Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

PAC Muslimat NU Margomulyo Menggelar Pengajian: Memperkukuh Spiritual Anggotanya Melalui Kitab Arruh



Margomulyo, 30 Nopember 2023 - Suasana kantor MWCNU Margomulyo semakin syahdu pada hari Kamis ini, ketika PAC Muslimat NU Margomulyo menggelar kegiatan pengajian bertajuk "Memperkukuh Spiritual Melalui Kitab Arruh". Kegiatan yang dihadiri oleh anggota dari enam ranting Muslimat NU SeANCAB Margomulyo ini bertujuan meningkatkan spiritual Sumber Daya Manusia (SDM) para anggotanya.

NAHARUL IJTIMA' NU KALANGAN: Membangun Kebersamaan dan Semangat Dakwah Islam di Setiap Kegiatan Bulanan.


Kalangan, 26 Nopember 2023 - Pada hari Ahad, tanggal 26 November 2023, sebuah kegiatan yang dinantikan oleh warga NU di desa Kalangan, yaitu Naharul Ijtima' NU Kalangan, dilaksanakan dengan penuh semangat. Kegiatan ini merupakan ajang koordinasi dan konsolidasi dakwah Islam yang rutin dilaksanakan setiap bulan pada tanggal 26. Acara ini menjadi momen yang sangat dinanti oleh seluruh warga NU Kalangan.

Naharul Ijtima' NU Kalangan menjadi sarana penting bagi warga NU untuk berkumpul, berkoordinasi, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan dakwah Islam di desa tersebut. Para peserta yang hadir terdiri dari warga NU Kalangan dan seluruh Badan OTONOM NU Kalangan yang terdiri dari berbagai bidang dan latar belakang.

Yang menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah kehadiran Kiyai Badrun, selaku Ketua MWCNU Margomulyo. Kehadiran beliau memberikan semangat dan arahan yang berharga bagi seluruh peserta Naharul Ijtima' NU Kalangan. Sebagai tokoh yang dihormati dan diakui dalam lingkungan NU, Kiyai Badrun memberikan nasihat dan bimbingan yang menginspirasi dalam menjalankan dakwah Islami di desa Kalangan.

Naharul Ijtima' NU Kalangan merupakan kegiatan yang berawal sejak tahun 2018, dan setiap tahunnya kehadirannya semakin kuat dan berkembang. Kegiatan ini menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi antara warga NU Kalangan, memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan program-program dakwah, serta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam memperkuat keimanan dan keislaman.

Dalam Naharul Ijtima' NU Kalangan, berbagai kegiatan digelar, seperti tausyiah, diskusi keagamaan, pengajian, serta kegiatan sosial lainnya. Seluruh kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kecintaan terhadap ajaran Islam serta mendorong partisipasi aktif warga NU dalam menjalankan dakwah.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi warga NU Kalangan untuk berkolaborasi dalam membangun desa yang Islami dan sejahtera. Mereka saling mendukung dalam mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi, serta berperan aktif dalam menjaga keharmonisan dan keutuhan umat.

Dalam sambutannya, Kiyai Badrun menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas semangat dan dedikasi warga NU Kalangan dalam menjalankan Naharul Ijtima' setiap bulan. Beliau juga mengimbau agar kegiatan ini terus dijaga dan ditingkatkan, serta dijadikan sebagai ajang yang lebih luas untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan umat Islam di desa Kalangan.

Naharul Ijtima' NU Kalangan telah menjadi ikon kebersamaan dan semangat dakwah di desa tersebut. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan warga NU Kalangan semakin terinspirasi dan termotivasi untuk terus berkontribusi dalam pengembangan agama dan kesejahteraan bersama.


#MasterCybermwcnu

Pelantikan Pimpinan Ranting Fatayat NU SeANCAB Margomulyo Membawa Semangat Baru bagi Organisasi


Margomulyo, 26 Nopember 2023 - Pada hari Ahad, 26 November 2023, kantor MWCNU Margomulyo dipenuhi dengan semangat dan kegembiraan saat Pelantikan Pimpinan Ranting Fatayat NU SeANCAB Margomulyo digelar. Acara yang dihadiri oleh berbagai tokoh dan pemimpin organisasi di wilayah tersebut menjadi momen penting bagi perkembangan Fatayat NU di Margomulyo.

