Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

"Santri Sebagai Pilar Peradaban: Refleksi Hari Santri Nasional 2024"

"SANTRI SEBAGAI PILAR PERADABAN: REFLEKSI HARI SANTRI NASIONAL 2024"

Oleh: Badrun.

Pendahuluan

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia, terutama bagi kalangan santri dan pesantren. Sejak ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015, Hari Santri menjadi bentuk pengakuan dan apresiasi terhadap peran penting santri dalam sejarah perjuangan bangsa dan kontribusi mereka dalam pembangunan nasional.

Dalam artikel ini, kita akan merefleksikan peran santri sebagai pilar peradaban, terutama dalam konteks peringatan Hari Santri Nasional 2024 yang bertemakan Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan.

 

1. Latar Belakang Hari Santri Nasional

a. Sejarah Penetapan Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Oktober 2015.

Penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober oleh Presiden Joko Widodo didasarkan pada peristiwa Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy ari pada tahun 1945.[1]

Resolusi Jihad ini menyerukan kewajiban umat Islam, khususnya kalangan santri, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan. Sejarah ini menjadikan santri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa, mulai dari merebut, mempertahankan, hingga mengisi kemerdekaan.[2]

Sejak 2015, Hari Santri tidak hanya dimaknai sebagai pengingat perjuangan masa lalu, tetapi juga sebagai momentum untuk menguatkan peran santri dalam era kekinian, baik dalam konteks sosial, politik, pendidikan, maupun agama.

 

b. Makna dan Tujuan Peringatan Hari Santri.

Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengingatkan masyarakat Indonesia bahwa santri dan pesantren memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter bangsa. Santri tidak hanya memiliki peran dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan perjuangan kemerdekaan.[3]

Makna dari peringatan ini juga terletak pada pesan bahwa nilai-nilai pesantren, seperti keikhlasan, kesederhanaan, dan kebersamaan, harus terus dijaga dan dikembangkan dalam menghadapi tantangan zaman. Santri diposisikan sebagai garda terdepan dalam menjaga moralitas dan integritas bangsa, terutama di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

 

c. Fokus Peringatan Tahun 2024: Peran Santri dalam Membangun Peradaban

Pada tahun 2024, fokus peringatan Hari Santri adalah peran santri dalam membangun peradaban. Hal ini relevan dengan perkembangan global yang semakin dinamis dan kompleks. Santri diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan modern, baik di tingkat lokal maupun global.[4]

Peran santri tidak hanya terbatas pada lingkup pesantren, tapi juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan budaya. Mereka diharapkan mampu beradaptasi dan memberikan solusi bagi berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, seperti radikalisme, kemiskinan, ketimpangan sosial, serta tantangan ekonomi dan lingkungan.

 

d. Tema Hari Santri 2024: Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan

Tema Hari Santri 2024, Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan, mencerminkan kesinambungan perjuangan para santri dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. "Menyambung Juang" berarti melanjutkan semangat juang para ulama dan pendahulu dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun Indonesia.[5]

Sementara "Merengkuh Masa Depan" menekankan pentingnya mempersiapkan generasi santri dalam menghadapi perubahan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

Tema ini juga menggarisbawahi pentingnya inovasi dan kolaborasi di kalangan santri untuk menjawab kebutuhan zaman, tanpa melupakan akar tradisi dan nilai-nilai keislaman yang selama ini menjadi fondasi kehidupan pesantren. Dengan semakin terbukanya akses informasi dan teknologi, santri diharapkan mampu menjadi pilar yang kokoh dalam membangun peradaban yang berkelanjutan dan berakhlak mulia.

 

2. Pentingnya Peran Santri dalam Sejarah Bangsa

Santri telah lama menjadi bagian integral dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, terutama dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan identitas nasional.[6]

Mereka tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga sebagai pelopor dalam berbagai aspek kehidupan bangsa, seperti pendidikan, budaya, dan politik.

 

a. Kontribusi Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Peran santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perlawanan terhadap penjajah. Salah satu momentum penting yang menegaskan posisi strategis santri dalam perjuangan nasional adalah Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menyerukan kepada seluruh umat Islam, terutama santri, untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Seruan ini tidak hanya memberikan legitimasi teologis bagi perjuangan melawan penjajah, tetapi juga menjadi pendorong utama dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan. Para santri bersama dengan rakyat Surabaya menunjukkan semangat juang yang luar biasa dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.[7]

Selain peristiwa tersebut, santri juga terlibat aktif dalam berbagai perlawanan terhadap penjajahan di berbagai daerah, baik melalui jalur militer maupun diplomasi. Mereka menggunakan jaringan pesantren sebagai basis pengorganisasian perjuangan, yang ditopang oleh nilai-nilai keikhlasan, keperwiraan, dan pengabdian kepada bangsa dan agama.

Dengan demikian, santri tidak hanya berperan di medan perang, tetapi juga dalam membangun kesadaran nasional dan semangat kebangsaan di kalangan masyarakat.

 

b. Peran Santri dalam Menjaga Nilai-Nilai Keagamaan dan Kebangsaan

Selain kontribusi mereka dalam perjuangan fisik melawan penjajah, santri juga memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Pesantren, sebagai institusi pendidikan tradisional Islam, telah menjadi penjaga utama ajaran Islam yang moderat dan toleran di Indonesia. Nilai-nilai ini sangat penting dalam menjaga keharmonisan sosial dan mencegah berkembangnya ekstremisme yang dapat merusak persatuan bangsa.[8]

Santri diajarkan untuk mengamalkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, yakni Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Nilai-nilai ini tercermin dalam ajaran tawassuth (moderasi), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan i'tidal (keadilan) yang menjadi landasan kehidupan pesantren. Dengan prinsip-prinsip ini, santri berperan dalam menjaga keutuhan bangsa, melawan segala bentuk radikalisme, serta mempromosikan dialog antaragama dan budaya.

Tidak hanya itu, santri juga memainkan peran penting dalam penguatan identitas kebangsaan. Melalui pendidikan di pesantren, mereka belajar tentang sejarah perjuangan bangsa, nilai-nilai Pancasila, dan konsep NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Pemahaman ini kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari santri, baik di lingkungan pesantren maupun ketika mereka kembali ke masyarakat luas.[9]

Dengan demikian, santri telah menjadi penjaga moralitas bangsa, yang tidak hanya berpegang teguh pada ajaran agama, tetapi juga pada nilai-nilai kebangsaan yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa. Mereka mampu memadukan antara semangat keagamaan dengan semangat kebangsaan, yang menjadi ciri khas Islam Nusantara.

I. Pengertian Santri sebagai Pilar Peradaban

1. Definisi Santri

a. Pengertian Santri dari Perspektif Tradisional dan Modern.

Santri secara tradisional merujuk pada individu yang belajar di pesantren, tempat di mana mereka menerima pendidikan agama Islam dan nilai-nilai moral. Dalam konteks ini, santri dianggap sebagai pelajar yang mengabdikan diri untuk memahami ajaran Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, dalam perspektif modern, pengertian santri telah meluas. Saat ini, santri tidak hanya terbatas pada mereka yang belajar di pesantren, tetapi juga mencakup siapa saja yang berkomitmen untuk menjalankan ajaran Islam dan berusaha memperbaiki akhlak serta moralitas dalam kehidupan sosial mereka. Dengan demikian, santri dapat diartikan sebagai individu yang berusaha untuk menjadi lebih baik, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.[10]

 

b. Santri sebagai Agen Pembawa Nilai-nilai Keagamaan, Moral, dan Sosial.

Santri berperan penting sebagai agen pembawa nilai-nilai keagamaan, moral, dan sosial dalam masyarakat. Mereka tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga diharapkan untuk mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat luas.

Dalam konteks ini, santri berfungsi sebagai teladan dalam berperilaku baik, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif terhadap lingkungan sosial mereka. Dengan demikian, santri menjadi jembatan antara ajaran agama dan praktik kehidupan sehari-hari, yang pada gilirannya dapat membantu membangun masyarakat yang lebih baik dan beradab.[11]

 

2. Makna 'Pilar Peradaban'

a. Konsep Peradaban dalam Konteks Masyarakat yang Maju, Beradab, dan Bermoral.

Peradaban dapat dipahami sebagai suatu tatanan masyarakat yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai aspek, termasuk ilmu pengetahuan, budaya, dan moralitas. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan etika dalam setiap aspek kehidupan.[12]

Dalam konteks ini, santri sebagai pilar peradaban memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap terjaga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

b. Peran Santri dalam Membangun dan Mempertahankan Tatanan Sosial yang Beradab.

Santri memiliki peran yang sangat penting dalam membangun dan mempertahankan tatanan sosial yang beradab. Mereka diharapkan untuk menjadi agen perubahan yang tidak hanya mengedukasi diri sendiri, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.

Dengan mengamalkan ajaran Islam yang rahmatan lil'alamin, santri dapat berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, toleran, dan saling menghormati. Dalam hal ini, santri berfungsi sebagai pilar yang mendukung peradaban yang beradab dan bermoral, serta menjadi contoh bagi generasi mendatang untuk terus berjuang dalam meningkatkan kualitas diri dan masyarakat.[13]

 

II. Kontribusi Santri dalam Membangun Peradaban

1. Peran Santri dalam Pendidikan

a. Pesantren sebagai Pusat Pendidikan Moral dan Agama.

Pesantren telah lama dikenal sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan moral santri. Dalam konteks ini, pesantren berfungsi sebagai pusat pendidikan yang mengintegrasikan ajaran agama dengan nilai-nilai kemanusiaan.[14]

Melalui kurikulum yang mencakup pelajaran agama, etika, dan keterampilan hidup, pesantren berperan dalam membentuk santri menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang baik. Dengan demikian, pesantren menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang beradab dan bermoral.

 

b. Kontribusi Santri dalam Menciptakan Generasi yang Berakhlak Mulia dan Berilmu.

