Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

"Jejak Khidmah di Penghujung Senja: Sebuah Perjalanan Cinta dalam Pengabdian"

Pagi itu, Rabu, 21 Agustus 2024, matahari masih malu-malu menyapa ketika saya melangkah keluar rumah, tepat pukul delapan. Udara segar pagi menemani perjalanan saya menuju Kantor MWCNU. Hari ini, ada panggilan khidmah yang harus saya penuhi—memantau perkembangan pembangunan gedung MWCNU yang telah lama kami idam-idamkan. Saya memilih jalur hutan Watu Jago, jalur yang sepi namun penuh dengan keheningan yang selalu mengajak saya berdialog dengan alam dan Sang Pencipta.


Sesampainya di Kantor MWCNU, saya bertemu dengan Kiyai Rosyidi. Bersama beliau, kami mengambil dokumentasi pekerjaan Nol Persen dari empat sisi gedung yang sedang dibangun. Setiap sudut yang kami abadikan seakan menjadi saksi bisu dari niat tulus kami, memajukan dan menghidupkan kegiatan keagamaan di kecamatan tercinta ini. Selesai dengan tugas kami, saya dan Kiyai Rosyidi bersiap untuk memenuhi undangan silaturahim PBNU di Hotel Estern, Bojonegoro.

Waktu masih menunjukkan pukul sebelas saat kami memutuskan untuk mampir sejenak ke Kantor PCNU Bojonegoro. Di sana, saya disambut hangat oleh sahabat-sahabat seperjuangan—Gus Rohim, Gus Alek, Pak Mazro’i, dan beberapa tokoh lainnya. Percakapan pun mengalir tanpa terasa, menyelami berbagai topik mulai dari perjuangan hingga harapan untuk umat. Di tengah percakapan itu, kami sepakat untuk berangkat bersama ke tempat acara, menaiki satu mobil milik Gus Rohim, sementara mobil Kiyai Rosyidi kami tinggalkan di Kantor PCNU.


Ketika akhirnya kami tiba di Hotel Estern, saya disambut oleh suasana yang begitu hangat. Di sana, saya bertemu dengan banyak tokoh dan teman seperjuangan yang sudah lama tak bersua. Seakan waktu tak pernah memisahkan kami, senyum dan tawa menyambut pertemuan ini, namun tetap dalam nuansa keagungan silaturahim.


Menjelang siang, kami pun menunaikan salat Dzuhur di salah satu ruangan hotel. Sejenak keheningan menyelimuti, membawa hati ini berserah dalam doa dan syukur. Beberapa saat setelahnya, acara pun dimulai, ditandai dengan kehadiran Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, dan Gus Ipul, Sekretaris Eksekutif PBNU, yang diiringi oleh Ketua PCNU Bojonegoro, Gus Ubed, serta beberapa tokoh lainnya. 


Hari itu, setiap momen terasa penuh makna, setiap langkah menjadi bagian dari pengabdian yang tulus. Dalam perjalanan ini, saya kembali diingatkan bahwa khidmah bukan sekadar tugas, tapi panggilan jiwa, jalan panjang yang penuh cahaya, menyusuri lorong-lorong kehidupan dengan keyakinan bahwa setiap detik yang kita lalui adalah bagian dari perjuangan menuju ridha-Nya.

Saat acara dimulai, suasana di ruangan menjadi khidmat. Para hadirin menanti dengan penuh antusias, menanti wejangan yang akan disampaikan oleh para pemimpin tertinggi NU. Ketika Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, menyampaikan pidato wejangannya, aura keagungan dan kebijaksanaan menyelimuti setiap sudut ruangan. Suaranya yang tenang namun penuh wibawa memulai pidato yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengingatkan kami semua akan tanggung jawab besar yang kami emban.


Dalam pidatonya, Gus Yahya menekankan pentingnya koherensi (Tamasuk) di dalam tubuh organisasi. Beliau berpesan kepada seluruh pengurus NU Bojonegoro untuk tidak hanya sekadar menjalankan program-program yang telah dicanangkan oleh PBNU, tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan visi besar yang telah digariskan. Koherensi ini, menurut beliau, adalah kunci untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan dalam setiap program yang digulirkan.


Gus Yahya menyampaikan bahwa koherensi bukanlah hal yang mudah dicapai. Ini membutuhkan kerja sama yang erat, komunikasi yang baik, dan pemahaman mendalam tentang tujuan jangka panjang organisasi. Beliau mengingatkan bahwa setiap program yang telah dicanangkan oleh PBNU memiliki tujuan yang mulia, yaitu membawa manfaat sebesar-besarnya bagi umat. Oleh karena itu, perlu ada kesinambungan antara pusat dan daerah, antara gagasan besar dan implementasi di lapangan.


Pesan ini menggema di hati setiap hadirin, termasuk saya. Dalam hati, saya merenung, memahami betapa pentingnya memastikan bahwa setiap program yang kami jalankan di Bojonegoro benar-benar sejalan dengan arah yang telah ditetapkan. Koherensi ini adalah tali yang mengikat kita semua, dari pusat hingga ranting, dalam satu kesatuan gerak yang harmonis.


Setelah pidato Gus Yahya selesai, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, menandakan bahwa pesan beliau telah sampai ke dalam hati para hadirin. Di tengah tepuk tangan itu, saya merasa ada semangat baru yang tumbuh, sebuah tekad untuk memastikan bahwa khidmah yang kami jalankan di Bojonegoro akan selalu sejalan dengan visi besar PBNU. Gus Yahya telah mengingatkan kami bahwa dalam perjalanan khidmah ini, koherensi adalah landasan yang akan mengantar kami pada kesuksesan sejati, sebuah kesuksesan yang tidak hanya bermanfaat bagi organisasi, tetapi juga membawa berkah bagi umat.

Setelah acara di Hotel Estern usai, saya dan Kiyai Rosyidi memutuskan untuk kembali ke Kantor PCNU Bojonegoro. Di sana, suasana masih terasa hangat, meski acara telah berakhir. Ketika melangkahkan kaki masuk ke dalam kantor, saya bertemu dengan Rekan Sholeh, Ketua PAC IPNU Margomulyo. Dengan wajah penuh semangat, ia mengutarakan keinginannya untuk mendaftar menjadi pegawai di BMTNU.


Saya pun mengajak Rekan Sholeh menuju ruang Bendahara BMTNU, Pak Rosyid, untuk mengurus keperluannya. Di ruang itu, kami disambut oleh Pak Rosyid dengan ramah. Obrolan hangat pun mengalir, dimulai dari diskusi ringan hingga membahas berbagai aspek penting yang berkaitan dengan BMTNU. Pak Rosyid berbicara dengan penuh kebijaksanaan tentang peran BMTNU dalam mendukung perekonomian umat, serta pentingnya kepercayaan dan amanah dalam mengelola keuangan syariah.


Rekan Sholeh menyimak dengan saksama, menyerap setiap nasihat dan informasi yang disampaikan oleh Pak Rosyid. Saya bisa melihat tekad yang kuat dalam matanya—tekad untuk berkontribusi dan membawa manfaat melalui BMTNU. Ketika pembicaraan kami mencapai puncaknya, Rekan Sholeh dengan penuh keyakinan menyerahkan berkas pendaftarannya kepada Pak Rosyid. Momen itu terasa istimewa, seolah menjadi awal dari sebuah perjalanan baru bagi Rekan Sholeh dalam berkhidmah melalui BMTNU.


Setelah urusan di BMTNU selesai, saya dan Kiyai Rosyidi memutuskan untuk pulang ke Margomulyo. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda—penuh dengan refleksi atas segala hal yang telah terjadi sepanjang hari. Dari pagi hingga sore, setiap langkah yang saya ambil seakan menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam pengabdian. Pertemuan dengan para tokoh, pesan-pesan yang disampaikan, hingga mendampingi Rekan Sholeh, semuanya menyatukan diri dalam harmoni khidmah yang begitu indah.


Hari itu, saya kembali diingatkan bahwa khidmah bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang bagaimana kita mendampingi dan mendorong orang lain untuk turut serta dalam pengabdian. Dalam perjalanan pulang, saya merasa tenang, penuh dengan syukur atas segala nikmat dan kesempatan yang diberikan oleh-Nya untuk terus berkhidmah, bersama-sama menuju ridha-Nya.


Sesampainya di Kantor MWCNU Margomulyo, meskipun lelah mulai terasa setelah seharian penuh beraktivitas, saya memilih untuk tidak langsung pulang ke rumah. Hari itu, ada momen istimewa yang menunggu—waktu berbuka puasa. Di tengah kesibukan yang tiada henti, berhenti sejenak untuk menikmati berbuka terasa begitu menenangkan. 


Saya duduk bersama Mas Sholeh dan Mas Rahmat, menikmati hidangan sederhana namun penuh makna. Di bawah langit senja yang mulai gelap, kami saling berbincang sambil menanti datangnya waktu sholat Maghrib. Suara adzan yang mengalun lembut seakan menjadi tanda bagi kami untuk sejenak beristirahat dari hiruk-pikuk dunia, mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada-Nya. Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, kami kembali duduk bersama, bercengkerama ringan sembari menunggu datangnya waktu sholat Isya.


