemasan di langit Jombang yang semakin gelap. Dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur, kami menaiki bus, membawa pulang segala pelajaran, pengalaman, dan amanah yang telah diemban sepanjang hari itu.

Perjalanan pulang kali ini tidak hanya sekadar kembali ke rumah, tetapi juga membawa serta semangat dan tanggung jawab baru. Di dalam bus, meski tubuh terasa lelah, ada percakapan hangat yang terus mengalir di antara kami. Para kiyai, tokoh, dan pengurus MWCNU serta PCNU dari berbagai kecamatan di Bojonegoro berbagi refleksi dan renungan tentang apa yang baru saja terjadi di Konferwil.

Kami membahas berbagai hal, mulai dari makna penetapan Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim, hingga tantangan yang akan dihadapi oleh organisasi di masa depan. Ada rasa optimisme yang mengalir di setiap kata, seolah-olah perjalanan pulang ini adalah bagian dari sebuah misi yang lebih besar. Kami semua menyadari bahwa amanah yang kami bawa dari Jombang bukanlah hal yang ringan, tetapi dengan kebersamaan dan kesatuan, kami yakin dapat mengembannya dengan baik.

Di tengah perbincangan, sesekali terdengar gurauan dan tawa ringan yang menghangatkan suasana. Meskipun hari itu dipenuhi dengan keseriusan dan pengambilan keputusan penting, tetap ada ruang bagi keakraban dan persaudaraan yang selalu menjadi ciri khas kami. Tawa-tawa itu seolah menjadi pengikat, memperkuat tekad kami untuk terus bekerja bersama, memajukan dakwah dan menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama di Bojonegoro dan sekitarnya.

Seiring dengan roda bus yang terus berputar membawa kami kembali ke Bojonegoro, kami merenungi perjalanan panjang hari itu. Dari ziyarah maqam para pendiri NU, mengikuti sidang pleno Konferwil, hingga menyaksikan terpilihnya pemimpin baru, semuanya memberikan kami perspektif baru tentang tanggung jawab dan pengabdian. Kami sadar bahwa perjalanan ini adalah bagian dari sebuah perjalanan spiritual yang lebih besar, mengikat kami semua dalam satu tujuan: merawat dan meneruskan perjuangan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.

Setiap kilometer yang kami lewati di jalanan menuju Bojonegoro, seakan membawa kami lebih dekat ke rumah dengan hati yang penuh tekad baru. Malam semakin larut, dan keheningan mulai menguasai bus, tetapi dalam hati kami, ada semangat yang tak pernah padam. Kami tahu bahwa tugas kami belum selesai; justru ini adalah awal dari perjalanan baru, di mana kami harus membawa dan menerapkan segala hikmah yang kami peroleh hari ini di tengah masyarakat yang kami layani.

Ketika akhirnya bus memasuki wilayah Bojonegoro, ada rasa lega dan syukur yang tak terhingga. Kami telah menjalani sebuah perjalanan penting, sebuah perjalanan yang bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual. Kini, saatnya kami kembali ke rumah masing-masing, membawa serta amanah dan tanggung jawab baru yang harus dijaga dan dijalankan dengan penuh kesungguhan.

Dalam keheningan malam yang menyelimuti Bojonegoro, kami berpisah satu per satu, dengan hati yang siap untuk melanjutkan perjuangan ini. Malam itu, di bawah langit yang cerah, kami membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga sebuah komitmen untuk terus berjuang demi agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Kenangan dan Refleksi di Ujung Perjalanan

Saat roda bus berhenti di depan Kantor PCNU Bojonegoro, rasa kelegaan bercampur dengan keharuan menyelimuti hati kami. Malam semakin larut, tetapi semangat kami masih membara. Satu per satu dari kami turun dari bus, membawa tas kecil yang mungkin tak sebanding dengan beban tanggung jawab yang kini ada di pundak masing-masing.

Di antara sisa-sisa percakapan, terselip rasa syukur yang mendalam atas kelancaran perjalanan hari itu. Kami saling berpamitan dengan penuh hormat, sambil menukar senyuman yang seolah mengisyaratkan bahwa ini bukanlah akhir, melainkan sebuah awal dari tugas besar yang menanti di hari-hari mendatang.

Kami semua sadar bahwa apa yang telah kami lalui bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang memperkaya batin dan meneguhkan niat. Setiap langkah yang kami ambil di Jombang, setiap doa yang kami panjatkan di makam para muassis NU, dan setiap keputusan yang diambil dalam Konferwil, semuanya adalah bagian dari sebuah perjalanan besar dalam menjaga dan melanjutkan perjuangan para ulama.