Santri memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai yang mereka pelajari di pesantren kepada generasi berikutnya. Dengan mengamalkan ajaran agama dan moral yang baik, santri berkontribusi dalam menciptakan generasi yang berakhlak mulia dan berilmu.[15]

Mereka tidak hanya menjadi pelajar, tetapi juga pengajar dan teladan bagi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan, santri dapat menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilai positif, sehingga membantu membangun masyarakat yang lebih baik.

 

2. Santri dan Kepemimpinan Berbasis Nilai

a. Santri sebagai Pemimpin dalam Berbagai Sektor: Pemerintahan, Sosial, dan Agama.

Santri memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin di berbagai sektor, termasuk pemerintahan, sosial, dan agama. Dengan pendidikan yang mereka terima, santri dilatih untuk memiliki integritas, kejujuran, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.[16]

Nilai-nilai ini sangat penting dalam kepemimpinan yang efektif dan beretika. Santri yang berperan sebagai pemimpin dapat membawa perubahan positif dalam masyarakat, dengan mengedepankan prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan bagi semua.

 

b. Contoh Tokoh-Tokoh Santri yang Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia.

Sejarah Indonesia mencatat banyak tokoh santri yang berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Misalnya, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang berperan penting dalam pendidikan dan sosial.[17]

Selain itu, tokoh-tokoh seperti KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, juga menunjukkan bagaimana santri dapat berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mereka menjadi inspirasi bagi generasi santri saat ini untuk terus berjuang demi kemajuan bangsa.[18]

 

3. Santri dan Pemberdayaan Ekonomi Umat

a. Inisiasi Program-Program Ekonomi Berbasis Pesantren

Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Banyak pesantren yang telah menginisiasi program-program ekonomi yang memberdayakan santri dan masyarakat sekitar.[19]

Melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha kecil, dan koperasi, pesantren berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat. Program-program ini tidak hanya membantu santri untuk mandiri secara finansial, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal. 

b. Peran Santri dalam Pengembangan Ekonomi Syariah dan Kewirausahaan Sosial

Santri juga berperan penting dalam pengembangan ekonomi syariah dan kewirausahaan sosial. Dengan pemahaman yang mendalam tentang prinsip-prinsip ekonomi Islam, santri dapat menjadi pelopor dalam menciptakan usaha yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga beretika dan bermanfaat bagi masyarakat.[20]

Melalui inovasi dan kreativitas, santri dapat mengembangkan model bisnis yang sesuai dengan nilai-nilai syariah, sehingga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

 

III. Tantangan dan Peluang Santri di Era Modern

1. Tantangan Globalisasi dan Teknologi

a. Bagaimana Santri Menghadapi Tantangan Era Digital dan Globalisasi

Era globalisasi dan digitalisasi membawa tantangan yang signifikan bagi santri. Akses informasi yang cepat dan luas dapat mempengaruhi pemahaman dan nilai-nilai yang dipegang oleh santri.[21] Tantangan ini menuntut santri untuk lebih kritis dan selektif dalam menyaring informasi yang mereka terima.

Santri perlu dilatih untuk memahami konteks global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keagamaan yang telah ditanamkan di pesantren. Dengan kemampuan ini, santri dapat berkontribusi dalam menghadapi isu-isu global, seperti radikalisasi dan intoleransi, dengan cara yang konstruktif dan berbasis pada pemahaman agama yang benar.

 

b. Transformasi Pesantren dalam Penerapan Teknologi dan Pendidikan Modern

Untuk menghadapi tantangan ini, banyak pesantren yang mulai melakukan transformasi dalam metode pendidikan dan penerapan teknologi. Penggunaan media sosial, platform pembelajaran online, dan aplikasi pendidikan menjadi hal yang umum di pesantren modern.[22]

Ini tidak hanya meningkatkan akses santri terhadap berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan berbagai pemikiran dan perspektif dari dunia luar. Dengan demikian, pesantren berperan sebagai lembaga yang adaptif, mempersiapkan santri untuk menghadapi tantangan zaman sambil tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan.

 

2. Peluang Santri dalam Pembangunan Nasional

a. Santri sebagai Agen Perubahan Sosial dalam Masyarakat Modern.

Santri memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan sosial di masyarakat modern. Dengan pendidikan yang mereka terima, santri dapat mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam konteks sosial yang lebih luas. Mereka dapat terlibat dalam berbagai program sosial, mulai dari kegiatan kemanusiaan hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar mereka.[23]

Santri yang aktif berkontribusi dalam pembangunan sosial akan membantu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan beradab, serta mengatasi berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh komunitas mereka.

 

b. Peran Santri dalam Menjaga Harmoni Sosial, Toleransi Beragama, dan Persatuan Bangsa.

Di tengah keragaman budaya dan agama di Indonesia, santri memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial dan toleransi beragama. Dengan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam yang mengedepankan toleransi dan saling menghormati, santri dapat menjadi jembatan antara berbagai kelompok masyarakat.[24]

Mereka dapat berperan dalam dialog antaragama, kegiatan lintas komunitas, dan program-program yang memperkuat persatuan bangsa. Dengan demikian, santri tidak hanya berfungsi sebagai individu yang berilmu, tetapi juga sebagai agen yang menjaga keutuhan dan persatuan bangsa dalam menghadapi tantangan zaman.[25]

 

IV. Refleksi Hari Santri Nasional 2024

1. Memaknai Hari Santri sebagai Momentum Kebangkitan.

a. Perenungan atas Kontribusi Santri terhadap Indonesia hingga Saat Ini.

Hari Santri Nasional merupakan momen yang tepat untuk merenungkan kontribusi santri dalam sejarah dan perkembangan Indonesia. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, santri telah memainkan peran kunci dalam membangun bangsa melalui pendidikan, kepemimpinan, dan pengabdian sosial.

Mereka tidak hanya menjadi pelajar di pesantren, tetapi juga menjadi pejuang, pendidik, dan tokoh masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai moral dan spiritual. Peringatan ini mengajak kita untuk menghargai peran penting santri dalam konteks sejarah yang lebih luas, serta menegaskan kembali komitmen mereka untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

 

b. Bagaimana Peringatan Hari Santri dapat Menjadi Momentum Kebangkitan Peran Santri dalam Membangun Peradaban yang Lebih Baik.

Peringatan Hari Santri Nasional dapat dijadikan momentum untuk menggerakkan kembali semangat santri dalam membangun peradaban yang lebih baik. Dengan mengangkat tema-tema yang relevan, seperti keberagaman, toleransi, dan keadilan sosial, peringatan ini dapat menginspirasi santri untuk berperan aktif dalam isu-isu kontemporer.[26]

Selain itu, berbagai kegiatan sosialisasi, seminar, dan aksi sosial dapat diadakan untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan tanggung jawab dalam membangun masyarakat yang beradab. Momentum ini juga dapat memperkuat jaringan antara pesantren dan masyarakat, sehingga kolaborasi dalam berbagai bidang dapat terjalin dengan baik.

 

2. Harapan untuk Masa Depan

a. Peluang Santri untuk Terus Berkontribusi dalam Kancah Nasional maupun Internasional.

Dengan semakin terbukanya akses informasi dan peluang di era global, santri memiliki kesempatan untuk berkontribusi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Mereka dapat terlibat dalam berbagai forum internasional, program pertukaran pelajar, dan kolaborasi dengan lembaga-lembaga pendidikan global.[27]

Santri yang berpendidikan dan berwawasan luas dapat menjadi duta perdamaian dan toleransi, menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil'alamin kepada dunia luar. Ini akan memperkuat citra positif Indonesia di kancah internasional dan mengukuhkan peran santri sebagai agen perubahan global.[28]

 

b. Peran Santri dalam Menciptakan Masyarakat yang Religius, Adil, dan Makmur.

Di masa depan, santri diharapkan dapat terus berperan dalam menciptakan masyarakat yang religius, adil, dan makmur. Dengan mengedepankan nilai-nilai keadilan sosial, santri dapat menjadi pelopor dalam berbagai gerakan sosial yang berorientasi pada kesejahteraan umat.[29]

Mereka juga dapat berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berbasis syariah, menciptakan lapangan kerja, serta memberdayakan masyarakat. Dengan komitmen yang kuat untuk menjalankan ajaran agama dan berkontribusi dalam pembangunan sosial, santri akan terus menjadi pilar peradaban yang kokoh dan inspiratif bagi generasi mendatang. 

 

 

Penutup

1. Kesimpulan

a. Rangkuman Peran Santri sebagai Pilar Peradaban.

Santri telah terbukti menjadi pilar peradaban yang penting dalam sejarah dan perkembangan bangsa Indonesia. Melalui pendidikan di pesantren, santri tidak hanya dibekali dengan pengetahuan agama, tetapi juga nilai-nilai moral dan etika yang menjadi landasan dalam kehidupan sosial.

Peran mereka sebagai agen perubahan, pemimpin, dan pemberdaya masyarakat sangat signifikan dalam menciptakan masyarakat yang beradab, toleran, dan sejahtera. Dalam menghadapi berbagai tantangan global, santri memiliki potensi untuk terus berkontribusi dalam pembangunan nasional dan internasional, menjadikan mereka sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

 

b. Pentingnya Menjaga Nilai-nilai dan Tradisi Pesantren dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan yang cepat, penting bagi santri dan pesantren untuk tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi yang telah ada. Nilai-nilai keagamaan, moralitas, dan etika yang diajarkan di pesantren harus diadaptasi dan diterapkan dalam konteks yang relevan dengan tantangan masa depan. Dengan cara ini, santri dapat tetap menjadi penggerak perubahan yang tidak hanya berlandaskan pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada akhlak dan budi pekerti yang luhur.

 

2. Ajakan untuk Merayakan Hari Santri dengan Refleksi dan Aksi Nyata

a. Mengajak Seluruh Elemen Bangsa untuk Terus Mendukung Peran Santri dalam Membangun Peradaban yang Bermartabat.