Waktu Isya pun tiba, dan kami melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk. Di setiap rakaatnya, saya merasakan kedamaian yang meresap, seolah segala penat yang saya rasakan perlahan luruh dalam sujud yang panjang. Usai sholat, suasana terasa begitu tenang, namun tugas khidmah saya belum usai. Malam itu, saya masih harus mengisi Kajian Rutin Malem Kamis Kliwon di Majelis Taklim Mata Air Pluntu, Desa Sumberjo.


Dengan penuh semangat dan rasa syukur, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kajian rutin ini bukan hanya sekadar pengajaran, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga dan memperkuat tali silaturahim serta keimanan di antara para jamaah. Setiap kata yang akan saya sampaikan nanti, saya harap mampu memberikan pencerahan dan motivasi, baik bagi diri saya sendiri maupun bagi mereka yang hadir.


Dalam perjalanan menuju Majelis Taklim, hati saya terasa tenang. Meskipun lelah, ada kekuatan tersendiri yang saya rasakan setiap kali melangkah menuju tempat di mana saya bisa berkhidmah. Perjalanan ini, yang dimulai sejak pagi hingga malam, adalah bukti bahwa khidmah adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh berkah. Dan di setiap langkahnya, ada rasa syukur yang tak terhingga kepada-Nya, yang telah memberi saya kesempatan untuk terus melayani umat-Nya.


Saat malam semakin larut dan perjalanan khidmah hari ini hampir usai, saya merenung dalam heningnya malam. Setiap langkah yang saya ambil, setiap kata yang saya sampaikan, semuanya terasa seperti untaian doa yang mengalir tiada henti, menyatu dalam keikhlasan dan pengabdian. Di balik lelah dan penat, ada kebahagiaan yang tak ternilai—kebahagiaan dalam melayani, dalam memberikan yang terbaik untuk umat, dan dalam merajut tali ukhuwah yang tak pernah putus.


Seperti senja yang selalu kembali bertemu dengan malam, saya menemukan kedamaian dalam siklus khidmah ini. Tugas-tugas yang saya jalani hari ini adalah bukti cinta yang tulus kepada-Nya dan kepada sesama. Di setiap akhir perjalanan, saya sadar bahwa khidmah bukan sekadar tugas, melainkan sebuah cinta yang abadi, yang selalu mengisi relung hati dengan cahaya harapan dan keyakinan.


Dengan penuh syukur, saya tutup hari ini dengan satu keyakinan: bahwa setiap langkah yang diiringi niat tulus dan ikhlas, akan selalu membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dan di sanalah, dalam keheningan malam dan doa yang terlantun, saya menemukan makna sejati dari perjalanan khidmah ini—sebuah perjalanan cinta yang tak pernah berakhir.


#Catatan Perjalanan Khidmah Seorang Kader

"Malam Penuh Berkah di Kaligede: Merajut Persatuan dalam Lailatul Ijtima'"


Meduri 20 Agustus 2024 - Dalam suasana khidmat dan penuh berkah, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri digelar dengan meriah pada tanggal 20 Agustus 2024 di Masjid Nurul Hidayah, Dusun Kaligede, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo. Malam yang diselimuti keheningan ini menjadi saksi bisu kebersamaan warga dalam menguatkan tali ukhuwah dan memperkokoh persatuan.


Acara ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari Pengurus Ranting NU Meduri, jajaran Pengurus MUI Desa Meduri, hingga Perangkat Dusun Kaligede yang turut serta bersama Kepala Dusun, Ketua RT, dan Ketua RW setempat. Para tokoh masyarakat yang menjadi panutan hadir dengan penuh kehangatan, diikuti oleh Muslimat NU dan Fatayat NU yang senantiasa menjadi pilar kesetiaan dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Tak ketinggalan, Pengurus Ansor bersama sebagian besar masyarakat Kaligede yang memenuhi masjid, menjadi bukti nyata dari semangat kebersamaan yang terjalin erat di dusun ini.


Dalam kesempatan tersebut, kehadiran Pengurus MWC Margomulyo yang diwakili oleh Ustadz Syaiffudin menambah keagungan acara. Dalam tausiyah yang disampaikannya, Ustadz Syaiffudin mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama dan antar golongan. “Kerukunan adalah pilar utama dalam menjaga keharmonisan di tengah perbedaan. Hanya dengan saling menghormati dan memahami, kita bisa mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera,” tuturnya dengan lembut namun penuh makna.


Malam itu, Lailatul Ijtima' bukan sekadar acara rutinitas. Ia menjadi momentum untuk merenung, memperbaiki diri, dan mempererat tali silaturahmi di antara sesama. Kebersamaan yang terjalin dalam acara tersebut adalah cerminan dari kekuatan sebuah masyarakat yang bersatu dalam perbedaan, menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan yang hakiki.


Dengan semangat yang membara, acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan bimbingan dari Yang Maha Kuasa agar dusun Kaligede, dan Desa Meduri pada umumnya, senantiasa diberkahi kedamaian dan kesejahteraan. Lailatul Ijtima' kali ini akan selalu dikenang sebagai malam penuh berkah yang menyatukan hati-hati yang rindu akan kedamaian dan persatuan.


Seiring dengan lantunan doa yang menggema di dalam Masjid Nurul Hidayah, rasa syukur dan harapan terukir di setiap jiwa yang hadir. Semangat kebersamaan dalam Lailatul Ijtima' ini bukan hanya dirasakan oleh mereka yang berada di dalam masjid, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Dusun Kaligede yang menyaksikan betapa indahnya harmoni dalam kebersamaan.


Kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, hingga perangkat desa, menjadi simbol persatuan yang kokoh. Dalam pertemuan ini, semua bersatu dalam niat dan tujuan yang sama: membangun dan menjaga kedamaian serta kesejahteraan bersama. 


Ustadz Syaiffudin, dengan tutur kata yang bijaksana, mengingatkan hadirin akan pentingnya menjaga harmoni, tidak hanya di antara umat beragama, tetapi juga antar golongan di tengah masyarakat. Pesan ini begitu relevan, mengingat tantangan kehidupan yang semakin kompleks, di mana perbedaan sering kali menjadi sumber konflik. "Kita perlu menguatkan simpul-simpul persaudaraan, mempertebal toleransi, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan," ucap Ustadz Syaiffudin, menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan baik di antara semua lapisan masyarakat.


Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi setiap individu untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Malam itu, seolah ada cahaya terang yang menuntun setiap hati untuk kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. 


Lailatul Ijtima' di Masjid Nurul Hidayah bukan hanya sekadar agenda keagamaan tahunan, tetapi telah menjadi sebuah tradisi yang menghidupkan semangat persaudaraan. Di bawah naungan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin, acara ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat, dan persatuan adalah kekuatan. 


Tatkala malam semakin larut, acara ditutup dengan penuh khidmat. Para jamaah pulang dengan hati yang damai, membawa pesan-pesan kebaikan yang disampaikan, serta tekad untuk terus menjaga kerukunan dan mempererat silaturahmi di masa yang akan datang. Lailatul Ijtima' ini telah menciptakan sebuah jejak yang tak terlupakan, sebuah kisah tentang kebersamaan yang akan selalu dikenang di Dusun Kaligede, sebagai malam penuh berkah dan cinta kasih.


Kontributor: Eko
Editor: Tim CyberMWCNU

"Menjaga Amanah Kemerdekaan: Naharul Ijtima' NU Geneng Menghidupkan Semangat Juang di Baiturrahman"


Ahad, 18 Agustus 2024, dari pukul 09.00 hingga 11.45 WIB, Masjid Baiturrahman Geneng dipenuhi oleh semangat persatuan dan kebersamaan. Warga Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Geneng bersama badan otonom seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Ansor, IPNU, dan IPPNU, berkumpul dalam acara Naharul Ijtimak yang penuh makna. Kehadiran Ketua MUI Geneng, tokoh agama, dan masyarakat setempat menambah khidmat suasana pagi itu, seakan membawa kembali semangat juang para pendahulu yang telah berkorban demi tanah air.


Kyai Shodik, selaku Ketua MUI Geneng dan sekaligus tuan rumah, membuka acara dengan penuh kerendahan hati. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh warga dan para tokoh yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Dengan penuh rasa syukur, Kyai Shodik juga memohon maaf jika terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan acara ini. Setiap kata yang terucap dari bibir beliau menggambarkan ketulusan seorang ulama yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kesederhanaan.


Tak ketinggalan, Kyai Ihsan, Ketua Ranting NU Geneng, turut memberikan sambutan yang menggugah. Beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas seluruh upaya warga NU di semua tingkatan, yang telah bersinergi demi terselenggaranya berbagai agenda dakwah NU di Desa Geneng. Semangat gotong royong dan kebersamaan yang ditunjukkan warga NU di desa ini menjadi cermin betapa kuatnya tali persaudaraan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.


Puncak acara yang dinantikan adalah tausiyah dari Ustadz Sugianto, S.Pd.I., Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyah yang penuh dengan nuansa heroik, beliau mengangkat tema "Mengenang Para Pahlawan yang Berjuang Merebut Kemerdekaan Indonesia." Ustadz Sugianto dengan lantang mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan kembali jasa-jasa para pahlawan yang telah mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa. Beliau menekankan pentingnya meneladani semangat juang dan keikhlasan para pahlawan dalam kehidupan sehari-hari. 


