Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

Lailatul Ijtima’ MWCNU Margomulyo: Mujahadah Kubro dan Doa Bersama untuk Kesuksesan Dakwah


Margomulyo - Ahad, 13 Oktober 2024, pukul 20.30 hingga 23.00, bertempat di Aula MWCNU Margomulyo, diselenggarakan kegiatan Lailatul Ijtima' yang dihadiri oleh segenap pengurus MWCNU, badan otonom, serta perwakilan dari enam pengurus ranting NU se-Margomulyo. Acara rutin ini menjadi ajang konsolidasi spiritual sekaligus momen berharga untuk memperkuat persatuan dan semangat dakwah di kalangan Nahdliyin.

Acara dibuka oleh Ust. Syaifuddin selaku pembawa acara, yang dengan lugas memandu jalannya kegiatan. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dilantunkan oleh Kiyai Sareh, Ketua Ranting NU Sumberjo, dengan suara penuh keagungan, menandai dimulainya rangkaian ibadah malam itu. Suasana semakin khidmat saat Sahabat Liskin, Ketua Rijalul Ansor Sumberjo, memimpin sholawat bil qiyam. Irama sholawat yang syahdu membuat suasana aula dipenuhi dengan lantunan cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya, Kiyai Rodiyan, Rais Syuriyah Ranting NU Kalangan, memimpin pembacaan tahlil, diikuti dengan penuh penghayatan oleh seluruh hadirin. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani yang dipimpin oleh Kiyai Rosyidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo, memperdalam suasana spiritual yang semakin mendalam pada malam penuh keberkahan itu.

Puncak acara malam itu adalah Mujahadah Kubro yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam muqodimah (pengantar) mujahadahnya, Kiyai Badrun menyampaikan harapan besar agar semua agenda dakwah NU di Margomulyo senantiasa mendapat ridha dan kesuksesan dari Allah SWT. Beliau juga berdoa agar para pengurus NU di seluruh tingkatan, serta seluruh warga Nahdliyin, selalu dijauhkan dari segala macam fitnah dan diberi keselamatan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dalam suasana yang penuh khidmat, mujahadah ditutup dengan doa sembilan Kiyai, yang dipanjatkan secara berurutan. Doa-doa tersebut mengalir dalam keheningan malam, mengundang keberkahan dan rahmat dari Allah SWT bagi seluruh peserta yang hadir, serta bagi seluruh umat Islam di Margomulyo dan sekitarnya.

Kegiatan Lailatul Ijtima' ini menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan spiritual para Nahdliyin dalam merajut solidaritas dan komitmen terhadap perjuangan dakwah, serta memperteguh kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kegiatan Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo pada malam itu tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga forum penguatan ukhuwah dan silaturahmi antara pengurus NU di berbagai tingkatan. Dengan kehadiran para tokoh agama, perangkat organisasi, dan masyarakat, acara ini menegaskan betapa pentingnya peran spiritual dalam menjaga persatuan serta komitmen dakwah di tengah masyarakat.

Mujahadah Kubro, yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, menjadi inti dari malam tersebut, di mana seluruh hadirin larut dalam doa dan zikir yang khusyuk. Pesan yang beliau sampaikan dalam muqodimah menggugah kesadaran para pengurus dan warga NU bahwa tantangan dakwah di era ini memerlukan kekuatan spiritual yang kokoh, serta kebersamaan dalam setiap langkah perjuangan. Harapan agar semua agenda dakwah NU di Margomulyo sukses, dan agar semua pengurus dijaga dari berbagai fitnah, disambut dengan penuh rasa syukur dan kesadaran akan pentingnya peran mereka dalam menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama'ah.

Penutupan dengan doa sembilan Kiyai menambah kekhidmatan acara. Doa yang dipanjatkan secara bergantian oleh para ulama ini membawa harapan besar untuk kedamaian, keberkahan, dan kemajuan dakwah NU di wilayah Margomulyo. Setiap bait doa dipenuhi dengan harapan agar Allah SWT selalu melindungi umat-Nya dari segala mara bahaya, memberikan kekuatan dalam menjalankan tugas dakwah, dan menganugerahkan keberkahan dalam setiap langkah.

Lailatul Ijtima' ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan-kegiatan spiritual seperti mujahadah tidak hanya memperkuat hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga mempererat hubungan horizontal antar sesama umat, khususnya dalam bingkai organisasi Nahdlatul Ulama. Dengan semangat kebersamaan dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan dalam setiap aktivitas, NU di Margomulyo terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun dakwah.

Kegiatan ini diakhiri dengan suasana penuh kehangatan dan persaudaraan, para jamaah meninggalkan aula dengan hati yang tenteram dan semangat baru untuk terus berjuang di jalan Allah. Lailatul Ijtima' menjadi tonggak penting dalam menjaga keberlanjutan dakwah NU di Margomulyo, sekaligus menjadi momen refleksi untuk terus memperkuat peran umat dalam menghadapi dinamika zaman.

Pengajian Rutin Malam Sabtu Pahing di Masjid Baiturrohman: Menggali Tiga Hal yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya

Ketua MWCNU Margomulyo
Margomulyo - Jumat, 11 Oktober 2024, mulai pukul 20.30 hingga 23.00 WIB, jamaah Masjid Baiturrohman Tepus, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, berkumpul untuk mengikuti pengajian rutin malam Sabtu Pahing. Acara yang telah menjadi tradisi setiap selapan atau tiga puluh lima hari dalam penanggalan Jawa ini selalu disambut dengan antusias oleh masyarakat setempat. Pengajian kali ini dihadiri oleh segenap jamaah Masjid Baiturrohman, perangkat dusun, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari badan otonom Nahdlatul Ulama (NU).

Pengajian dimulai dengan pembacaan Yasin Fadhilah yang dipimpin oleh Abdul Ghofur, Satkoryon Banser Margomulyo. Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti masjid saat ayat-ayat suci Al-Qur'an bergema, diikuti dengan lantunan Tahlil, yang kali ini dipimpin oleh Kiyai Jumari, Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Pembacaan Yasin dan Tahlil yang selalu menjadi pembuka acara ini menunjukkan kedekatan umat dengan tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim.

Acara pengajian ini diinisiasi oleh warga Dusun Tepus, khususnya para jamaah Masjid Baiturrohman, yang terus berupaya menjaga semangat kebersamaan dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di lingkungannya. Mereka menjadikan kegiatan ini sebagai wadah silaturahmi dan pengingat akan pentingnya memperdalam ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari.

Puncak acara adalah Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema yang sangat relevan, yaitu "Tiga Hal yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya." Kiyai Badrun dengan santai menjelaskan, “Ada tiga hal yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu: Shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan berjuang menyebarkan syiar agama Allah.”

Kiyai Badrun menguraikan pentingnya menjaga shalat tepat waktu sebagai tanda ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT. "Shalat yang dilaksanakan dengan disiplin waktu bukan hanya soal rutinitas, tetapi juga tentang mendekatkan diri kepada Allah secara konsisten," jelasnya. Beliau juga menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, yang merupakan bentuk amal sholeh yang besar pahalanya di sisi Allah. "Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua," tambahnya.

Terakhir, Kiyai Badrun mengajak jamaah untuk terus berjuang menyebarkan syiar agama, baik melalui dakwah maupun perbuatan yang menunjukkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. "Kita harus bangkit dan terus berjuang untuk menegakkan syiar Islam, meskipun tantangan zaman semakin berat," pesannya.

Selain membahas tiga hal yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, Kiyai Badrun juga memaparkan pentingnya pemberdayaan wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat sebagai topik penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Beliau menjelaskan bahwa wakaf, jika dikelola secara tepat, dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan umat dan memperkuat perekonomian masyarakat Islam.

"Wakaf bukan hanya sekadar amal ibadah yang terbatas pada tanah atau bangunan, tetapi bisa berbentuk wakaf produktif, seperti uang atau aset lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk membangun sektor ekonomi umat," ujar Kiyai Badrun. Beliau menekankan bahwa pengelolaan wakaf yang baik dapat mendukung pembiayaan kegiatan sosial, pendidikan, bahkan usaha-usaha produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Dalam kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi umat, Kiyai Badrun mengajak para jamaah untuk mulai berpikir secara kolektif dan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka. Menurut beliau, umat Islam harus mandiri secara ekonomi dengan menggalakkan usaha-usaha kecil dan menengah yang berbasis syariah serta memperkuat ukhuwah ekonomi. “Pemberdayaan ekonomi umat harus dimulai dari lingkungan kita sendiri, dengan semangat kemandirian, kita bisa menciptakan perubahan besar yang membawa keberkahan bagi semua,” tegasnya.