Peringatan Hari Santri Nasional hendaknya bukan hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momen untuk melakukan refleksi dan aksi nyata. Kami mengajak seluruh elemen bangsa baik pemerintah, masyarakat, maupun organisasi untuk terus mendukung dan memberdayakan santri dalam peran mereka sebagai pilar peradaban.

Melalui kerjasama yang baik dan kolaborasi lintas sektor, kita dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi santri untuk berkontribusi lebih besar dalam membangun masyarakat yang bermartabat, damai, dan sejahtera. Mari kita bersama-sama merayakan Hari Santri dengan semangat kebangkitan dan komitmen untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anjani, Syafira Dewi. Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia Dan Kiprah Kaum Santri Dalam Lahirnya NKRI. JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah 3, no. 2 (2023): 80 90.

. Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia Dan Kiprah Kaum Santri Dalam Lahirnya NKRI. JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah 3, no. 2 (2023): 80 90.

AR, Zaini Tamin. Genealogi Peran Kaum Santri Dalam Sketsa Politik Nasional. Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan Dan Keilmuan Islam 2, no. 1 (2017): 32 59.

Ardiansyah, Rafli, Amin Warjo, and Dede Indra Setiabudi. PERAN SERTA ANAK BANGSA DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM TRADISIONAL KONTEMPORER. Relinesia: Jurnal Kajian Agama Dan Multikulturalisme Indonesia 1, no. 2 (2022): 77 84.

. PERAN SERTA ANAK BANGSA DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM TRADISIONAL KONTEMPORER. Relinesia: Jurnal Kajian Agama Dan Multikulturalisme Indonesia 1, no. 2 (2022): 77 84.

Chandra, Pasmah. Peran Pondok Pesantren Dalam Membentuk Karakter Bangsa Santri Di Era Disrupsi. Belajea: Jurnal Pendidikan Islam 5, no. 2 (2020): 243 62.

Indah. Rilis Logo, Tema, Dan Theme Song Hari Santri 2024, Menag Ajak Terus Berjuang Untuk Masa Depan. KEMENTERIAN AGAMA RI, 2024. https://kemenag.go.id/nasional/rilis-logo-tema-dan-theme-song-hari-santri-2024-menag-ajak-terus-berjuang-untuk-masa-depan-X5hf3.

Kholila, Azmatul. Peran Sentral Pesantren Dalam Membangun Moderasi Beragama Dan Kerukunan Sosial Di Indonesia: Tantangan Dan Strategi Implementasi Nilai-Nilai Moderasi. Book Chapter of Proceedings Journey-Liaison Academia and Society 1, no. 1 (2024): 372 88.

Kinansyah, Dhifan Hariz, and Wahyu Eko Pujianto. Peluang Dan Tantangan Santri Di Era Digital (Studi Kasus Pada Pondok Pesantren Al Amin Sidoarjo). Journal of Management and Social Sciences 2, no. 3 (2023): 194 205.

Marpuah, Neuis. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peringatan Hari Santri. Islamic Journal of Education 1, no. 1 (2022): 58 66.

Muhsin, Imam. Diskursus Penetapan Hari Santri Nasional (HSN): Studi Terhadap Pandangan Muhammadiyah Dan Nahdlatul Ulama: Respons, Hari Santri Nasional, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah. KARMAWIBANGGA: Historical Studies Journal, 2024, 49 60.

Nizar, Muhammad. Strategi Penguatan Ekonomi Masyarakat Lokal Melalui Pembinaan Dan Pendampingan Bisnis Pada UKM Komunitas Himpunan Pengusaha Santri Indonesia. MALIA: Jurnal Ekonomi Islam 13, no. 2 (2022): 275 88.

Saiman, Arifi. Diplomasi Santri. Gramedia Pustaka Utama, 2022.

Saputra, Inggar. Resolusi Jihad: Nasionalisme Kaum Santri Menuju Indonesia Merdeka. Jurnal Islam Nusantara 3, no. 1 (2019): 205 37.

Sujud, Fatih Atsaris. Inisiasi Otoritas Jasa Keuangan Kediri Dalam Meningkatkan Literasi Dan Inklusi Keuangan Syariah Masyarakat Kediri. Jurnal Tanbih 1, no. 1 Februari (2024): 67 87.

Yani, Muhammad Turhan, Mufarrihul Hazin, and Andhega Wijaya. Pengembangan Kepemimpinan Santri Dan Manajemen Organisasi Melalui Pelatihan Bagi Pengurus Pondok Pesantren. DEDICATE: Journal of Community Engagement in Education 2, no. 02 (2023): 22 36.

Zuhry, Ach Dhofir. Peradaban Sarung. Elex Media Komputindo, 2018.

 



[1] Imam Muhsin, Diskursus Penetapan Hari Santri Nasional (HSN): Studi Terhadap Pandangan Muhammadiyah Dan Nahdlatul Ulama: Respons, Hari Santri Nasional, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah., KARMAWIBANGGA: Historical Studies Journal, 2024, 49 60.

[2] Ibid.

[3] Neuis Marpuah, Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Peringatan Hari Santri, Islamic Journal of Education 1, no. 1 (2022): 58 66.

[4] Rafli Ardiansyah, Amin Warjo, and Dede Indra Setiabudi, PERAN SERTA ANAK BANGSA DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM TRADISIONAL KONTEMPORER, Relinesia: Jurnal Kajian Agama Dan Multikulturalisme Indonesia 1, no. 2 (2022): 77 84.

[5] Indah, Rilis Logo, Tema, Dan Theme Song Hari Santri 2024, Menag Ajak Terus Berjuang Untuk Masa Depan, KEMENTERIAN AGAMA RI, 2024, https://kemenag.go.id/nasional/rilis-logo-tema-dan-theme-song-hari-santri-2024-menag-ajak-terus-berjuang-untuk-masa-depan-X5hf3.

[6] Syafira Dewi Anjani, Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia Dan Kiprah Kaum Santri Dalam Lahirnya NKRI, JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah 3, no. 2 (2023): 80 90.

[7] Inggar Saputra, Resolusi Jihad: Nasionalisme Kaum Santri Menuju Indonesia Merdeka, Jurnal Islam Nusantara 3, no. 1 (2019): 205 37.

[8] Rafli Ardiansyah, Amin Warjo, and Dede Indra Setiabudi, PERAN SERTA ANAK BANGSA DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM TRADISIONAL KONTEMPORER, Relinesia: Jurnal Kajian Agama Dan Multikulturalisme Indonesia 1, no. 2 (2022): 77 84.

[9] Ach Dhofir Zuhry, Peradaban Sarung (Elex Media Komputindo, 2018).

[10] Ardiansyah, Warjo, and Setiabudi, PERAN SERTA ANAK BANGSA DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM TRADISIONAL KONTEMPORER, 2022.

[11] Ibid.

[12] Zuhry, Peradaban Sarung.

[13] Pasmah Chandra, Peran Pondok Pesantren Dalam Membentuk Karakter Bangsa Santri Di Era Disrupsi, Belajea: Jurnal Pendidikan Islam 5, no. 2 (2020): 243 62.

[14] Ibid.

[15] Zaini Tamin AR, Genealogi Peran Kaum Santri Dalam Sketsa Politik Nasional, Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan Dan Keilmuan Islam 2, no. 1 (2017): 32 59.

[16] Muhammad Turhan Yani, Mufarrihul Hazin, and Andhega Wijaya, Pengembangan Kepemimpinan Santri Dan Manajemen Organisasi Melalui Pelatihan Bagi Pengurus Pondok Pesantren, DEDICATE: Journal of Community Engagement in Education 2, no. 02 (2023): 22 36.

[17] Syafira Dewi Anjani, Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia Dan Kiprah Kaum Santri Dalam Lahirnya NKRI, JEJAK: Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah 3, no. 2 (2023): 80 90.

[18] Ibid.

[19] Fatih Atsaris Sujud, Inisiasi Otoritas Jasa Keuangan Kediri Dalam Meningkatkan Literasi Dan Inklusi Keuangan Syariah Masyarakat Kediri, Jurnal Tanbih 1, no. 1 Februari (2024): 67 87.

[20] Ibid.

[21] Dhifan Hariz Kinansyah and Wahyu Eko Pujianto, Peluang Dan Tantangan Santri Di Era Digital (Studi Kasus Pada Pondok Pesantren Al Amin Sidoarjo), Journal of Management and Social Sciences 2, no. 3 (2023): 194 205.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] Azmatul Kholila, Peran Sentral Pesantren Dalam Membangun Moderasi Beragama Dan Kerukunan Sosial Di Indonesia: Tantangan Dan Strategi Implementasi Nilai-Nilai Moderasi, Book Chapter of Proceedings Journey-Liaison Academia and Society 1, no. 1 (2024): 372 88.

[25] Ibid.

[26] Arifi Saiman, Diplomasi Santri (Gramedia Pustaka Utama, 2022).

[27] Muhammad Nizar, Strategi Penguatan Ekonomi Masyarakat Lokal Melalui Pembinaan Dan Pendampingan Bisnis Pada UKM Komunitas Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, MALIA: Jurnal Ekonomi Islam 13, no. 2 (2022): 275 88.

[28] Kholila, Peran Sentral Pesantren Dalam Membangun Moderasi Beragama Dan Kerukunan Sosial Di Indonesia: Tantangan Dan Strategi Implementasi Nilai-Nilai Moderasi.

[29] Chandra, Peran Pondok Pesantren Dalam Membentuk Karakter Bangsa Santri Di Era Disrupsi.