Semua yang hadir terdiam, tersentuh oleh pesan moral yang mendalam, seolah-olah para pahlawan itu kembali hadir di tengah-tengah mereka, menyemangati untuk terus menjaga dan merawat kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata. Naharul Ijtimak kali ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momen untuk memperkuat rasa cinta terhadap tanah air dan mengenang jasa para pahlawan yang tak ternilai.


Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat perjuangan itu abadi, tumbuh dalam jiwa setiap insan yang terus menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Masjid Baiturrahman Geneng menjadi saksi bagaimana warga NU bersatu dalam satu ikatan iman dan cinta tanah air, meneruskan semangat para pahlawan menuju Indonesia yang lebih baik.


Acara yang berlangsung di Masjid Baiturrahman Geneng tersebut seolah menjadi jembatan yang menghubungkan antara masa lalu yang heroik dengan masa kini yang penuh tantangan. Suasana masjid yang semula tenang, berubah menjadi penuh semangat ketika setiap kata dalam tausiyah Ustadz Sugianto menggema di dalam hati para hadirin. Pesan yang disampaikan tidak hanya berupa nasihat, tetapi juga panggilan jiwa untuk selalu mengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini bukanlah hasil yang datang dengan mudah, melainkan buah dari perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan.

Setelah tausiyah, para hadirin tampak terinspirasi. Wajah-wajah mereka mencerminkan semangat baru, seakan ada api perjuangan yang kembali menyala dalam diri mereka. Tidak hanya sekadar mengenang, tetapi juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai penerus bangsa adalah untuk terus menjaga, merawat, dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Acara Naharul Ijtimak ini juga mempertegas pentingnya peran ulama dan tokoh masyarakat dalam membimbing umat, khususnya di tengah-tengah kehidupan yang semakin kompleks. Dengan kebersamaan dan gotong royong, warga NU di Desa Geneng menunjukkan bahwa mereka siap menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa dan agama. Mereka sadar bahwa dalam persatuan itulah terdapat kekuatan yang tak terkalahkan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh para pahlawan bangsa.

Ketika acara ditutup dengan doa bersama, ada harapan yang menggantung di langit-langit masjid, harapan akan keberkahan dan kemaslahatan bagi desa mereka, untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih kuat. Doa yang dipanjatkan dengan penuh haru itu menyatukan semua hati yang hadir, mengirimkan pesan kepada Sang Pencipta bahwa mereka bertekad untuk menjaga amanah para pahlawan.

Masjid Baiturrahman Geneng, yang menjadi saksi bisu acara ini, kini tidak hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kesadaran akan pentingnya meneladani semangat juang para pendahulu. Acara Naharul Ijtimak ini akan terus dikenang sebagai momentum yang memperkuat ukhuwah dan cinta tanah air, menggugah semangat untuk terus berjuang demi kebaikan umat dan bangsa, melanjutkan perjuangan yang telah diwariskan oleh para pahlawan dengan penuh keikhlasan.

Seiring dengan berakhirnya acara, setiap langkah yang meninggalkan Masjid Baiturrahman membawa serta pesan-pesan yang tertanam di dalam hati—bahwa kemerdekaan adalah amanah, dan amanah itu harus dijaga dengan sebaik-baiknya, sebagaimana para pahlawan telah menjaganya dengan segenap jiwa dan raga.


Kontributor: Sakiman
Editor: Tim CyberMWCNU

Pertemuan Konsultan dan MWCNU Margomulyo: Dimulainya Pembangunan Auditorium Gedung MWCNU


 Margomulyo, 18 Agustus 2024 - Pada hari Ahad, 18 Agustus 2024, bertempat di Kantor MWCNU Margomulyo, berlangsung pertemuan penting antara perwakilan MWCNU Margomulyo dan konsultan yang akan mengerjakan pembangunan Auditorium Gedung MWCNU. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan MWCNU Margomulyo dan Mas Hafidz, perwakilan dari tim konsultan, berlangsung dari pukul 10.00 hingga 11.45 WIB.


Sebagaimana diberitakan sebelumnya, MWCNU Margomulyo telah menggelar Mujahadah doa bersama sebagai tanda dimulainya pekerjaan pembangunan yang akan segera berjalan. Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon kelancaran dan keselamatan dalam proyek pembangunan yang akan dikerjakan.


Dalam pertemuan tersebut, sebagai wakil dari MWCNU Margomulyo, Kiyai Badrun membahas beberapa hal penting terkait dengan proyek pembangunan bersama Mas Hafidz. Kami sepakat bahwa pekerjaan fisik pembangunan dimulai hari ini, Ahad Pahing, 18 Agustus 2024. Keputusan ini diambil sesuai dengan dawuh para masyayikh, yang dipandang sebagai waktu yang baik untuk memulai sebuah pekerjaan besar.


Pada hari ini, pekerjaan akan diawali dengan proses dropping material ke lokasi pembangunan. Selanjutnya, pengerjaan fisik proyek akan dimulai sesuai dengan jadwal yang telah disusun. Adapun hal-hal lain yang dianggap perlu akan dibahas dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada selama proses pembangunan berlangsung.


Dengan dimulainya pembangunan ini, diharapkan Gedung Auditorium MWCNU Margomulyo dapat segera berdiri kokoh dan menjadi pusat kegiatan keagamaan serta sosial bagi masyarakat setempat.


Proses pembangunan ini tidak hanya sekadar proyek fisik, tetapi juga menjadi simbol semangat kebersamaan dan gotong royong dari seluruh warga Nahdliyin di Kecamatan Margomulyo. Sebagai pusat kegiatan, Gedung Auditorium ini nantinya akan menjadi tempat strategis untuk berbagai acara, baik yang bersifat keagamaan, sosial, maupun pendidikan, yang semuanya diharapkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat.


Selama pertemuan, kami juga membahas pentingnya koordinasi yang erat antara pihak MWCNU dan tim konsultan guna memastikan setiap tahap pembangunan berjalan sesuai dengan rencana. Kami sepakat untuk selalu memantau perkembangan proyek ini secara berkala, serta mengadakan diskusi dan evaluasi jika diperlukan, agar hasil akhirnya sesuai dengan harapan bersama.


Selain itu, kami menyadari pentingnya partisipasi aktif dari masyarakat dalam proses pembangunan ini. Oleh karena itu, kami mengundang seluruh warga Nahdliyin dan masyarakat Margomulyo untuk turut serta mendukung proyek ini, baik melalui doa, tenaga, maupun sumbangan material yang diperlukan.


Di akhir pertemuan, kami memohon ridha dan perlindungan dari Allah SWT agar pembangunan Auditorium Gedung MWCNU Margomulyo ini dapat berjalan lancar, aman, dan selesai tepat waktu. Kami optimis, dengan dukungan dari seluruh elemen masyarakat khususnya warga NU Margomulyo, proyek ini akan menjadi salah satu karya besar yang bermanfaat bagi umat dan generasi mendatang. 


Demikianlah, dimulainya pembangunan ini menjadi langkah awal yang penuh harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi warga Nahdliyin di Kecamatan Margomulyo.

Mujahadah untuk Perjuangan NU Margomulyo: Membingkai Semangat dan Doa di Bawah Langit Malam


Sabtu, 17 Agustus 2024, langit malam Margomulyo berselimutkan gemintang yang seolah berpendar memberikan berkah kepada sebuah acara penuh khidmat dan haru. Di altar lantai dua WCNU Margomulyo, pada pukul 21.30 hingga 23.30, berlangsunglah Mujahadah untuk Perjuangan NU Margomulyo, sebuah momentum sakral yang dirangkai dalam doa dan pengharapan kepada Illahi.


Acara ini dihadiri oleh segenap jajaran MWCNU Margomulyo, PAC IPNU, LAZISNU, Pagar Nusa, ANSOR/BANSER, yang semuanya bersatu dalam satu harmoni perjuangan demi masa depan yang lebih baik bagi umat. Keheningan malam pecah oleh lantunan suara MC, Ustadz Syaifuddin, yang dengan lembut namun tegas membuka acara ini, membawa hadirin masuk ke dalam suasana penuh syukur dan pengharapan.


Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Kiyai Sareh, Ketua Ranting NU Sumberjo, membungkus hati setiap yang hadir, menghadirkan ketenangan sekaligus kekuatan spiritual yang mendalam. Dilanjutkan dengan Sholawat Bilqiyam, di bawah pimpinan Ustadz Syaifuddin, suasana semakin menghangat, melantunkan puji-pujian kepada Rasulullah dengan penuh cinta dan hormat.


Khutbah Iftitah yang disampaikan oleh Kiyai Rosyidi, Rois Syuriyah MWCNU, menjadi inti dari acara ini. Dalam pidatonya, beliau mengapresiasi perjuangan semua komponen NU Margomulyo yang telah bekerja keras dalam berbagai aspek, dari pendidikan hingga sosial kemasyarakatan. Ucapan beliau menyiratkan kebanggaan sekaligus pengingat bahwa perjuangan harus terus digelorakan tanpa mengenal lelah.