NAHARUL IJTIMA' NU RANTING NGELO: Mempererat Ukhuwah Islamiyah dalam Kegiatan Bulanan yang Penuh Berkah

Ngelo, 25 Nopember 2023 - Suasana kehangatan dan kebersamaan terasa begitu kuat saat Naharul Ijtima' NU Ranting Ngelo digelar di Musholla Baitul Makmur, Dusun Tolu, Desa Ngelo pada hari Sabtu, 25 November 2023. Kegiatan ini merupakan agenda bulanan yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu terakhir setiap bulannya. Naharul Ijtima' NU Ranting Ngelo menjadi momen yang dinantikan oleh warga NU di desa tersebut.

Sidang Tim Formatur Draf Pengurus MWCNU Margomulyo: Draf Siap Diajukan ke PCNU Bojonegoro

Margomulyo, 23 November 2023 - Sidang Tim Formatur Draf Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Margomulyo berlangsung pada hari Kamis, 23 November 2023, di Kantor MWCNU Margomulyo. Sidang yang dipimpin oleh Kiyai Badrun ini dihadiri oleh anggota tim lengkap yang bertugas merumuskan dan menyusun draf pengurus MWCNU Margomulyo untuk periode 2023-2028.

Sidang dimulai dengan sambutan dari Kiyai Badrun, yang mengapresiasi kerja keras dan dedikasi tim dalam merumuskan draf pengurus. Beliau menyampaikan pentingnya draf ini sebagai panduan dalam menjalankan organisasi NU di tingkat Majelis Wakil Cabang. Kiyai Badrun juga menekankan perlunya mengutamakan kepentingan umat dan masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil.

Selama sidang, anggota tim formatur secara cermat dan teliti membahas setiap aspek dalam draf pengurus MWCNU Margomulyo. Mereka mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kualifikasi, kompetensi, dan representasi dari calon pengurus yang diusulkan. Diskusi yang intens dan konstruktif berlangsung, dengan tujuan mencapai kesepakatan yang adil dan menyeluruh.

Setelah melalui proses perumusan yang teliti, draf pengurus MWCNU Margomulyo akhirnya selesai. Draf ini mencakup struktur kepengurusan serta tugas dan tanggung jawab masing-masing posisi pengurus. Tim formatur merasa yakin bahwa draf yang telah disusun akan mampu memenuhi kebutuhan organisasi dan mewujudkan visi dan misi NU di wilayah Margomulyo.

Draf pengurus MWCNU Margomulyo yang telah fix dan siap diajukan ke Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Bojonegoro ini menandai tahap penting dalam proses pembentukan pengurus baru MWCNU Margomulyo. Setelah mendapatkan persetujuan dari PCNU Bojonegoro, pengurus MWCNU Margomulyo yang baru akan segera dilantik dan memulai tugasnya untuk periode mendatang.

Kiyai Badrun dalam penutup sidang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada anggota tim formatur atas kerja keras dan dedikasi mereka. Beliau juga menegaskan pentingnya sinergi dan kerjasama antar pengurus dalam menjalankan amanah ini. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan MWCNU Margomulyo dapat terus berkontribusi positif dalam memajukan agama dan masyarakat di wilayah Margomulyo.

Sidang Tim Formatur Draf Pengurus MWCNU Margomulyo berjalan lancar dan sukses. Dengan draf yang telah fix dan siap diajukan ke PCNU Bojonegoro, langkah selanjutnya adalah menunggu persetujuan resmi dari PCNU dan pelantikan pengurus baru.


(MasterCyber)

PAC Muslimat NU Berdayakan Anggotanya dengan Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong

Margomulyo, 23 November 2023- Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong yang diselenggarakan pada Kamis, 23 November 2023, di Kantor MWCNU Margomulyo, menjadi ajang kolaborasi antara Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Margomulyo dan Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Margomulyo. Kegiatan ini diinisiasi oleh Bu Nyai Maslahah S.Pd.I, Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, dengan dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro.

Diklat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada peserta dalam memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan pertanian dan pangan. Peserta diklat terdiri dari 30 orang yang berasal dari ranting Muslimat se-Kecamatan Margomulyo, serta jajaran pengurus PAC Muslimat.