Lailatul Ijtima’ MWCNU Margomulyo: Mujahadah Kubro dan Doa Bersama untuk Kesuksesan Dakwah


Margomulyo - Ahad, 13 Oktober 2024, pukul 20.30 hingga 23.00, bertempat di Aula MWCNU Margomulyo, diselenggarakan kegiatan Lailatul Ijtima' yang dihadiri oleh segenap pengurus MWCNU, badan otonom, serta perwakilan dari enam pengurus ranting NU se-Margomulyo. Acara rutin ini menjadi ajang konsolidasi spiritual sekaligus momen berharga untuk memperkuat persatuan dan semangat dakwah di kalangan Nahdliyin.

Acara dibuka oleh Ust. Syaifuddin selaku pembawa acara, yang dengan lugas memandu jalannya kegiatan. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dilantunkan oleh Kiyai Sareh, Ketua Ranting NU Sumberjo, dengan suara penuh keagungan, menandai dimulainya rangkaian ibadah malam itu. Suasana semakin khidmat saat Sahabat Liskin, Ketua Rijalul Ansor Sumberjo, memimpin sholawat bil qiyam. Irama sholawat yang syahdu membuat suasana aula dipenuhi dengan lantunan cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, Kiyai Rodiyan, Rais Syuriyah Ranting NU Kalangan, memimpin pembacaan tahlil, diikuti dengan penuh penghayatan oleh seluruh hadirin. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani yang dipimpin oleh Kiyai Rosyidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo, memperdalam suasana spiritual yang semakin mendalam pada malam penuh keberkahan itu.

Puncak acara malam itu adalah Mujahadah Kubro yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam muqodimah (pengantar) mujahadahnya, Kiyai Badrun menyampaikan harapan besar agar semua agenda dakwah NU di Margomulyo senantiasa mendapat ridha dan kesuksesan dari Allah SWT. Beliau juga berdoa agar para pengurus NU di seluruh tingkatan, serta seluruh warga Nahdliyin, selalu dijauhkan dari segala macam fitnah dan diberi keselamatan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dalam suasana yang penuh khidmat, mujahadah ditutup dengan doa sembilan Kiyai, yang dipanjatkan secara berurutan. Doa-doa tersebut mengalir dalam keheningan malam, mengundang keberkahan dan rahmat dari Allah SWT bagi seluruh peserta yang hadir, serta bagi seluruh umat Islam di Margomulyo dan sekitarnya.

Kegiatan Lailatul Ijtima' ini menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan spiritual para Nahdliyin dalam merajut solidaritas dan komitmen terhadap perjuangan dakwah, serta memperteguh kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kegiatan Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo pada malam itu tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga forum penguatan ukhuwah dan silaturahmi antara pengurus NU di berbagai tingkatan. Dengan kehadiran para tokoh agama, perangkat organisasi, dan masyarakat, acara ini menegaskan betapa pentingnya peran spiritual dalam menjaga persatuan serta komitmen dakwah di tengah masyarakat.

Mujahadah Kubro, yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, menjadi inti dari malam tersebut, di mana seluruh hadirin larut dalam doa dan zikir yang khusyuk. Pesan yang beliau sampaikan dalam muqodimah menggugah kesadaran para pengurus dan warga NU bahwa tantangan dakwah di era ini memerlukan kekuatan spiritual yang kokoh, serta kebersamaan dalam setiap langkah perjuangan. Harapan agar semua agenda dakwah NU di Margomulyo sukses, dan agar semua pengurus dijaga dari berbagai fitnah, disambut dengan penuh rasa syukur dan kesadaran akan pentingnya peran mereka dalam menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama'ah.

Penutupan dengan doa sembilan Kiyai menambah kekhidmatan acara. Doa yang dipanjatkan secara bergantian oleh para ulama ini membawa harapan besar untuk kedamaian, keberkahan, dan kemajuan dakwah NU di wilayah Margomulyo. Setiap bait doa dipenuhi dengan harapan agar Allah SWT selalu melindungi umat-Nya dari segala mara bahaya, memberikan kekuatan dalam menjalankan tugas dakwah, dan menganugerahkan keberkahan dalam setiap langkah.

Lailatul Ijtima' ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan-kegiatan spiritual seperti mujahadah tidak hanya memperkuat hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga mempererat hubungan horizontal antar sesama umat, khususnya dalam bingkai organisasi Nahdlatul Ulama. Dengan semangat kebersamaan dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan dalam setiap aktivitas, NU di Margomulyo terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun dakwah.

Kegiatan ini diakhiri dengan suasana penuh kehangatan dan persaudaraan, para jamaah meninggalkan aula dengan hati yang tenteram dan semangat baru untuk terus berjuang di jalan Allah. Lailatul Ijtima' menjadi tonggak penting dalam menjaga keberlanjutan dakwah NU di Margomulyo, sekaligus menjadi momen refleksi untuk terus memperkuat peran umat dalam menghadapi dinamika zaman.

Pengajian Rutin Malam Sabtu Pahing di Masjid Baiturrohman: Menggali Tiga Hal yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya

Ketua MWCNU Margomulyo
Margomulyo - Jumat, 11 Oktober 2024, mulai pukul 20.30 hingga 23.00 WIB, jamaah Masjid Baiturrohman Tepus, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, berkumpul untuk mengikuti pengajian rutin malam Sabtu Pahing. Acara yang telah menjadi tradisi setiap selapan atau tiga puluh lima hari dalam penanggalan Jawa ini selalu disambut dengan antusias oleh masyarakat setempat. Pengajian kali ini dihadiri oleh segenap jamaah Masjid Baiturrohman, perangkat dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari badan otonom Nahdlatul Ulama (NU).

Pengajian dimulai dengan pembacaan Yasin Fadhilah yang dipimpin oleh Abdul Ghofur, Satkoryon Banser Margomulyo. Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti masjid saat ayat-ayat suci Al-Qur'an bergema, diikuti dengan lantunan Tahlil, yang kali ini dipimpin oleh Kiyai Jumari, Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Pembacaan Yasin dan Tahlil yang selalu menjadi pembuka acara ini menunjukkan kedekatan umat dengan tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim.

Acara pengajian ini diinisiasi oleh warga Dusun Tepus, khususnya para jamaah Masjid Baiturrohman, yang terus berupaya menjaga semangat kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di lingkungannya. Mereka menjadikan kegiatan ini sebagai wadah silaturahmi dan pengingat akan pentingnya memperdalam ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak acara adalah Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema yang sangat relevan, yaitu "Tiga Hal yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya." Kiyai Badrun dengan santai menjelaskan, “Ada tiga hal yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu: Shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan berjuang menyebarkan syiar agama Allah.”

Kiyai Badrun menguraikan pentingnya menjaga shalat tepat waktu sebagai tanda ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT. "Shalat yang dilaksanakan dengan disiplin waktu bukan hanya soal rutinitas, tetapi juga tentang mendekatkan diri kepada Allah secara konsisten," jelasnya. Beliau juga menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, yang merupakan bentuk amal sholeh yang besar pahalanya di sisi Allah. "Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua," tambahnya.

Terakhir, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk terus berjuang menyebarkan syiar agama, baik melalui dakwah maupun perbuatan yang menunjukkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. "Kita harus bangkit dan terus berjuang untuk menegakkan syiar Islam, meskipun tantangan zaman semakin berat," pesannya.

Selain membahas tiga hal yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, Kiyai Badrun juga memaparkan pentingnya pemberdayaan wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat sebagai topik penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Beliau menjelaskan bahwa wakaf, jika dikelola secara tepat, dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan umat dan memperkuat perekonomian masyarakat Islam.

"Wakaf bukan hanya sekadar amal ibadah yang terbatas pada tanah atau bangunan, tetapi bisa berbentuk wakaf produktif, seperti uang atau aset lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk membangun sektor ekonomi umat," ujar Kiyai Badrun. Beliau menekankan bahwa pengelolaan wakaf yang baik dapat mendukung pembiayaan kegiatan sosial, pendidikan, bahkan usaha-usaha produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Dalam kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi umat, Kiyai Badrun mengajak para jamaah untuk mulai berpikir secara kolektif dan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka. Menurut beliau, umat Islam harus mandiri secara ekonomi dengan menggalakkan usaha-usaha kecil dan menengah yang berbasis syariah serta memperkuat ukhuwah ekonomi. “Pemberdayaan ekonomi umat harus dimulai dari lingkungan kita sendiri, dengan semangat kemandirian, kita bisa menciptakan perubahan besar yang membawa keberkahan bagi semua,” tegasnya.

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, ulama, dan badan otonom NU untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis keumatan, sehingga kesejahteraan yang dicapai bukan hanya bersifat individu, tetapi kolektif, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan sosial dalam Islam.

Acara pengajian malam itu ditutup dengan doa bersama, yang memohon keberkahan dan kemudahan dalam menjalankan ajaran agama Islam di tengah kehidupan sehari-hari. Jamaah pun pulang dengan hati yang lebih tenang dan semangat untuk terus memperbaiki diri dalam menggapai ridha Allah SWT.

"Pengajian Kamis Kliwon: Keutamaan Ibadah Sunah dan Pemberdayaan Ekonomi Umat"


Margomulyo, 10 Oktober 2024 – Pengajian rutin Kamis Kliwon yang digelar di Aula MWCNU Margomulyo pada hari Kamis, 10 Oktober 2024, berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Acara ini dimulai pukul 09.30 WIB dan berlangsung hingga 11.45 WIB. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Margomulyo dan dihadiri oleh segenap jajaran PAC serta enam Pengurus Ranting Muslimat NU se-Anak Cabang Margomulyo.

Dalam sambutannya, Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, Maslahah, S.Ag., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya acara tersebut. "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan jajaran pengurus yang telah bekerja keras demi terselenggaranya acara ini. Semoga kegiatan ini membawa berkah dan manfaat bagi kita semua," ujar Maslahah.

Pengajian rutin Kamis Kliwon ini merupakan agenda bulanan yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi serta meningkatkan pemahaman keagamaan di kalangan anggota Muslimat NU. Acara ini juga menjadi wadah untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam beribadah dan berorganisasi, dengan harapan mampu memperkuat peran Muslimat NU dalam kehidupan sosial keagamaan di Margomulyo.