Puncak dari acara ini adalah Mujahadah, yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap agar segala ikhtiar dakwah yang dilakukan dimudahkan oleh Allah, termasuk proses pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo yang akan dimulai besok, Ahad, 18 Agustus 2024. Mujahadah diakhiri dengan pembacaan doa sebanyak sembilan kali, dipimpin oleh sembilan tokoh mulai dari Kiyai Ranting Kalangan, Margomulyo, Sumberjo, Meduri, Geneng, Ngelo, hingga Kades Ngelo dan diakhiri oleh Kades Sumberjo.


Acara ini ditutup dengan sesi ramah tamah yang penuh keakraban, dimana semua yang hadir menikmati makan bersama dengan tradisi Talaman, sebuah simbol kebersamaan dan kesederhanaan yang menguatkan ikatan ukhuwah di antara mereka. Satu baki besar makanan dinikmati oleh lima orang atau lebih, sebuah cermin dari kebersamaan yang senantiasa dijunjung tinggi oleh warga NU Margomulyo.


Malam itu, di bawah langit Margomulyo yang tenang, terselip doa-doa yang dilambungkan bersama asa, semoga segala perjuangan yang dilandasi oleh niat suci mendapat ridha dari Allah, dan cita-cita untuk membangun dan memajukan NU Margomulyo dapat terwujud dengan sempurna.


"Tumpeng Merdeka di Tengah Hutan: Simbol Syukur dan Persatuan di Proyek Bendungan Karangnongko"

Pada Sabtu, 17 Agustus 2024, kawasan Proyek Pembangunan Bendungan Karangnongko di Desa Ngelo menjadi saksi peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79. Meskipun berada di tengah hutan, suasana upacara bendera yang diadakan oleh PT Waskita berlangsung penuh khidmat dan penuh semangat.


Upacara dimulai dengan pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu kebangsaan "Indonesia Raya," menggema di tengah alam yang masih asri. Dalam acara ini, Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo, turut diundang sebagai tamu kehormatan. Kehadiran beliau menambah keistimewaan upacara yang berlangsung di lokasi proyek pembangunan bendungan yang strategis ini.


Setelah rangkaian upacara selesai, Kiyai Badrun Sulaiman mendapatkan kehormatan untuk memimpin doa tasyakuran kemerdekaan. Dalam doanya, beliau memanjatkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia selama 79 tahun, meskipun berada di lokasi yang jauh dari keramaian kota. Doa yang dipanjatkan tidak hanya mengungkapkan rasa syukur, tetapi juga harapan untuk kemajuan dan kesejahteraan negara.


Secara keseluruhan, upacara ini adalah sebuah wujud rasa syukur yang mendalam atas nikmat kemerdekaan, dan meski diadakan di tengah hutan, semangat kemerdekaan terus menggelora di hati setiap peserta. Momen ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang patut dirayakan di mana pun kita berada, dengan penuh semangat dan rasa syukur.


Upacara bendera yang dilaksanakan di tengah proyek pembangunan ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan simbol keteguhan dan kebersamaan. Para peserta, yang terdiri Direksi, Pimpinan Projek, karyawan dari PT Waskita, menyaksikan dengan penuh semangat dan bangga. Kehadiran mereka di lokasi proyek menunjukkan dedikasi dan komitmen untuk merayakan hari kemerdekaan di setiap sudut negeri, bahkan di tempat yang belum sepenuhnya terjamah.


Di tengah hutan yang hijau, di mana bunyi alat berat dan suara alam menjadi latar belakang, upacara ini menghadirkan nuansa yang unik dan mendalam. Para peserta, dengan penuh semangat dan rasa hormat, mengikuti setiap rangkaian acara. Mereka merasakan betapa berartinya kemerdekaan, meskipun dalam suasana yang jauh dari keramaian kota.


Rangkaian acara ini memberikan dorongan moral dan semangat. Seluruh rangkaian kegiatan tidak hanya memperingati hari kemerdekaan, tetapi juga menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa. Semangat merdeka yang membara di tengah hutan menjadi inspirasi bagi semua yang hadir.


Kehadiran Kiyai Badrun Sulaiman, yang memimpin doa, menambah makna acara tersebut. Doa yang penuh khidmat tersebut menjadi penutup yang sempurna untuk upacara, memancarkan rasa syukur dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. 


Dengan penuh rasa syukur, kita semua dapat merasakan betapa kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga dan diperjuangkan, di mana pun kita berada. Upacara ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan tidak akan pudar oleh waktu dan tempat, melainkan akan selalu mengalir dalam jiwa setiap warga negara Indonesia.


Usai doa tasyakuran, acara berlanjut dengan momen yang tak kalah meriah dan penuh makna, yaitu pembukaan tumpeng kemerdekaan. Sebagai simbol syukur dan perayaan, tumpeng yang dihias dengan penuh warna dan keindahan ini dihadirkan sebagai puncak dari rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.


Dalam suasana yang penuh kehangatan, tumpeng dibuka dengan penuh rasa hormat dan kekhidmatan. Pimpinan proyek bersama dengan Kiyai Badrun Sulaiman dan beberapa tamu undangan lainnya, secara bersama-sama memotong tumpeng sebagai simbol keberhasilan dan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih. Tumpeng yang terdiri dari nasi kuning yang mengundang selera ini, disajikan dengan berbagai hidangan pelengkap, melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang diharapkan bagi seluruh bangsa.


Pembukaan tumpeng ini menjadi momen yang menyatukan seluruh peserta dalam semangat kebersamaan. Makanan yang disajikan bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga sebagai simbol dari hasil kerja keras dan dedikasi semua pihak dalam pembangunan serta pencapaian kemerdekaan. Seluruh peserta merasakan kehangatan dari tumpeng yang dibagikan, menikmati sajian dengan rasa syukur dan bangga.


Momen ini juga menjadi kesempatan untuk saling bertukar cerita dan pengalaman, menguatkan ikatan antara sesama peserta dan menyebarkan semangat kemerdekaan. Suasana kebersamaan dan kehangatan menyelimuti acara, membuat hari tersebut semakin berkesan.


Pembukaan tumpeng kemerdekaan ini menegaskan bahwa meskipun berada di lokasi yang terpencil, semangat kemerdekaan dan rasa syukur tetap bisa dirayakan dengan meriah dan penuh makna. Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah milik semua, dan perayaannya dapat dilakukan di mana saja dengan penuh cinta dan rasa syukur.



Tim CyberMWCNU

"Merajut Syukur dalam Harmoni Kemerdekaan: Menyemai Persatuan di Bumi Margomulyo"


Margomulyo, 16 Agustus 2024 – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79, Kecamatan Margomulyo menggelar acara malam tasyakuran yang berlangsung di Masjid Besar Al-Ikhlas pada Jumat malam, 16 Agustus 2024. Acara yang dimulai pukul 19.30 hingga 21.30 WIB ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan masyarakat setempat.


Hadir dalam acara tersebut antara lain Kapolsek Margomulyo, Danposramil Margomulyo, Asper Kedawak Utara, Koordinator Pengawas Pendidikan, Asper Kates, Kepala Puskesmas Margomulyo, Kepala KUA Margomulyo beserta Penyuluh Agama Islam, Kepala Desa se-Kecamatan Margomulyo, Ketua MWC NU, Ketua MUI, serta para tokoh agama dari setiap desa yang turut serta memberikan nuansa religius dalam peringatan kali ini. Tak ketinggalan, para takmir Masjid Besar Al-Ikhlas juga turut menyemarakkan acara tersebut.


Acara malam tasyakuran ini dipandu oleh Ustadz Syaifudin yang dengan penuh hikmat mengatur jalannya kegiatan. Rangkaian acara diawali dengan Sujud Syukur yang dipimpin oleh Bapak Syamsul Idzom, di mana seluruh jamaah yang hadir bersama-sama menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia.


Sambutan dari pihak panitia disampaikan oleh Bapak Agung yang memberikan apresiasi atas kehadiran seluruh undangan dan partisipasi aktif masyarakat dalam acara tersebut. Beliau menekankan pentingnya momen ini sebagai sarana mempererat tali silaturahmi serta memperkokoh rasa kebangsaan di tengah masyarakat Margomulyo.


Camat Margomulyo, Bapak Ahmad Bustanul Arifin, S.STP., MM., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan bangga atas terselenggaranya acara malam tasyakuran ini. Beliau mengapresiasi kerja keras panitia dan seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam mempersiapkan acara, serta mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat persatuan dan kesatuan bangsa.


Acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWC NU Margomulyo. Suasana malam semakin khidmat ketika lantunan tahlil menggema di seluruh masjid, mengingatkan seluruh jamaah akan pentingnya doa bersama dalam menjaga keutuhan bangsa.


Sebagai penutup, doa dipimpin oleh Kiyai Rosyyidi, Rois Syuriyah MWCNU Margomulyo. Doa yang dipanjatkan penuh harapan untuk kemajuan bangsa Indonesia, kesejahteraan rakyat, serta perlindungan dari segala ancaman yang bisa mengganggu kedaulatan negara.