Ketika saya melangkah meninggalkan kantor, dinginnya angin malam Bojonegoro menyambut dengan lembut. Meski lelah, ada ketenangan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya merasa bahwa perjalanan ini telah memberikan saya lebih dari sekadar pengalaman, tetapi juga sebuah keyakinan yang lebih dalam akan pentingnya menjaga dan meneruskan warisan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Langit Bojonegoro yang gelap kini tampak lebih cerah di mata saya. Dalam kesendirian malam itu, saya merenungkan apa yang telah kami capai dan apa yang masih harus dilakukan. Gus Kikin telah terpilih sebagai Ketua PWNU Jatim, dan ini berarti sebuah babak baru dalam sejarah NU Jawa Timur telah dimulai. Tugas kami kini adalah mendukung kepemimpinan beliau dan terus berjuang bersama-sama untuk mewujudkan visi besar yang telah digariskan oleh para pendiri NU.

Di perjalanan pulang menuju rumah, saya tak henti-hentinya memikirkan tanggung jawab yang harus saya emban sebagai bagian dari organisasi ini. Saya ingat kembali percakapan dengan para kiyai, gurauan hangat di dalam bus, serta keseriusan dalam setiap sidang yang kami ikuti. Semua itu mengajarkan saya bahwa kebersamaan dan persatuan adalah kunci utama dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada.

Ketika akhirnya saya tiba di rumah, keheningan kampung terasa menenangkan. Saya tahu bahwa tugas saya belum selesai; justru ini adalah saatnya untuk mulai menerapkan semua pelajaran yang saya dapatkan. Dengan penuh keyakinan, saya berdoa agar Allah SWT memberi kekuatan dan kebijaksanaan kepada kami semua untuk menjalankan amanah ini dengan baik.

Malam itu, dalam keheningan yang menyelimuti kampung, saya menutup hari dengan doa dan harapan yang tulus. Perjalanan kami mungkin telah selesai, tetapi perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, saya bertekad untuk terus melangkah di jalan yang telah dirintis oleh para pendiri, dengan semangat yang tak pernah padam dan hati yang selalu terpaut kepada Allah SWT.

Perjalanan hari itu adalah sebuah kenangan yang akan selalu terpatri dalam ingatan, sebuah perjalanan yang mengingatkan saya bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil dalam melayani umat adalah bagian dari langkah besar dalam menjaga dan melanjutkan perjuangan para ulama. Dengan hati yang penuh syukur, saya siap untuk melangkah ke depan, membawa semangat dan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

*Catatan Sebuah perjalanan Khidmah Seorang Santri Ndeso

"Jejak Langkah Menuju Terwujudnya Impian: Kisah Perjuangan Pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo Part III"


Surabaya, Kamis 25 Juli 2024 - Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00, pintu aula acara di Islamic Center Surabaya pun dibuka. Suasana mulai ramai oleh para peserta yang datang dari berbagai daerah, semuanya dengan tujuan yang sama—menandatangani kontrak NPHD yang akan menjadi awal dari perjuangan besar mereka. Registrasi dimulai dengan prosedur yang ketat, diawali dengan scan barcode dan pengisian survei kepuasan pelayanan masyarakat. Seperti orang lain, saya pun mengikuti seluruh prosedur dengan teliti, merasakan setiap langkah sebagai bagian penting dari perjalanan panjang ini.


Setelah beberapa menit berlalu dan saya selesai mengisi survei, saya bergabung dalam antrean untuk menyetorkan beberapa berkas tambahan. Ada sedikit kegelisahan di hati, tetapi saya berusaha tetap tenang. Ketika tiba giliran saya, panitia memeriksa berkas-berkas yang saya bawa dengan cermat. Alhamdulillah, semua dianggap cukup, dan saya dipersilakan memasuki aula tempat acara berlangsung.


Posisi duduk saya sangat strategis, persis di depan panggung, pada barisan meja kedua dari depan. Ini adalah tempat yang tepat untuk menyimak dengan seksama segala arahan dan pembinaan yang akan disampaikan. Sementara itu, Pak Sigit tetap berada di luar, bersiaga menerima instruksi jika ada kelengkapan tambahan yang diperlukan. Kami sudah berkomitmen untuk memastikan segala sesuatunya berjalan lancar tanpa hambatan.


Acara pun dimulai dengan berbagai pembinaan dari Biro Pemprov Jatim mengenai pengelolaan dana hibah. Di antara banyaknya arahan yang disampaikan, satu dawuh yang sangat ditekankan adalah, "Dana Hibah harus digunakan sesuai dengan NPHD yang sudah ditandatangani." Kata-kata ini terngiang di benak saya, mengingatkan akan tanggung jawab besar yang harus saya pikul sebagai Ketua MWCNU Margomulyo.