Acara dimulai dengan sambutan dari Bu Nyai Maslahah S.Pd.I, yang menyampaikan pentingnya pemanfaatan lahan kosong dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah Margomulyo. Beliau juga mengapresiasi kerja sama antara MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro dalam menyelenggarakan diklat ini.

Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro, sebagai pemateri dalam diklat, memberikan pengetahuan dan strategi praktis dalam mengelola lahan kosong untuk kegiatan pertanian. Mereka membagikan informasi tentang teknik bercocok tanam, pemilihan varietas tanaman yang cocok, serta penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan.

Selama diklat, peserta aktif terlibat dalam sesi diskusi dan praktik langsung di lapangan. Mereka belajar bagaimana mempersiapkan lahan, menanam benih, merawat tanaman, dan mengatasi masalah yang mungkin muncul selama proses pertanian. Para peserta juga diberikan pemahaman tentang pentingnya keberlanjutan dan kelestarian lingkungan dalam praktik pertanian.

Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah Margomulyo. Melalui kolaborasi antara MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro, diharapkan masyarakat dapat mengoptimalkan potensi lahan kosong untuk meningkatkan produksi pangan lokal.

Bu Nyai Maslahah S.Pd.I dalam penutup diklat mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Beliau berharap peserta dapat menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan untuk membangun kemandirian pangan di komunitas mereka masing-masing.

Diklat Pemanfaatan Lahan Kosong berjalan sukses dan memberikan manfaat yang signifikan bagi peserta. Kolaborasi antara MWCNU Margomulyo, PAC Muslimat NU Margomulyo, dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bojonegoro diharapkan dapat terus berlanjut dalam upaya membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan di wilayah Margomulyo.

(MasterCyber)

Konferensi MWCNU Margomulyo: Kiyai Rosyidi Terpilih Sebagai Rois Syuriah dan Kiyai Badrun Sebagai Ketua Tanfidziyah


Margomulyo, 19 November 2023 - Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Margomulyo yang berlangsung pada hari Ahad, 19 November 2023, dihadiri oleh unsur pimpinan cabang NU Bojonegoro dan pimpinan ranting NU se-Kecamatan Margomulyo. Konferensi ini bertujuan untuk memilih Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah yang akan memimpin MWCNU Margomulyo untuk periode berikutnya.

Konferensi yang berlangsung di Kantor MWCNU Margomulyo ini dihadiri oleh para tokoh agama dan pemimpin NU dari berbagai tingkatan. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua MWCNU Margomulyo, yang menyampaikan pentingnya konferensi ini dalam menjaga dan memperkuat kelembagaan NU di tingkat cabang.


(Proses Pemilihan Tanfidhiyah)

Setelah proses pemilihan yang berlangsung dengan penuh khidmat, Kiyai Rosyidi terpilih sebagai Rois Syuriah MWCNU Margomulyo. Kiyai Rosyidi, yang memiliki pengalaman luas dalam kegiatan keagamaan dan kepemimpinan, disambut dengan antusias oleh peserta konferensi. Beliau berjanji akan mengemban tugasnya dengan penuh dedikasi untuk memajukan agama dan masyarakat di wilayah Margomulyo.

Sementara itu, Kiyai Badrun terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Margomulyo. Dikenal sebagai seorang tokoh yang berpengaruh dan memiliki keahlian dalam mengorganisir kegiatan keagamaan, Kiyai Badrun menerima dukungan yang kuat dari peserta konferensi. Beliau berkomitmen untuk memperkuat struktur organisasi NU di tingkat Majelis Wakil Cabang dan meningkatkan peran NU dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di Margomulyo.

Dalam pidatonya, Kiyai Rosyidi dan Kiyai Badrun menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh peserta konferensi. Mereka berjanji akan bekerja keras untuk mewujudkan visi dan misi NU dalam memajukan Islam dan masyarakat di wilayah Margomulyo.



Konferensi MWCNU Margomulyo ini berjalan lancar dan diakhiri dengan doa bersama untuk kesuksesan kepemimpinan baru. Diharapkan, dengan terpilihnya Kiyai Rosyidi sebagai Rois Syuriah dan Kiyai Badrun sebagai Ketua Tanfidziyah, MWCNU Margomulyo dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi umat dan masyarakat setempat.