Malam tasyakuran kemerdekaan ini berlangsung dengan penuh khidmat, menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat akan perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan Indonesia. Semangat kebangsaan dan persatuan yang tercermin dalam acara ini menjadi bukti bahwa masyarakat Margomulyo tetap teguh dalam menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.


Acara malam tasyakuran ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga sebagai ajang untuk memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong di antara warga Kecamatan Margomulyo. Selama acara berlangsung, terlihat keakraban dan sinergi yang terjalin erat antara berbagai elemen masyarakat dan tokoh-tokoh penting yang hadir.


Ustadz Syaifudin, sebagai pembawa acara, mampu menjaga suasana tetap hangat dan penuh kekeluargaan. Dengan kepiawaiannya dalam berkomunikasi, ia berhasil membawa hadirin masuk ke dalam suasana penuh rasa syukur dan refleksi spiritual. Keberhasilan penyelenggaraan acara ini juga tidak lepas dari dukungan seluruh takmir Masjid Besar Al-Ikhlas yang telah mempersiapkan tempat dengan baik sehingga mampu menampung ratusan jamaah yang hadir malam itu.


Bapak Agung, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa malam tasyakuran ini adalah wujud nyata dari rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia. “Kita harus terus menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif, membangun masyarakat yang lebih baik, dan memperkuat persaudaraan di antara kita,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi antusiasme warga yang turut serta dalam acara ini, menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial di antara masyarakat Margomulyo.


Sambutan dari Camat Margomulyo, Bapak Ahmad Bustanul Arifin, S.STP., MM., menambah semangat para hadirin. Beliau menekankan pentingnya semangat kebangsaan dan persatuan yang harus terus dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat. “Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang para pahlawan. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan dan menjaga persatuan serta kesatuan bangsa,” tegasnya.


Pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Badrun Sulaiman semakin memperkuat nuansa spiritual dalam acara tersebut. Seluruh hadirin, mulai dari pejabat hingga warga biasa, larut dalam lantunan doa, memohon ampunan dan keberkahan bagi bangsa dan negara. Ini menunjukkan bahwa semangat religiusitas masih sangat kental di tengah masyarakat, menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga keharmonisan sosial.


Doa penutup yang dipimpin oleh Kiyai Rosyyidi, Rois Syuriyah MWCNU Margomulyo, menutup rangkaian acara malam itu dengan penuh khidmat. Doa yang dipanjatkan dengan tulus itu menggambarkan harapan seluruh masyarakat agar Indonesia terus maju, aman, dan sejahtera. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan terus menghargai nilai-nilai perjuangan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu.


Setelah acara resmi berakhir, para hadirin masih sempat berbincang-bincang dan bersilaturahmi, menambah eratnya rasa persaudaraan di antara mereka. Malam itu, Masjid Besar Al-Ikhlas bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kebersamaan, tempat di mana semangat kemerdekaan dirayakan dengan penuh syukur dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.


Acara malam tasyakuran kemerdekaan ini, dengan segala makna dan pesan yang disampaikan, diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kecamatan Margomulyo untuk terus bersatu padu dalam menjaga keutuhan bangsa serta mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang bermanfaat bagi semua.

"Jejak Langkah di Tanah Berkah: Menelusuri Jejak Sejarah dan Menyambut Amanah di Konferwil NU Jatim"

Pengurus MWCNU Kawasan barat Bojonegoro (NGRAJOMULYO)

Pagi itu, udara masih begitu sunyi ketika kabar menyentuh jiwa kami. Pada tanggal 2 Agustus, sebuah undangan tiba di genggaman. PCNU Bojonegoro memanggil, mengajak dua insan dalam barisan, dua jiwa dalam satu ikatan. Saya, sebagai Ketua, dan Kiai Rosyidi, Ro'is yang selalu penuh hikmah, ditakdirkan untuk melangkah bersama. Kami diundang bukan hanya untuk sekadar hadir, tetapi untuk mengukir sejarah dalam acara Ziyaaroh Mu'asis NU, menyusuri jejak para pendiri, serta turut berhurmat dalam Muskerwil PWNU Jatim di pesantren yang penuh berkah, Tebu Ireng Jombang pada hari sabtu, 03 Agustus 2024.


Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah ziarah batin. Acara dimulai pada pukul 08.00 pagi, dengan titik kumpul di Kantor PCNU Bojonegoro. Namun, bagi saya, yang tinggal di kampung yang jauh dari kota, perjalanan ini memerlukan persiapan yang lebih awal. Setiap kali ada acara pagi di Bojonegoro, saya harus bangun lebih pagi dari biasanya, memulai langkah saat malam masih menyelimuti bumi.


Pagi itu, waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Dalam keheningan yang penuh doa, saya melangkahkan kaki keluar rumah. Langit masih gelap, namun semangat dalam dada sudah menyala terang. Saya harus bertemu dengan Kiai Rosyidi di Masjid Ngraho setelah subuh, sekitar pukul 04.30. Suara adzan subuh di langit desa menjadi penanda pertemuan kami, sebuah simbol kebersamaan yang suci.


Setelah sholat subuh, kami bersiap. Jam menunjukkan pukul 05.00 saat kendaraan mulai melaju dari Ngraho, membawa kami menuju Bojonegoro. Perjalanan ini terasa begitu bermakna, setiap kilometer yang kami tempuh membawa kami semakin dekat pada sebuah tujuan besar, bukan hanya ziarah pada makam para pendiri, tetapi juga menyatukan langkah dengan para ulama dan pemimpin dalam Muskerwil.


Dalam perjalanan ini, kami bukan hanya menyusuri jalanan beraspal, tetapi juga menyelami makna keikhlasan, ketulusan, dan tanggung jawab. Setiap detik terasa begitu berharga, karena kami tahu bahwa perjalanan ini adalah bagian dari pengabdian kami, bukan hanya kepada organisasi, tetapi juga kepada nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama.


Di balik keheningan pagi dan panjangnya perjalanan, ada keyakinan bahwa kami tengah menapaki jejak yang sama dengan para pendahulu kami, yang dengan penuh cinta dan pengorbanan membangun fondasi kuat bagi Nahdlatul Ulama. Inilah perjalanan spiritual, sebuah perjalanan yang akan selalu terpatri dalam sanubari, sebagai saksi bisu dari sebuah komitmen untuk terus menjaga dan meneruskan warisan suci ini.


Setelah beberapa saat, instruksi dari panitia terdengar. Kami diarahkan untuk masuk ke dalam bus masing-masing. Kami Pengurus MWCNU masuk ke dalam bus MWCNU, sementara yang berada di jajaran PCNU diarahkan ke bus PCNU. Setiap langkah yang kami ambil saat menaiki bus itu terasa seperti sebuah doa, sebuah tekad untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan yang mulia.


Bus perlahan mulai bergerak, meninggalkan Bojonegoro menuju Jombang melalui jalur Babat-Jombang. Jalanan yang kami lalui seperti menghamparkan seutas tali yang menghubungkan kami dengan para pendiri Nahdlatul Ulama, yang akan kami ziarahi. Dalam keheningan bus yang hanya sesekali dipecah oleh percakapan ringan, setiap kami merenungi perjalanan ini. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin, sebuah ziarah untuk menguatkan kembali tali silaturahmi dengan para pendiri, menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan mereka dalam hati kami.


Ziyarah pertama kami adalah ke makam Mbah KH Wahab Hasbullah, seorang tokoh besar yang pemikirannya menjadi fondasi kuat bagi NU dan Indonesia. Setelah berdoa di sana, kami melanjutkan perjalanan ke makam Mbah KH Bisri Syansuri, seorang ulama yang dikenal karena kealiman dan kebijaksanaannya dalam memimpin umat. Akhirnya, kami tiba di kompleks makam Tebu Ireng, tempat peristirahatan terakhir keluarga besar Mbah KH Hasyim Asy'ari, pendiri utama Nahdlatul Ulama. 


Di setiap maqom yang kami kunjungi, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, memohon berkah dan petunjuk agar kami dapat melanjutkan perjuangan ini dengan penuh istiqamah. Setiap hembusan angin di kompleks makam terasa seolah membawa pesan dari masa lalu, mengingatkan kami akan betapa besar tanggung jawab yang kini ada di pundak kami. 


Langit di atas kompleks Tebu Ireng tampak begitu damai, seolah menyatu dengan suasana hening yang mengelilingi makam para pendiri Nahdlatul Ulama. Setelah melalui perjalanan panjang dari Bojonegoro, kami tiba di tempat yang penuh berkah ini dengan hati yang bergetar. Setiap langkah yang kami ayunkan di jalan setapak menuju makam, terasa begitu berat namun penuh makna. Seolah-olah, tanah yang kami injak membawa kenangan tentang perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang tak ternilai harganya.


Ketika kami sampai di makam Mbah KH Hasyim Asy'ari, pendiri besar Nahdlatul Ulama, suasana terasa sangat khidmat. Di hadapan makamnya, kami menundukkan kepala, berdoa dengan penuh rasa hormat. Dalam keheningan itu, terbayang bagaimana sosok beliau dengan kebijaksanaan dan keberaniannya, memimpin umat dalam menghadapi tantangan zaman. Beliau adalah pilar utama yang dengan tangan dinginnya membangun fondasi kuat bagi organisasi yang kini kami jaga dan teruskan perjuangannya.