Setelah sesi pembinaan selesai, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu—penandatanganan kontrak NPHD. Namun, di sinilah drama sebuah perjuangan dimulai kembali. Saat giliran saya tiba, Mas Wykan dari Tim Biro Pemprov Jatim mulai memeriksa berkas-berkas yang saya bawa. Sayangnya, paket berkas yang sebelumnya saya kirim ternyata belum sampai ke tangannya. Rasanya seperti mendengar kabar buruk di tengah situasi yang sudah cukup menegangkan.


Untungnya, saya sudah mempersiapkan duplikat berkas-berkas dan kelengkapan lainnya. Satu per satu berkas mulai diperiksa oleh Mas Wykan. Mulai dari stempel dan tanda tangan basah pada dokumen Surat Keterangan Domisili, rekening asli atas nama MWCNU Margomulyo, identitas asli ketua dan bendahara, hingga SK sebagai pengurus MWCNU, semuanya sudah dianggap beres. Saya mulai merasa lega, setidaknya hingga saat itu.


Namun, ketika Mas Wykan memeriksa legalitas tanah atau sertifikat tanah milik MWCNU, ketegangan kembali menyelimuti. Menurutnya, ada sesuatu yang tidak sesuai. Sertifikat tanah masih atas nama pemilik sebelumnya, bukan MWCNU Margomulyo. Bukti sah yang saya lampirkan berupa pernyataan dari penjual, Pak Iswahyudi, yang ditulis tangan, dianggap oleh Mas Wykan sebagai sesuatu yang tidak cukup valid. Meskipun pada halaman belakangnya sudah dibubuhi tanda tangan kepala desa, kepala dusun, RT, RW, dan saksi-saksi lainnya dari pengurus MWCNU Margomulyo, pernyataan itu tetap dianggap hanya sebagai hasil rekayasa.


Saat mendengar koreksi dan masukan dari Mas Wykan, perasaan saya benar-benar hancur. Di tengah kelelahan fisik yang sudah memuncak, tuduhan itu terasa seperti petir yang menyambar hati saya. Saya merasa tidak terima, karena dokumen yang saya bawa adalah dokumen resmi yang saya peroleh dari Pemdes Margomulyo. Namun, saya juga menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh Mas Wykan adalah kenyataan dari sakralnya administrasi—sebuah fakta yang mau tidak mau harus saya penuhi.


Setelah beberapa saat mencerna semua koreksi dan masukan, akhirnya saya menyelesaikan simbolis penyerahan berkas dan penandatanganan kontrak NPHD. Dengan hati yang berat namun tetap berusaha tegar, saya bergegas keluar dari ruangan. Sementara itu, Mas Wykan melanjutkan tugasnya, memeriksa berkas-berkas dari peserta berikutnya. Perjuangan kami belum usai, tetapi saya tahu bahwa setiap langkah, betapapun beratnya, adalah bagian dari jalan yang harus ditempuh demi masa depan yang lebih baik bagi MWCNU Margomulyo. 


Setelah saya keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk, saya bergabung kembali dengan Pak Sigit yang sudah menunggu di luar. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sama, tetapi ada juga semangat untuk terus maju. Kami berdua sama-sama paham bahwa perjuangan ini belum selesai, dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan semua revisi dapat dipenuhi dengan sempurna.


Setelah beristirahat sejenak, kami segera berunding untuk langkah-langkah selanjutnya. Kami sadar bahwa masalah sertifikat tanah yang belum dibalik nama ini bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cepat. Namun, semangat untuk terus berjuang demi pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo tetap menyala dalam diri kami. Kami sepakat bahwa langkah pertama adalah segera mengurus balik nama sertifikat tanah tersebut agar sesuai dengan kepemilikan MWCNU Margomulyo. 


Hari-hari berikutnya penuh dengan kesibukan. Kami menghubungi pihak-pihak terkait untuk mempercepat proses balik nama sertifikat. Bersama-sama, kami menyusun strategi agar semua persyaratan administrasi bisa terpenuhi tepat waktu. Tantangan demi tantangan kami hadapi, mulai dari birokrasi yang rumit hingga kebutuhan untuk terus berkoordinasi dengan banyak pihak. Namun, setiap tantangan kami terima dengan tekad yang semakin kuat, mengingat betapa pentingnya proyek pembangunan ini bagi NU Margomulyo.


Akhirnya, setelah kerja keras yang tak kenal lelah, berkas revisi yang diminta oleh Mas Wykan berhasil kami lengkapi. Sertifikat tanah yang belum dibalik nama sesuai dengan pemiliknya yang sah, sementara cukup di lampiri Surat Keterangan Kepala Desa Margomulyo, dan semua persyaratan lain sudah kami penuhi. Dengan keyakinan penuh, kami siap mengirimkan kembali berkas-berkas ini ke Biro Pemprov Jatim, berharap kali ini semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.