Kegiatan berjalan dengan lancar, ditutup dengan doa bersama dan harapan agar keberkahan senantiasa menyertai seluruh umat Muslim, khususnya para anggota Muslimat NU yang terus berkiprah di tengah masyarakat.

Acara puncak dari Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini adalah Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh Kyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyahnya, Kyai Badrun mengangkat tema Keutamaan Ibadah Sunah, yang disampaikan dengan penuh hikmah dan keteladanan.

Beliau menekankan pentingnya melaksanakan ibadah-ibadah sunah sebagai pelengkap dan penyempurna ibadah wajib. "Ibadah sunah tidak hanya menambah pahala, tapi juga menjadi wujud cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan mengamalkan sunah, kita memperkuat kedekatan kepada Allah dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Kyai Badrun.

Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa ibadah sunah seperti salat Dhuha, Tahajud, puasa Senin-Kamis, serta zikir dan sedekah rutin, memiliki nilai-nilai spiritual yang mendalam. Ibadah-ibadah ini, menurut Kyai Badrun, dapat mendatangkan rahmat Allah, memudahkan segala urusan, dan menjadi perisai dari berbagai kesulitan hidup.

Pesan-pesan Kyai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk tidak meremehkan ibadah sunah, karena meskipun bersifat tidak wajib, keutamaannya sangat besar di sisi Allah. Tausiyah ini mendapatkan perhatian penuh dari jamaah yang hadir, dengan harapan dapat meningkatkan semangat beribadah dan memperbaiki kualitas spiritual masing-masing.

Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama, dipimpin langsung oleh Kyai Badrun, yang memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam melaksanakan ibadah, baik wajib maupun sunah.

Selain membahas keutamaan ibadah sunah, Kyai Badrun juga mengangkat isu penting yang relevan dengan kondisi umat, yaitu pemberdayaan wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat. Beliau menjelaskan bahwa wakaf memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai salah satu pilar ekonomi umat Islam, namun sayangnya, masih banyak yang belum memaksimalkannya.

"Wakaf bukan hanya sekadar ibadah yang mendatangkan pahala jariyah, tetapi juga bisa menjadi instrumen penting untuk memberdayakan ekonomi umat jika dikelola dengan baik. Tanah, bangunan, atau harta yang diwakafkan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas, seperti pembangunan sarana pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi produktif," jelas Kyai Badrun.

Beliau mencontohkan bagaimana banyak lembaga Islam dan pondok pesantren yang sukses memanfaatkan aset wakaf untuk mendukung berbagai usaha ekonomi yang menguntungkan, baik di sektor pertanian, perdagangan, maupun usaha mikro. "Dengan manajemen yang profesional, wakaf dapat menjadi sumber pendanaan yang berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal," tambahnya.

Terkait pemberdayaan ekonomi umat, Kyai Badrun juga menekankan pentingnya solidaritas dan gotong royong dalam membangun ekonomi berbasis jamaah. Beliau mendorong para jamaah untuk lebih aktif dalam mengembangkan usaha-usaha kecil dan menengah di lingkungan mereka, dengan semangat kemandirian ekonomi yang selaras dengan prinsip syariah.

"Islam mengajarkan kita untuk selalu berusaha, bekerja keras, dan berdikari. Dengan semangat ini, kita bisa membantu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat," ungkapnya. Beliau juga mengingatkan agar setiap usaha yang dilakukan selalu dibarengi dengan kejujuran, amanah, dan ketakwaan, agar keberkahan selalu menyertai.

Pesan-pesan Kyai Badrun tentang wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat disambut baik oleh para hadirin, yang diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk lebih memanfaatkan potensi yang ada dalam masyarakat demi kesejahteraan bersama.

Setelah menyampaikan paparan terkait pemberdayaan wakaf dan ekonomi umat, Kyai Badrun juga mengajak para jamaah untuk mulai mengambil langkah nyata dalam memajukan perekonomian di lingkungan mereka. Beliau menekankan bahwa selain dari sisi ibadah, umat Islam juga harus mampu membangun kemandirian ekonomi agar bisa memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

"Saat ini, kita dihadapkan pada tantangan ekonomi global, dan umat Islam perlu bersatu dalam mengatasi tantangan ini dengan cara yang sesuai syariah. Salah satunya adalah melalui sinergi dalam membangun usaha-usaha berbasis wakaf dan ekonomi mikro. Mari kita jadikan wakaf sebagai salah satu solusi strategis dalam meningkatkan kesejahteraan umat," kata Kyai Badrun dengan semangat.

Beliau juga menekankan pentingnya pendidikan ekonomi syariah di kalangan umat, agar setiap orang dapat memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip ekonomi Islam dengan baik. "Pendidikan ini penting, terutama dalam memahami bagaimana wakaf dan instrumen keuangan Islam lainnya, seperti zakat, infak, dan sedekah, bisa diberdayakan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat."

Kyai Badrun menutup Mauidzoh Hasanah dengan mengajak semua jamaah untuk terus meningkatkan komitmen dalam mendukung pemberdayaan ekonomi umat dan pengelolaan wakaf secara profesional. Beliau berpesan agar semua elemen masyarakat, termasuk Muslimat NU, bisa berperan aktif dalam mewujudkan ekonomi umat yang mandiri dan berkeadilan.

Setelah tausiyah berakhir, para jamaah terlihat antusias mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk memajukan pengelolaan wakaf di daerah mereka. Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Badrun, memohon kepada Allah agar segala ikhtiar dalam memberdayakan umat, baik melalui ibadah, wakaf, maupun usaha ekonomi, selalu diridhoi dan diberikan keberkahan.

Dengan semangat kebersamaan, acara Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini berjalan sukses dan membawa pesan-pesan penting untuk penguatan spiritual dan ekonomi umat di lingkungan PAC Muslimat NU Margomulyo.

"Istiqomah dalam Khidmah: Menebar Cahaya Islam di Bumi Margomulyo"

Margomulyo, 6 Oktober 2024 – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Margomulyo kembali menggelar kegiatan rutin Naharul Ijtima' pada hari Ahad Legi, 6 Oktober 2024. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus NU Ranting Margomulyo serta perwakilan dari berbagai badan otonom di bawah naungan NU.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota serta membahas berbagai hal terkait peningkatan peran aktif dalam organisasi. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang untuk menguatkan komitmen para anggota dalam mengamalkan ajaran Islam ala Nahdlatul Ulama di tingkat ranting.

Acara ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah Ranting NU Margomulyo, Kiyai Wadarrohim. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk tetap istiqomah dalam kebaikan dan senantiasa berkhidmat di jam'iyyah NU. Beliau juga menekankan pentingnya peran aktif jamaah dalam mensyiarkan agama Allah melalui kegiatan-kegiatan NU, terutama di tingkat ranting.

Kiyai Wadarrohim menyampaikan pesan mendalam bahwa keberhasilan syiar Islam sangat bergantung pada komitmen seluruh jamaah untuk terlibat dan berperan aktif di dalam organisasi. "Mari kita jaga semangat kebersamaan ini dan terus berkhidmat untuk agama dan bangsa melalui jam'iyyah Nahdlatul Ulama," ujarnya menutup acara.

Kegiatan Naharul Ijtima' ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan semangat berorganisasi dan berkhidmat di kalangan warga NU Margomulyo, dengan harapan dapat terus membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat luas.

Kegiatan ini juga diisi dengan berbagai agenda penting yang mendukung penguatan ukhuwah antar anggota NU di Ranting Margomulyo. Salah satu hal yang ditekankan dalam pertemuan kali ini adalah perlunya kontinuitas dalam menjalankan program-program keagamaan dan sosial yang sudah direncanakan oleh pengurus. Dalam suasana yang penuh khidmat, para jamaah mendiskusikan beberapa inisiatif baru yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan umat, khususnya dalam kegiatan keagamaan di tingkat ranting.

Kiyai Wadarrohim dalam tausiyahnya juga mengingatkan jamaah untuk selalu menjaga niat dalam berkhidmat di jalan Allah. "Istiqomah itu berat, namun dengan niat yang lurus dan kebersamaan, insya Allah kita akan dimudahkan dalam setiap langkah," tegasnya. Beliau mengajak seluruh anggota NU untuk senantiasa menanamkan niat ikhlas dalam setiap aktivitas dan terus memperjuangkan syiar Islam melalui kegiatan NU.

Suasana hangat dan penuh persaudaraan terasa sepanjang acara. Dengan dukungan dari berbagai badan otonom, kegiatan Naharul Ijtima' ini diharapkan mampu menjadi penggerak bagi warga NU untuk terus mengembangkan diri dan berperan lebih aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan di tengah masyarakat.

Melalui acara ini, pengurus NU Ranting Margomulyo berharap agar semangat kebersamaan dan khidmah di kalangan jamaah dapat semakin kuat, serta mampu menjadi contoh bagi ranting-ranting NU lainnya dalam menjaga amanah dan memajukan syiar Islam di wilayah masing-masing.


Kontributor: Santoso
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' di Masjid Mambaul Khoiriyah: Memperkuat Tali Silaturahmi dan Ke-NU-an

Sumberejo, 5 Oktober 2024 – Kegiatan rutin Malam Ahad Legi kembali digelar di Masjid Mambaul Khoiriyah, dusun Singgih, desa Sumberejo, kecamatan Margomulyo. Acara ini menjadi saksi pentingnya menjaga ke-NU-an dengan mempererat tali silaturahmi antara warga Nahdlatul Ulama (NU) beserta badan otonomnya (BANOM), tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat. 


Pengajian rutin Lailatul Ijtima' dzikir dan sholawat ini berlangsung dengan khidmat pada hari Sabtu, 5 Oktober 2024, dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan dibuka oleh Ust. Tamam sebagai pembawa acara, yang dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Wakijan. Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti jamaah saat melantunkan dzikir dan sholawat mahalul qiyam yang dipimpin oleh Ust. Liskin.