Doa-doa kami mengalir tulus, memohon agar kami diberi kekuatan untuk tetap teguh dalam jalan yang telah dirintis oleh para pendiri ini. Setiap dari kami merasakan betapa besar tanggung jawab yang kini harus kami pikul, tanggung jawab untuk menjaga ajaran Islam yang moderat dan rahmatan lil 'alamin, sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh Mbah Hasyim dan para pendiri lainnya.


Di kompleks makam ini, kami bukan hanya sekadar berziarah. Kami merasakan kehadiran beliau, seakan-akan beliau membisikkan pesan kepada kami, mengingatkan kami akan tanggung jawab yang harus kami emban. Setiap hembusan angin yang menyentuh wajah kami seolah membawa pesan tentang pentingnya menjaga persatuan umat, tentang tanggung jawab besar yang harus kami jaga sebagai penerus perjuangan beliau.


Setelah ziyarah yang penuh makna di makam para pendiri Nahdlatul Ulama, langkah kami berlanjut menuju pelataran AULA KONFERWIL, tempat di mana KORFERWIL PWNU Jatim berlangsung. Suasana di sana terasa begitu hidup dan penuh antusiasme. Para peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur telah berkumpul, membawa semangat dan harapan untuk masa depan organisasi yang besar ini.


Saat kami tiba, acara sudah mencapai sesi yang paling dinantikan: Sidang Pleno Pemilihan TIM AHWA. Di sinilah akan ditentukan siapa yang akan memegang amanah besar sebagai Ro'is Syuriyah PWNU Jatim, sebuah posisi yang begitu penting dalam mengarahkan langkah-langkah organisasi ke depan. Kami duduk bersama rombongan, mengikuti setiap tahapan dengan penuh perhatian. Setiap suara yang terdengar di ruang sidang membawa gema tanggung jawab yang besar, karena keputusan yang diambil di sini akan mempengaruhi arah perjuangan dakwah Nahdlatul Ulama di Jawa Timur.


Mata dan telinga kami tertuju pada setiap detail, mengikuti dinamika pemilihan yang berlangsung dengan seksama. Proses ini bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah ritual penting yang mencerminkan demokrasi dan musyawarah, dua prinsip yang menjadi ruh dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Setiap peserta, termasuk kami, menyadari betapa pentingnya memilih pemimpin yang tidak hanya cerdas dan bijaksana, tetapi juga memiliki hati yang tulus dan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah.


Di tengah-tengah keseriusan sidang pleno, suasana sesekali mencair dengan gurauan ringan. Pertemuan dengan saudara-saudara dari berbagai daerah di Jawa Timur menghadirkan keceriaan tersendiri. Canda tawa yang mengalir di sela-sela diskusi formal mengingatkan kami bahwa di balik semua perbedaan, ada ikatan persaudaraan yang erat. Setiap senyum dan tawa yang terukir membawa kebahagiaan, memperkuat hubungan batin di antara kami, sesama pejuang dakwah.

Ada momen-momen ketika kami saling berbagi cerita tentang perjalanan dakwah di daerah masing-masing, tentang suka dan duka yang telah dilalui. Di sini, di tengah-tengah Konferwil yang serius, kami menemukan ruang untuk merajut kembali tali silaturahmi, memperkuat ikatan ukhuwah yang menjadi fondasi kuat dalam organisasi ini. Dalam canda, tersimpan kehangatan dan keakraban, yang menjadikan momen ini lebih dari sekadar acara formal, tetapi juga perayaan kebersamaan.


Ketika akhirnya proses pemilihan mencapai klimaks, kami merasakan tegang yang menyelemuti ruangan. Namun, dalam hati kami, ada keyakinan bahwa siapapun yang terpilih sebagai Ro'is Syuriyah dan Ketua Tanfdziyah PWNU Jatim, mereka adalah yang terbaik untuk memimpin umat dalam langkah-langkah besar ke depan. Kami menyadari bahwa pemimpin yang terpilih akan membawa amanah yang sangat besar, tidak hanya untuk Jawa Timur, tetapi juga untuk seluruh warga Nahdlatul Ulama.


Penetapan Rais Syuriah: Sejarah yang Terukir di Konferwil ke-18 PWNU Jatim

Di tengah suasana yang penuh hikmat di Universitas KH Hasyim Asyari, Tebuireng, Jombang, sejarah baru tertulis dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama. Pada Sidang Pleno IV Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-18 PWNU Jawa Timur, keputusan penting telah disahkan. Penetapan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur akhirnya mencapai puncaknya, dengan terpilihnya KH Anwar Manshur sebagai Rais Syuriah PWNU Jatim untuk masa khidmat 2024-2029.

Proses penetapan ini berlangsung dengan penuh kebijaksanaan dan musyawarah. KH Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU, dalam pidatonya pada Sabtu, 3 Agustus 2024, menyampaikan bahwa musyawarah AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) telah dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan amanah. Musyawarah ini diadakan untuk memenuhi mandat yang diberikan oleh konferensi, sesuai dengan pasal 5 ayat 1-10 UU Perkumpulan Nahdlatul Ulama.

Dalam suasana yang khidmat, KH Anwar Iskandar, salah satu anggota AHWA, menjelaskan bagaimana musyawarah ini dilaksanakan dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangan yang matang. Hasil dari musyawarah tersebut memutuskan bahwa KH Anwar Manshur, seorang ulama yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kealiman, adalah sosok yang paling layak untuk memimpin PWNU Jawa Timur sebagai Rais Syuriah dalam periode mendatang.

Keputusan ini kemudian dituangkan dalam sebuah berita acara yang akan menjadi bagian dari keputusan rapat pleno hari itu. Sebelum menutup penyampaian hasil musyawarah, Kiai Anwar menyampaikan harapan dan doa agar keputusan ini diridhai oleh Allah SWT. Nama-nama anggota AHWA yang terlibat dalam musyawarah ini bukanlah nama-nama yang asing dalam dunia keulamaan Nahdlatul Ulama. Mereka adalah KH Miftachul Akhyar, KH Anwar Manshur, KH Anwar Iskandar, KH Mutawakkil Alallah, KH Fuad Nur Hasan, KH Ubaidillah Faqih, dan KH Mudatsir Badaruddin. Masing-masing dari mereka membawa serta kebijaksanaan dan pengalaman yang mendalam dalam menuntun arah perjuangan NU di Jawa Timur.

Usai penetapan Rais Syuriah, suasana semakin tegang dan antusias. Sidang pleno selanjutnya, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh panitia, adalah pemilihan Ketua PWNU Jawa Timur. Ini adalah momen yang sangat penting karena Ketua Tanfdziyah akan memimpin jalannya organisasi dalam berbagai kegiatan strategis selama lima tahun ke depan. 

Setiap peserta konferwil menyadari betapa pentingnya keputusan yang akan diambil. Pemilihan ini bukan hanya sekadar memilih seorang pemimpin, tetapi juga menetapkan arah dan visi yang akan dijalankan oleh PWNU Jawa Timur ke depan. Dengan penetapan Ketua PWNU, perjalanan panjang hari itu mencapai puncaknya, menyatukan harapan dan doa dari seluruh peserta konferensi.

Di tengah suasana yang penuh khidmat dan harapan, kami semua menantikan hasil dari sidang pleno ini. Dengan hati yang penuh harap, kami memohon agar siapapun yang terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur akan mampu membawa organisasi ini menuju masa depan yang lebih baik, memperkuat dakwah, dan menjaga keutuhan umat di tengah berbagai tantangan zaman. 

Hari itu, di Tebuireng, bukan hanya sebuah keputusan yang diambil, tetapi juga sebuah janji yang diperbarui untuk terus menjaga dan meneruskan perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama, demi kemaslahatan umat dan tegaknya Islam yang rahmatan lil 'alamin di Jawa Timur dan seluruh Indonesia.

Gus Kikin: Pemimpin Baru di Tengah Sejarah dan Tradisi Tebuireng

Malam itu, di bawah naungan langit Tebuireng yang penuh berkah, sebuah keputusan penting ditetapkan dalam Sidang Pleno V Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama (Konferwil NU) Jawa Timur. KH Abdul Hakim Mahfudz, yang lebih dikenal sebagai Gus Kikin, resmi terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur untuk masa khidmat 2024-2029. Keputusan ini menjadi puncak dari rangkaian panjang proses musyawarah dan pemilihan yang penuh dengan kebijaksanaan dan pertimbangan matang.

Terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim bukanlah sekadar momen biasa, melainkan sebuah peristiwa bersejarah yang bertepatan dengan Hari Lahir (Harlah) ke-125 Pesantren Tebuireng. Pesantren yang didirikan pada 3 Agustus 1899 oleh KH Hasyim Asy'ari ini telah menjadi pusat keilmuan dan pergerakan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang rahmatan lil 'alamin. Dengan tema "125 Tahun Pesantren Tebuireng Merawat Islam Ahlussunnah wa Al-Jamaah yang Rahmatan lil ‘Alamin," perayaan ini menjadi latar yang sempurna bagi lahirnya pemimpin baru PWNU Jatim, yang juga merupakan dzurriyah dari pendiri pesantren legendaris ini.