Pada akhirnya, semua kerja keras dan pengorbanan ini adalah bukti nyata dari tekad dan dedikasi kami untuk membangun Auditorium MWCNU Margomulyo. Kami percaya bahwa perjuangan ini adalah bagian dari amanah besar yang harus kami jalani dengan sepenuh hati. Meskipun perjalanan ini penuh liku dan rintangan, kami tetap yakin bahwa pada akhirnya, keberkahan dan kesuksesan akan datang menghampiri sebagai buah dari setiap usaha yang telah kami lakukan.


Dengan segala upaya yang telah kami lakukan, kami berharap pembangunan Auditorium ini akan menjadi simbol kekuatan dan persatuan bagi warga NU Margomulyo. Sebuah tempat yang tidak hanya menjadi pusat kegiatan organisasi, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun generasi yang lebih baik di masa depan. Kami berdoa semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah yang kami tempuh, serta memberikan keberkahan bagi setiap usaha yang kami lakukan demi kejayaan umat.


Kisah Part II

"Jejak Langkah Menuju Terwujudnya Impian: Kisah Perjuangan Pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo Part II"

Setelah beberapa hari berlalu, tepatnya pada tanggal 21 Juli 2024, kabar yang dinanti akhirnya tiba—meskipun tidak sepenuhnya sesuai harapan. Pesan itu datang dari Mas Nasir, salah seorang Koordinator Lapangan yang selalu setia mendampingi perjalanan kami. Melalui pesan WhatsApp, beliau menyampaikan kabar bahwa proposal pengajuan kami membutuhkan beberapa revisi yang harus segera ditindaklanjuti dan dibenahi.


Dalam pesan tersebut, tertera beberapa hal yang perlu kami lengkapi dan perbaiki. Di antaranya, kami harus melengkapi salinan legalitas tanah atau wakaf serta dokumen domisili asli yang harus ditandatangani dengan stempel basah. Selain itu, ada kekurangan lain, yaitu Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang masih dalam proses koreksi oleh tenaga ahli, dan revisi nama pada rekening Bank Jatim yang harus diubah menjadi "MWC NU MARGOMULYO," dengan menghapus kata "BOJONEGORO."


Di antara semua revisi yang harus dilakukan, ada satu hal yang membuat hatiku merasa sedikit tergelitik—revisi nama rekening. Awalnya, saya membuat nama rekening atas nama "MWCNU MARGOMULYO BOJONEGORO" dengan keyakinan bahwa nomor rekeninglah yang menjadi fokus utama dalam setiap transaksi, bukan alamat atau nama yang tertera. Namun, aturan administrasi ternyata memiliki sakralitas tersendiri, di mana setiap data harus benar-benar sesuai dan saling berkaitan dengan dokumen-dokumen lainnya. Meski sedikit terbahak-bahak dalam hati, saya menyadari bahwa proses ini adalah bagian dari tanggung jawab yang harus dijalani.


Setelah mencoba berkomunikasi dengan pihak bank namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, tanggal 22 Juli 2024 saya memutuskan untuk langsung datang ke Bank Jatim Cabang Ngawi untuk mendapatkan penjelasan terkait persyaratan perubahan nama rekening. Dengan niat yang bulat, saya menuju bank dan meminta penjelasan mengenai prosedur penghapusan satu kata dalam nama rekening tersebut.


Usai mendapatkan penjelasan, saya langsung kembali ke kantor MWCNU Margomulyo dengan semangat yang baru. Saya segera melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan dan, tepat pukul 13.50, saya dan Pak Sigit kembali meluncur ke Bank Jatim Cabang Ngawi. Perjalanan kami penuh dengan harapan, tetapi ketika kami tiba di depan pintu masuk bank tepat pada pukul 14.15, kami disambut oleh senyum manis Pak Satpam yang, dengan nada lembut, mengatakan, "Maaf bapak, pelayanan bank sudah tutup."


Mendengar itu, spontan kami berdua—saya dan Pak Sigit—tertawa dalam mobil, sambil memutar setir untuk kembali pulang. Momen itu mengajarkan kami bahwa dalam setiap perjuangan, tidak semua berjalan sesuai rencana, namun setiap langkah—baik yang berhasil maupun yang harus ditunda—adalah bagian dari proses panjang yang akan membawa kami lebih dekat kepada tujuan akhir.



Hari berikutnya, Selasa, 23 Juli 2024, kami kembali menuju Bank Jatim Cabang Ngawi. Sekitar pukul 09.00, kami tiba di sana, disambut dengan senyum ramah oleh Pak Satpam yang sudah mengenali kami dari kunjungan sebelumnya. Dengan penuh keramahan, beliau langsung mengantar kami ke bagian pelayanan. Ada perasaan lega yang mengalir di hati saat kami duduk menunggu proses pembuatan rekening baru dengan nama yang telah disesuaikan, "MWCNU MARGOMULYO."