Kiyai sareh mengawali sambutan, dalam sambutannya kali ini tak lupa beliau mengucapkan terimakasih kepada segenap warga NU Sumberjo yang telah berperan aktif dalam terlaksananya acara Lailatul Ijtima' NU ranting Sumberjo.

Selain itu, sambutan dari K. Rosidi Rais MWCNU Margomulyo menekankan pentingnya menjaga dan merawat NU, serta berkomitmen untuk berkhidmat kepada NU dengan niat menuntut ilmu, membela agama, dan bekerja keras. Beliau juga memaparkan dua poin penting tentang penguatan ukhuwah Islamiyyah yang harus dilakukan dengan penuh semangat.

Acara puncak pengajian kali ini adalah Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh Gus Imam Hanafi sebagai Sohibul bait. Dalam tausiyahnya, Gus Imam Hanafi membahas berbagai hal penting, di antaranya tentang ilmu fiqih, khususnya cara mensucikan kulit dari najis. 

Kegiatan pengajian ini mendapat dukungan penuh dari warga NU dan badan otonomnya. Antusiasme jamaah terlihat jelas dari kehadiran yang memenuhi Masjid Mambaul Khoiriyah, mencerminkan semangat kebersamaan dan keinginan untuk terus memperdalam ilmu agama.


Dengan diadakannya pengajian rutin seperti ini, diharapkan dapat memperkuat tali silaturahmi antarwarga serta meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan manfaat besar bagi seluruh masyarakat Dusun Singgih, Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo.

Pengajian rutin Lailatul Ijtima' di Masjid Mambaul Khoiriyah Dusun Singgih, Desa Sumberejo, telah memberikan dampak positif bagi seluruh jamaah yang hadir. Melalui dzikir, sholawat, dan tausiyah yang disampaikan oleh para ulama, kegiatan ini berhasil mempererat tali silaturahmi antar warga dan memperkuat komitmen dalam berkhidmat di jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Pesan penting mengenai pentingnya menjaga ke-NU-an, memperdalam ilmu agama, dan mengamalkan ajaran Islam dengan istiqomah telah menjadi inspirasi bagi semua peserta.

Antusiasme warga NU serta dukungan badan otonomnya semakin menunjukkan semangat kebersamaan dalam melestarikan tradisi keagamaan di lingkungan masyarakat. Pengajian seperti ini diharapkan terus menjadi wadah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyyah, memperdalam pemahaman agama, dan meningkatkan semangat kebersamaan di tengah umat, sehingga mampu menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan berkah di Desa Sumberejo dan sekitarnya.


Kontributor: Turmudzi
Editor: Tim CyberMWCNU

"Urgensi Maulid Nabi dalam Mengurai Cahaya Dakwah di Kalangan: Merajut Kebersamaan dalam Naharul Ijtima'"

(Mauidzoh Hasanah: Kiyai badrun)
Kalangan - Kamis, 26 September 2024, kegiatan Naharul Ijtima' NU Ranting Kalangan berlangsung dengan khidmat di kediaman Bapak Suparno, Dusun Bandung, Desa Kalangan, mulai pukul 13.00 hingga 15.30. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus Ranting NU Kalangan, Badan Otonom NU, serta Takmir Masjid dan Musholla se-Desa Kalangan. Kehadiran para tokoh NU Kalangan memberikan suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.

Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Rodhiyan, Rais Syuriyah NU Ranting Kalangan. Suara doa mengalun khusyuk, mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan makna kehidupan dan mempertebal keimanan kepada Allah SWT.

Selanjutnya, Kiyai Parno, selaku Ketua Ranting NU Kalangan sekaligus tuan rumah acara, menyampaikan sambutan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga NU Kalangan atas partisipasi aktif mereka dalam menyukseskan berbagai agenda dakwah Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) di Desa Kalangan. Dalam sambutannya, Kiyai Parno menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong dalam membangun dan mengembangkan dakwah Aswaja di tingkat desa.

Puncak acara diisi dengan Mauidzoh Hasanah oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, yang mengangkat tema "Urgensi Maulid Nabi dalam Meneguhkan Dakwah Islam Aswaja." Dalam ceramahnya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya momentum Maulid Nabi sebagai sarana memperkuat dakwah Islam yang berlandaskan nilai-nilai Aswaja. “Dakwah itu semampunya, bukan semaunya,” ujar Kiyai Badrun dengan tegas, mengingatkan bahwa dakwah harus dijalankan dengan niat tulus dan penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dakwah bukan hanya tentang menjadi pengurus, tetapi lebih kepada mengurusi umat dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Pesan ini menekankan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menyebarkan kebaikan, tanpa harus menunggu jabatan atau posisi formal dalam struktur organisasi.

Acara ditutup dengan doa bersama, mengharapkan keberkahan dan kelancaran dalam setiap kegiatan dakwah di Desa Kalangan. Para jamaah pun pulang dengan semangat baru untuk terus mendukung dan memperkuat dakwah Islam di tengah masyarakat.

Setelah ceramah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, para jamaah yang hadir tampak antusias, merasa termotivasi oleh pesan-pesan penuh makna yang beliau sampaikan. Diskusi-diskusi kecil pun mulai muncul di antara peserta, membahas pentingnya peran setiap warga NU dalam menjaga keberlanjutan dakwah Aswaja di Desa Kalangan.

Acara Naharul Ijtima' ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kekompakan di antara para pengurus NU, Badan Otonom, serta para takmir masjid dan musholla. Rasa gotong royong yang telah lama menjadi nilai luhur dalam masyarakat Desa Kalangan semakin terasa nyata di setiap kegiatan keagamaan yang digelar.

Sebagai penutup, Kiyai Parno kembali menyampaikan harapannya agar semangat dakwah yang telah tumbuh ini dapat terus dipupuk dan dikembangkan. Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk selalu menjaga kekompakan dan kebersamaan, karena tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, dakwah Aswaja tidak akan dapat berjalan maksimal.

Kegiatan ini memberikan inspirasi bagi seluruh hadirin untuk terus berperan aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial di desa mereka. Semangat untuk menjalankan dakwah "semampunya" dan tidak hanya berfokus pada posisi formal menjadi pesan penting yang dibawa pulang oleh para jamaah. Dengan semangat Maulid Nabi yang semakin dekat, harapan besar muncul agar perayaan Maulid tahun ini mampu menjadi momen penguatan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat Kalangan.

Kegiatan Naharul Ijtima' pun diakhiri dengan penuh kesyukuran, diiringi dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan harapan keberkahan bagi seluruh warga Desa Kalangan dan kelancaran dalam setiap upaya dakwah yang mereka jalankan.


Kontributor: Sholeh.
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri: Refleksi Pergerakan Dakwah Aswaja dan Upaya Pencegahan Pernikahan Dini

(Kiyai Rosyidi Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo)

Meduri - Pada Ahad malam, 22 September 2024, mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri berlangsung khidmat di Masjid Baitul Iman, Dusun Pleret, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus Ranting NU Meduri, Badan Otonom NU, warga Dusun Pleret, perangkat desa, RT, RW, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Acara diawali dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh Ustadz Lismanto. Kehadiran tahlil ini tidak hanya menandai pembukaan acara, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan spiritualitas warga. Kasun Dusun Pleret Sumariningsih, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam terhadap keberlangsungan kegiatan Lailatul Ijtima' ini. "Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga silaturahmi dan mempererat ikatan warga dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja)," ujarnya.

Ketua Ranting NU Meduri, Eko Sunarno, dalam sambutannya menguraikan peran penting struktur pengurus NU di tingkat ranting dalam mengawal dakwah Aswaja di Desa Meduri. Ia menegaskan bahwa ranting merupakan benteng utama dalam menjaga keutuhan ajaran Aswaja dari berbagai tantangan zaman. Selain itu, Eko juga menyoroti upaya pencegahan pernikahan dini yang saat ini menjadi perhatian serius. “Pencegahan pernikahan dini adalah tanggung jawab bersama, baik dari pihak keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Melalui edukasi, kita harus memastikan masa depan generasi muda lebih baik,” tegasnya.

Sebagai puncak acara, Kyai Rosidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo, menyampaikan mauidhoh hasanah yang berisi uraian mendalam tentang rukun khutbah dan keutamaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam tausiyahnya, Kyai Rosidi menjelaskan bahwa memahami dan mengamalkan rukun khutbah merupakan bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan ibadah Jumat yang lebih sempurna. Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk merenungkan kelahiran Rasulullah sebagai momentum memperkuat cinta kepada Nabi, dengan cara meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

( Ketua Ranting NU Meduri Eko Sunarno)

Suasana malam itu di Masjid Baitul Iman terasa penuh kehangatan. Kebersamaan para jamaah, mulai dari pengurus Ranting NU, Badan Otonom, hingga warga setempat, mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang kuat di Dusun Pleret. Lailatul Ijtima' bukan hanya sekadar forum ibadah dan pengajian, tetapi juga menjadi ruang berkumpul bagi warga untuk berdiskusi dan saling mendukung dalam berbagai persoalan sosial dan keagamaan.

Pesan yang disampaikan oleh Ketua Ranting NU, Eko Sunarno, tentang pentingnya struktur organisasi Ranting NU dan pencegahan pernikahan dini, mendapat perhatian serius dari jamaah. Hal ini menunjukkan betapa vital peran pengurus ranting dalam menjaga tatanan sosial dan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat. Tidak hanya mengawal dakwah, NU juga aktif berperan dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di masyarakat, seperti isu pernikahan dini yang sering kali menimbulkan dampak negatif bagi masa depan generasi muda.

(Do'a oleh Kiyai Kartin)

Doa yang dipimpin oleh Kyai Kartin menutup malam penuh berkah tersebut dengan suasana khidmat. Seluruh jamaah merasakan kedamaian dan keberkahan yang menyelimuti Lailatul Ijtima' malam itu. Harapan-harapan pun terlantun dalam doa, baik untuk kemaslahatan umat, kedamaian masyarakat, maupun keberlangsungan dakwah NU di Desa Meduri.