Keputusan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim ditetapkan dalam sidang yang dipimpin oleh H Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU, didampingi oleh Gus Aizuddin Abdurrahman, Ketua PBNU. Ketukan palu yang menandai pengesahan Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim diiringi dengan lantunan Al-Fatihah, memperkuat suasana penuh khidmat dan spiritualitas yang melingkupi sidang tersebut.

Dalam penjelasannya, H Amin Said Husni menguraikan bahwa NU memiliki dua mekanisme pemilihan ketua: musyawarah mufakat dan pemungutan suara. Dalam pemilihan Ketua PWNU Jatim kali ini, mekanisme kedua digunakan karena terdapat dua bakal calon yang diusulkan, yaitu Gus Kikin dan KH Makki Nashir, Ketua PCNU Bangkalan sekaligus dzurriyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Proses penjaringan suara menunjukkan dominasi dukungan untuk Gus Kikin, yang berhasil mengumpulkan 38 usulan atau 88 persen suara, sementara Kiai Makki hanya memperoleh 5 usulan atau 12 persen suara. Dengan demikian, Gus Kikin dianggap sah sebagai calon Ketua PWNU Jatim, sementara Kiai Makki gagal memenuhi syarat dukungan minimal 30 persen sebagaimana diatur dalam tata tertib Konferwil NU Jatim.

Total hak suara dalam pemilihan ini berjumlah 43, setelah PCNU Banyuwangi tidak memiliki hak suara dan PCNU Kediri tidak hadir. Dengan hasil ini, Gus Kikin dinyatakan terpilih secara aklamasi, tanpa perlu melalui tahap pemungutan suara lanjutan. Keputusan ini menandai sebuah era baru dalam kepemimpinan PWNU Jawa Timur, dengan Gus Kikin diharapkan dapat membawa organisasi ini semakin maju dan kokoh dalam mendampingi umat di tengah berbagai tantangan zaman.

Setelah pengesahan ini, Konferwil NU Jatim yang mengusung tema "Merajut Ukhuwah dan Mengokohkan Jamiyah dalam Pendampingan Umat" dinyatakan selesai. Malam itu, kami semua merasa bahwa proses panjang ini telah membawa NU Jatim ke arah yang lebih baik, dengan kepemimpinan yang diharapkan mampu mengemban amanah besar untuk lima tahun ke depan.

Malam semakin larut, namun semangat dan harapan yang ditinggalkan oleh Konferwil ini terus menyala dalam hati kami. Dengan Gus Kikin di pucuk pimpinan, kami yakin bahwa PWNU Jatim akan terus berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga dan meneruskan perjuangan para ulama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menjadi pelayan umat yang selalu mengedepankan kepentingan bersama di atas segalanya.

Perjalanan Pulang: Meneruskan Amanah dari Jombang ke Bojonegoro

Usai rangkaian acara yang penuh dengan makna dan sejarah, kami, bersama rombongan, bersiap untuk kembali ke Bojonegoro. Matahari sudah tenggelam, menyisakan jejak keemasan di langit Jombang yang semakin gelap. Dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur, kami menaiki bus, membawa pulang segala pelajaran, pengalaman, dan amanah yang telah diemban sepanjang hari itu.

Perjalanan pulang kali ini tidak hanya sekadar kembali ke rumah, tetapi juga membawa serta semangat dan tanggung jawab baru. Di dalam bus, meski tubuh terasa lelah, ada percakapan hangat yang terus mengalir di antara kami. Para kiyai, tokoh, dan pengurus MWCNU serta PCNU dari berbagai kecamatan di Bojonegoro berbagi refleksi dan renungan tentang apa yang baru saja terjadi di Konferwil.

Kami membahas berbagai hal, mulai dari makna penetapan Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jatim, hingga tantangan yang akan dihadapi oleh organisasi di masa depan. Ada rasa optimisme yang mengalir di setiap kata, seolah-olah perjalanan pulang ini adalah bagian dari sebuah misi yang lebih besar. Kami semua menyadari bahwa amanah yang kami bawa dari Jombang bukanlah hal yang ringan, tetapi dengan kebersamaan dan kesatuan, kami yakin dapat mengembannya dengan baik.

Di tengah perbincangan, sesekali terdengar gurauan dan tawa ringan yang menghangatkan suasana. Meskipun hari itu dipenuhi dengan keseriusan dan pengambilan keputusan penting, tetap ada ruang bagi keakraban dan persaudaraan yang selalu menjadi ciri khas kami. Tawa-tawa itu seolah menjadi pengikat, memperkuat tekad kami untuk terus bekerja bersama, memajukan dakwah dan menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama di Bojonegoro dan sekitarnya.

Seiring dengan roda bus yang terus berputar membawa kami kembali ke Bojonegoro, kami merenungi perjalanan panjang hari itu. Dari ziyarah maqam para pendiri NU, mengikuti sidang pleno Konferwil, hingga menyaksikan terpilihnya pemimpin baru, semuanya memberikan kami perspektif baru tentang tanggung jawab dan pengabdian. Kami sadar bahwa perjalanan ini adalah bagian dari sebuah perjalanan spiritual yang lebih besar, mengikat kami semua dalam satu tujuan: merawat dan meneruskan perjuangan para ulama pendiri Nahdlatul Ulama.

Setiap kilometer yang kami lewati di jalanan menuju Bojonegoro, seakan membawa kami lebih dekat ke rumah dengan hati yang penuh tekad baru. Malam semakin larut, dan keheningan mulai menguasai bus, tetapi dalam hati kami, ada semangat yang tak pernah padam. Kami tahu bahwa tugas kami belum selesai; justru ini adalah awal dari perjalanan baru, di mana kami harus membawa dan menerapkan segala hikmah yang kami peroleh hari ini di tengah masyarakat yang kami layani.

Ketika akhirnya bus memasuki wilayah Bojonegoro, ada rasa lega dan syukur yang tak terhingga. Kami telah menjalani sebuah perjalanan penting, sebuah perjalanan yang bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual. Kini, saatnya kami kembali ke rumah masing-masing, membawa serta amanah dan tanggung jawab baru yang harus dijaga dan dijalankan dengan penuh kesungguhan.

Dalam keheningan malam yang menyelimuti Bojonegoro, kami berpisah satu per satu, dengan hati yang siap untuk melanjutkan perjuangan ini. Malam itu, di bawah langit yang cerah, kami membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga sebuah komitmen untuk terus berjuang demi agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Kenangan dan Refleksi di Ujung Perjalanan

Saat roda bus berhenti di depan Kantor PCNU Bojonegoro, rasa kelegaan bercampur dengan keharuan menyelimuti hati kami. Malam semakin larut, tetapi semangat kami masih membara. Satu per satu dari kami turun dari bus, membawa tas kecil yang mungkin tak sebanding dengan beban tanggung jawab yang kini ada di pundak masing-masing.

Di antara sisa-sisa percakapan, terselip rasa syukur yang mendalam atas kelancaran perjalanan hari itu. Kami saling berpamitan dengan penuh hormat, sambil menukar senyuman yang seolah mengisyaratkan bahwa ini bukanlah akhir, melainkan sebuah awal dari tugas besar yang menanti di hari-hari mendatang.

Kami semua sadar bahwa apa yang telah kami lalui bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang memperkaya batin dan meneguhkan niat. Setiap langkah yang kami ambil di Jombang, setiap doa yang kami panjatkan di makam para muassis NU, dan setiap keputusan yang diambil dalam Konferwil, semuanya adalah bagian dari sebuah perjalanan besar dalam menjaga dan melanjutkan perjuangan para ulama.

Ketika saya melangkah meninggalkan kantor, dinginnya angin malam Bojonegoro menyambut dengan lembut. Meski lelah, ada ketenangan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya merasa bahwa perjalanan ini telah memberikan saya lebih dari sekadar pengalaman, tetapi juga sebuah keyakinan yang lebih dalam akan pentingnya menjaga dan meneruskan warisan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Langit Bojonegoro yang gelap kini tampak lebih cerah di mata saya. Dalam kesendirian malam itu, saya merenungkan apa yang telah kami capai dan apa yang masih harus dilakukan. Gus Kikin telah terpilih sebagai Ketua PWNU Jatim, dan ini berarti sebuah babak baru dalam sejarah NU Jawa Timur telah dimulai. Tugas kami kini adalah mendukung kepemimpinan beliau dan terus berjuang bersama-sama untuk mewujudkan visi besar yang telah digariskan oleh para pendiri NU.

Di perjalanan pulang menuju rumah, saya tak henti-hentinya memikirkan tanggung jawab yang harus saya emban sebagai bagian dari organisasi ini. Saya ingat kembali percakapan dengan para kiyai, gurauan hangat di dalam bus, serta keseriusan dalam setiap sidang yang kami ikuti. Semua itu mengajarkan saya bahwa kebersamaan dan persatuan adalah kunci utama dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada.