Prosesnya berjalan lancar, hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Saat rekening baru itu diserahkan kepada kami, ada rasa syukur yang tak terhingga. Rekening tersebut bukan sekadar sebuah akun bank, melainkan simbol dari perjuangan panjang kami, sebuah pintu yang siap menjemput takdir keberkahan untuk perjuangan NU Margomulyo. Dalam hati, kami berharap bahwa setiap rupiah yang nantinya mengalir melalui rekening ini akan membawa berkah dan manfaat bagi umat.


Setelah urusan di bank selesai, kami pun pulang. Perjalanan pulang itu terasa ringan, seolah beban yang selama ini menghimpit perlahan mulai terangkat. Sesampainya di KUA Margomulyo, kami berpisah dengan Pak Sigit. Karena masih jam kerja, saya memutuskan untuk tetap di kantor sebentar, menjalankan tugas-tugas rutin sambil menunggu waktu yang tepat untuk langkah berikutnya.


Pukul 14.00, saya meminta izin kepada Pak Naib untuk pergi ke biro jasa pengiriman paket dokumen. Dengan hati-hati, saya mempersiapkan semua berkas yang telah dilengkapi, memastikan tidak ada yang terlewat. Dokumen-dokumen tersebut saya kirimkan kepada Mas Wykan, petugas dari Biro Kesra Jatim, yang telah menjadi mitra kami dalam proses ini.


Setelah semua dokumen terkirim, ada harapan yang tumbuh di dalam hati. Semoga semua proses ini sudah beres, dan kami tinggal menunggu tahap pencairan yang akan menjadi titik awal dari realisasi mimpi besar kami. Perjalanan ini memang penuh dengan liku, namun setiap langkah yang kami ambil adalah bukti dari tekad dan dedikasi kami untuk mewujudkan sesuatu yang lebih besar dari diri kami sendiri, sesuatu yang akan memberikan manfaat bagi banyak orang. Kami percaya bahwa dengan sabar dan usaha yang terus-menerus, keberkahan itu akan datang pada saatnya.

Setelah mengirimkan semua berkas yang diperlukan, keesokan harinya, kabar baik pun datang. saya menerima informasi bahwa Tepatnya hari Kamis,Pada tanggal 25 Juli 2024  kami harus menghadiri penandatanganan kontrak NPHD (Nota Penerimaan Hibah Daerah) di Islamic Center Surabaya. Undangan ini adalah momentum penting, menandai bahwa perjalanan panjang kami telah memasuki babak baru.


Kami memutuskan untuk berangkat dini hari, tepatnya pukul 01.00, dari Margomulyo. Dalam satu mobil, kami berempat: saya, Pak Sigit, Pak Miran, dan Bu Maslahah. Pak Miran dan Bu Maslahah turut serta dalam perjalanan ini karena mereka juga memiliki acara yang sama, yakni penandatanganan NPHD untuk Lembaga RA mereka. Perjalanan itu terasa seperti sebuah misi penting, dan suasana hati kami penuh dengan harapan, meski udara malam terasa dingin menusuk.


Kami berhenti sejenak di sebuah SPBU di Kota Gresik untuk melaksanakan sholat Subuh. Di sana, kami merasakan keheningan pagi yang menenangkan, seolah memberikan kami kekuatan tambahan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, tak disangka, perjalanan ini ternyata dipenuhi dengan berbagai drama kecil yang membuatnya semakin berkesan.


Drama pertama terjadi ketika kami tiba di pintu tol. Saat itu, Pak Sigit hendak menggesek kartu E-Tol, tetapi ternyata saldo di dalamnya sudah habis. Dalam keheningan malam, kami semua terdiam, mencoba mencari solusi. Tak ada tempat untuk mengisi ulang, dan waktu yang masih dini hari membuat situasi semakin sulit. Namun, di tengah kebingungan itu, Allah seakan mengirimkan malaikat-Nya dalam wujud seorang sopir truk. Pak Sigit, yang sedang mencari bantuan, bertemu dengan sopir itu—seorang yang tampak kelelahan dan baru saja kehilangan ponselnya saat tertidur. Dengan kebaikan hatinya, sopir tersebut membantu kami membuka pintu tol dengan kartu E-Tol miliknya. Alhamdulillah, satu rintangan telah kami lewati, dan perjalanan pun bisa dilanjutkan.


Namun, Surabaya masih menyimpan kejutan lain bagi kami. Saat mendekati Gedung Islamic Center, drama berikutnya dimulai. Google Maps, yang seharusnya menjadi penunjuk jalan kami, justru membawa kami berputar-putar di tengah hiruk pikuk pagi kota Surabaya. Kami mengikuti komandonya, tetapi entah kenapa, jalur yang diberikan seakan ingin menguji kesabaran kami. Setelah berputar beberapa kali, kami akhirnya berhenti di depan sebuah Alfamart, yang ternyata menyediakan layanan isi ulang E-Tol.