Setelah acara berakhir, banyak jamaah yang masih tinggal untuk berdiskusi dan berbincang ringan, mempererat tali persaudaraan antarwarga. Lailatul Ijtima' kali ini bukan hanya sekadar acara rutin, tetapi juga menjadi ajang memperkuat solidaritas, sekaligus menyadarkan akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh ajaran Aswaja.

Acara ini juga diharapkan menjadi inspirasi untuk terus menggerakkan kegiatan keagamaan yang positif, baik untuk penguatan spiritual maupun sosial. Dengan semangat Aswaja, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri terus berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga persatuan, serta mengukuhkan peran NU dalam menghadapi tantangan zaman.


Kontributor: Eko.
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo: Menggugah Spirit, Meraih Berkah

Margomulyo - Sabtu, 14 September 2024, aula MWCNU Margomulyo dipenuhi oleh cahaya iman dan harapan dalam rangkaian acara Lailatul Ijtima'. Kegiatan dimulai pada pukul 21.00 dan berlangsung hingga menjelang tengah malam, pukul 23.45, menjadikan suasana malam tersebut penuh dengan keberkahan dan doa.

Lailatul Ijtima' kali ini menonjolkan doa bersama yang mendalam, fokus pada keselamatan umat dan penguatan spiritual. Jajaran pengurus MWCNU Margomulyo, seluruh ranting, dan badan otonom NU hadir dengan penuh khidmat, menyatukan suara dan hati dalam setiap ibadah yang dilaksanakan.

Acara dimulai dengan Sholawat Bilqiyam, yang dipimpin oleh Ustadz Syaifuddin, Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Suara merdu sholawat menyebar ke segenap penjuru aula, mengisi ruangan dengan getaran spiritual yang dalam. Selanjutnya, acara diisi dengan Tahlil, yang dipimpin oleh Kiyai Paniran, Rais Syuriyah NU Ranting Ngelo. Tahlil malam itu menyentuh relung hati, menambah kekhusyukan para hadirin.

Pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani dilanjutkan oleh Kiyai Rosyidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo. Suara beliau membawakan sejarah dan keutamaan para aulia dengan khidmat, menambah kedalaman acara. Puncak dari acara adalah Mujahadah yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam mujahadah ini, Kiyai Badrun mengingatkan kita akan pentingnya memperbanyak diskusi dengan Allah SWT melalui media mujahadah, terutama di era yang penuh fitnah ini. Pesan beliau menjadi peneguh semangat, mengajak kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh sembilan Kiyai dari enam ranting NU dan MWCNU secara berurutan. Doa-doa tersebut mengalir dalam kesatuan, mengharapkan rahmat dan hidayah Allah untuk umat, serta keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo malam itu adalah sebuah perayaan spiritual yang mendalam, menghubungkan setiap hati dengan doa dan harapan, mengukuhkan komitmen bersama dalam membangun keberkahan. Semoga setiap doa yang dipanjatkan malam itu diterima dan membawa manfaat bagi kita semua.

Suasana khusyuk semakin terasa ketika gema doa bersama sembilan Kiyai mengalun lembut, membawa setiap jiwa dalam harmoni spiritual. Setiap rangkaian doa terasa menyelami hati para hadirin, seolah menggugah kembali kesadaran akan betapa pentingnya kebersamaan dalam menjaga umat dan menghadapi tantangan zaman.

Lailatul Ijtima' ini tidak hanya menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi dan penyegaran spiritual bagi seluruh peserta. Kehadiran para tokoh NU dari berbagai ranting dan badan otonom menegaskan betapa kuatnya ikatan ukhuwah di antara mereka, meski dalam situasi dunia yang semakin kompleks. Kebersamaan yang tercipta malam itu menjadi simbol persatuan, seiring dengan lantunan doa yang tiada henti.

Harapan besar disampaikan dalam setiap mujahadah, seiring dengan pesan Kiyai Badrun yang begitu mendalam. "Diskusi dengan Allah SWT melalui mujahadah adalah cara kita bertahan di tengah guncangan fitnah dunia. Dengan mujahadah, kita tak hanya meminta, tapi merasakan kehadiran-Nya di setiap langkah kita," ucap beliau dengan tegas namun lembut. Pesan ini seakan menjadi penuntun agar setiap insan senantiasa mengingat pentingnya memperbanyak munajat di tengah ujian zaman.

Saat acara mencapai penghujung, tampak wajah-wajah penuh kelegaan dan ketenangan. Doa terakhir yang dipimpin secara berurutan oleh para Kiyai menjadi penutup yang sempurna, seolah seluruh peserta Lailatul Ijtima' mendapatkan pelukan rahmat dari Sang Pencipta. Rasa syukur dan harapan pun membuncah, membawa pulang doa-doa itu ke dalam kehidupan sehari-hari, agar tetap menjadi cahaya penuntun di masa depan.

Kegiatan Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo ini menjadi pengingat, bahwa meski zaman terus berubah, tradisi doa dan mujahadah akan selalu menjadi benteng kokoh yang melindungi umat dari ancaman fitnah dan godaan dunia. Di tengah malam yang syahdu itu, kebersamaan, doa, dan harapan terajut indah, menciptakan jejak spiritual yang tak terlupakan.


Kontributor: Sholeh
Editor: Tim CyberMWCNU

"Sholat dan Akhlak: Meniti Jejak Nabi dalam Harmoni Kehidupan"

www.mwcnumargomulyo.com || Margomulyo - Kamis, 12 September 2024, dari pukul 13.00 hingga 15.00, Masjid Al-Huda di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, menjadi saksi khidmatnya Pengajian Rutin yang diikuti oleh anggota Majelis Taklim (MT) Al-Huda, Muslimat NU, dan warga setempat. Suasana penuh syukur dan kebersamaan membalut acara yang dimulai dengan lantunan tahlil yang khusyuk, menggetarkan hati setiap yang hadir. Setelah itu, sholawat bilqiyam menggema, membawa semangat cinta pada Rasulullah SAW, menghubungkan jamaah dengan keagungan Sang Nabi.

Acara mencapai puncaknya dengan tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyah yang mendalam dan sarat makna, beliau mengingatkan betapa pentingnya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kita pada Baginda Rasul. Tak hanya itu, Kiyai Badrun juga menekankan pentingnya memahami makna sholat, yang bukan sekadar ritual, tetapi sebuah pondasi yang harus tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari. "Sholat bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhannya," kata beliau, "tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya, membentuk masyarakat yang rukun dan harmonis."

Pengajian ini bukan hanya menjadi ajang penguatan spiritual, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi yang mempererat persaudaraan antarwarga. Semangat cinta Rasul dan pengamalan nilai-nilai sholat terlihat nyata di antara jamaah yang hadir, menyiratkan harapan akan terciptanya kehidupan yang lebih baik dan damai di Dusun Jepang.

Dalam tausiyahnya, Bapak Kiyai Badrun Sulaiman dengan bijak menguraikan keterkaitan antara makna sholat dan penyempurnaan akhlak, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa sholat bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam. "Sholat adalah sarana untuk menyempurnakan akhlak manusia," ujarnya. Melalui sholat, seorang muslim diajarkan untuk senantiasa menjaga kesucian hati, ketundukan, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW, sosok yang menjadi teladan sempurna bagi umat, menunjukkan bagaimana sholat bukan hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mengajarkan kasih sayang, kejujuran, dan keadilan dalam berinteraksi dengan sesama. Kiyai Badrun menekankan bahwa akhlak mulia yang terwujud dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah buah dari penghayatan mendalam terhadap makna sholat. "Ketika seseorang benar-benar memahami dan mengamalkan sholat, ia akan menumbuhkan sifat-sifat baik seperti sabar, rendah hati, dan pemaaf," jelasnya.

Beliau juga mengutip salah satu hadits Rasulullah, "Innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq," yang artinya, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." Pesan ini menegaskan bahwa sholat sejatinya harus mempengaruhi perilaku kita, memperbaiki hubungan sosial, dan membangun karakter yang baik dalam bermasyarakat. Dalam penutup tausiyahnya, Kiyai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk terus memperbaiki diri melalui sholat, sebagai bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kajian Rutin Kamis Kliwon: Mengupas “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia” di Aula MWCNU Margomulyo


www.mwcnumargomulyo.com|| Margomulyo, 5 September 2024 – Di bawah langit Kamis Kliwon yang teduh, Aula MWCNU Margomulyo kembali menjadi saksi perjalanan spiritual dalam bingkai kajian yang dihelat rutin oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Margomulyo. Kegiatan ini, seperti biasanya, dihadiri oleh segenap pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo dan para pengurus ranting yang tersebar di seluruh ancab Margomulyo. Mereka datang dengan penuh semangat, menyatukan hati dan niat untuk memperdalam pemahaman tentang makna keberadaban ruh manusia setelah berakhirnya kehidupan di dunia.

Pemateri yang dinanti-nantikan, Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, dengan penuh kharisma menyampaikan tausiyah bertema “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia.” Dalam ceramahnya, beliau dengan arif mengajak para jamaah untuk merenungi fase transisi ruh menuju alam yang lebih abadi, menekankan bahwa kehidupan ini hanyalah sementara dan yang sejati adalah kebersihan hati dan keikhlasan dalam beramal.

Dalam tausiyah yang disampaikan, Kiyai Badrun menjelaskan betapa pentingnya mempersiapkan bekal amal sholeh yang akan menjadi teman setia dalam perjalanan ruh menuju alam barzakh. Beliau juga menyentuh hati para hadirin dengan pesan mendalam tentang perlunya memperkuat keimanan, menjaga kebersihan jiwa, serta menumbuhkan rasa ikhlas dalam setiap langkah kehidupan.