(MasterCyber)

NGAJI RUTIN BAKDIYATAL JUM’AT MUSLIMAT NU RANTING NGELO (Wasiyatul Mustofa)

NGAJI RUTIN BAKDIYATAL JUM’AT MUSLIMAT NU RANTING NGELO

25 Maret 2022.

Kitab Wasiyatul Musthofa (Hikmah Sholat Jama’ah dan Sholat Dhuha)

 

Wahai Sahabat Ali, hendaklah kamu senantiasa melaksanakan sholat jamaah, karena sesungguhnya sholat jamah di sisi Allah seperti berjalan pada ibadah haji dan umrah. 

Tiada seseorang yang loba (sangat ingin) untuk melaksanakan sholat jamaah kecuali seorang mukmin yang dicintai Allah dan tiada seorang yang benci sholat jamaah kecuali orang munafiq yang benar-benar dimurkai Allah.

 

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فَاِنَّهَا عِنْدَ اللّٰهِ كَمَشِيْكَ اِلَى الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَمَا يَحْرُصُ عَلَى صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ اِلَّا رَجُلٌ مُؤْمِنٌ قَدْ اَحَبَّهُ اللّٰهُ وَمَا يَزْهَدُ فِيْهَا اِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ اَبْغَضَهُ اللّٰهُ

Wahai Sahabat Ali, hamba-hamba yang paling dicintai Allah adalah seorang hamba yang bersujud sembari berdoa di dalam sujudnya.

 

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah mendholimi diriku, maka ampunilah dosaku, karena tidak yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau".

 

يَا عَلِيُّ اَحَبُّ الْعِبَادِ اِلَى اللّٰهِ عَبْدٌ سَاجِدٌ يَقُوْلُ فِيْ سُجُوْدِهِ : رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ

Wahai Sahabat Ali, hendaklah kamu senantiasa melaksanakan sholat Dhuha baik di dalam perjalanan maupun di dalam hadir (tidak dalam perjalanan).

 

Karena sesungguhnya tatkala hari kiamat telah tiba, maka menyerulah Dzat yang Maha Menyeru dari atas surga yang mulia, "Di manakah orang-orang yang melaksanakan sholat dhuha ?

 

Masuklah kalian dari puntu Dhuha dengan sejahtera dan aman". Dan tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali Dia memerintahkannya untuk melaksanakan sholat Dhuha.

 

 

يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الضُّحٰى فِى السَّفَرِ وَالْحَضَرِ فَاِنَّهُ اِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِى مُنَادٍ مِنْ فَوْقِ شَرَفِ الْجَنَّةِ : اَيْنَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُصَلُّوْنَ الضُّحٰى ؟ اُدْخُلُوْا مِنْ بَابِ الضُّحٰى بِسَلَامٍ اٰمِنِيْنَ، وَمَا بَعَثَ اللّٰهُ مِنْ نَبِيٍّ اِلَّا وَاَمَرَهُ بِصَلَاةِ الضُّحٰى

 

Note*

Begitu luarbiasanya Fadhilah Sholat Jama’ah dan sholat Dhuha, sampai-sampai Alloh memposisikan orang yang melaksanakannya sepadan dengan orang yang melaksanakan ibadah haji dan umroh, yakni suatu ibadah penyempurna dalam rukun islam.

 

Yang dalam pelaksanaanya butuh syarat yang berbeda dan luar biasa, selain waktu, tenaga dan biaya yang tidak murah, saat ini ibadah haji dan umroh butuh kesabaran dalam menanti kedatangannya.

 

Bukan hanya satu dua tahun untuk bisa melakukan namun bisa sepuluh, duapuluh hingga tiga puluhan tahun lebih untuk bisa melaksanakannya, itupun belum ada jaminan ibadah haji kita mendapatkan pahala ibadah haji.

 

Namun dalam hal ini (Sholat jamaah dan sholat Dhuha) Alloh memberi suatu peroritas bagi yang mampu dan mau melaksanakannya.