Di saat itulah, Pak Sigit dan saya saling berpandangan, dan kami bergumam dalam hati, mungkin ini adalah cara Sang Sutradara—Tuhan—untuk mengingatkan kami agar lebih bijak dalam mempersiapkan segala sesuatu, termasuk mengisi ulang token E-Tol. Saat kesadaran itu muncul, spontan kami berempat tertawa terbahak-bahak, menikmati betapa lucunya keadaan yang kami alami. Apa yang seharusnya menjadi sumber kekhawatiran justru menjadi momen kebersamaan yang hangat, menghilangkan kepenatan perjalanan.


Akhirnya, setelah segala lika-liku yang kami alami, kami tiba di Gedung Islamic Center Surabaya tepat pukul 06.00. Meski perjalanan ini dipenuhi dengan kejutan-kejutan tak terduga, semua itu terasa seperti bagian dari sebuah skenario besar yang telah diatur dengan sempurna. Kami datang dengan hati yang tenang, siap untuk menandatangani kontrak yang akan menjadi langkah awal dari terwujudnya mimpi besar kami di Margomulyo.




Kembali Ke Part I                                                                                                                  Lanjut Part III

"Jejak Langkah Menuju Terwujudnya Impian: Kisah Perjuangan Pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo Part I"


Setelah perjalanan panjang yang penuh dengan liku, lebih dari setahun berlalu sejak pertama kali harapan itu dipanjatkan, sebuah kabar bahagia akhirnya tiba di hadapanku, seperti embun pagi yang menyegarkan dedaunan yang layu. Kabar itu bagaikan sinar mentari yang menembus awan kelabu, menerangi hatiku yang telah lama menanti dalam kerinduan dan harapan. Sebuah kabar yang mengatakan bahwa pengajuan bantuan untuk pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo akan segera disurvei oleh Tim Biro Pemprov Jawa Timur.


Hatiku melonjak dalam kegembiraan, seakan beban berat yang telah lama dipikul mulai terangkat sedikit demi sedikit. Setiap detik penantian kini terasa berharga, seolah segala jerih payah dan doa yang dipanjatkan mulai menampakkan hasilnya. Pada tanggal 19 Juni 2024, sekitar pukul 10 pagi, saat matahari berada di puncak kejayaannya, Tim Survei tiba di kantor MWCNU Margomulyo, membawa serta secercah harapan yang semakin nyata.


Mereka datang dengan sikap profesional, memeriksa dengan teliti setiap dokumen pengajuan yang telah disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Setiap lembar kertas, setiap detail yang tertulis, semua diperiksa dengan seksama. Mereka juga menelusuri setiap sudut lokasi di lantai atas, memastikan bahwa segala sesuatunya telah sesuai dengan yang diajukan.


Namun, di tengah suasana penuh harap itu, beberapa catatan muncul sebagai pengingat bahwa perjalanan ini belum sepenuhnya berakhir. Ada beberapa hal yang harus segera dilengkapi, seperti membuat rekening atas nama MWCNU Margomulyo di Bank Jatim, dan menyusun kembali Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan desain yang sesuai dengan proposal yang telah diajukan. Semua itu harus segera ditindaklanjuti dan dikirimkan kepada Mas Aris dari Tim Biro Kesra Pemprov Jatim, sebuah tugas yang menuntut kesigapan dan keseriusan.


Meskipun ada beberapa hal yang masih harus disempurnakan, momen itu tetap menjadi saat yang istimewa. Sebelum Tim Survei melanjutkan perjalanan mereka ke Kecamatan Ngraho, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama, mengabadikan momen yang kelak akan menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan ini. Setelah ramah tamah yang penuh dengan kehangatan, kami saling berpamitan, dengan harapan bahwa langkah selanjutnya akan membawa kami lebih dekat kepada impian yang telah lama diperjuangkan.


Perjalanan ini masih panjang, namun setiap langkah yang diambil adalah bukti dari kekuatan tekad dan doa yang tak pernah putus. Kami percaya bahwa dengan kesungguhan dan ketulusan, Auditorium MWCNU Margomulyo akan berdiri tegak, menjadi saksi bisu dari perjuangan yang tak mengenal lelah.


Pada hari berikutnya, Kamis 20 Juni 2024, tepat pukul 10.00, saya bersama Pak Sigit, sang bendahara MWCNU yang telah setia mendampingi perjalanan ini, segera bergegas menuju kantor Bank Jatim Cabang Ngawi. Langit pagi itu cerah, seolah menyertai langkah kami yang dipenuhi dengan semangat dan harapan. Dalam hati, kami membawa misi penting—membuka rekening atas nama MWCNU Margomulyo, sebuah langkah krusial yang akan menjadi pondasi awal bagi realisasi pembangunan auditorium yang telah lama diidam-idamkan.


