Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

Muslimat-Fatayat NU Pucanganom Dalami Keteladanan Akhlak Rasulullah

muslimat-fatayat-nu-pucanganom-dalami-keteladanan-akhlak-rasulullah
Kiyai Fatkhurrohman

MEDURI – Jumat, 2 Oktober 2026.Pengajian rutin Muslimat dan Fatayat NU Pucanganom, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, kembali digelar pada Jumat, 2 Oktober 2026. Bertempat di Masjid Al Ikhlas Pucanganom, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan dan kualitas akhlak jamaah.

Kegiatan diikuti oleh segenap jajaran pengurus dan anggota Muslimat serta Fatayat NU Pucanganom, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan semangat kebersamaan dalam merawat tradisi pengajian sekaligus membangun kehidupan keagamaan yang semakin kokoh di tengah masyarakat.

Hadir sebagai pemateri, Bapak Fatkhurrohman, yang dalam tausiyahnya mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak shalawat dan menyebut namanya, tetapi harus diwujudkan dengan berusaha meniru akhlak, perilaku, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keteguhan beliau dalam menjalankan kehidupan.

Rasulullah SAW, Teladan Terbaik dalam Kehidupan

Fatkhurrohman menjelaskan bahwa Allah SWT sendiri telah memberikan penegasan bahwa Rasulullah SAW merupakan uswah hasanah, teladan terbaik bagi orang-orang yang beriman.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Menurut Fatkhurrohman, ayat tersebut memberikan pesan bahwa keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya berlaku dalam urusan ibadah, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan. Rasulullah adalah teladan dalam keluarga, bermasyarakat, berdagang, memimpin, menghadapi orang yang berbeda pendapat, bahkan dalam menghadapi orang yang berbuat tidak baik kepada beliau.

“Akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak yang harus kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari rumah, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga dalam kehidupan berorganisasi,” tuturnya.

Al-Qur'an Menyebut Akhlak Rasulullah Sangat Agung

Lebih lanjut, Fatkhurrohman mengajak jamaah merenungkan pujian Allah SWT terhadap akhlak Rasulullah SAW. Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Ayat tersebut, menurutnya, menjadi gambaran betapa tinggi kedudukan akhlak Rasulullah SAW. Bahkan ketika Sayyidah Aisyah RA ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW, beliau memberikan jawaban yang sangat masyhur:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur'an.”
(HR. Muslim)

Fatkhurrohman menjelaskan bahwa jawaban Sayyidah Aisyah RA tersebut sangat dalam. Rasulullah SAW bukan hanya orang yang membaca Al-Qur'an, tetapi seluruh perilaku beliau merupakan cerminan nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur'an.

Jika Al-Qur'an mengajarkan kejujuran, Rasulullah SAW menjadi manusia yang paling jujur. Jika Al-Qur'an mengajarkan kasih sayang, Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayang kepada keluarga, sahabat, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya.

Akhlak Mulia Bukan Sekadar Ucapan

Dalam kesempatan tersebut, Fatkhurrohman mengingatkan bahwa akhlak mulia bukan sekadar kemampuan berbicara dengan sopan, tetapi harus terlihat dalam tindakan nyata.

Kejujuran harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amanah harus dijaga meskipun tidak ada orang yang melihat. Kesabaran harus hadir ketika menghadapi persoalan. Memaafkan harus menjadi pilihan ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang menyakitkan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)

Hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya akhlak dalam risalah Islam. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur bagaimana manusia membangun hubungan yang baik dengan sesamanya.

Karena itu, seseorang tidak cukup hanya memperbanyak ibadah secara ritual apabila dalam kehidupan sosial masih suka menyakiti, merendahkan, memfitnah, atau mengambil hak orang lain.

Meneladani Kelembutan Rasulullah SAW

Fatkhurrohman juga mengajak jamaah meneladani kelembutan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)

Menurutnya, ayat ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci dan memutus tali silaturahmi.

Justru akhlak Rasulullah SAW mengajarkan bagaimana perbedaan dihadapi dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan kelembutan.

Akhlak kepada Keluarga dan Masyarakat

Dalam kehidupan keluarga, Rasulullah SAW juga memberikan teladan yang sangat luar biasa. Beliau memperlakukan keluarganya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)

Fatkhurrohman menjelaskan, hadis tersebut menjadi pelajaran penting bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di hadapan banyak orang. Akhlak yang sebenarnya justru terlihat ketika seseorang berada di rumah, ketika berinteraksi dengan pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya.

Jangan sampai seseorang terlihat ramah di luar rumah, tetapi justru kasar kepada keluarganya.

Kalam Ulama tentang Akhlak

Dalam tausiyahnya, Fatkhurrohman juga menyampaikan hikmah yang masyhur dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tentang kedudukan akhlak:

الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ، فَمَنْ زَادَ عَلَيْكَ فِي الْخُلُقِ زَادَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ

“Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa yang akhlaknya lebih baik darimu, berarti ia lebih unggul darimu dalam agama.”

Pesan tersebut mengingatkan bahwa kualitas keberagamaan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya aktivitas ibadah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Orang yang rajin beribadah tetapi lisannya masih suka menyakiti orang lain perlu melakukan muhasabah. Demikian pula orang yang aktif dalam kegiatan keagamaan harus berusaha menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sosialnya.

Menjadikan Pengajian sebagai Jalan Perubahan

Menutup tausiyahnya, Fatkhurrohman mengajak jamaah Muslimat dan Fatayat NU Pucanganom untuk menjadikan pengajian rutin bukan sekadar kegiatan berkumpul, tetapi sebagai sarana menambah ilmu, memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, salah satu tanda keberhasilan mengikuti pengajian adalah adanya perubahan dalam perilaku. Setelah mendapatkan ilmu, seseorang diharapkan menjadi lebih sabar, lebih santun dalam berbicara, lebih mudah memaafkan, lebih peduli kepada sesama, dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW, diharapkan keluarga Muslimat dan Fatayat NU Pucanganom dapat menjadi keluarga yang menghadirkan ketenteraman di tengah masyarakat serta menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah.

Pengajian rutin tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan keakraban. Selain memperkuat pemahaman keagamaan, kegiatan ini juga menjadi ruang mempererat silaturahmi antara pengurus, anggota Muslimat dan Fatayat NU, tokoh agama, serta tokoh masyarakat Desa Meduri.


Kontributor: Musyaroh.
Editor: Drun

Kabar Terkait