Sumberjo, Margomulyo — Majelis Taklim Miftakhul Jannah Dusun Wates, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, kembali menggelar kegiatan kajian rutin bulanan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota.
Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, bertempat di kediaman Ibu Sigit Prawesti, Dusun Wates RT 03 RW 02, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo.
Kajian rutin tersebut diikuti oleh segenap anggota Majelis Taklim Miftakhul Jannah serta tokoh masyarakat setempat. Kegiatan dilaksanakan secara bergilir setiap satu bulan sekali dari rumah ke rumah anggota majelis taklim. Selain menjadi sarana menambah wawasan keislaman, kegiatan bergilir ini juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan dan membangun kepedulian antarwarga.
Diawali Mars Muslimat, Yalal Wathon dan Mahalul Qiyam
Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan Mars Muslimat NU dan Yalal Wathon yang diikuti oleh seluruh jamaah.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Mahalul Qiyam, sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Jamaah kemudian bersama-sama melaksanakan pembacaan tahlil dan Asmaul Husna.
Rangkaian amaliyah tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan Majelis Taklim Miftakhul Jannah, karena selain memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT, juga menjadi sarana menjaga tradisi keagamaan yang telah hidup di tengah masyarakat.
Penyuluh Agama Islam Sampaikan Gambaran Keadaan di Padang Mahsyar
Hadir sebagai pemateri dalam kajian tersebut Syafiatul Umma, S.Sos., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Margomulyo.
Dalam tausiyahnya, Syafiatul Umma menyampaikan materi tentang keadaan umat manusia ketika berada di Padang Mahsyar, dengan merujuk pada pembahasan dalam Kitab Targhib wa Tarhib.
Beliau mengajak jamaah untuk merenungkan bagaimana keadaan manusia ketika seluruh amal perbuatan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Gambaran tersebut disampaikan bukan sekadar untuk menimbulkan rasa takut, tetapi menjadi pengingat agar setiap orang mempersiapkan bekal amal selama masih diberikan kesempatan hidup di dunia.
Dalam kajian tersebut dijelaskan empat keadaan yang akan dirasakan manusia di Padang Mahsyar, yaitu:
- Merasakan panas yang luar biasa.Manusia berada dalam keadaan tanpa busana dan matahari digambarkan sangat dekat dengan kepala, sehingga panas yang dirasakan sangat luar biasa.
- Merasakan kehausan yang luar biasa.Dalam kondisi tersebut, manusia sangat membutuhkan pertolongan dan air sebagai pelepas dahaga.
- Merasakan kelaparan yang luar biasa.Gambaran ini menjadi pengingat bahwa kenikmatan makanan dan minuman yang selama ini diterima di dunia merupakan karunia Allah yang harus disyukuri.
- Merasakan kesusahan yang luar biasa.Padang Mahsyar menjadi tempat manusia menantikan keputusan Allah SWT, sehingga setiap orang membutuhkan pertolongan dan rahmat-Nya.
Empat Amalan sebagai Bekal
Lebih lanjut, Syafiatul Umma menyampaikan beberapa bentuk amal yang dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari upaya mencari pertolongan Allah SWT dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Pertama, memperbanyak sedekah berupa pakaian atau busana kepada mereka yang membutuhkan. Kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu bentuk amal sosial yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan.
Kedua, bersedekah minuman, terutama kepada orang yang membutuhkan. Memberikan minuman kepada orang lain merupakan bentuk sederhana dari kepedulian yang memiliki nilai kebaikan.
Ketiga, bersedekah makanan. Berbagi makanan dengan sesama merupakan amalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat menjadi sarana menumbuhkan rasa syukur sekaligus kepedulian sosial.
Keempat, mudah memaafkan kesalahan orang lain. Sikap pemaaf menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan memaafkan, seseorang belajar melepaskan dendam, menjaga persaudaraan, dan membangun kehidupan sosial yang lebih damai.
Pesan tersebut menjadi inti penting dari kajian sore itu. Kehidupan dunia hendaknya tidak hanya diisi dengan mengejar kenikmatan duniawi, tetapi juga dengan memperbanyak amal kebajikan, membantu sesama, dan memperbaiki hubungan antarmanusia.
Kajian Rutin sebagai Ruang Pembinaan Keagamaan
Kegiatan Majelis Taklim Miftakhul Jannah tidak hanya menjadi forum pengajian rutin, tetapi juga menjadi ruang pembinaan keagamaan bagi masyarakat, khususnya para anggota majelis taklim.
Dengan dilaksanakan secara rutin dan bergilir setiap bulan, kegiatan ini diharapkan mampu menjaga semangat belajar agama sekaligus memperkuat tali silaturahmi antaranggota. Rumah-rumah warga pun menjadi ruang untuk menghadirkan suasana majelis ilmu, dzikir, doa, dan kebersamaan.
Kajian tersebut juga memberikan pesan bahwa mempersiapkan kehidupan akhirat dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari: gemar bersedekah, berbagi makanan dan minuman, membantu sesama, serta memiliki hati yang lapang untuk memaafkan.
Melalui kegiatan rutin seperti ini, Majelis Taklim Miftakhul Jannah terus berupaya menumbuhkan masyarakat yang tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan istiqamah, kajian bulanan Majelis Taklim Miftakhul Jannah diharapkan terus menjadi sarana untuk memperkuat iman, memperluas ilmu, mempererat ukhuwah, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.
Editor: Drun