Sesampainya di Bank Jatim, kami disambut oleh suasana hangat dan ramah. Tak butuh waktu lama, Pak Satpam yang baik hati dengan sigap membantu kami melengkapi data-data yang diperlukan. Dengan senyum tulus dan penuh pengertian, beliau memandu kami melalui setiap tahapan proses pembuatan rekening, memastikan semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Waktu terasa berlalu begitu cepat, dan dalam sekejap, proses pembuatan rekening itu selesai, meninggalkan rasa lega di hati kami.


Namun, tugas kami belum selesai di situ. Setelah urusan di Bank Jatim rampung, kami langsung beralih ke langkah berikutnya—berkoordinasi dengan konsultan yang telah kami percaya. Kami berdiskusi panjang lebar mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan desain yang harus disusun sesuai dengan pengajuan. Setiap detail dibahas dengan seksama, memastikan bahwa semuanya sesuai dengan kebutuhan dan harapan yang telah kami susun sejak awal.

Selasa, 25 Juni 2024 - Melalui peran penting Pak Kades Tri Maryono, yang juga menjabat sebagai Ketua MWC LAZISNU Margomulyo, kami dipertemukan dengan seorang sosok yang telah banyak dikenal di wilayah ini—Mas Hafidz, seorang konsultan sekaligus kontraktor yang reputasinya telah teruji oleh waktu. Pertemuan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah langkah strategis dalam upaya kami untuk mewujudkan mimpi besar membangun Auditorium MWCNU Margomulyo.

Di ruang yang hangat dengan suasana penuh kekeluargaan, kami duduk bersama Mas Hafidz, membicarakan berbagai hal yang menjadi fondasi dari proyek ini. Diskusi kami berpusat pada dua aspek penting: Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan desain yang akan menjadi wujud nyata dari visi kami. Mas Hafidz, dengan pengalamannya yang luas, memberikan berbagai masukan yang sangat berharga. Setiap detail diperhatikan, setiap angka dihitung dengan cermat, dan setiap garis desain dipertimbangkan dengan matang.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat saat kami terlibat dalam diskusi mendalam. Suasana yang awalnya penuh dengan formalitas perlahan mencair, berubah menjadi perbincangan yang lebih hangat dan akrab. Kami merasa yakin bahwa dengan bantuan Mas Hafidz, proyek ini berada di tangan yang tepat. Semua yang kami bicarakan terasa mengalir lancar, seolah setiap rencana dan ide yang kami tuangkan saling melengkapi satu sama lain.

Setelah segala sesuatunya dirasa cukup, kami pun saling berpamitan. Dalam hati, kami membawa keyakinan baru bahwa langkah ini adalah bagian penting dari perjalanan panjang yang sedang kami tempuh. Kami percaya bahwa dengan kerjasama yang solid dan dukungan dari berbagai pihak, impian untuk mendirikan Auditorium MWCNU Margomulyo akan segera menjadi kenyataan. Hari itu, kami tidak hanya berpamitan sebagai rekan kerja, tetapi juga sebagai mitra yang memiliki satu tujuan bersama—mewujudkan cita-cita besar yang akan menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Desain Auditorium MWCNU Margomulyo

Tibalah saat yang telah kami nantikan, sebuah pertemuan yang menjadi penentu langkah berikutnya dalam perjalanan ini. Pada tanggal 4 Juli 2024, sesuai dengan kesepakatan yang telah kami buat, kami berkunjung ke kantornya. Suasana pagi itu dipenuhi dengan harapan dan sedikit ketegangan, karena hari ini adalah hari di mana semua persiapan yang telah kami lakukan selama beberapa waktu terakhir akan mencapai tahap akhir.

Saat kami tiba di sana, Mas Hafidz menyambut kami dengan senyum yang menenangkan. Kami segera duduk bersama, membahas berkas-berkas penting yang telah disiapkan—mulai dari desain akhir hingga Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah dirinci dengan teliti. Setiap detail diperiksa kembali, memastikan tidak ada yang terlewat. Rasanya seperti memeriksa potongan terakhir dari sebuah puzzle besar, dan kami semua berharap bahwa setiap bagian telah terpasang dengan sempurna.

Mas Hafidz, dengan ketelitian dan keahliannya, memandu kami melalui setiap dokumen yang ada. Desain bangunan auditorium yang megah, yang sebelumnya hanya ada dalam bayangan kami, kini terpampang jelas dalam bentuk gambar dan rencana yang matang. RAB yang disusun dengan cermat menunjukkan kejelasan dan keseriusan kami dalam mewujudkan proyek ini.


Saat semua sudah dirasa cukup, kami merasakan beban di pundak kami sedikit terangkat—alhamdulillah, semua berkas sudah lengkap dan siap untuk dikirim ke Biro Pemprov Jawa Timur.