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, ulama, dan badan otonom NU untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis keumatan, sehingga kesejahteraan yang dicapai bukan hanya bersifat individu, tetapi kolektif, sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan sosial dalam Islam.

Acara pengajian malam itu ditutup dengan doa bersama, yang memohon keberkahan dan kemudahan dalam menjalankan ajaran agama Islam di tengah kehidupan sehari-hari. Jamaah pun pulang dengan hati yang lebih tenang dan semangat untuk terus memperbaiki diri dalam menggapai ridha Allah SWT.

"Pengajian Kamis Kliwon: Keutamaan Ibadah Sunah dan Pemberdayaan Ekonomi Umat"


Margomulyo, 10 Oktober 2024 – Pengajian rutin Kamis Kliwon yang digelar di Aula MWCNU Margomulyo pada hari Kamis, 10 Oktober 2024, berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Acara ini dimulai pukul 09.30 WIB dan berlangsung hingga 11.45 WIB. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Margomulyo dan dihadiri oleh segenap jajaran PAC serta enam Pengurus Ranting Muslimat NU se-Anak Cabang Margomulyo.

Dalam sambutannya, Ketua PAC Muslimat NU Margomulyo, Maslahah, S.Ag., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya acara tersebut. "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia dan jajaran pengurus yang telah bekerja keras demi terselenggaranya acara ini. Semoga kegiatan ini membawa berkah dan manfaat bagi kita semua," ujar Maslahah.

Pengajian rutin Kamis Kliwon ini merupakan agenda bulanan yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi serta meningkatkan pemahaman keagamaan di kalangan anggota Muslimat NU. Acara ini juga menjadi wadah untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam beribadah dan berorganisasi, dengan harapan mampu memperkuat peran Muslimat NU dalam kehidupan sosial keagamaan di Margomulyo.

Kegiatan berjalan dengan lancar, ditutup dengan doa bersama dan harapan agar keberkahan senantiasa menyertai seluruh umat Muslim, khususnya para anggota Muslimat NU yang terus berkiprah di tengah masyarakat.

Acara puncak dari Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini adalah Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh Kyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyahnya, Kyai Badrun mengangkat tema Keutamaan Ibadah Sunah, yang disampaikan dengan penuh hikmah dan keteladanan.

Beliau menekankan pentingnya melaksanakan ibadah-ibadah sunah sebagai pelengkap dan penyempurna ibadah wajib. "Ibadah sunah tidak hanya menambah pahala, tapi juga menjadi wujud cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan mengamalkan sunah, kita memperkuat kedekatan kepada Allah dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Kyai Badrun.

Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa ibadah sunah seperti salat Dhuha, Tahajud, puasa Senin-Kamis, serta zikir dan sedekah rutin, memiliki nilai-nilai spiritual yang mendalam. Ibadah-ibadah ini, menurut Kyai Badrun, dapat mendatangkan rahmat Allah, memudahkan segala urusan, dan menjadi perisai dari berbagai kesulitan hidup.

Pesan-pesan Kyai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk tidak meremehkan ibadah sunah, karena meskipun bersifat tidak wajib, keutamaannya sangat besar di sisi Allah. Tausiyah ini mendapatkan perhatian penuh dari jamaah yang hadir, dengan harapan dapat meningkatkan semangat beribadah dan memperbaiki kualitas spiritual masing-masing.

Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama, dipimpin langsung oleh Kyai Badrun, yang memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam melaksanakan ibadah, baik wajib maupun sunah.

Selain membahas keutamaan ibadah sunah, Kyai Badrun juga mengangkat isu penting yang relevan dengan kondisi umat, yaitu pemberdayaan wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat. Beliau menjelaskan bahwa wakaf memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai salah satu pilar ekonomi umat Islam, namun sayangnya, masih banyak yang belum memaksimalkannya.

"Wakaf bukan hanya sekadar ibadah yang mendatangkan pahala jariyah, tetapi juga bisa menjadi instrumen penting untuk memberdayakan ekonomi umat jika dikelola dengan baik. Tanah, bangunan, atau harta yang diwakafkan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas, seperti pembangunan sarana pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi produktif," jelas Kyai Badrun.

Beliau mencontohkan bagaimana banyak lembaga Islam dan pondok pesantren yang sukses memanfaatkan aset wakaf untuk mendukung berbagai usaha ekonomi yang menguntungkan, baik di sektor pertanian, perdagangan, maupun usaha mikro. "Dengan manajemen yang profesional, wakaf dapat menjadi sumber pendanaan yang berkelanjutan bagi masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal," tambahnya.

Terkait pemberdayaan ekonomi umat, Kyai Badrun juga menekankan pentingnya solidaritas dan gotong royong dalam membangun ekonomi berbasis jamaah. Beliau mendorong para jamaah untuk lebih aktif dalam mengembangkan usaha-usaha kecil dan menengah di lingkungan mereka, dengan semangat kemandirian ekonomi yang selaras dengan prinsip syariah.

"Islam mengajarkan kita untuk selalu berusaha, bekerja keras, dan berdikari. Dengan semangat ini, kita bisa membantu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat," ungkapnya. Beliau juga mengingatkan agar setiap usaha yang dilakukan selalu dibarengi dengan kejujuran, amanah, dan ketakwaan, agar keberkahan selalu menyertai.

Pesan-pesan Kyai Badrun tentang wakaf dan pemberdayaan ekonomi umat disambut baik oleh para hadirin, yang diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk lebih memanfaatkan potensi yang ada dalam masyarakat demi kesejahteraan bersama.

Setelah menyampaikan paparan terkait pemberdayaan wakaf dan ekonomi umat, Kyai Badrun juga mengajak para jamaah untuk mulai mengambil langkah nyata dalam memajukan perekonomian di lingkungan mereka. Beliau menekankan bahwa selain dari sisi ibadah, umat Islam juga harus mampu membangun kemandirian ekonomi agar bisa memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

"Saat ini, kita dihadapkan pada tantangan ekonomi global, dan umat Islam perlu bersatu dalam mengatasi tantangan ini dengan cara yang sesuai syariah. Salah satunya adalah melalui sinergi dalam membangun usaha-usaha berbasis wakaf dan ekonomi mikro. Mari kita jadikan wakaf sebagai salah satu solusi strategis dalam meningkatkan kesejahteraan umat," kata Kyai Badrun dengan semangat.

Beliau juga menekankan pentingnya pendidikan ekonomi syariah di kalangan umat, agar setiap orang dapat memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip ekonomi Islam dengan baik. "Pendidikan ini penting, terutama dalam memahami bagaimana wakaf dan instrumen keuangan Islam lainnya, seperti zakat, infak, dan sedekah, bisa diberdayakan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat."

Kyai Badrun menutup Mauidzoh Hasanah dengan mengajak semua jamaah untuk terus meningkatkan komitmen dalam mendukung pemberdayaan ekonomi umat dan pengelolaan wakaf secara profesional. Beliau berpesan agar semua elemen masyarakat, termasuk Muslimat NU, bisa berperan aktif dalam mewujudkan ekonomi umat yang mandiri dan berkeadilan.

Setelah tausiyah berakhir, para jamaah terlihat antusias mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk memajukan pengelolaan wakaf di daerah mereka. Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Badrun, memohon kepada Allah agar segala ikhtiar dalam memberdayakan umat, baik melalui ibadah, wakaf, maupun usaha ekonomi, selalu diridhoi dan diberikan keberkahan.

Dengan semangat kebersamaan, acara Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini berjalan sukses dan membawa pesan-pesan penting untuk penguatan spiritual dan ekonomi umat di lingkungan PAC Muslimat NU Margomulyo.

"Istiqomah dalam Khidmah: Menebar Cahaya Islam di Bumi Margomulyo"

Margomulyo, 6 Oktober 2024 – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Margomulyo kembali menggelar kegiatan rutin Naharul Ijtima' pada hari Ahad Legi, 6 Oktober 2024. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus NU Ranting Margomulyo serta perwakilan dari berbagai badan otonom di bawah naungan NU.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota serta membahas berbagai hal terkait peningkatan peran aktif dalam organisasi. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang untuk menguatkan komitmen para anggota dalam mengamalkan ajaran Islam ala Nahdlatul Ulama di tingkat ranting.

