Menuku

Selamat Datang Di Website Resmi MWCNU Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Kajian Rutin Majelis Taklim Fatimah Azzahra Perkuat Spirit Keilmuan dan Keteguhan Dakwah Kader Fatayat NU Margomulyo, "Sungsuman": Sukses Melampaui Ekspektasi, Panitia Pengajian Akbar IHM Margomulyo Tutup Tugas dengan Penuh Rasa Syukur, Naharul Ijtima' MWCNU Margomulyo Perkuat Khidmah Warga NU, LTMNU dan ASWAJA NU Center Hadirkan Pembinaan Strategis

Santri Dulu, Kini, dan Nanti: Menjaga Akhlak Nabi, Menjawab Tantangan Zaman

santri-dulu-kini-dan-nanti-menjaga-akhlak-nabi-menjawab-tantangan-zaman

Peringatan Hari Santri 22 Oktober 2026 menjadi momentum untuk merenungkan perjalanan panjang santri dalam kehidupan bangsa. Dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan ini mengajak kita melihat santri sebagai pewaris tradisi keilmuan sekaligus pelaku perubahan yang mampu menjawab tantangan masa depan. 

Zaman boleh berubah, cara belajar boleh berkembang, dan medan pengabdian boleh meluas. Namun, hakikat santri tetap terjaga: seorang murid yang menimba ilmu, menghormati kiai dan guru, serta berusaha mengamalkan akhlak Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Santri dan keteladanan Rasulullah

Hubungan santri dengan kiai bukan sekadar hubungan antara orang yang mengajar dan orang yang diajar. Di dalamnya terdapat ikatan pendidikan yang melibatkan ilmu, adab, keteladanan, dan pengabdian. Kiai membimbing santri agar memahami ajaran agama, sedangkan santri belajar menghidupkan ajaran tersebut dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam.

Dalam tradisi pesantren, kiai menjadi salah satu mata rantai yang menghubungkan santri dengan khazanah keilmuan para ulama hingga ajaran Rasulullah saw. Karena itu, penghormatan kepada kiai seharusnya mendorong santri untuk semakin dekat kepada nilai-nilai yang diajarkan Nabi: kejujuran, kasih sayang, kesabaran, keadilan, dan tanggung jawab.

Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21). 

Ayat tersebut menegaskan bahwa ukuran keteladanan tertinggi seorang Muslim adalah Rasulullah saw. Santri yang meneladani Nabi tidak cukup hanya dikenal pandai membaca kitab atau fasih berbicara. Ilmunya perlu hadir dalam perilaku: jujur ketika bekerja, santun ketika berbeda pendapat, amanah ketika diberi tanggung jawab, dan peduli ketika melihat kesulitan orang lain.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

Artinya: “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Al-Bukhari No. 3559). 

Dengan demikian, akhlak bukan pelengkap pendidikan santri, melainkan buah yang menunjukkan kebermanfaatan ilmu. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semestinya semakin besar pula kerendahan hati dan kesungguhannya dalam melayani.

Santri dulu: belajar, berjuang, dan mengabdi

Pada masa lalu, pesantren tumbuh sebagai ruang pendidikan agama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Para santri mempelajari Al-Qur’an, hadis, fikih, akidah, tasawuf, dan berbagai ilmu lain di bawah bimbingan kiai. Kehidupan pesantren juga mendidik mereka untuk hidup sederhana, disiplin, mandiri, dan terbiasa bekerja bersama.

Tradisi tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang pentingnya memperdalam ilmu agama dan menyampaikannya kepada masyarakat. Allah Swt. berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya: “Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?”
(QS. At-Taubah [9]: 122). 

Ayat ini memberi dasar bahwa ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Ilmu perlu dibawa pulang, diajarkan dengan bijaksana, dan digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam sejarah Indonesia, peran santri juga tampak dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Seruan Resolusi Jihad yang dikumandangkan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu pengingat tentang keterlibatan ulama dan santri dalam membela bangsa. Pengabdian tersebut memperlihatkan bahwa kecintaan kepada agama dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga tanah air.

Santri kini: teguh berakar, terbuka belajar

Santri masa kini hidup di tengah perubahan yang berlangsung cepat. Internet memudahkan akses terhadap kitab, kajian, dan pengetahuan dunia. Pada saat yang sama, ruang digital juga dipenuhi informasi palsu, ujaran kebencian, penipuan, dan perdebatan yang sering mengabaikan adab.