Kegiatan kajian rutin ini merupakan agenda tetap setiap Kamis Kliwon, menjadi wahana bagi seluruh Muslimat NU di Margomulyo untuk saling berbagi ilmu dan hikmah. Inisiasi dari para pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo ini telah menjadi obor penerang dalam kegelapan hati, mengajak jamaah untuk senantiasa memperbaiki diri dan mengingat akhirat sebagai tujuan akhir.

Suasana khidmat menyelimuti pertemuan tersebut, ditutup dengan doa yang menggetarkan jiwa, memohon ridho Allah agar senantiasa memberikan hidayah dan kekuatan iman bagi setiap insan yang hadir. Tepat pada saat senja mulai merayap, kajian ini menuntun langkah-langkah para jamaah kembali ke rumah dengan hati yang lebih tenang, membawa bekal rohani yang akan terus menjadi pemandu dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menguraikan tema besar tentang “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia,” Kiyai Badrun melanjutkan tausiyahnya dengan pembahasan mendalam mengenai pentingnya memperbanyak ibadah, terutama di bulan Maulid. Bulan yang penuh keberkahan ini menjadi momen istimewa, tidak hanya sebagai peringatan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah sebagai bekal kehidupan pasca kematian dunia.

Beliau mengingatkan bahwa bulan Maulid adalah saat yang penuh rahmat dan kasih sayang Ilahi, di mana setiap amal ibadah yang dilakukan, baik itu shalat, sedekah, maupun sholawat kepada Nabi, akan berlipat ganda pahalanya. “Bulan ini adalah momentum emas bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan keberkahan,” tutur Kiyai Badrun, dengan suara penuh ketenangan yang seolah menggetarkan hati para jamaah.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa tidak ada bekal yang lebih baik untuk menghadapi kehidupan setelah kematian selain memperbanyak amal kebajikan. Di bulan Maulid, umat Islam diajak untuk lebih sering mengingat kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW dan meneladani sifat-sifat beliau dalam setiap aspek kehidupan. “Dengan memperbanyak ibadah di bulan Maulid, kita tidak hanya menanam kebaikan di dunia, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi yang sesungguhnya,” ujar beliau dengan lembut.

Kiyai Badrun juga menambahkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kehidupan yang lebih hakiki. Oleh karena itu, memperbanyak ibadah di bulan Maulid menjadi wujud cinta kepada Rasulullah SAW dan bukti ketaatan kepada Allah SWT, yang kelak akan menjadi penolong di saat kita memasuki alam barzakh dan dihisab di hari akhir.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun menyisipkan nasihat bijak agar setiap muslim memanfaatkan momen bulan Maulid untuk memperbaiki diri, membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, dan sombong, serta memperbanyak sholawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. "Sholawat adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Rasulullah, dan dengan banyak bersholawat, insya Allah, kita akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat," imbuhnya, seraya mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperkuat hubungan mereka dengan Sang Pencipta melalui ibadah yang tulus dan ikhlas.

Kegiatan kajian tersebut kemudian ditutup dengan lantunan sholawat bersama, yang mengalun syahdu di Aula MWCNU Margomulyo, menciptakan suasana yang penuh berkah dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, serta harapan untuk hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat.

 

 

"Menguatkan Ukhuwah di Bawah Naungan Ulama: Harmoni Naharul Ijtima' di Ranting NU Margomulyo"



Margomulyo - Ahad, 1 September 2024, warga Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Margomulyo kembali mengadakan kegiatan Naharul Ijtima' yang rutin dilaksanakan setiap Ahad Legi. Acara yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 15.30 ini digelar di Masjid Besar Al-Ihlas, Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi warga NU setempat, bersama dengan seluruh Badan Otonom (Banom) seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, serta jamaah Masjid Besar Al-Ihlas, untuk bersilaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui pembacaan Shalawat Bilqiyam yang dipimpin oleh Saudara Santoso, diikuti dengan lantunan Tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Atin. Suasana masjid yang dipenuhi oleh jamaah semakin menambah kekhusyukan ibadah ini.

Selanjutnya, Ketua Ranting NU Margomulyo, Bapak Wadarrokhim, menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi yang tinggi atas peran aktif seluruh warga NU dan Banom dalam menyukseskan acara ini. Beliau menekankan pentingnya kebersamaan dan gotong-royong dalam menjaga dan memajukan kegiatan keagamaan di Margomulyo.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Diyono, Koordinator Bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS) MWCNU Margomulyo. Beliau membahas berbagai isu terkait kehumasan, dengan fokus khusus pada masalah-masalah yang tengah dihadapi masyarakat, termasuk problematika terkait JUDI dan MINUMAN KERAS (JUDOL). Penekanan pada dampak sosial dan moral dari perilaku negatif ini menjadi sorotan dalam penyampaiannya.

Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, menjadi pemateri penutup dalam kegiatan kali ini. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan progres capaian yang telah diraih oleh MWCNU Margomulyo, sekaligus memberikan nasihat yang mendalam mengenai bahaya menjauh dari ulama dan ahli fiqih. "Menjauh dari ulama dan ahli fiqih dapat berdampak negatif, di antaranya: hilangnya keberkahan, diangkatnya penguasa zalim, dan meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman," tegas Kiyai Badrun, yang disambut dengan perhatian serius oleh seluruh jamaah yang hadir.

Kegiatan Naharul Ijtima' ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan rutin, tetapi juga sarana untuk memperkuat iman dan menambah wawasan keagamaan bagi seluruh warga NU Margomulyo. Dengan berakhirnya acara pada pukul 15.30, para jamaah pulang dengan hati yang penuh semangat dan kebersamaan, siap untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan bimbingan agama yang lebih kokoh.

Penutupan acara Naharul Ijtima' kali ini ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiyai Atin. Suasana hening dan penuh kekhusyukan menyelimuti seluruh jamaah saat doa dipanjatkan, memohon keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT. Setelah doa, para jamaah saling bersalaman, mempererat tali silaturahmi yang selama ini menjadi fondasi kuat dalam komunitas NU Margomulyo.

Di luar masjid, suasana hangat dan penuh persaudaraan terlihat jelas. Para anggota Banser dan Ansor tampak bersiaga, memastikan kelancaran dan keamanan kegiatan hingga akhir. Sementara itu, para ibu dari Muslimat dan Fatayat saling berbagi cerita dan pengalaman, mempererat hubungan antarbanom yang sudah terjalin erat.

Acara ini tidak hanya menjadi rutinitas semata, tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Margomulyo. Setiap kali Naharul Ijtima' digelar, bukan hanya ilmu yang didapat, tetapi juga kebersamaan yang semakin menguatkan ikatan sosial di antara warga. Ini menjadi bukti bahwa semangat ke-NU-an di Margomulyo terus tumbuh dan berkembang, didukung oleh kekompakan dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat.

Dengan selesainya kegiatan ini, harapan besar muncul di hati setiap peserta bahwa NU Margomulyo akan terus bergerak maju, menjadi motor penggerak dalam memperkuat akidah dan syiar Islam di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan Naharul Ijtima' yang rutin dilaksanakan ini, di bawah inisiatif Ranting NU Margomulyo, telah membuktikan bahwa kekuatan ukhuwah dan kebersamaan mampu menjadi pondasi yang kokoh bagi kemajuan bersama.

Seiring dengan itu, warga NU Margomulyo siap menyongsong tantangan di masa depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan ke-NU-an, serta terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik, sejahtera, dan berakhlak mulia.

Menebar Welas Asih di Aula Kantor MWCNU Margomulyo


Margomulyo - Ahad, 1 September 2024, Aula Kantor MWCNU Margomulyo menjadi saksi pentingnya sebuah kegiatan yang diadakan dari pukul 15.30 hingga 17.30 WIB. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap akhir bulan dan diinisiasi oleh PAC IPNU/IPPNU Margomulyo. 

Acara yang dihadiri oleh seluruh warga PAC IPNU/IPPNU ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap berbagai isu penting dalam masyarakat. Sebagai pemateri utama, Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, memberikan pencerahan mendalam kepada peserta. 

Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya menebar welas asih kepada seluruh makhluk Allah yang ada di muka bumi. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk memperdalam rasa empati dan kepedulian, sebagai wujud nyata dari ajaran Islam yang mengutamakan kasih sayang dan kepedulian sosial.

Acara ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang bagaimana cara mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mempererat tali silaturahmi di antara anggota PAC IPNU/IPPNU. Dengan semangat yang tinggi, peserta pulang dengan penuh inspirasi dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih peduli dan menyebarkan kebaikan di lingkungan masing-masing.

Kiyai Badrun membuka sesi dengan menjelaskan makna mendalam dari welas asih dalam konteks ajaran Islam. Beliau menekankan bahwa welas asih bukan hanya sebatas perasaan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. "Welas asih adalah cerminan iman kita. Ketika kita mampu merasakan penderitaan orang lain dan berusaha meringankannya, kita sedang menjalankan perintah Allah untuk menjadi hamba yang penuh kasih sayang," ujar Kiyai Badrun dengan penuh keyakinan.

Beliau kemudian membahas berbagai cara untuk menebar welas asih di berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan antarindividu hingga tanggung jawab sosial terhadap lingkungan. Menurut Kiyai Badrun, tindakan sederhana seperti memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, mendengarkan dengan empati, serta menjaga keharmonisan dalam bergaul adalah contoh konkret dari welas asih.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kemudahan dan kekuatan kepada setiap individu untuk dapat menebar welas asih dan melaksanakan ajaran-Nya dengan sebaik-baiknya. 

Kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen PAC IPNU/IPPNU Margomulyo dalam membangun masyarakat yang lebih peduli dan penuh kasih sayang. Dengan dukungan dan bimbingan dari Kiyai Badrun, diharapkan setiap peserta dapat membawa pesan welas asih ini ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, menciptakan perubahan positif bagi lingkungan sekitar.