Acara ditutup dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah Ranting NU Margomulyo, Kiyai Wadarrohim. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk tetap istiqomah dalam kebaikan dan senantiasa berkhidmat di jam'iyyah NU. Beliau juga menekankan pentingnya peran aktif jamaah dalam mensyiarkan agama Allah melalui kegiatan-kegiatan NU, terutama di tingkat ranting.

Kiyai Wadarrohim menyampaikan pesan mendalam bahwa keberhasilan syiar Islam sangat bergantung pada komitmen seluruh jamaah untuk terlibat dan berperan aktif di dalam organisasi. "Mari kita jaga semangat kebersamaan ini dan terus berkhidmat untuk agama dan bangsa melalui jam'iyyah Nahdlatul Ulama," ujarnya menutup acara.

Kegiatan Naharul Ijtima' ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan semangat berorganisasi dan berkhidmat di kalangan warga NU Margomulyo, dengan harapan dapat terus membawa keberkahan dan manfaat bagi masyarakat luas.

Kegiatan ini juga diisi dengan berbagai agenda penting yang mendukung penguatan ukhuwah antar anggota NU di Ranting Margomulyo. Salah satu hal yang ditekankan dalam pertemuan kali ini adalah perlunya kontinuitas dalam menjalankan program-program keagamaan dan sosial yang sudah direncanakan oleh pengurus. Dalam suasana yang penuh khidmat, para jamaah mendiskusikan beberapa inisiatif baru yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan umat, khususnya dalam kegiatan keagamaan di tingkat ranting.

Kiyai Wadarrohim dalam tausiyahnya juga mengingatkan jamaah untuk selalu menjaga niat dalam berkhidmat di jalan Allah. "Istiqomah itu berat, namun dengan niat yang lurus dan kebersamaan, insya Allah kita akan dimudahkan dalam setiap langkah," tegasnya. Beliau mengajak seluruh anggota NU untuk senantiasa menanamkan niat ikhlas dalam setiap aktivitas dan terus memperjuangkan syiar Islam melalui kegiatan NU.

Suasana hangat dan penuh persaudaraan terasa sepanjang acara. Dengan dukungan dari berbagai badan otonom, kegiatan Naharul Ijtima' ini diharapkan mampu menjadi penggerak bagi warga NU untuk terus mengembangkan diri dan berperan lebih aktif dalam kegiatan sosial-keagamaan di tengah masyarakat.

Melalui acara ini, pengurus NU Ranting Margomulyo berharap agar semangat kebersamaan dan khidmah di kalangan jamaah dapat semakin kuat, serta mampu menjadi contoh bagi ranting-ranting NU lainnya dalam menjaga amanah dan memajukan syiar Islam di wilayah masing-masing.


Kontributor: Santoso
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' di Masjid Mambaul Khoiriyah: Memperkuat Tali Silaturahmi dan Ke-NU-an

Sumberejo, 5 Oktober 2024 – Kegiatan rutin Malam Ahad Legi kembali digelar di Masjid Mambaul Khoiriyah, dusun Singgih, desa Sumberejo, kecamatan Margomulyo. Acara ini menjadi saksi pentingnya menjaga ke-NU-an dengan mempererat tali silaturahmi antara warga Nahdlatul Ulama (NU) beserta badan otonomnya (BANOM), tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat. 


Pengajian rutin Lailatul Ijtima' dzikir dan sholawat ini berlangsung dengan khidmat pada hari Sabtu, 5 Oktober 2024, dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan dibuka oleh Ust. Tamam sebagai pembawa acara, yang dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Wakijan. Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti jamaah saat melantunkan dzikir dan sholawat mahalul qiyam yang dipimpin oleh Ust. Liskin.


Kiyai sareh mengawali sambutan, dalam sambutannya kali ini tak lupa beliau mengucapkan terimakasih kepada segenap warga NU Sumberjo yang telah berperan aktif dalam terlaksananya acara Lailatul Ijtima' NU ranting Sumberjo.

Selain itu, sambutan dari K. Rosidi Rais MWCNU Margomulyo menekankan pentingnya menjaga dan merawat NU, serta berkomitmen untuk berkhidmat kepada NU dengan niat menuntut ilmu, membela agama, dan bekerja keras. Beliau juga memaparkan dua poin penting tentang penguatan ukhuwah Islamiyyah yang harus dilakukan dengan penuh semangat.

Acara puncak pengajian kali ini adalah Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh Gus Imam Hanafi sebagai Sohibul bait. Dalam tausiyahnya, Gus Imam Hanafi membahas berbagai hal penting, di antaranya tentang ilmu fiqih, khususnya cara mensucikan kulit dari najis. 

Kegiatan pengajian ini mendapat dukungan penuh dari warga NU dan badan otonomnya. Antusiasme jamaah terlihat jelas dari kehadiran yang memenuhi Masjid Mambaul Khoiriyah, mencerminkan semangat kebersamaan dan keinginan untuk terus memperdalam ilmu agama.


Dengan diadakannya pengajian rutin seperti ini, diharapkan dapat memperkuat tali silaturahmi antarwarga serta meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan manfaat besar bagi seluruh masyarakat Dusun Singgih, Desa Sumberejo, Kecamatan Margomulyo.

Pengajian rutin Lailatul Ijtima' di Masjid Mambaul Khoiriyah Dusun Singgih, Desa Sumberejo, telah memberikan dampak positif bagi seluruh jamaah yang hadir. Melalui dzikir, sholawat, dan tausiyah yang disampaikan oleh para ulama, kegiatan ini berhasil mempererat tali silaturahmi antar warga dan memperkuat komitmen dalam berkhidmat di jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Pesan penting mengenai pentingnya menjaga ke-NU-an, memperdalam ilmu agama, dan mengamalkan ajaran Islam dengan istiqomah telah menjadi inspirasi bagi semua peserta.

Antusiasme warga NU serta dukungan badan otonomnya semakin menunjukkan semangat kebersamaan dalam melestarikan tradisi keagamaan di lingkungan masyarakat. Pengajian seperti ini diharapkan terus menjadi wadah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyyah, memperdalam pemahaman agama, dan meningkatkan semangat kebersamaan di tengah umat, sehingga mampu menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan berkah di Desa Sumberejo dan sekitarnya.


Kontributor: Turmudzi
Editor: Tim CyberMWCNU

"Urgensi Maulid Nabi dalam Mengurai Cahaya Dakwah di Kalangan: Merajut Kebersamaan dalam Naharul Ijtima'"

(Mauidzoh Hasanah: Kiyai badrun)
Kalangan - Kamis, 26 September 2024, kegiatan Naharul Ijtima' NU Ranting Kalangan berlangsung dengan khidmat di kediaman Bapak Suparno, Dusun Bandung, Desa Kalangan, mulai pukul 13.00 hingga 15.30. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus Ranting NU Kalangan, Badan Otonom NU, serta Takmir Masjid dan Musholla se-Desa Kalangan. Kehadiran para tokoh NU Kalangan memberikan suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.

Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Rodhiyan, Rais Syuriyah NU Ranting Kalangan. Suara doa mengalun khusyuk, mengajak seluruh hadirin untuk merenungkan makna kehidupan dan mempertebal keimanan kepada Allah SWT.

Selanjutnya, Kiyai Parno, selaku Ketua Ranting NU Kalangan sekaligus tuan rumah acara, menyampaikan sambutan. Beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga NU Kalangan atas partisipasi aktif mereka dalam menyukseskan berbagai agenda dakwah Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) di Desa Kalangan. Dalam sambutannya, Kiyai Parno menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong dalam membangun dan mengembangkan dakwah Aswaja di tingkat desa.

Puncak acara diisi dengan Mauidzoh Hasanah oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, yang mengangkat tema "Urgensi Maulid Nabi dalam Meneguhkan Dakwah Islam Aswaja." Dalam ceramahnya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya momentum Maulid Nabi sebagai sarana memperkuat dakwah Islam yang berlandaskan nilai-nilai Aswaja. “Dakwah itu semampunya, bukan semaunya,” ujar Kiyai Badrun dengan tegas, mengingatkan bahwa dakwah harus dijalankan dengan niat tulus dan penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dakwah bukan hanya tentang menjadi pengurus, tetapi lebih kepada mengurusi umat dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Pesan ini menekankan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menyebarkan kebaikan, tanpa harus menunggu jabatan atau posisi formal dalam struktur organisasi.