 

Dalam Hadis yang lain Rosululloh menyampaikan

 

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فِي الجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَ مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ

Siapa yang berjalan menuju salat wajib berjemaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju salat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.(HR. Ath-Thabrani)

 

Dalam Riwayat Imam Buhori Rosululloh juga menjelaskan:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلَاةٌ عَلَى أَثَرِ صَلَاةٍ لَا لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِي عِلِّيِّينَ

 

Artinya: "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan sholat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang haji yang sedang ihram, dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan sholat Dluha, dia tidak mempunyai niat kecuali itu, maka pahalanya seperti orang yang sedang umroh.

 

Dan menunggu sholat hingga datang waktu shalat yang lain yang tidak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di 'Iliyyin (kitab yang mencatat segala perbuatan orang-orang yang berbakti." (HR Bukhari).

 

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ , تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ  (رواه الترمذي)

 

Artinya: "Barang siapa yang sholat Shubuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian duduk dua rakaat, maka baginya pahala bagaikan pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna dan sempurna." (HR Tirmidzi)

 

Dalam kesempatan ini kita hanya bisa berharap dan terus banyak berdo’a semoga kita di beri kekuatan oleh Alloh, agar bisa menjalankan Sholat jamaah dan sholat Dhuha dengan istiqomah, Amiin.

Wallohu A’lamu Bishowab

 

 

 

 

Pemateri:

De badruns

Katib Syuriyah MWCNU Margomulyo

 

Washiyatul Musthofa - Penjelasan Tentang Takbir dan Sholat pada waktunya

Washiyatul Musthofa - Penjelasan Tentang Takbir dan Sholat pada waktunya

(Ngaji rutin bakdiyatal jum’at, Muslimat NU Jipangulu Ranting Ngelo)

Wahai Sahabat Ali, tatkala kamu takbir karena melaksanakan sholat, maka rentangkanlah jari-jarimu dan angkatlah kedua tanganmu lurus tepat di kedua pundakmu.

 

Tatkala kamu takbir, maka letakkanlah tangan kananmu di atas tangan kirimu di bawah pusar.

 

Dan tatkala kamu rukuk, maka letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu dan rentangkanlah di antara jari-jarimu.

 

يَا عَلِيُّ اِذَا كَبَّرْتَ لِلصَّلَاةِ فَفَرِّجْ اَصَابِعَكَ وَارْفَعْ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ وَاِذَا كَبَّرْتَ فَضَعْ يَمِيْنَكَ عَلَى شِمَالِكَ تَحْتَ سُرَّتِكَ وَاِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ يَدَيْكَ عَلَى رُكْبَتِكَ وَفَرِّجْ بَيْنَ اَصَابِعِكَ

*Note.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memulai shalat, beliau mengangkat kedua tangannya dengan dibentangkan.” (HR. Abu Daud). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu juga menceritakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ

Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setinggi pundak, ketika memulai shalat.(HR. Bukhari dan Muslim). Malik bin al-Huwairits radhiyallahu anhu berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا كَبَّرَ، وَإِذَا رَكَعَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ حَتَّى بَلَغَتَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ

Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya ketika takbiratul ihram, ketika rukuk, ketika itidal, hingga setinggi daun telinga.(HR. Nasai).

 

Cara Mengangkat Tangan Ketika Takbir

Terdapat beberapa cara, di antarnya:

Pertama, mengangkat tangan sampai pundak lalu membaca takbir. Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar RA:

 

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا قام إلى الصلاة؛ رفع يديه حتى تكونا حذو منكبيه، ثم كبَّر

 

Artiya: Apabila Rasulullah SAW memulai salat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga setinggi pundak, kemudian beliau bertakbir.(HR Muslim)

Kedua, mengangkat tangan lalu sedekap bersamaan dengan takbir. Dari Ibnu Umar RA:

 

رأيت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افتتح التكبير في الصلاة، فرفع يديه حين يكبر

Artinya: Saya melihat Nabi SAW memulai takbiratul ihram ketika salat, beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir.(HR Bukhari)

 

Membaca takbir, lalu mengangkat tangan. Dari Malik bin al-Huwairits,

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبر؛ رفع يديه

Artinya: Rasulullah SAW sallam ketika usai takbir, beliau mengangkat tangan.(HR Muslim 391)

 

Perhatikan Posisi Tubuh

Takbiratul harus dilakukan dalam keadaan posisi tubuh tegak sempurna, dan tidak boleh sambil condong seperti akan ruku. Ini karena syarat sah takbiratul ihram dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu.