Perasaan lega dan syukur membanjiri hati kami. Hari itu, di kantor Mas Hafidz, kami tidak hanya menyelesaikan dokumen-dokumen penting, tetapi juga mengukir sebuah langkah besar dalam sejarah perjuangan ini. Dengan penuh keyakinan, kami menyiapkan berkas-berkas tersebut untuk dikirim, menandai tahap akhir dari persiapan panjang yang telah kami jalani. Kami percaya bahwa apa yang telah kami lakukan ini adalah bagian dari sebuah proses besar yang kelak akan membuahkan hasil yang indah bagi MWCNU Margomulyo.

Pengajian Rutin Kamis Kliwon PAC Muslimat NU Margomulyo: Meresapi Keutamaan Ibadah Fardzu


Pada Hari Kamis Kliwon, 1 Agustus 2024, PAC Muslimat NU Margomulyo kembali mengadakan pengajian rutin yang bertempat di Aula MWCNU Margomulyo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus PAC dan ranting Muslimat NU beserta anggotanya, mencerminkan semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang kuat di antara para jamaah.

Acara dimulai pukul 09.30 WIB dengan suasana penuh hikmah dan khidmat. Pengajian kali ini menghadirkan pemateri tunggal, Kiyai Badrun Sulaiman, yang juga merupakan Ketua MWCNU Margomulyo. Beliau menyampaikan kajian mendalam dengan merujuk pada kitab Lubabul Hadis, khususnya pada bab Fadhilah Ibadah Fardzu (keutamaan ibadah wajib).

Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun Sulaiman menekankan pentingnya memahami dan menjalankan ibadah fardzu dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Beliau menguraikan berbagai keutamaan yang dapat diraih melalui pelaksanaan ibadah fardzu, baik dari segi spiritual maupun sosial. Kajian yang disampaikan dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna ini mampu menyentuh hati para hadirin, memberikan motivasi dan semangat untuk lebih giat dalam menjalankan ibadah sehari-hari.

Acara pengajian berakhir pada pukul 11.30 WIB dengan doa bersama, menandai penutupan yang penuh berkah dan harapan. Semoga pengajian rutin seperti ini dapat terus memberikan manfaat dan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kebersamaan di kalangan Muslimat NU Margomulyo.

Dengan terselenggaranya pengajian ini, PAC Muslimat NU Margomulyo kembali menunjukkan komitmennya dalam membina dan mengembangkan kehidupan beragama yang lebih baik di tengah masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi Muslimat NU di wilayah lain untuk terus aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial.

Keberhasilan penyelenggaraan pengajian rutin ini tidak lepas dari kerja keras dan dedikasi seluruh pengurus PAC dan ranting Muslimat NU Margomulyo. Mereka secara konsisten berupaya menciptakan wadah bagi para anggotanya untuk memperdalam pemahaman agama serta memperkuat tali silaturahmi di antara sesama.


Salah satu anggota Muslimat NU yang hadir, Ibu Siti Supiyah, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya pengajian ini. "Kami sangat berterima kasih kepada Kiyai Badrun Sulaiman yang telah memberikan pencerahan tentang keutamaan ibadah fardzu. Kajian ini sangat bermanfaat bagi kami, terutama dalam meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari," ujarnya.


Selain itu, pengajian ini juga menjadi ajang untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan antaranggota. Diskusi yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan membuat setiap peserta merasa lebih dekat satu sama lain, memperkuat rasa persaudaraan yang selama ini menjadi ciri khas dari Muslimat NU.


Kiyai Badrun Sulaiman, dalam penutupan kajiannya, menekankan pentingnya istiqomah dalam menjalankan ibadah dan mengajak seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas diri. "Ibadah fardzu adalah kewajiban yang harus kita jalankan dengan penuh kesungguhan. Melalui pengajian ini, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya dengan penuh hikmah.


Kegiatan pengajian ini tidak hanya sekadar forum belajar, tetapi juga sebagai langkah nyata dalam membangun komunitas Muslimat NU yang berdaya dan berkontribusi positif bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya dukungan dari seluruh anggota, pengajian rutin ini diharapkan dapat terus berjalan dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.


Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, Ibu Maslahah, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan pengajian ini. "Kebersamaan dan antusiasme dari seluruh anggota Muslimat NU Margomulyo adalah kunci suksesnya acara ini. Kami berharap kegiatan ini dapat terus berjalan dengan baik dan menjadi sarana untuk memperkuat iman dan takwa kita semua," pungkasnya.


Dengan semangat yang tak pernah surut, PAC Muslimat NU Margomulyo berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan mendukung peningkatan kualitas kehidupan beragama di tengah masyarakat. Semoga langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas Muslimat NU di tempat lain dan memberikan dampak positif yang luas.


Tim CyberMWCNU