Acara ditutup dengan doa bersama, mengharapkan keberkahan dan kelancaran dalam setiap kegiatan dakwah di Desa Kalangan. Para jamaah pun pulang dengan semangat baru untuk terus mendukung dan memperkuat dakwah Islam di tengah masyarakat.

Setelah ceramah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun, para jamaah yang hadir tampak antusias, merasa termotivasi oleh pesan-pesan penuh makna yang beliau sampaikan. Diskusi-diskusi kecil pun mulai muncul di antara peserta, membahas pentingnya peran setiap warga NU dalam menjaga keberlanjutan dakwah Aswaja di Desa Kalangan.

Acara Naharul Ijtima' ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kekompakan di antara para pengurus NU, Badan Otonom, serta para takmir masjid dan musholla. Rasa gotong royong yang telah lama menjadi nilai luhur dalam masyarakat Desa Kalangan semakin terasa nyata di setiap kegiatan keagamaan yang digelar.

Sebagai penutup, Kiyai Parno kembali menyampaikan harapannya agar semangat dakwah yang telah tumbuh ini dapat terus dipupuk dan dikembangkan. Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk selalu menjaga kekompakan dan kebersamaan, karena tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat, dakwah Aswaja tidak akan dapat berjalan maksimal.

Kegiatan ini memberikan inspirasi bagi seluruh hadirin untuk terus berperan aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial di desa mereka. Semangat untuk menjalankan dakwah "semampunya" dan tidak hanya berfokus pada posisi formal menjadi pesan penting yang dibawa pulang oleh para jamaah. Dengan semangat Maulid Nabi yang semakin dekat, harapan besar muncul agar perayaan Maulid tahun ini mampu menjadi momen penguatan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat Kalangan.

Kegiatan Naharul Ijtima' pun diakhiri dengan penuh kesyukuran, diiringi dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan harapan keberkahan bagi seluruh warga Desa Kalangan dan kelancaran dalam setiap upaya dakwah yang mereka jalankan.


Kontributor: Sholeh.
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri: Refleksi Pergerakan Dakwah Aswaja dan Upaya Pencegahan Pernikahan Dini

(Kiyai Rosyidi Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo)

Meduri - Pada Ahad malam, 22 September 2024, mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri berlangsung khidmat di Masjid Baitul Iman, Dusun Pleret, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus Ranting NU Meduri, Badan Otonom NU, warga Dusun Pleret, perangkat desa, RT, RW, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.

Acara diawali dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh Ustadz Lismanto. Kehadiran tahlil ini tidak hanya menandai pembukaan acara, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kebersamaan dan spiritualitas warga. Kasun Dusun Pleret Sumariningsih, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam terhadap keberlangsungan kegiatan Lailatul Ijtima' ini. "Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga silaturahmi dan mempererat ikatan warga dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Aswaja)," ujarnya.

Ketua Ranting NU Meduri, Eko Sunarno, dalam sambutannya menguraikan peran penting struktur pengurus NU di tingkat ranting dalam mengawal dakwah Aswaja di Desa Meduri. Ia menegaskan bahwa ranting merupakan benteng utama dalam menjaga keutuhan ajaran Aswaja dari berbagai tantangan zaman. Selain itu, Eko juga menyoroti upaya pencegahan pernikahan dini yang saat ini menjadi perhatian serius. “Pencegahan pernikahan dini adalah tanggung jawab bersama, baik dari pihak keluarga, masyarakat, maupun pemerintah. Melalui edukasi, kita harus memastikan masa depan generasi muda lebih baik,” tegasnya.

Sebagai puncak acara, Kyai Rosidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo, menyampaikan mauidhoh hasanah yang berisi uraian mendalam tentang rukun khutbah dan keutamaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam tausiyahnya, Kyai Rosidi menjelaskan bahwa memahami dan mengamalkan rukun khutbah merupakan bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan ibadah Jumat yang lebih sempurna. Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk merenungkan kelahiran Rasulullah sebagai momentum memperkuat cinta kepada Nabi, dengan cara meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

( Ketua Ranting NU Meduri Eko Sunarno)

Suasana malam itu di Masjid Baitul Iman terasa penuh kehangatan. Kebersamaan para jamaah, mulai dari pengurus Ranting NU, Badan Otonom, hingga warga setempat, mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang kuat di Dusun Pleret. Lailatul Ijtima' bukan hanya sekadar forum ibadah dan pengajian, tetapi juga menjadi ruang berkumpul bagi warga untuk berdiskusi dan saling mendukung dalam berbagai persoalan sosial dan keagamaan.

Pesan yang disampaikan oleh Ketua Ranting NU, Eko Sunarno, tentang pentingnya struktur organisasi Ranting NU dan pencegahan pernikahan dini, mendapat perhatian serius dari jamaah. Hal ini menunjukkan betapa vital peran pengurus ranting dalam menjaga tatanan sosial dan nilai-nilai Aswaja di tengah masyarakat. Tidak hanya mengawal dakwah, NU juga aktif berperan dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di masyarakat, seperti isu pernikahan dini yang sering kali menimbulkan dampak negatif bagi masa depan generasi muda.

(Do'a oleh Kiyai Kartin)

Doa yang dipimpin oleh Kyai Kartin menutup malam penuh berkah tersebut dengan suasana khidmat. Seluruh jamaah merasakan kedamaian dan keberkahan yang menyelimuti Lailatul Ijtima' malam itu. Harapan-harapan pun terlantun dalam doa, baik untuk kemaslahatan umat, kedamaian masyarakat, maupun keberlangsungan dakwah NU di Desa Meduri.

Setelah acara berakhir, banyak jamaah yang masih tinggal untuk berdiskusi dan berbincang ringan, mempererat tali persaudaraan antarwarga. Lailatul Ijtima' kali ini bukan hanya sekadar acara rutin, tetapi juga menjadi ajang memperkuat solidaritas, sekaligus menyadarkan akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh ajaran Aswaja.

Acara ini juga diharapkan menjadi inspirasi untuk terus menggerakkan kegiatan keagamaan yang positif, baik untuk penguatan spiritual maupun sosial. Dengan semangat Aswaja, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri terus berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga persatuan, serta mengukuhkan peran NU dalam menghadapi tantangan zaman.


Kontributor: Eko.
Editor: Tim CyberMWCNU

Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo: Menggugah Spirit, Meraih Berkah

Margomulyo - Sabtu, 14 September 2024, aula MWCNU Margomulyo dipenuhi oleh cahaya iman dan harapan dalam rangkaian acara Lailatul Ijtima'. Kegiatan dimulai pada pukul 21.00 dan berlangsung hingga menjelang tengah malam, pukul 23.45, menjadikan suasana malam tersebut penuh dengan keberkahan dan doa.

Lailatul Ijtima' kali ini menonjolkan doa bersama yang mendalam, fokus pada keselamatan umat dan penguatan spiritual. Jajaran pengurus MWCNU Margomulyo, seluruh ranting, dan badan otonom NU hadir dengan penuh khidmat, menyatukan suara dan hati dalam setiap ibadah yang dilaksanakan.

Acara dimulai dengan Sholawat Bilqiyam, yang dipimpin oleh Ustadz Syaifuddin, Wakil Ketua MWCNU Margomulyo. Suara merdu sholawat menyebar ke segenap penjuru aula, mengisi ruangan dengan getaran spiritual yang dalam. Selanjutnya, acara diisi dengan Tahlil, yang dipimpin oleh Kiyai Paniran, Rais Syuriyah NU Ranting Ngelo. Tahlil malam itu menyentuh relung hati, menambah kekhusyukan para hadirin.

Pembacaan Manakib Jawahirul Ma'ani dilanjutkan oleh Kiyai Rosyidi, Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo. Suara beliau membawakan sejarah dan keutamaan para aulia dengan khidmat, menambah kedalaman acara. Puncak dari acara adalah Mujahadah yang dipimpin oleh Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam mujahadah ini, Kiyai Badrun mengingatkan kita akan pentingnya memperbanyak diskusi dengan Allah SWT melalui media mujahadah, terutama di era yang penuh fitnah ini. Pesan beliau menjadi peneguh semangat, mengajak kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Acara ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh sembilan Kiyai dari enam ranting NU dan MWCNU secara berurutan. Doa-doa tersebut mengalir dalam kesatuan, mengharapkan rahmat dan hidayah Allah untuk umat, serta keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo malam itu adalah sebuah perayaan spiritual yang mendalam, menghubungkan setiap hati dengan doa dan harapan, mengukuhkan komitmen bersama dalam membangun keberkahan. Semoga setiap doa yang dipanjatkan malam itu diterima dan membawa manfaat bagi kita semua.