Dalam keadaan demikian, santri perlu memiliki literasi digital yang disertai tanggung jawab moral. Sebelum membagikan informasi, ia memeriksa sumbernya. Ketika berbeda pandangan, ia menyampaikan pendapat dengan santun. Ketika menggunakan media sosial untuk berdakwah, ia mengutamakan kebenaran dan kemaslahatan.

Pedoman ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw.:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari No. 

Prinsip tersebut relevan juga untuk tulisan, gambar, dan komentar yang disebarkan melalui telepon genggam. Satu pesan yang dibagikan tanpa diperiksa dapat melukai kehormatan seseorang atau menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Santri masa kini pun dapat berkiprah sebagai guru, dokter, petani, pengusaha, jurnalis, programmer, atau pemimpin masyarakat. Apa pun profesinya, identitas kesantrian tampak dari cara ia bekerja: berilmu, jujur, tekun, dan mengutamakan manfaat.

Dalam tradisi pesantren dikenal sebuah kaidah bijak:

الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

Artinya: “Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.”

Kaidah ini merupakan ungkapan hikmah yang dikenal luas dalam tradisi keilmuan, bukan ayat Al-Qur’an atau hadis. Pesannya mengajak santri menjaga warisan ilmu dan adab, sekaligus terbuka terhadap pembaruan yang membawa manfaat. Misalnya, pengajian kitab tetap dijaga, sementara teknologi dimanfaatkan untuk memperluas akses belajar dan mendokumentasikan pengetahuan.

Santri nanti: menyiapkan masa depan yang bermartabat

Masa depan menghadirkan persoalan yang semakin kompleks: perkembangan kecerdasan buatan, perubahan lingkungan, persaingan ekonomi, dan perubahan pola hubungan sosial. Menghadapi semua itu, santri perlu menguatkan ilmu agama sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah.

Santri yang memahami teknologi, misalnya, dapat membantu pesantren mengelola informasi atau mengembangkan pembelajaran. Santri yang bergerak dalam pertanian dapat mendukung ketahanan pangan dan menjaga lingkungan. Santri yang menjadi pemimpin dapat menghadirkan kebijakan yang adil dan berpihak kepada masyarakat.

Namun, kemampuan beradaptasi tidak berarti mengikuti setiap perubahan tanpa pertimbangan. Santri perlu bertanya: apakah suatu perubahan membawa manfaat, menjaga martabat manusia, dan sejalan dengan nilai agama? Di sinilah ilmu dan bimbingan guru tetap diperlukan agar kemajuan berjalan bersama kebijaksanaan.

Siapa pun yang berakhlak santri

Ungkapan “siapa pun yang berakhlak santri, dialah santri” mengandung pesan bahwa nilai kesantrian dapat dihayati oleh siapa saja: menghormati guru, mencintai ilmu, menjaga ibadah, rendah hati, dan berbuat baik kepada sesama.

Dalam pengertian pendidikan formal, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren mendefinisikan santri sebagai peserta didik yang menempuh pendidikan dan mendalami ilmu agama Islam di pesantren. Sementara itu, dalam pengertian moral yang lebih luas, ungkapan tersebut mengajak masyarakat meneladani nilai-nilai luhur yang tumbuh dalam tradisi pesantren. Keduanya dapat dipahami sesuai konteksnya. 

Seorang yang pernah mondok terus membawa tanggung jawab untuk menjaga ilmu dan adab yang dipelajarinya. Seseorang yang belum pernah mondok pun dapat belajar kepada guru, mencintai ulama, serta menumbuhkan akhlak mulia dalam kehidupannya.

Pada akhirnya, santri dulu, kini, dan nanti dipersatukan oleh semangat belajar dan mengabdi. Selama ilmu dipelajari dengan rendah hati, guru dihormati, dan akhlak Nabi diusahakan dalam perbuatan, nilai kesantrian akan terus hidup—menguatkan masyarakat dan menghadirkan harapan bagi masa depan negeri.


Penulis adalah aktifis dan kader NU yang mendapat amanah sebagai ketua MWCNU Margomulyo

Kabar Terkait