 

Takbiratul Ihram dan Niat Salat

Al-Kasani mengatakan:

إن تقديم النية على التحريمة جائز عندنا إذا لم يوجد بينهما عمل يقطع أحدهما عن الآخر

 

Artinya: Boleh mendahulukan niat dari pada takbiratul ihram menurut madzhab kami (hanafi), jika tidak ada kegiatan apapun yang menyelai antara niat dan takbiratul ihram.(Badai as-Shanai, 1/329)

 

Wahai Sahabat Ali, sholatlah subuh di waktu terbitnya fajar dan sholatlah maghrib setelah terbenamnya matahari kira-kira selama memerah susu kambing.

 

karena demikian itu merupakan perbuatan para nabi, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada mereka.

 

يَا عَلِيُّ اَسْفِرْ بِالصُّبْحِ وَصَلِّ الْمَغْرِبَ بَعْدَ غِيَابِ الشَّمْسِ بِقَدْرِ حَلَبِ شَاةٍ فَاِنَّ ذَلِكَ مِنْ خِصَالِ الْاَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ

*Note.

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan bagi orang beriman.(QS. An Nisaa: 103)

Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya berkata, dari Al Auzai, dari Musa bin Sulaiman, dari Al Qosim bin Mukhoymiroh mengenai firman Allah Taala,

 

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ

 Dan datanglah orang-orang setelah mereka yang menyia-nyiakan shalat.(QS. Maryam: 59), Al Qosim berkata bahwa yang dimaksud ayat ini, Mereka yang menyia-nyiakan waktu shalat.

Abu Yala dan Al Baihaqi masing-masing dalam musnadnya (berkata), dari Ashim, dari Mushab bin Saad, ia berkata, Aku pernah bertanya pada ayahku bagaimana pendapat beliau mengenai ayat alladzinaa hum an sholatihim saahuun.

Siapa di antara kita yang tidak lalai dalam shalatnya? Siapa yang dalam hatinya tidak berpikir perkara di luar shalat?

Ayahnya Saad menjawab, Bukan seperti itu maksud ayat tersebut. Maksud ayat itu adalah lalai dengan menyia-nyiakan waktu shalat.

Dan ada hadits pula yang menyatakan bahwa shalat di awal waktu itulah yang paling afdhol,

عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا »

 

Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud ).

Karena suatu hal, entah sibuk dengan pekerjaan atau niat menunda, banyak di antara kita yang sering abai terhadap salat di awal waktu. Padahal salat di awal waktu memiliki keutamaan lebih dari pada salat di waktu-waktu lainnya.

Dalam satu riwayat dari Ibnu Mas’ud ra dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Amalan yang paling afdhal (utama) adalah mendirikan salat (lima waktu) di awal waktu.” (HR. Imam Tirmidzi).

Hadis di atas menunjukkan bahwa salat di awal waktu adalah yang paling utama sehingga bagi yang salat selain di awal waktu tidak otomatis menjadi orang tercela. Namun, alangkah baiknya kita membiasakan diri untuk salat di awal waktu karena fadilahnya tidak bisa disepelekan.

Besarnya pahala tidak bisa dibandingkan dengan apa pun

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi.

Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan salat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala salat isya dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).

Mendapat jaminan surga

Dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu salat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barang siapa yang menjaga waktu-waktunya pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barang siapa yang tidak menjaganya maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan.” (HR. Abu Daud).

Menjadi hamba yang paling dicintai Allah

Dalam sebuah hadis dikatakan, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah salat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dosa-dosanya akan diampuni

“Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan salat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya.” (HR. Ahmad).

Mendapat sembilan kemuliaan

Dari Sahabat Usman bin Affan ia berkata, “Barang siapa selalu mengerjakan salat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemuliaan, yaitu:

Dicintai Allah, badannya selalu sehat, keberadaannya selalu dijaga malaikat, rumahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang saleh, hatinya dilunakkan oleh Allah, dipermudah saat akan menyeberang shirath (jembatan di atas neraka) seperti kilat, dia akan diselamatkan Allah dari api neraka, dan Allah Akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati.”

Wallahu a'lam bis showab.

 

 

Pemateri: De Badrun

Katib Syuriyah MWCNU. Margomulyo