Suasana khusyuk semakin terasa ketika gema doa bersama sembilan Kiyai mengalun lembut, membawa setiap jiwa dalam harmoni spiritual. Setiap rangkaian doa terasa menyelami hati para hadirin, seolah menggugah kembali kesadaran akan betapa pentingnya kebersamaan dalam menjaga umat dan menghadapi tantangan zaman.

Lailatul Ijtima' ini tidak hanya menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi dan penyegaran spiritual bagi seluruh peserta. Kehadiran para tokoh NU dari berbagai ranting dan badan otonom menegaskan betapa kuatnya ikatan ukhuwah di antara mereka, meski dalam situasi dunia yang semakin kompleks. Kebersamaan yang tercipta malam itu menjadi simbol persatuan, seiring dengan lantunan doa yang tiada henti.

Harapan besar disampaikan dalam setiap mujahadah, seiring dengan pesan Kiyai Badrun yang begitu mendalam. "Diskusi dengan Allah SWT melalui mujahadah adalah cara kita bertahan di tengah guncangan fitnah dunia. Dengan mujahadah, kita tak hanya meminta, tapi merasakan kehadiran-Nya di setiap langkah kita," ucap beliau dengan tegas namun lembut. Pesan ini seakan menjadi penuntun agar setiap insan senantiasa mengingat pentingnya memperbanyak munajat di tengah ujian zaman.

Saat acara mencapai penghujung, tampak wajah-wajah penuh kelegaan dan ketenangan. Doa terakhir yang dipimpin secara berurutan oleh para Kiyai menjadi penutup yang sempurna, seolah seluruh peserta Lailatul Ijtima' mendapatkan pelukan rahmat dari Sang Pencipta. Rasa syukur dan harapan pun membuncah, membawa pulang doa-doa itu ke dalam kehidupan sehari-hari, agar tetap menjadi cahaya penuntun di masa depan.

Kegiatan Lailatul Ijtima' MWCNU Margomulyo ini menjadi pengingat, bahwa meski zaman terus berubah, tradisi doa dan mujahadah akan selalu menjadi benteng kokoh yang melindungi umat dari ancaman fitnah dan godaan dunia. Di tengah malam yang syahdu itu, kebersamaan, doa, dan harapan terajut indah, menciptakan jejak spiritual yang tak terlupakan.


Kontributor: Sholeh
Editor: Tim CyberMWCNU

"Sholat dan Akhlak: Meniti Jejak Nabi dalam Harmoni Kehidupan"

www.mwcnumargomulyo.com || Margomulyo - Kamis, 12 September 2024, dari pukul 13.00 hingga 15.00, Masjid Al-Huda di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, menjadi saksi khidmatnya Pengajian Rutin yang diikuti oleh anggota Majelis Taklim (MT) Al-Huda, Muslimat NU, dan warga setempat. Suasana penuh syukur dan kebersamaan membalut acara yang dimulai dengan lantunan tahlil yang khusyuk, menggetarkan hati setiap yang hadir. Setelah itu, sholawat bilqiyam menggema, membawa semangat cinta pada Rasulullah SAW, menghubungkan jamaah dengan keagungan Sang Nabi.

Acara mencapai puncaknya dengan tausiyah yang disampaikan oleh Bapak Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyah yang mendalam dan sarat makna, beliau mengingatkan betapa pentingnya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kita pada Baginda Rasul. Tak hanya itu, Kiyai Badrun juga menekankan pentingnya memahami makna sholat, yang bukan sekadar ritual, tetapi sebuah pondasi yang harus tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari. "Sholat bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhannya," kata beliau, "tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya, membentuk masyarakat yang rukun dan harmonis."

Pengajian ini bukan hanya menjadi ajang penguatan spiritual, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi yang mempererat persaudaraan antarwarga. Semangat cinta Rasul dan pengamalan nilai-nilai sholat terlihat nyata di antara jamaah yang hadir, menyiratkan harapan akan terciptanya kehidupan yang lebih baik dan damai di Dusun Jepang.

Dalam tausiyahnya, Bapak Kiyai Badrun Sulaiman dengan bijak menguraikan keterkaitan antara makna sholat dan penyempurnaan akhlak, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa sholat bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam. "Sholat adalah sarana untuk menyempurnakan akhlak manusia," ujarnya. Melalui sholat, seorang muslim diajarkan untuk senantiasa menjaga kesucian hati, ketundukan, serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW, sosok yang menjadi teladan sempurna bagi umat, menunjukkan bagaimana sholat bukan hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga mengajarkan kasih sayang, kejujuran, dan keadilan dalam berinteraksi dengan sesama. Kiyai Badrun menekankan bahwa akhlak mulia yang terwujud dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah buah dari penghayatan mendalam terhadap makna sholat. "Ketika seseorang benar-benar memahami dan mengamalkan sholat, ia akan menumbuhkan sifat-sifat baik seperti sabar, rendah hati, dan pemaaf," jelasnya.

Beliau juga mengutip salah satu hadits Rasulullah, "Innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq," yang artinya, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." Pesan ini menegaskan bahwa sholat sejatinya harus mempengaruhi perilaku kita, memperbaiki hubungan sosial, dan membangun karakter yang baik dalam bermasyarakat. Dalam penutup tausiyahnya, Kiyai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk terus memperbaiki diri melalui sholat, sebagai bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kajian Rutin Kamis Kliwon: Mengupas “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia” di Aula MWCNU Margomulyo


www.mwcnumargomulyo.com|| Margomulyo, 5 September 2024 – Di bawah langit Kamis Kliwon yang teduh, Aula MWCNU Margomulyo kembali menjadi saksi perjalanan spiritual dalam bingkai kajian yang dihelat rutin oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Margomulyo. Kegiatan ini, seperti biasanya, dihadiri oleh segenap pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo dan para pengurus ranting yang tersebar di seluruh ancab Margomulyo. Mereka datang dengan penuh semangat, menyatukan hati dan niat untuk memperdalam pemahaman tentang makna keberadaban ruh manusia setelah berakhirnya kehidupan di dunia.

Pemateri yang dinanti-nantikan, Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, dengan penuh kharisma menyampaikan tausiyah bertema “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia.” Dalam ceramahnya, beliau dengan arif mengajak para jamaah untuk merenungi fase transisi ruh menuju alam yang lebih abadi, menekankan bahwa kehidupan ini hanyalah sementara dan yang sejati adalah kebersihan hati dan keikhlasan dalam beramal.

Dalam tausiyah yang disampaikan, Kiyai Badrun menjelaskan betapa pentingnya mempersiapkan bekal amal sholeh yang akan menjadi teman setia dalam perjalanan ruh menuju alam barzakh. Beliau juga menyentuh hati para hadirin dengan pesan mendalam tentang perlunya memperkuat keimanan, menjaga kebersihan jiwa, serta menumbuhkan rasa ikhlas dalam setiap langkah kehidupan.

Kegiatan kajian rutin ini merupakan agenda tetap setiap Kamis Kliwon, menjadi wahana bagi seluruh Muslimat NU di Margomulyo untuk saling berbagi ilmu dan hikmah. Inisiasi dari para pengurus PAC Muslimat NU Margomulyo ini telah menjadi obor penerang dalam kegelapan hati, mengajak jamaah untuk senantiasa memperbaiki diri dan mengingat akhirat sebagai tujuan akhir.

Suasana khidmat menyelimuti pertemuan tersebut, ditutup dengan doa yang menggetarkan jiwa, memohon ridho Allah agar senantiasa memberikan hidayah dan kekuatan iman bagi setiap insan yang hadir. Tepat pada saat senja mulai merayap, kajian ini menuntun langkah-langkah para jamaah kembali ke rumah dengan hati yang lebih tenang, membawa bekal rohani yang akan terus menjadi pemandu dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menguraikan tema besar tentang “Keberadaban Ruh Manusia Pasca Kematian Dunia,” Kiyai Badrun melanjutkan tausiyahnya dengan pembahasan mendalam mengenai pentingnya memperbanyak ibadah, terutama di bulan Maulid. Bulan yang penuh keberkahan ini menjadi momen istimewa, tidak hanya sebagai peringatan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah sebagai bekal kehidupan pasca kematian dunia.