Ketika akhirnya saya tiba di rumah, keheningan kampung terasa menenangkan. Saya tahu bahwa tugas saya belum selesai; justru ini adalah saatnya untuk mulai menerapkan semua pelajaran yang saya dapatkan. Dengan penuh keyakinan, saya berdoa agar Allah SWT memberi kekuatan dan kebijaksanaan kepada kami semua untuk menjalankan amanah ini dengan baik.

Malam itu, dalam keheningan yang menyelimuti kampung, saya menutup hari dengan doa dan harapan yang tulus. Perjalanan kami mungkin telah selesai, tetapi perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama, saya bertekad untuk terus melangkah di jalan yang telah dirintis oleh para pendiri, dengan semangat yang tak pernah padam dan hati yang selalu terpaut kepada Allah SWT.

Perjalanan hari itu adalah sebuah kenangan yang akan selalu terpatri dalam ingatan, sebuah perjalanan yang mengingatkan saya bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil dalam melayani umat adalah bagian dari langkah besar dalam menjaga dan melanjutkan perjuangan para ulama. Dengan hati yang penuh syukur, saya siap untuk melangkah ke depan, membawa semangat dan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

*Catatan Sebuah perjalanan Khidmah Seorang Santri Ndeso

"Jejak Langkah Menuju Terwujudnya Impian: Kisah Perjuangan Pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo Part III"


Surabaya, Kamis 25 Juli 2024 - Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00, pintu aula acara di Islamic Center Surabaya pun dibuka. Suasana mulai ramai oleh para peserta yang datang dari berbagai daerah, semuanya dengan tujuan yang sama—menandatangani kontrak NPHD yang akan menjadi awal dari perjuangan besar mereka. Registrasi dimulai dengan prosedur yang ketat, diawali dengan scan barcode dan pengisian survei kepuasan pelayanan masyarakat. Seperti orang lain, saya pun mengikuti seluruh prosedur dengan teliti, merasakan setiap langkah sebagai bagian penting dari perjalanan panjang ini.


Setelah beberapa menit berlalu dan saya selesai mengisi survei, saya bergabung dalam antrean untuk menyetorkan beberapa berkas tambahan. Ada sedikit kegelisahan di hati, tetapi saya berusaha tetap tenang. Ketika tiba giliran saya, panitia memeriksa berkas-berkas yang saya bawa dengan cermat. Alhamdulillah, semua dianggap cukup, dan saya dipersilakan memasuki aula tempat acara berlangsung.


Posisi duduk saya sangat strategis, persis di depan panggung, pada barisan meja kedua dari depan. Ini adalah tempat yang tepat untuk menyimak dengan seksama segala arahan dan pembinaan yang akan disampaikan. Sementara itu, Pak Sigit tetap berada di luar, bersiaga menerima instruksi jika ada kelengkapan tambahan yang diperlukan. Kami sudah berkomitmen untuk memastikan segala sesuatunya berjalan lancar tanpa hambatan.


Acara pun dimulai dengan berbagai pembinaan dari Biro Pemprov Jatim mengenai pengelolaan dana hibah. Di antara banyaknya arahan yang disampaikan, satu dawuh yang sangat ditekankan adalah, "Dana Hibah harus digunakan sesuai dengan NPHD yang sudah ditandatangani." Kata-kata ini terngiang di benak saya, mengingatkan akan tanggung jawab besar yang harus saya pikul sebagai Ketua MWCNU Margomulyo.


Setelah sesi pembinaan selesai, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu—penandatanganan kontrak NPHD. Namun, di sinilah drama sebuah perjuangan dimulai kembali. Saat giliran saya tiba, Mas Wykan dari Tim Biro Pemprov Jatim mulai memeriksa berkas-berkas yang saya bawa. Sayangnya, paket berkas yang sebelumnya saya kirim ternyata belum sampai ke tangannya. Rasanya seperti mendengar kabar buruk di tengah situasi yang sudah cukup menegangkan.


Untungnya, saya sudah mempersiapkan duplikat berkas-berkas dan kelengkapan lainnya. Satu per satu berkas mulai diperiksa oleh Mas Wykan. Mulai dari stempel dan tanda tangan basah pada dokumen Surat Keterangan Domisili, rekening asli atas nama MWCNU Margomulyo, identitas asli ketua dan bendahara, hingga SK sebagai pengurus MWCNU, semuanya sudah dianggap beres. Saya mulai merasa lega, setidaknya hingga saat itu.


Namun, ketika Mas Wykan memeriksa legalitas tanah atau sertifikat tanah milik MWCNU, ketegangan kembali menyelimuti. Menurutnya, ada sesuatu yang tidak sesuai. Sertifikat tanah masih atas nama pemilik sebelumnya, bukan MWCNU Margomulyo. Bukti sah yang saya lampirkan berupa pernyataan dari penjual, Pak Iswahyudi, yang ditulis tangan, dianggap oleh Mas Wykan sebagai sesuatu yang tidak cukup valid. Meskipun pada halaman belakangnya sudah dibubuhi tanda tangan kepala desa, kepala dusun, RT, RW, dan saksi-saksi lainnya dari pengurus MWCNU Margomulyo, pernyataan itu tetap dianggap hanya sebagai hasil rekayasa.


Saat mendengar koreksi dan masukan dari Mas Wykan, perasaan saya benar-benar hancur. Di tengah kelelahan fisik yang sudah memuncak, tuduhan itu terasa seperti petir yang menyambar hati saya. Saya merasa tidak terima, karena dokumen yang saya bawa adalah dokumen resmi yang saya peroleh dari Pemdes Margomulyo. Namun, saya juga menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh Mas Wykan adalah kenyataan dari sakralnya administrasi—sebuah fakta yang mau tidak mau harus saya penuhi.


Setelah beberapa saat mencerna semua koreksi dan masukan, akhirnya saya menyelesaikan simbolis penyerahan berkas dan penandatanganan kontrak NPHD. Dengan hati yang berat namun tetap berusaha tegar, saya bergegas keluar dari ruangan. Sementara itu, Mas Wykan melanjutkan tugasnya, memeriksa berkas-berkas dari peserta berikutnya. Perjuangan kami belum usai, tetapi saya tahu bahwa setiap langkah, betapapun beratnya, adalah bagian dari jalan yang harus ditempuh demi masa depan yang lebih baik bagi MWCNU Margomulyo. 


Setelah saya keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk, saya bergabung kembali dengan Pak Sigit yang sudah menunggu di luar. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sama, tetapi ada juga semangat untuk terus maju. Kami berdua sama-sama paham bahwa perjuangan ini belum selesai, dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan semua revisi dapat dipenuhi dengan sempurna.


Setelah beristirahat sejenak, kami segera berunding untuk langkah-langkah selanjutnya. Kami sadar bahwa masalah sertifikat tanah yang belum dibalik nama ini bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cepat. Namun, semangat untuk terus berjuang demi pembangunan Auditorium MWCNU Margomulyo tetap menyala dalam diri kami. Kami sepakat bahwa langkah pertama adalah segera mengurus balik nama sertifikat tanah tersebut agar sesuai dengan kepemilikan MWCNU Margomulyo. 


Hari-hari berikutnya penuh dengan kesibukan. Kami menghubungi pihak-pihak terkait untuk mempercepat proses balik nama sertifikat. Bersama-sama, kami menyusun strategi agar semua persyaratan administrasi bisa terpenuhi tepat waktu. Tantangan demi tantangan kami hadapi, mulai dari birokrasi yang rumit hingga kebutuhan untuk terus berkoordinasi dengan banyak pihak. Namun, setiap tantangan kami terima dengan tekad yang semakin kuat, mengingat betapa pentingnya proyek pembangunan ini bagi NU Margomulyo.


Akhirnya, setelah kerja keras yang tak kenal lelah, berkas revisi yang diminta oleh Mas Wykan berhasil kami lengkapi. Sertifikat tanah yang belum dibalik nama sesuai dengan pemiliknya yang sah, sementara cukup di lampiri Surat Keterangan Kepala Desa Margomulyo, dan semua persyaratan lain sudah kami penuhi. Dengan keyakinan penuh, kami siap mengirimkan kembali berkas-berkas ini ke Biro Pemprov Jatim, berharap kali ini semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.


Pada akhirnya, semua kerja keras dan pengorbanan ini adalah bukti nyata dari tekad dan dedikasi kami untuk membangun Auditorium MWCNU Margomulyo. Kami percaya bahwa perjuangan ini adalah bagian dari amanah besar yang harus kami jalani dengan sepenuh hati. Meskipun perjalanan ini penuh liku dan rintangan, kami tetap yakin bahwa pada akhirnya, keberkahan dan kesuksesan akan datang menghampiri sebagai buah dari setiap usaha yang telah kami lakukan.


Dengan segala upaya yang telah kami lakukan, kami berharap pembangunan Auditorium ini akan menjadi simbol kekuatan dan persatuan bagi warga NU Margomulyo. Sebuah tempat yang tidak hanya menjadi pusat kegiatan organisasi, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun generasi yang lebih baik di masa depan. Kami berdoa semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah yang kami tempuh, serta memberikan keberkahan bagi setiap usaha yang kami lakukan demi kejayaan umat.


Kisah Part II