Beliau mengingatkan bahwa bulan Maulid adalah saat yang penuh rahmat dan kasih sayang Ilahi, di mana setiap amal ibadah yang dilakukan, baik itu shalat, sedekah, maupun sholawat kepada Nabi, akan berlipat ganda pahalanya. “Bulan ini adalah momentum emas bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan keberkahan,” tutur Kiyai Badrun, dengan suara penuh ketenangan yang seolah menggetarkan hati para jamaah.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa tidak ada bekal yang lebih baik untuk menghadapi kehidupan setelah kematian selain memperbanyak amal kebajikan. Di bulan Maulid, umat Islam diajak untuk lebih sering mengingat kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW dan meneladani sifat-sifat beliau dalam setiap aspek kehidupan. “Dengan memperbanyak ibadah di bulan Maulid, kita tidak hanya menanam kebaikan di dunia, tetapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi yang sesungguhnya,” ujar beliau dengan lembut.

Kiyai Badrun juga menambahkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang menuju kehidupan yang lebih hakiki. Oleh karena itu, memperbanyak ibadah di bulan Maulid menjadi wujud cinta kepada Rasulullah SAW dan bukti ketaatan kepada Allah SWT, yang kelak akan menjadi penolong di saat kita memasuki alam barzakh dan dihisab di hari akhir.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun menyisipkan nasihat bijak agar setiap muslim memanfaatkan momen bulan Maulid untuk memperbaiki diri, membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, dan sombong, serta memperbanyak sholawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. "Sholawat adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan Rasulullah, dan dengan banyak bersholawat, insya Allah, kita akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat," imbuhnya, seraya mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperkuat hubungan mereka dengan Sang Pencipta melalui ibadah yang tulus dan ikhlas.

Kegiatan kajian tersebut kemudian ditutup dengan lantunan sholawat bersama, yang mengalun syahdu di Aula MWCNU Margomulyo, menciptakan suasana yang penuh berkah dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, serta harapan untuk hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat.

 

 

"Menguatkan Ukhuwah di Bawah Naungan Ulama: Harmoni Naharul Ijtima' di Ranting NU Margomulyo"



Margomulyo - Ahad, 1 September 2024, warga Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Margomulyo kembali mengadakan kegiatan Naharul Ijtima' yang rutin dilaksanakan setiap Ahad Legi. Acara yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 15.30 ini digelar di Masjid Besar Al-Ihlas, Dusun Kalimojo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi warga NU setempat, bersama dengan seluruh Badan Otonom (Banom) seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, serta jamaah Masjid Besar Al-Ihlas, untuk bersilaturahmi dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui pembacaan Shalawat Bilqiyam yang dipimpin oleh Saudara Santoso, diikuti dengan lantunan Tahlil yang dipimpin oleh Kiyai Atin. Suasana masjid yang dipenuhi oleh jamaah semakin menambah kekhusyukan ibadah ini.

Selanjutnya, Ketua Ranting NU Margomulyo, Bapak Wadarrokhim, menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi yang tinggi atas peran aktif seluruh warga NU dan Banom dalam menyukseskan acara ini. Beliau menekankan pentingnya kebersamaan dan gotong-royong dalam menjaga dan memajukan kegiatan keagamaan di Margomulyo.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Diyono, Koordinator Bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS) MWCNU Margomulyo. Beliau membahas berbagai isu terkait kehumasan, dengan fokus khusus pada masalah-masalah yang tengah dihadapi masyarakat, termasuk problematika terkait JUDI dan MINUMAN KERAS (JUDOL). Penekanan pada dampak sosial dan moral dari perilaku negatif ini menjadi sorotan dalam penyampaiannya.

Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, menjadi pemateri penutup dalam kegiatan kali ini. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan progres capaian yang telah diraih oleh MWCNU Margomulyo, sekaligus memberikan nasihat yang mendalam mengenai bahaya menjauh dari ulama dan ahli fiqih. "Menjauh dari ulama dan ahli fiqih dapat berdampak negatif, di antaranya: hilangnya keberkahan, diangkatnya penguasa zalim, dan meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman," tegas Kiyai Badrun, yang disambut dengan perhatian serius oleh seluruh jamaah yang hadir.

Kegiatan Naharul Ijtima' ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan rutin, tetapi juga sarana untuk memperkuat iman dan menambah wawasan keagamaan bagi seluruh warga NU Margomulyo. Dengan berakhirnya acara pada pukul 15.30, para jamaah pulang dengan hati yang penuh semangat dan kebersamaan, siap untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan bimbingan agama yang lebih kokoh.

Penutupan acara Naharul Ijtima' kali ini ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiyai Atin. Suasana hening dan penuh kekhusyukan menyelimuti seluruh jamaah saat doa dipanjatkan, memohon keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT. Setelah doa, para jamaah saling bersalaman, mempererat tali silaturahmi yang selama ini menjadi fondasi kuat dalam komunitas NU Margomulyo.

Di luar masjid, suasana hangat dan penuh persaudaraan terlihat jelas. Para anggota Banser dan Ansor tampak bersiaga, memastikan kelancaran dan keamanan kegiatan hingga akhir. Sementara itu, para ibu dari Muslimat dan Fatayat saling berbagi cerita dan pengalaman, mempererat hubungan antarbanom yang sudah terjalin erat.

Acara ini tidak hanya menjadi rutinitas semata, tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Margomulyo. Setiap kali Naharul Ijtima' digelar, bukan hanya ilmu yang didapat, tetapi juga kebersamaan yang semakin menguatkan ikatan sosial di antara warga. Ini menjadi bukti bahwa semangat ke-NU-an di Margomulyo terus tumbuh dan berkembang, didukung oleh kekompakan dan sinergi dari seluruh elemen masyarakat.

Dengan selesainya kegiatan ini, harapan besar muncul di hati setiap peserta bahwa NU Margomulyo akan terus bergerak maju, menjadi motor penggerak dalam memperkuat akidah dan syiar Islam di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan Naharul Ijtima' yang rutin dilaksanakan ini, di bawah inisiatif Ranting NU Margomulyo, telah membuktikan bahwa kekuatan ukhuwah dan kebersamaan mampu menjadi pondasi yang kokoh bagi kemajuan bersama.

Seiring dengan itu, warga NU Margomulyo siap menyongsong tantangan di masa depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan ke-NU-an, serta terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik, sejahtera, dan berakhlak mulia.

Menebar Welas Asih di Aula Kantor MWCNU Margomulyo


Margomulyo - Ahad, 1 September 2024, Aula Kantor MWCNU Margomulyo menjadi saksi pentingnya sebuah kegiatan yang diadakan dari pukul 15.30 hingga 17.30 WIB. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap akhir bulan dan diinisiasi oleh PAC IPNU/IPPNU Margomulyo. 

Acara yang dihadiri oleh seluruh warga PAC IPNU/IPPNU ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap berbagai isu penting dalam masyarakat. Sebagai pemateri utama, Kiyai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo, memberikan pencerahan mendalam kepada peserta. 

Dalam penyampaiannya, Kiyai Badrun menekankan pentingnya menebar welas asih kepada seluruh makhluk Allah yang ada di muka bumi. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk memperdalam rasa empati dan kepedulian, sebagai wujud nyata dari ajaran Islam yang mengutamakan kasih sayang dan kepedulian sosial.

Acara ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang bagaimana cara mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga mempererat tali silaturahmi di antara anggota PAC IPNU/IPPNU. Dengan semangat yang tinggi, peserta pulang dengan penuh inspirasi dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih peduli dan menyebarkan kebaikan di lingkungan masing-masing.

Kiyai Badrun membuka sesi dengan menjelaskan makna mendalam dari welas asih dalam konteks ajaran Islam. Beliau menekankan bahwa welas asih bukan hanya sebatas perasaan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. "Welas asih adalah cerminan iman kita. Ketika kita mampu merasakan penderitaan orang lain dan berusaha meringankannya, kita sedang menjalankan perintah Allah untuk menjadi hamba yang penuh kasih sayang," ujar Kiyai Badrun dengan penuh keyakinan.

Beliau kemudian membahas berbagai cara untuk menebar welas asih di berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan antarindividu hingga tanggung jawab sosial terhadap lingkungan. Menurut Kiyai Badrun, tindakan sederhana seperti memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, mendengarkan dengan empati, serta menjaga keharmonisan dalam bergaul adalah contoh konkret dari welas asih.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kemudahan dan kekuatan kepada setiap individu untuk dapat menebar welas asih dan melaksanakan ajaran-Nya dengan sebaik-baiknya. 

Kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen PAC IPNU/IPPNU Margomulyo dalam membangun masyarakat yang lebih peduli dan penuh kasih sayang. Dengan dukungan dan bimbingan dari Kiyai Badrun, diharapkan setiap peserta dapat membawa pesan welas asih ini ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, menciptakan perubahan positif bagi lingkungan sekitar.

"Jejak Khidmah di Penghujung Senja: Sebuah Perjalanan Cinta dalam Pengabdian"

Pagi itu, Rabu, 21 Agustus 2024, matahari masih malu-malu menyapa ketika saya melangkah keluar rumah, tepat pukul delapan. Udara segar pagi menemani perjalanan saya menuju Kantor MWCNU. Hari ini, ada panggilan khidmah yang harus saya penuhi—memantau perkembangan pembangunan gedung MWCNU yang telah lama kami idam-idamkan. Saya memilih jalur hutan Watu Jago, jalur yang sepi namun penuh dengan keheningan yang selalu mengajak saya berdialog dengan alam dan Sang Pencipta.


Sesampainya di Kantor MWCNU, saya bertemu dengan Kiyai Rosyidi. Bersama beliau, kami mengambil dokumentasi pekerjaan Nol Persen dari empat sisi gedung yang sedang dibangun. Setiap sudut yang kami abadikan seakan menjadi saksi bisu dari niat tulus kami, memajukan dan menghidupkan kegiatan keagamaan di kecamatan tercinta ini. Selesai dengan tugas kami, saya dan Kiyai Rosyidi bersiap untuk memenuhi undangan silaturahim PBNU di Hotel Estern, Bojonegoro.

Waktu masih menunjukkan pukul sebelas saat kami memutuskan untuk mampir sejenak ke Kantor PCNU Bojonegoro. Di sana, saya disambut hangat oleh sahabat-sahabat seperjuangan—Gus Rohim, Gus Alek, Pak Mazro’i, dan beberapa tokoh lainnya. Percakapan pun mengalir tanpa terasa, menyelami berbagai topik mulai dari perjuangan hingga harapan untuk umat. Di tengah percakapan itu, kami sepakat untuk berangkat bersama ke tempat acara, menaiki satu mobil milik Gus Rohim, sementara mobil Kiyai Rosyidi kami tinggalkan di Kantor PCNU.


Ketika akhirnya kami tiba di Hotel Estern, saya disambut oleh suasana yang begitu hangat. Di sana, saya bertemu dengan banyak tokoh dan teman seperjuangan yang sudah lama tak bersua. Seakan waktu tak pernah memisahkan kami, senyum dan tawa menyambut pertemuan ini, namun tetap dalam nuansa keagungan silaturahim.


Menjelang siang, kami pun menunaikan salat Dzuhur di salah satu ruangan hotel. Sejenak keheningan menyelimuti, membawa hati ini berserah dalam doa dan syukur. Beberapa saat setelahnya, acara pun dimulai, ditandai dengan kehadiran Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, dan Gus Ipul, Sekretaris Eksekutif PBNU, yang diiringi oleh Ketua PCNU Bojonegoro, Gus Ubed, serta beberapa tokoh lainnya. 


Hari itu, setiap momen terasa penuh makna, setiap langkah menjadi bagian dari pengabdian yang tulus. Dalam perjalanan ini, saya kembali diingatkan bahwa khidmah bukan sekadar tugas, tapi panggilan jiwa, jalan panjang yang penuh cahaya, menyusuri lorong-lorong kehidupan dengan keyakinan bahwa setiap detik yang kita lalui adalah bagian dari perjuangan menuju ridha-Nya.

Saat acara dimulai, suasana di ruangan menjadi khidmat. Para hadirin menanti dengan penuh antusias, menanti wejangan yang akan disampaikan oleh para pemimpin tertinggi NU. Ketika Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, menyampaikan pidato wejangannya, aura keagungan dan kebijaksanaan menyelimuti setiap sudut ruangan. Suaranya yang tenang namun penuh wibawa memulai pidato yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengingatkan kami semua akan tanggung jawab besar yang kami emban.


Dalam pidatonya, Gus Yahya menekankan pentingnya koherensi (Tamasuk) di dalam tubuh organisasi. Beliau berpesan kepada seluruh pengurus NU Bojonegoro untuk tidak hanya sekadar menjalankan program-program yang telah dicanangkan oleh PBNU, tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan visi besar yang telah digariskan. Koherensi ini, menurut beliau, adalah kunci untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan dalam setiap program yang digulirkan.


Gus Yahya menyampaikan bahwa koherensi bukanlah hal yang mudah dicapai. Ini membutuhkan kerja sama yang erat, komunikasi yang baik, dan pemahaman mendalam tentang tujuan jangka panjang organisasi. Beliau mengingatkan bahwa setiap program yang telah dicanangkan oleh PBNU memiliki tujuan yang mulia, yaitu membawa manfaat sebesar-besarnya bagi umat. Oleh karena itu, perlu ada kesinambungan antara pusat dan daerah, antara gagasan besar dan implementasi di lapangan.


Pesan ini menggema di hati setiap hadirin, termasuk saya. Dalam hati, saya merenung, memahami betapa pentingnya memastikan bahwa setiap program yang kami jalankan di Bojonegoro benar-benar sejalan dengan arah yang telah ditetapkan. Koherensi ini adalah tali yang mengikat kita semua, dari pusat hingga ranting, dalam satu kesatuan gerak yang harmonis.


Setelah pidato Gus Yahya selesai, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, menandakan bahwa pesan beliau telah sampai ke dalam hati para hadirin. Di tengah tepuk tangan itu, saya merasa ada semangat baru yang tumbuh, sebuah tekad untuk memastikan bahwa khidmah yang kami jalankan di Bojonegoro akan selalu sejalan dengan visi besar PBNU. Gus Yahya telah mengingatkan kami bahwa dalam perjalanan khidmah ini, koherensi adalah landasan yang akan mengantar kami pada kesuksesan sejati, sebuah kesuksesan yang tidak hanya bermanfaat bagi organisasi, tetapi juga membawa berkah bagi umat.

Setelah acara di Hotel Estern usai, saya dan Kiyai Rosyidi memutuskan untuk kembali ke Kantor PCNU Bojonegoro. Di sana, suasana masih terasa hangat, meski acara telah berakhir. Ketika melangkahkan kaki masuk ke dalam kantor, saya bertemu dengan Rekan Sholeh, Ketua PAC IPNU Margomulyo. Dengan wajah penuh semangat, ia mengutarakan keinginannya untuk mendaftar menjadi pegawai di BMTNU.


Saya pun mengajak Rekan Sholeh menuju ruang Bendahara BMTNU, Pak Rosyid, untuk mengurus keperluannya. Di ruang itu, kami disambut oleh Pak Rosyid dengan ramah. Obrolan hangat pun mengalir, dimulai dari diskusi ringan hingga membahas berbagai aspek penting yang berkaitan dengan BMTNU. Pak Rosyid berbicara dengan penuh kebijaksanaan tentang peran BMTNU dalam mendukung perekonomian umat, serta pentingnya kepercayaan dan amanah dalam mengelola keuangan syariah.


Rekan Sholeh menyimak dengan saksama, menyerap setiap nasihat dan informasi yang disampaikan oleh Pak Rosyid. Saya bisa melihat tekad yang kuat dalam matanya—tekad untuk berkontribusi dan membawa manfaat melalui BMTNU. Ketika pembicaraan kami mencapai puncaknya, Rekan Sholeh dengan penuh keyakinan menyerahkan berkas pendaftarannya kepada Pak Rosyid. Momen itu terasa istimewa, seolah menjadi awal dari sebuah perjalanan baru bagi Rekan Sholeh dalam berkhidmah melalui BMTNU.


Setelah urusan di BMTNU selesai, saya dan Kiyai Rosyidi memutuskan untuk pulang ke Margomulyo. Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda—penuh dengan refleksi atas segala hal yang telah terjadi sepanjang hari. Dari pagi hingga sore, setiap langkah yang saya ambil seakan menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam pengabdian. Pertemuan dengan para tokoh, pesan-pesan yang disampaikan, hingga mendampingi Rekan Sholeh, semuanya menyatukan diri dalam harmoni khidmah yang begitu indah.


Hari itu, saya kembali diingatkan bahwa khidmah bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang bagaimana kita mendampingi dan mendorong orang lain untuk turut serta dalam pengabdian. Dalam perjalanan pulang, saya merasa tenang, penuh dengan syukur atas segala nikmat dan kesempatan yang diberikan oleh-Nya untuk terus berkhidmah, bersama-sama menuju ridha-Nya.


Sesampainya di Kantor MWCNU Margomulyo, meskipun lelah mulai terasa setelah seharian penuh beraktivitas, saya memilih untuk tidak langsung pulang ke rumah. Hari itu, ada momen istimewa yang menunggu—waktu berbuka puasa. Di tengah kesibukan yang tiada henti, berhenti sejenak untuk menikmati berbuka terasa begitu menenangkan. 


Saya duduk bersama Mas Sholeh dan Mas Rahmat, menikmati hidangan sederhana namun penuh makna. Di bawah langit senja yang mulai gelap, kami saling berbincang sambil menanti datangnya waktu sholat Maghrib. Suara adzan yang mengalun lembut seakan menjadi tanda bagi kami untuk sejenak beristirahat dari hiruk-pikuk dunia, mengarahkan hati dan pikiran hanya kepada-Nya. Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, kami kembali duduk bersama, bercengkerama ringan sembari menunggu datangnya waktu sholat Isya.


Waktu Isya pun tiba, dan kami melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk. Di setiap rakaatnya, saya merasakan kedamaian yang meresap, seolah segala penat yang saya rasakan perlahan luruh dalam sujud yang panjang. Usai sholat, suasana terasa begitu tenang, namun tugas khidmah saya belum usai. Malam itu, saya masih harus mengisi Kajian Rutin Malem Kamis Kliwon di Majelis Taklim Mata Air Pluntu, Desa Sumberjo.


Dengan penuh semangat dan rasa syukur, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kajian rutin ini bukan hanya sekadar pengajaran, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga dan memperkuat tali silaturahim serta keimanan di antara para jamaah. Setiap kata yang akan saya sampaikan nanti, saya harap mampu memberikan pencerahan dan motivasi, baik bagi diri saya sendiri maupun bagi mereka yang hadir.


Dalam perjalanan menuju Majelis Taklim, hati saya terasa tenang. Meskipun lelah, ada kekuatan tersendiri yang saya rasakan setiap kali melangkah menuju tempat di mana saya bisa berkhidmah. Perjalanan ini, yang dimulai sejak pagi hingga malam, adalah bukti bahwa khidmah adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh berkah. Dan di setiap langkahnya, ada rasa syukur yang tak terhingga kepada-Nya, yang telah memberi saya kesempatan untuk terus melayani umat-Nya.


Saat malam semakin larut dan perjalanan khidmah hari ini hampir usai, saya merenung dalam heningnya malam. Setiap langkah yang saya ambil, setiap kata yang saya sampaikan, semuanya terasa seperti untaian doa yang mengalir tiada henti, menyatu dalam keikhlasan dan pengabdian. Di balik lelah dan penat, ada kebahagiaan yang tak ternilai—kebahagiaan dalam melayani, dalam memberikan yang terbaik untuk umat, dan dalam merajut tali ukhuwah yang tak pernah putus.


Seperti senja yang selalu kembali bertemu dengan malam, saya menemukan kedamaian dalam siklus khidmah ini. Tugas-tugas yang saya jalani hari ini adalah bukti cinta yang tulus kepada-Nya dan kepada sesama. Di setiap akhir perjalanan, saya sadar bahwa khidmah bukan sekadar tugas, melainkan sebuah cinta yang abadi, yang selalu mengisi relung hati dengan cahaya harapan dan keyakinan.


Dengan penuh syukur, saya tutup hari ini dengan satu keyakinan: bahwa setiap langkah yang diiringi niat tulus dan ikhlas, akan selalu membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Dan di sanalah, dalam keheningan malam dan doa yang terlantun, saya menemukan makna sejati dari perjalanan khidmah ini—sebuah perjalanan cinta yang tak pernah berakhir.


#Catatan Perjalanan Khidmah Seorang Kader

"Malam Penuh Berkah di Kaligede: Merajut Persatuan dalam Lailatul Ijtima'"


Meduri 20 Agustus 2024 - Dalam suasana khidmat dan penuh berkah, Lailatul Ijtima' NU Ranting Meduri digelar dengan meriah pada tanggal 20 Agustus 2024 di Masjid Nurul Hidayah, Dusun Kaligede, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo. Malam yang diselimuti keheningan ini menjadi saksi bisu kebersamaan warga dalam menguatkan tali ukhuwah dan memperkokoh persatuan.


Acara ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari Pengurus Ranting NU Meduri, jajaran Pengurus MUI Desa Meduri, hingga Perangkat Dusun Kaligede yang turut serta bersama Kepala Dusun, Ketua RT, dan Ketua RW setempat. Para tokoh masyarakat yang menjadi panutan hadir dengan penuh kehangatan, diikuti oleh Muslimat NU dan Fatayat NU yang senantiasa menjadi pilar kesetiaan dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. Tak ketinggalan, Pengurus Ansor bersama sebagian besar masyarakat Kaligede yang memenuhi masjid, menjadi bukti nyata dari semangat kebersamaan yang terjalin erat di dusun ini.


Dalam kesempatan tersebut, kehadiran Pengurus MWC Margomulyo yang diwakili oleh Ustadz Syaiffudin menambah keagungan acara. Dalam tausiyah yang disampaikannya, Ustadz Syaiffudin mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama dan antar golongan. “Kerukunan adalah pilar utama dalam menjaga keharmonisan di tengah perbedaan. Hanya dengan saling menghormati dan memahami, kita bisa mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera,” tuturnya dengan lembut namun penuh makna.


Malam itu, Lailatul Ijtima' bukan sekadar acara rutinitas. Ia menjadi momentum untuk merenung, memperbaiki diri, dan mempererat tali silaturahmi di antara sesama. Kebersamaan yang terjalin dalam acara tersebut adalah cerminan dari kekuatan sebuah masyarakat yang bersatu dalam perbedaan, menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan yang hakiki.


Dengan semangat yang membara, acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan bimbingan dari Yang Maha Kuasa agar dusun Kaligede, dan Desa Meduri pada umumnya, senantiasa diberkahi kedamaian dan kesejahteraan. Lailatul Ijtima' kali ini akan selalu dikenang sebagai malam penuh berkah yang menyatukan hati-hati yang rindu akan kedamaian dan persatuan.


Seiring dengan lantunan doa yang menggema di dalam Masjid Nurul Hidayah, rasa syukur dan harapan terukir di setiap jiwa yang hadir. Semangat kebersamaan dalam Lailatul Ijtima' ini bukan hanya dirasakan oleh mereka yang berada di dalam masjid, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Dusun Kaligede yang menyaksikan betapa indahnya harmoni dalam kebersamaan.


Kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengurus organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, hingga perangkat desa, menjadi simbol persatuan yang kokoh. Dalam pertemuan ini, semua bersatu dalam niat dan tujuan yang sama: membangun dan menjaga kedamaian serta kesejahteraan bersama. 


Ustadz Syaiffudin, dengan tutur kata yang bijaksana, mengingatkan hadirin akan pentingnya menjaga harmoni, tidak hanya di antara umat beragama, tetapi juga antar golongan di tengah masyarakat. Pesan ini begitu relevan, mengingat tantangan kehidupan yang semakin kompleks, di mana perbedaan sering kali menjadi sumber konflik. "Kita perlu menguatkan simpul-simpul persaudaraan, mempertebal toleransi, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan," ucap Ustadz Syaiffudin, menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan baik di antara semua lapisan masyarakat.


Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi setiap individu untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Malam itu, seolah ada cahaya terang yang menuntun setiap hati untuk kembali kepada hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. 


Lailatul Ijtima' di Masjid Nurul Hidayah bukan hanya sekadar agenda keagamaan tahunan, tetapi telah menjadi sebuah tradisi yang menghidupkan semangat persaudaraan. Di bawah naungan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin, acara ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat, dan persatuan adalah kekuatan. 


Tatkala malam semakin larut, acara ditutup dengan penuh khidmat. Para jamaah pulang dengan hati yang damai, membawa pesan-pesan kebaikan yang disampaikan, serta tekad untuk terus menjaga kerukunan dan mempererat silaturahmi di masa yang akan datang. Lailatul Ijtima' ini telah menciptakan sebuah jejak yang tak terlupakan, sebuah kisah tentang kebersamaan yang akan selalu dikenang di Dusun Kaligede, sebagai malam penuh berkah dan cinta kasih.


Kontributor: Eko
Editor: Tim CyberMWCNU